Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.
Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.
Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.
Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.
Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.
Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Sudut Pandang Rebecca
Malam itu aku tak tidur.
Sebenarnya… aku sudah beberapa hari tak tidur nyenyak. Tapi malam itu berbeda.
Aku duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuan… menatap layar seolah benda itu akan memberiku jawaban.
Dan mungkin memang begitu.
Kuketik namanya.
Dante.
Cuma itu.
Tapi tak butuh waktu lama untuk hasilnya muncul.
Pengusaha. Berpengaruh. Pemilik perusahaan-perusahaan bernilai jutaan dolar. Acara-acara besar. Bisnis internasional.
Foto-fotonya dalam setelan jas mahal. Selalu serius. Selalu dikelilingi orang-orang penting. Selalu… tak tersentuh.
Tapi aku tahu. Aku bisa merasakannya. Itu hanya permukaannya saja.
Karena tatapan matanya di foto-foto itu… bukan tatapan pria biasa.
Dingin. Penuh perhitungan. Berbahaya.
Aku menelan ludah.
"Jadi ini kau…" bisikku.
Ayah mereka.
Pria yang begitu ditakuti kakakku… sampai-sampai ia menyembunyikan keberadaan anak-anaknya sendiri.
Aku terus mencari. Alamat. Perusahaan. Rutinitas.
Sedikit yang muncul secara langsung. Tapi cukup untuk kususun jadi sebuah jalan.
Dan ketika kutemukan salah satu alamat utamanya… jantungku berdebar kencang.
Ini nyata. Semua ini nyata.
Kututup laptop perlahan. Kuusap wajahku.
Tarik napas, Rebecca. Tarik napas.
Tapi aku belum bisa berbuat apa-apa. Belum, sebelum bicara dengan mereka.
Kulirik jam. Sudah hampir waktunya. Mereka akan pulang. Dan aku harus… menceritakan semuanya.
Pintu terbuka dengan bunyi seperti biasa.
"Kami pulang!"
Suara Heitor lebih dulu terdengar. Lantang. Penuh energi.
"Aku lapar banget!"
"Nggak biasanya," sahut Henrique di belakangnya, lebih santai.
Aku bangkit dari sofa. Berusaha tampak biasa saja.
"Cuci tangan dulu."
"Siap, Nyonya," ujar Heitor sambil memutar bola mata. Tapi ia menurut.
Henrique cuma memberiku setengah senyum. Senyum tenang yang selalu berhasil menenangkanku juga.
Aku ke dapur. Kusiapkan apa yang ada. Sederhana. Tapi dibuat dengan sepenuh hati. Seperti biasa.
Mereka duduk. Mulai makan. Mengobrol soal sekolah. Soal hal-hal sepele.
Dan untuk beberapa menit… aku hampir melupakan segalanya.
Hampir.
"Terus, Tante?" Henrique bertanya sambil menatapku. "Semuanya baik-baik aja, kan?"
Ia selalu peka. Selalu.
Kupaksakan sebuah senyum. "Baik kok."
Bohong. Tapi aku tak bisa membebani mereka begitu saja. Belum saatnya.
Selesai makan malam… mereka pergi mandi. Dan aku tinggal di sana. Terdiam. Menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan keberanian.
Karena hal ini… akan mengubah segalanya.
"Ke ruang tamu sebentar."
Kupanggil mereka. Suaraku keluar lebih tegas dari yang kuduga.
Beberapa menit kemudian mereka muncul. Sudah selesai mandi. Lebih tenang. Tapi waspada.
Mereka duduk di sofa. Satu di kiriku, satu di kananku. Menatapku. Menunggu.
Itu saja sudah membuat dadaku menyesak.
"Kita perlu bicara."
Hening.
Heitor melipat tangan. "Nah, mulai deh."
"Bilang aja, Rebecca," ujar Henrique, lebih serius.
Aku menarik napas dalam. Tak ada jalan mundur sekarang.
