Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: OPERASI DUA DETAK
Dokter Mira berkata, "Sinta, kita akan bius setengah badan. Kamu akan tetap sadar. Kamu akan dengar tangisan mereka lahir."
Aku mengangguk, tapi air mataku tidak berhenti. Lampu operasi di atasku terlalu putih, terlalu silau. Dingin. Semua serba dingin.
Seorang dokter laki-laki yang aku tidak kenal menepuk bahuku. "Saya dokter anestesi. Saya akan suntik di punggung. Rasanya seperti digigit semut besar, setelah itu kaki kamu akan mati rasa. Jangan bergerak ya, Sinta."
Aku memeluk lututku yang besar. Perut 29 minggu dengan dua bayi di dalam membuat posisi ini sangat sakit. Jarum panjang itu masuk ke tulang belakangku. Sakitnya bukan main, tapi tidak sesakit kontraksi yang tadi.
Tidak sampai satu menit, kakiku hilang. Aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku mencoba menggerakkan jari kaki, tidak bisa.
"Berhasil. Mulai operasi!" suara Dokter Mira terdengar tegas.
Sebuah tirai biru dipasang di depan dadaku, jadi aku tidak bisa melihat perutku sendiri dioperasi. Aku hanya bisa melihat lampu dan mendengar suara alat-alat logam beradu.
Di luar tirai, perutku dibuka lapis demi lapis. Aku tidak merasakan sakit, hanya merasakan ada yang ditarik-tarik, ditekan-tekan. Seperti ada orang yang sedang merapikan isi lemari di dalam perutku.
Dan detak jantung mereka masih ada di monitor.
Di sebelah kiriku, ada suster yang tugasnya hanya memegang tanganku dan membisikkan, "Tarik napas, Bu Sinta. Buang. Bagus."
Aku menarik napas. Bau darah dan bau cairan ketuban yang pecah tadi menyengat.
"Ketuban Janin B sudah habis total. Kita harus cepat. Janin B gawat," Dokter Mira berkata cepat.
Itu Kelvin Jr. Ketubannya yang pecah tadi jam 4.55 pagi.
"Siap. Saya akan keluarkan Janin B dulu."
Aku merasakan tekanan yang sangat besar di perut bagian kanan bawah. Seperti ada yang didorong keluar paksa.
Lalu...
Hening.
Tidak ada tangisan.
"Ya Tuhan..." salah satu suster berbisik.
Jantungku berhenti.
"Kelvin Jr? Kelvin Jr mana? Kenapa tidak nangis?" aku berteriak di balik tirai.
Dokter Mira tidak menjawab. Dia sibuk. Aku mendengar suara alat penghisap lendir. Suara yang menyedot.
"Sedot lagi! Hangat! Kasih selimut hangat!"
Detik terasa seperti satu jam. Monitor detak jantung bayi yang tadinya 148, sekarang tidak ada suaranya lagi karena bayinya sudah di luar.
Lalu...
"Oeeee... oeeeee... oeeee..."
Tangis kecil. Pelan. Lemah. Tapi itu tangis.
Tangis Kelvin Jr.
Air mataku tumpah. "Hidup... dia hidup..."
Suster mengangkat sesuatu yang merah dan kecil melewati tirai biru, supaya aku bisa melihat sekilas. Kecil sekali. Sekecil botol minum. Kulitnya merah transparan. Matanya masih tertutup. Tapi dia bergerak. Dia menangis.
"Bayi B, laki-laki, berat 1100 gram, panjang 38 cm, lahir pukul 05.11 pagi, APGAR 6. Bawa ke inkubator segera! Hubungi dokter anak!"
Kelvin Jr dibawa pergi. Aku hanya sempat melihat punggungnya.
Belum sempat aku lega, tekanan kedua datang. Kali ini di perut kiri.
"Janin A masih bagus. Ketubannya masih utuh. Kita keluarkan sekarang. Ibu Sinta, dorong sedikit ya, bantu saya."
Aku tidak bisa mendorong karena kaki mati rasa, tapi aku mengedan dengan perut atas.
Tekanan itu lebih besar dari yang pertama. Karena Arga Jr lebih besar.
"OEEEKKK!!! OEEEKKK!!! OEEEKKK!!!"
Tangis kedua ini jauh lebih kencang. Jauh lebih keras. Satu ruangan operasi mendengarnya.
Suster tertawa lega. "Yang ini kuat sekali!"
Suster mengangkat bayi kedua melewati tirai. Jauh lebih besar dari yang pertama. Lebih putih. Rambutnya lebih lebat.
"Bayi A, laki-laki, berat 1350 gram, panjang 40 cm, lahir pukul 05.14 pagi, APGAR 8! Sehat!"
Itu Arga Jr.
Dua tangisan bersahutan dari dua sudut ruangan yang berbeda. Satu tangisan lemah dari inkubator Kelvin Jr, satu tangisan kuat dari timbangan Arga Jr.
Dua detak yang tadi ada di dalam rahimku, sekarang ada di luar.
Operasi belum selesai. Dokter Mira masih menjahit rahim petarungku. Dijahit lapis demi lapis. "Rahim kamu tipis sekali, Sinta. Seperti kertas. Tapi kamu hebat. Kamu berhasil menahan dua nyawa sampai hari ini."
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menangis sambil mendengarkan dua tangisan itu.
Setelah dijahit, aku didorong keluar dari ruang operasi.
