Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:703.4k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Masih di Bekasi

Tidak sekadar menemani Diaz makan dengan duduk diam, Tya membuka kerupuk udang yang dibungkus plastik serta membuka segel botol air mineral. Tak menolak saat Diaz menyuapi secuil daging ayam bakar. Tapi kali kedua disuapi, ia menggeleng. Tya ingin sang suami fokus makan mengingat tadi mengatakan butuh protein tinggi karena akan lembur sampai magrib.

"Rasanya enak. Pesan di mana ini, Bey?" tanya Tya yang akhirnya mencicipi tumis tempe yang tidak dihabiskan Diaz. Kotaknya coklat polos. Tak terlihat adanya logo catering.

"Nggak tahu si Jo yang nyari. Aku cuma request ayam bakar dadanya."

Diaz mengucapkan terima kasih saat anaknya Pak Didi datang membawa pesanan kelapa muda yang diminum langsung dari tempurungnya.

Tya mengangguk. Tak mempermasalahkan ketidaktahuan Diaz. Yakin Jordan selalu memberi pelayanan terbaik pada suaminya itu. "Kalau nanti malam pengen menu apa?"

"Paha sama dada mentah dua porsi."

"Heh!" Tya menyentil lengan Diaz dengan gemas. Mesum tidak kenal tempat.

Diaz menyeringai lalu mendekatkan wajahnya hingga kening dan ujung hidungnya beradu dengan kening dan hidung Tya.

Dari meja yang ditempati Jordan, tiga orang teman Tya kompak nyengir karena ketiganya seolah satu komando menatap ke arah meja Tya.

"Cieee." Rahma saling tatap dengan Lusi dan Nisa lalu cekikikan pelan.

"Jangan dilihatin, nanti bintitan," ujar Jordan yang mulai mengaduk mie ayam yang baru datang. Menurutnya, tingkah tiga temannya Tya itu tidak sesuai umur. Kayak ABG aja.

"Ya udah. Ganti liatin Mas anonim ini aja yang makan mie ayam kalau gitu. Hehe canda, Mas," sahut Lusi sambil mengangkat dua jari.

"Namaku Jordan. Kalian?" Jordan menatap ke gadis yang duduk di sebelah kanan.

Mulailah Rahma menyebutkan nama, disambung oleh Lusi dan Nisa.

Jordan mengacungkan ibu jari kanan. "Ini serius nggak ada yang mau nambah? Aku nawarin bukan basa basi."

"Sudah kenyang, Mas. Ini es jeruk juga belum habis," sahut Lusi.

"Mie ayam itu nikmat karena semangkuk, bukan dua mangkuk. Dalam hal apapun, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bukankah begitu?"

"Wow. Super sekali. Siapa tadi namanya?"

"Nisa, Mas. Nisa. Tolong discan wajahnya biar nempel di pikiran. Jadi nggak lupa lagi."

Lisa dan Rahma cekikikan.

Jordan tersenyum miring sambil mengunyah. "Oke."

"Eh, tapi-tapi ... Ada ada satu hal berlebihan yang efeknya baik. Apa coba?" sambung Rahma.

"Yeah. Kelebihan duit." Kompak Lusi dan Nisa. Kemudian bertiga tertawa renyah.

Jordan tersenyum simpul. Pada plenger juga nih teman-temannya Tya.

Suara tawa mereka mengundang perhatian Tya dan Diaz yang berbarengan menoleh. Tya tersenyum tipis. Tidak perlu khawatir meninggalkan ketiga temannya denga Jordan. Mereka bisa beradaptasi berbincang dengan orang baru.

"Si Jo kayaknya betah duduk di sana." Diaz kembali meluruskan pandangan ke depan. Menyeruput air kelapa muda yang terasa manis alami.

"Pasti betah. Teman-temanku itu rame orangnya. Mana masih single. Kali aja ada yang disuka sama Mas Jo." Tya tertawa kecil.

"Tahu si Jo tuh pengen cari cewek kayak gimana. Di kantor juga banyak yang caper. Tapi nggak ada yang dia lirik. Masa iya si Jo nggak normal."