"Ada seorang pria…"
Suaraku tersendat sesaat. Tapi kuteruskan.
"Ada seorang pria yang mengikutiku."
Keduanya langsung menegang.
"Maksudnya mengikuti gimana?" Heitor bertanya, sudah mulai kesal.
"Dia muncul di tempat kerjaku… mulai mengajakku bicara… aku mengabaikannya…"
Kuusap lenganku, gugup.
"Lalu mulai datang barang-barang… catatan… pesan-pesan…"
Henrique mencondongkan tubuh ke depan. "Pesan macam apa?"
Aku menelan ludah. "Ancaman."
Keheningan terasa berat.
"Dan semakin parah."
Kuambil ponselku. Tanganku gemetar. Kutunjukkan fotonya.
Mereka. Keluar dari sekolah.
Heitor langsung berdiri. "APA-APAAN INI?!"
"Tenang!" seruku, ikut bangkit.
"GIMANA BISA ADA ORANG PUNYA FOTO KAYAK GINI?!"
"Aku nggak tahu!"
Henrique diam di tempat. Tapi tatapannya… dingin. Berbahaya.
"Kau sudah lapor polisi?"
Aku mengangguk. "Sudah."
"Terus?"
"Katanya mereka nggak bisa berbuat apa-apa."
Heitor tertawa tanpa humor. "Bagus. Luar biasa."
Ia mengusap rambutnya. Mondar-mandir.
"Jadi kita harus gimana?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Dan itulah yang paling kutakuti.
Aku menarik napas dalam. Jantungku memburu.
"Ada seseorang yang bisa membantu."
Keduanya terdiam. Menatapku. Hening. Berat.
"Siapa?" tanya Henrique.
Kupejamkan mata sesaat. Lalu kukatakan.
"Ayah kalian."
Dunia seakan berhenti.
"Apa?" ucap Heitor, pelan.
Henrique hanya membeku.
"Sebelum ibu kalian meninggal… dia bercerita padaku."
Suaraku kini lebih rendah. Lebih berat.
"Dia bilang siapa pria itu."
"Jadi kau tahu selama ini?" tanya Heitor, tak percaya.
Aku mengangguk pelan. "Iya."
"Dan nggak pernah cerita apa-apa?!"
"Karena dia menyuruhku berjanji!"
Suaraku meninggi. Putus asa.
"Dia bilang pria itu berbahaya… dia nggak mau kalian dekat-dekat dengannya… dia nggak mau kalian tumbuh di dunia semacam itu!"
Hening.
"Dan kau menerima begitu saja?" tanya Henrique.
"Aku sudah berjanji padanya."
Kutatap keduanya. Mataku mulai terasa panas.
"Aku berjanji nggak akan pernah cerita… nggak akan pernah mencarinya."
Heitor mengusap wajahnya. "Dan sekarang?"
Aku menarik napas dalam. "Sekarang aku nggak punya pilihan."
Keduanya terdiam. Mencerna.
"Dia tahu soal kami?" tanya Henrique.
Aku menggeleng. "Nggak."
"Maksudnya nggak?"
"Dia nggak tahu kalian ada."
Keterkejutan itu terlihat jelas.
"Itu keputusan ibu kalian."
Suaraku kini lebih mantap.
"Dia baru tahu siapa pria itu sebenarnya setelah hamil."
Kutatap mereka.
"Dia takut."
"Jadi bukan salah dia?" tanya Henrique.
"Bukan."
Kujawab tanpa ragu.
"Dia sama sekali nggak tahu apa-apa."
Heitor mengembuskan napas berat. "Ini makin lama makin seru aja…"
Hening. Tegang. Penuh hal-hal yang tak terkatakan.
Lalu kukatakan.
"Aku akan menemuinya."
Keduanya menatapku.
"Karena aku nggak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian."
Suaraku tak lagi gemetar.
"Meski aku harus melanggar janji terpenting dalam hidupku."
Dan saat itu… aku tahu. Tak ada lagi jalan mundur.