Di depan pintu, Arga dan Luna masih berdiri dengan baju yang sama dari tadi malam. Mata mereka bengkak.
Saat melihatku, Arga langsung berlutut di samping brankar.
"Sinta! Kamu... kamu..."
"Arga Jr 1350 gram... Kelvin Jr 1100 gram... dua-duanya laki-laki... hidup..." aku berbisik.
Luna langsung menutup mulutnya dan menangis keras. Bukan tangis sedih. Tangis yang selama 2 tahun dia tahan sejak Kelvin meninggal.
"Kelvin Jr hidup... anak Kelvin hidup, Sin..." Luna memeluk tiang infusku.
Arga mencium keningku yang penuh keringat. "Terima kasih, rahim petarung. Terima kasih."
Aku dipindahkan ke ruang pemulihan. Tidak boleh langsung ketemu bayi karena mereka berdua langsung masuk NICU, ruang bayi prematur.
Jam 07.00 pagi, Dokter anak datang dengan dua foto polaroid.
Ini foto pertama mereka.
Foto pertama: Arga Jr di dalam inkubator, memakai topi rajut biru, selang di hidung, tapi matanya terbuka. Matanya mirip Arga.
Foto kedua: Kelvin Jr di dalam inkubator, memakai topi rajut putih, lebih kecil, selang lebih banyak, matanya masih tertutup. Tapi di pergelangan tangannya, suster sudah memakaikan gelang yang aku titipkan: KELVIN JR - DARI PAPA KELVIN.
"Bu Sinta, Pak Arga, Mbak Luna, begini kondisinya. Dua-duanya prematur 29 minggu, jadi paru-parunya belum matang. Mereka harus di inkubator minimal 1 bulan. Arga Jr lebih kuat, kemungkinan 3 minggu sudah bisa pulang. Kelvin Jr lebih kecil dan ketubannya pecah duluan, jadi ada infeksi sedikit, kemungkinan 6 minggu baru bisa pulang. Tapi dua-duanya pejuang seperti ibunya."
Luna memegang foto Kelvin Jr dengan gemetar. "Boleh saya gendong?"
"Belum boleh 3 hari pertama, Mbak. Tapi boleh ditempel dada, metode kangguru, nanti sore."
Sore harinya, jam 16.00.
Aku dipaksa duduk di kursi roda, dengan perut yang masih perih bekas jahitan sesar, didorong ke NICU.
Di NICU, ada 20 inkubator berjejer. Bayi-bayi kecil menangis.
Di ujung, ada dua inkubator yang berdampingan. Sengaja disandingkan oleh suster.
Inkubator A: ARGA JR TAN
Inkubator B: KELVIN JR TAN
Aku membuka baju, dan suster meletakkan Kelvin Jr yang hanya 1100 gram itu di dadaku. Kulit ketemu kulit.
Kecil. Hangat. Rapuh.
Kelvin Jr berhenti menangis saat menempel di dadaku. Dia mencari. Dia mengenali detak jantungku. Detak yang selama 29 minggu dia dengar dari dalam.
Di inkubator sebelah, Arga melakukan hal yang sama. Dia membuka baju, menempelkan Arga Jr di dadanya. Arga Jr yang 1350 gram itu langsung diam dan tidur di dada papanya.
Luna melihat pemandangan itu dari luar kaca NICU. Dia tidak masuk. Dia hanya melihat.
Dia melihat anak kandung mendiang suaminya, Kelvin Jr, sedang tidur di dada Sinta.
Dia melihat anak dari sahabatnya dan musuhnya dulu, Arga Jr, sedang tidur di dada Arga.
Dua ayah. Dua bayi. Satu rahim petarung yang sudah berhasil.
Luna mengambil handphone, memfoto momen itu, dan mengirim ke grup keluarga dengan caption:
"Hari ini, jam 05.11 dan 05.14 pagi, keluarga kita bertambah dua. Mohon doanya untuk Arga Jr dan Kelvin Jr yang masih di NICU. Ibunya, Sinta, rahim petarung, masih hidup dan hebat."
Tidak sampai 5 menit, foto itu dibalas Opa: "Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa."
Malam harinya, aku kembali ke kamar. Perutku kosong. Tidak ada tendangan lagi. Aneh rasanya. Selama 7 bulan ada tendangan terus, sekarang kosong dan perih.
Arga tidur di sofa dengan foto Arga Jr di dadanya.
Luna tidur di sofa sebelah dengan foto Kelvin Jr di dadanya.
Dan aku, di tengah ranjang, memegang dua foto polaroid itu.
Dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, masih berjuang di inkubator.
Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 31. Masih ada 19 bab lagi sampai mereka bisa pulang.
Tapi untuk malam ini, aku bisa tidur lagi tanpa mimpi buruk keguguran. Karena dua-duanya sudah lahir. Sudah selamat.
Rahim petarung tidak kalah.
................
Terima kasih udah baca sampai Bab 31! Ini bab kelahiran yang paling aku nangisin nulisnya.
Menurut kalian siapa yang paling kuat?
A. Arga Jr yang 1350 gram dan nangis kencang
B. Kelvin Jr yang 1100 gram tapi tetap hidup walau ketuban pecah duluan
Komen A atau B ya! Yang komen aku balas satu-satu dan aku kasih bocoran Bab 32: Siapa yang boleh pulang duluan dari NICU? Dan Opa mau kasih warisan 500 Juta ke siapa?
Jangan lupa kasih LIKE biar rating buku ini naik,!
mampir juga di karyaku yah😊