"Ish, bukan gitu kali. Mungkin selektif aja. Jangan suudzon, Bey."

Diaz menyeringai. "Iya, sayang. Abis ini mau ke mana?"

"Mampir ke masjid dulu salat Zuhur. Terus pulang deh."

Kebersamaan harus berakhir karena waktu menunjukkan pukul 13.35. Sudah melebihi batas waktu booking. Tapi Diaz mempersilakan Pak Didi membuka lagi pintu, terbuka untuk umum.

Tya mengantar Diaz sampai teras setelah suaminya itu pamit pada ketiga temannya. Menatap dulu mobil yang dikemudikan Jordan menyeberang jalan. Kemudian masuk dan menghampiri meja kasir. Bertanya total yang harus dibayar. Yang dimakan Diaz dan Jordan disatukan ke tagihannya. Ia berikan uang tunai setelah pemilik warung mie ayam menyebutkan nominal.

"Neng, mobil suaminya masuk ke pabrik ya. Apa jabatannya pengawas ya? Atau manajer? Soalnya penampilannya keren."

Tya tersenyum melihat kekepoan pemilik warung mie ayam. "Suami kerjanya di kantor pusat Jakarta. Ke sini lagi dinas jadi pengawas, Pak."

"Oh." Pak Didi manggut-manggut. "Sesuai sama penampilannya. Rapi dan perlente. Mana ganteng lagi. Serasi, Neng."

Pujian yang membuat Tya tersenyum mesem. Ia lantas kembali ke meja untuk mengajak ketiga temannya pulang.

***

Tya sampai di rumah pukul setengah tiga setelah mampir ke masjid dan jajan es cendol dulu di warung yang ada di samping masjid. Kembali mentraktir ketiga temannya. Dibungkus untuk dibawa ke rumah karena saat ini masih kenyang.

Halaman rumah menjadi tempat perpisahan. Ketiga temannya Tya pamit pulang setelah jajan dulu kuenya Susan.

"Hati-hati, gais. Next ketemu di Jakarta."

"Gas. Bye, Tya," sahut Lusi yang dibonceng oleh Rahma. Mewakili melambaikan tangan.

Tya masuk ke dalam rumah. Baru bertemu dengan Bisma yang sedang bersantai di sofa. Di sebelahnya ada Nesha yang terlelap. Jadilah berbincang dulu setelah menyerahkan oleh-oleh es cendol pada Susan. Tya ingin tahu kegiatan sang kakak yang menjadi voice over.

"Terus pas rekaman, Nesha nggak bete nungguin?"

"Nggak. Malah duduk anteng dan nonton dari kaca. Ditemenin produser sama kru. Kepo nya tinggi, bikin capek jawabnya."

Tya terkikik. Menyempatkan menjawil pipi Nesha yang tidur pulas. Barulah pergi ke kamar untuk berganti pakaian.

Siang menjelang sore ini Tya tidak berminat berleha-leha di kamar. Ia keluar lagi dan pergi ke dapur menemui Susan yang sedang memeriksa sisa stok bahan kue. Berbincang membahas menu makan malam sampai deal akan memasak bersama. Tujuan selanjutnya menengok Joko.

"Hai, Joko. I'm coming." Tya berdiri di depan kandang. Mengagetkan sang ayam jago yang sedang meringkuk. Si Joko mengepakkan sayapnya lalu memanjangkan leher di sela jeruji bambu. Menjadi cara berinteraksi antara Tya dan ayam jago kesayangan keluarga.

"Joko, aku baru pulang jajan mie ayam bareng bestie. Seru. Eh tau nggak? Abey kecintaan banget sama aku sampai makan aja di warung mie ayam karena pengen ketemu aku. Alhamdulillah disyukuri banget punya suami bucin. Kau ikut happy kan, Ko?"

Si Joko mematuk-matuk telapak tangan Tya.

"Haha. Pinter sekali. Kau ini memang bestie sejati. Karna udah jadi pendengar yang baik, nih bonusnya." Tya merogoh saku dasternya. Sudah disiapkan satu buah sosis sebagai hadiahnya.

