Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Nindya!"
Panggilan itu terdengar ramah, seakan ia baru saja lewat dan mampir, bukan melihat segalanya dari kejauhan. Langkahnya mantap, wajahnya tersenyum tipis, namun di balik senyum itu, hatinya terasa perih tertusuk ribuan jarum.
Anindya tersentak hebat. Tubuhnya menegang, wajahnya memerah seketika. Ia buru-buru menjauh sedikit dari Reynand, mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Dokter Rangga..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Rangga berhenti di bawah anak tangga, mengangkat kantong makanan di tangan kanannya.
"Kebetulan sekali aku lewat sini," ucapnya santai, seolah tak melihat apa-apa yang baru saja terjadi. "Sekalian aku bawakan ayam goreng buat kamu makan malam."
Ia beralih menoleh ke arah Reynand.
"Selamat malam, Pak Reynand. Maaf mengganggu. Saya tidak tahu Bapak ada di sini."
Reynand mengangguk pelan, "Malam, Dokter. Terima kasih sudah memperhatikannya."
Rangga kembali menatap Anindya, senyumnya tak sampai ke matanya.
"Kau terlihat terkejut sekali... ada apa?" tanyanya pelan, sengaja bertanya meski ia sudah tahu jawabannya.
Anindya menunduk, suaranya sedikit bergetar, "Tidak... tidak ada apa-apa, Dokter. Hanya... terkejut saja Dokter datang malam-malam begini."
Rangga mengangguk, melangkah mendekat lalu menyodorkan kantong makanan itu.
"Sudah makan belum? Ini masih hangat. Makanlah sebelum dingin."
Anindya menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Terima kasih, Dokter..."
"Sama-sama." Rangga menatapnya sekali lagi, seakan ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa diucapkan di hadapan orang lain. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Istirahatlah yang cukup, Nindya. Jangan begadang."
Ia melirik sekilas ke arah Reynand, tatapannya tenang namun penuh penekanan.
"Selamat malam, Pak Reynand."
Tanpa menunggu jawaban, Rangga berbalik dan melangkah kembali ke mobilnya. Pintu tertutup pelan. Mesin menyala, dan mobil itu melaju perlahan menjauh, meninggalkan dua orang yang berdiri diam di teras rumah itu.
Reynand berdiri diam, menatap jalanan yang kini kembali sepi. Napasnya terdengar berat, dada bidangnya naik turun menahan gejolak yang meluap. Perlahan ia menoleh ke arah Anindya, lalu tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat, menyambar paksa kantong makanan yang masih tergenggam di tangan wanita itu.
"Pak!" Anindya tersentak, tangannya tertahan di udara. "Apa yang Bapak lakukan?!"
Reynand tidak menjawab. Ia meletakkan kantong itu dengan kasar di kursi, seakan benda itu membakar tangannya. Lalu menatap Anindya, matanya gelap dan penuh amarah yang tertahan.
"Tidak perlu menerima apa pun darinya," ucapnya rendah, tegas dan tak terbantahkan. "Mulai sekarang, tidak perlu."
Anindya melangkah maju, menatapnya tak percaya. Wajahnya memerah, bukan lagi karena malu, melainkan karena kesal.
"Pak! Bapak keterlaluan!" suaranya meninggi, bergetar. "Dia datang membawakan makanan karena khawatir. Apa salahnya menerima perhatian seperti itu?!"
"Perhatian?" Reynand mengangkat alis, tertawa getir. "Itu bukan sekedar perhatian, Anindya. Kau tidak melihatnya? Cara dia menatapmu... cara dia berusaha terlihat baik di hadapanmu... dia itu menyukaimu!"
"Lalu apa urusannya sama Bapak kalau dia menyukai saya?! Setidaknya dia masih lajang, bukan suami orang! Jadi tidak ada salahnya kalau saya dan dia—"
Kalimat itu belum selesai terucap, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik kuat.
"Ah— Pak!"
Tanpa berkata apa-apa, Reynand menarik Anindya masuk ke dalam rumah, menutup pintu depan dengan bunyi dum yang berat dan memantulkan suara di ruangan yang sepi itu. Tanpa memberi kesempatan wanita itu bertanya, ia melangkah mendekat, mendorong tubuh Anindya perlahan namun pasti hingga punggungnya menyentuh permukaan tembok yang dingin.
Anindya menahan napas, matanya membelalak, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak.
"Pak... apa yang Bapak—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, bibirnya tiba-tiba disentuh oleh bibir pria itu.
Bukan lembut, bukan pelan. Ciumannya penuh, mendesak, seakan ingin menelan setiap kata yang menyakitkan tadi. Ia menciumnya dengan segala kerinduan, cemburu, dan ketakutan yang selama ini dipendamnya.
Tangan kanannya menyangga tengkuk wanita itu, menahannya di tempat, sementara tangan lainnya melingkar di pinggang Anindya, menarik tubuhnya mendekat hingga tak tersisa celah sedikit pun di antara mereka.
Anindya terpejam perlahan, segala protes yang tadi siap meluncur luruh seketika. Kakinya terasa lemas, tangannya yang tadi hendak mendorong kini justru mencengkeram kerah kemeja Reynand, tak sadar menariknya lebih dekat. Napas mereka menyatu, hangat dan memburu, di ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu yang lembut.
Saat akhirnya ia menjauh sedikit, kening mereka masih saling bersandar. Napas Reynand terasa panas dan berat di wajah Anindya.
"Jangan..." suaranya parau, bergetar. "Jangan bandingkan aku dengannya, Anindya... dan jangan katakan seakan aku tidak punya hak sama sekali... meski aku tahu, aku belum bebas..."
Ia menatap mata wanita itu lekat, matanya gelap namun penuh kepedihan yang tulus.
"Tapi perasaanku padamu... ini nyata. Dan aku tidak sanggup mendengarmu berkata begitu..."
Anindya menatapnya, napasnya masih tersengal, air mata kembali menggenang di sudut matanya.
"Reynand..." bisiknya pelan, menyebut namanya untuk pertama kalinya tanpa disertai sapaan jabatan.
Panggilan itu membuat tubuh pria itu menegang. Ia menatapnya dalam-dalam, lalu kembali menciumnya, kali ini lebih lembut, penuh permohonan, seakan meminta maaf atas kekasarannya, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita itu benar-benar ada di pelukannya.
-
-
-
Di ruang tengah kediaman Ardian yang luas dan megah, keheningan yang biasanya tenang kini terasa menyesakkan. Marissa berdiri di dekat jendela, punggungnya tegak namun bahunya gemetar menahan amarah yang meluap. Ia berbalik perlahan menatap suaminya yang duduk tenang di sofa, seakan apa yang baru saja terjadi bukanlah hal yang mengubah segalanya.
"Kamu setuju, Mas?" suaranya meninggi, tak percaya. "Kamu benar-benar setuju? Tanda tangan sudah tertera, saham sudah ditarik, kerja sama diputus!"
Aditya menaruh gelas kopi di meja pelan-pelan, tanpa suara. Wajahnya datar, tenang, tak ada jejak kekesalan maupun keterkejutan.
"Reynand sudah dewasa, Marissa. Dia tahu apa yang dipertaruhkan."
"Tahu apa?!" Marissa melangkah mendekat, matanya memancarkan kemarahan. "Dulu kita yang menyatukan mereka! Dulu kita yang sepakat, pernikahan ini menyatukan dua keluarga, memperkuat fondasi perusahaan! Dan sekarang... dalam sekejap, dia melepaskan semuanya demi wanita lain? Dan kamu membiarkannya?!"
Aditya menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke arah istrinya.
"Kita menjodohkan mereka, ya. Tapi kita tidak pernah bertanya apakah mereka saling mencintai, bukan?"
Marissa terdiam sejenak, lalu tertawa getir.
"Jadi sekarang soal cinta? Sejak kapan urusan penyatuan keluarga harus didasari perasaan? Kamu sendiri yang bilang dulu, pernikahan itu tanggung jawab, bukan perasaan sesaat!"
"Kamu benar," akui Aditya pelan. "Dulu aku berpikir begitu. Tapi melihatnya bertahun-tahun hidup bersama tanpa pernah benar-benar hidup... aku mulai mengerti, memaksakan dua orang berdampingan tanpa ikatan hati justru lebih merusak daripada membiarkan mereka berpisah."
Marissa menggeleng cepat, tak menerima penjelasan itu.
"Kamu lemah, Mas! Kau membiarkan perasaanmu sendiri memengaruhi keputusan ini! Bagaimana dengan nama baik keluarga? Bagaimana dengan kerugian yang sudah terjadi? Bagaimana dengan Gisella? Apa kamu pikir dia akan diam saja ditinggalkan begitu, sementara keluarganya sudah mencabut segalanya?!"
Aditya berdiri perlahan, menatap istrinya lekat.
"Gisella berhak bahagia, Marissa. Dan Reynand juga. Jika mereka terus berpura-pura sampai tua, siapa yang dirugikan? Bukan kita yang duduk di sini menilai. Mereka yang menjalani hari demi hari."
Marissa membuang muka, menahan air mata yang hendak menetes.
"Kamu tidak mengerti..." suaranya lirih namun tajam. "Kau tidak tahu betapa beratnya konsekuensi ini... semua orang akan bertanya. Akan ada yang memanfaatkan keretakan ini. Bisa menghancurkan reputasi yang dibangun puluhan tahun."
Aditya melangkah mendekat, meletakkan tangan di bahu istrinya. Kali ini Marissa tidak menepisnya.
"Aku tahu risikonya. Aku paham betul seberapa besar dampaknya. Tapi aku tidak bisa membiarkan anak muda itu menghabiskan sisa hidupnya dalam kepalsuan. Biarkan Reynand menjelaskan sendiri pada Gisella. Biarkan mereka menyelesaikan dengan cara yang baik."
Marissa menatapnya tak percaya, seakan melihat orang asing di hadapannya.
"Kamu berubah, Mas... Dulu kamu tidak akan selembut ini."
Aditya tersenyum tipis, namun matanya tampak lelah.
"Mungkin aku hanya mulai sadar, bahwa yang kita bangun tanpa dasar yang kuat... akan runtuh dengan sendirinya, tak peduli seberapa tinggi kita menumpuknya."
Ia berbalik berjalan menuju pintu.
"Sudahlah, Marissa. Istirahatlah. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri."
Marissa berdiri sendirian di ruangan itu, menatap punggung suaminya yang menjauh. Hatinya dipenuhi keresahan yang tak bisa diucapkan. Bukan hanya soal pernikahan itu, melainkan perubahan sikap Aditya yang tiba-tiba begitu lunak.
"Pokoknya aku tidak setuju," ucapnya pelan namun tegas, menggantung berat di ruangan yang kini sepi. "Menantuku sampai kapanpun tetaplah Gisella. Bukan orang lain."
-
-
-
Bersambung...