***

Langit sudah berubah gelap saat mobil Diaz tiba di pekarangan rumah. Dari dalam mobil, Diaz melihat sosok Tya berada di kursi teras ditemani Nesha. Seperti sengaja menunggu. Dan kehadiran istri mampu mengikis lelah setelah seharian ini melakukan rapat pembenahan di pabrik.

"Boss, aku langsung jalan ya," ujar Jordan yang akan membawa mobil Diaz ke tempatnya menginap di Geranium Cafe.

"Oke." Diaz turun. Langkahnya menuju teras di mana Tya dan Nesha langsung berdiri dengan wajah semringah.

Nanti gini kali ya kalau punya anak.

Diaz tersenyum simpul setelah Tya dan Nesha bergiliran mencium tangannya. Lalu sama-sama masuk ke dalam rumah. Diaz izin ke kamar setelah bertemu Bisma.

"Abey mau makan dulu atau mandi dulu?" Tya memandangi Diaz yang membuka kancing kemeja.

"Mandi dulu ah. Gerah."

Tya sudah menyiapkan handuk dan baju ganti Diaz yang disimpan di ujung kasur. Perlengkapan mandi khusus yang dibawanya dari Jakarta diserahkan pada Diaz berikut handuk. "Ayo. Aku mau sekalian siapin makan."

"Tadi jam empat Ayah telepon. Pengen ngajak kita makan malam. Ku bilang lagi di Bekasi. Lain waktu aja."

Rencana membuka pintu urung begitu mendengar Diaz bercerita tapi diakhiri decakan.

"Kita? Berarti aku diajak ya?"

"Iya."

Tya mengangkat sebelah alisnya. "Terus kenapa Abey kayak kesel?"

"Karena udah di spill apa maunya. Ayah minta bantuan kita pengen balikan sama Ibu."

1
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Jadi tau bgmn kedekatan pak Husain dgn ibu Suri penasaran cerita selanjutnya pak Husain.Terima kasih upnya teh Nia🌹🌹🌹
N I A 🌺🌻🌹
tq up nya akak nia🙏
N I A 🌺🌻🌹
kirain atmosfer nya bau2 pelakor secara diaz baru di datangi mantan 🤭
N I A 🌺🌻🌹
orang ada mah pak husain tya, apa sih yg ga buat suri seorang😂
N I A 🌺🌻🌹
wow long story bgt ya bu😊
N I A 🌺🌻🌹
wah pak husain punya nama timang2 ya special buat bu suri🤭
N I A 🌺🌻🌹
Alhamdulillah mencutul juga, absen tya☝️😊
Deswita
terimakasih up nya Thor 🙏🥰
Hariana Jusman
ternyata atmosfer itu toh🤭🤭
Hariana Jusman
karna mampu tya🤗
Hariana Jusman
aduuuuhhh hanya tya yang tau tentang pak ucen😅😅
Hariana Jusman
hahahaaa pak ucen toh😅😅
Hariana Jusman
ucen🤔🤔hmhmm nama yang unik🤭
Hariana Jusman
Alhamdulillah up🤗🤗🤗
Shee_👚
Salfok sama judul ternyata oh ternyata l😂
Shee_👚
mampu lah orang dia yang punya 🤣
Shee_👚
kasian gagal bikin anget-anget🤭
Shee_👚
begini apa teh nia🤣🤣
ampun dah di gantung terus, abey aja ampe sekarang belum terjawab 😂
Shee_👚
ehem pak husein kirim apa kira-kira, ih jadi kepo🤭
Rahma Inaya
bukan krn keterpaksàn tya rp mmg sdh diniatkan utk sang pujaan hati yg dikagumi dlm diam ..rela jd supir pribadi slm berthun tahun bahkan rela meningglkn jabtan terbesar di perusahànnya utk lbh dekt dgn sang pujaan hati to tdk utk jd pebinor ..apa jd nya reaksi ibu suri klu suatu saar pak husein memgungpkn isi hati nya pada ibu suri akankah perasaa. ibu suri terbalas or ibu suri kaget dan menollak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!