### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru Viral
Reyhan tidak pernah menyangka bahwa satu video berdurasi kurang dari satu menit bisa mengubah suasana seluruh sekolah dalam semalam.
Semua bermula dari kelas pagi itu, hari keenam masa tugasnya sebagai guru. Reyhan sedang menjelaskan konsep pecahan dengan cara yang sudah jadi kebiasaannya sejak beberapa hari terakhir mengaitkan materi dengan hal-hal nyata di sekitar murid-muridnya.
Kali ini dia memakai contoh dari warung Dimas, tapi sengaja dibungkus jadi permainan kelas dia membagi kelas jadi kelompok kecil, masing-masing berperan sebagai "pemilik warung" yang harus menghitung untung-rugi dari skenario yang dia buat sendiri di papan tulis, lengkap dengan angka-angka konyol dan sedikit bumbu komedi supaya kelas tidak tegang.
"Kelompok yang untungnya paling banyak, nanti saya kasih waktu istirahat lebih lama lima menit," katanya, setengah bercanda setengah serius.
Kelas yang biasanya ogah-ogahan tiba-tiba jadi ribut dengan cara yang berbeda bukan ribut karena bosan, tapi ribut karena berdebat serius soal strategi jualan imajiner mereka.
Bimo, yang biasanya paling malas, justru jadi yang paling vokal di kelompoknya, berteriak-teriak memberi instruksi ke teman satu timnya layaknya bos warung sungguhan.
Nadia, yang biasanya diam, ikut menghitung dengan cepat dan tepat, membuat teman sekelompoknya kagum. Dan Dimas, tentu saja, jadi semacam "konsultan" tidak resmi buat kelompok-kelompok lain karena pengalamannya jualan sungguhan.
Di tengah keramaian itu, salah satu murid namanya Fira, duduk di barisan belakang diam-diam merekam suasana kelas dengan ponselnya. Reyhan tidak sadar sama sekali, terlalu sibuk berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain, membantu, menyemangati, sesekali melempar candaan yang membuat kelas tertawa.
Malam harinya, tanpa sepengetahuan Reyhan, video pendek berdurasi lima puluh detik itu diunggah Fira ke akun media sosialnya dengan judul singkat: *"Guru matematika paling nyeleneh yang pernah aku punya"*.
Video itu menampilkan cuplikan Reyhan yang sedang berlari kecil dari satu kelompok ke kelompok lain sambil berteriak lucu, "Ayo, warung sebelah udah untung dua ratus ribu, kalian masih di seratus lima puluh ribu, nih!"
disusul suara tawa seisi kelas yang terdengar sangat hidup, jauh dari kesan kelas bermasalah yang selama ini melekat pada XI-C.
Video itu, entah bagaimana ceritanya, menyebar cepat. Mungkin karena kontras antara reputasi buruk sekolah pinggiran dengan suasana kelas yang terlihat begitu ceria dan hidup.
Mungkin juga karena gaya mengajar Reyhan yang memang terlihat berbeda dari kebanyakan guru pada umumnya.
Yang jelas, dalam semalam, video itu sudah ditonton puluhan ribu kali, dibagikan ke berbagai grup, bahkan sampai ke akun-akun berita lokal yang suka mengangkat konten viral seputar dunia pendidikan.
Reyhan baru tahu soal video itu keesokan paginya, saat dia baru saja turun dari angkot di depan gerbang sekolah dan mendapati beberapa murid dari kelas lain menatapnya dengan tatapan penasaran, bahkan ada yang diam-diam memotretnya dari kejauhan.
"Pak, Bapak yang di video itu, kan?" tanya salah satu murid yang tidak dia kenal, menghampirinya dengan wajah antusias.
Reyhan bingung. "Video apa?"
Murid itu menunjukkan ponselnya, dan Reyhan hanya bisa membeku menatap layar kecil itu dirinya sendiri, berlari-lari kecil di antara meja kelas, berteriak soal untung warung imajiner, dengan angka penonton yang terus bertambah di detik itu juga.
Suasana di ruang guru pagi itu jauh berbeda dari biasanya. Beberapa guru senior membicarakannya sambil berbisik-bisik, ada yang tersenyum geli, ada juga yang terlihat tidak senang.
Salah satu guru senior, Pak Bambang, yang mengajar di sekolah itu sudah lebih dari dua puluh tahun, menghampiri Reyhan dengan raut wajah yang sulit ditebak antara menyindir dan menegur.
"Metode mengajar zaman sekarang emang harus kayak gini, ya? Bikin video, biar viral?" katanya, nada sinis terselip di baliknya.
Reyhan mencoba tersenyum sopan. "Saya nggak tahu ada yang rekam, Pak. Murni cuma coba metode belajar sambil main."
"Ya tapi hasilnya sekolah kita jadi bahan omongan orang di internet. Ada yang puji, tapi ada juga yang bilang itu nggak sesuai kurikulum, cuma buat hiburan doang. Kalau nanti ada inspeksi dari dinas gara-gara ini, siapa yang tanggung jawab?"
Reyhan terdiam. Ia tidak menyangka sesuatu yang menurutnya sederhana sekadar cara membuat murid lebih tertarik belajar bisa berujung jadi masalah yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
Tidak lama kemudian, Bu Retno memanggilnya ke ruangannya. Wajahnya terlihat lelah, campuran antara khawatir dan bingung harus bersikap bagaimana.
"Saya baru saja ditelepon pihak yayasan," katanya, menaruh ponselnya di meja. "Mereka nanya soal video ini. Ada yang bilang bagus buat citra sekolah, ada juga yang khawatir dianggap tidak profesional."
"Saya minta maaf, Bu, kalau ini bikin masalah," kata Reyhan, menundukkan kepala sedikit.
Bu Retno menghela napas panjang, lalu menatap Reyhan lurus-lurus. "Saya sebenarnya nggak tahu harus marah atau bersyukur. Soalnya... orang tua murid yang tadi pagi telepon saya, malah banyak yang bilang senang. Katanya anak mereka pertama kalinya cerita antusias soal pelajaran matematika di rumah."
Reyhan mengangkat kepala, sedikit terkejut mendengar itu.
"Tapi tetap saja," lanjut Bu Retno, "yayasan mau ada semacam evaluasi. Mereka mau lihat langsung metode Anda mengajar minggu ini. Kebetulan juga, hari ini adalah hari keenam masa tugas Anda, kan? Besok hari terakhir, sekaligus ujian tengah semester untuk kelas Anda."
Reyhan mengangguk pelan, menyadari beban di pundaknya jadi berlipat ganda. Bukan cuma soal misi sistem yang harus dia selesaikan, tapi sekarang juga soal reputasi metode mengajarnya yang sedang jadi sorotan banyak pihak.
Sepanjang hari itu, suasana sekolah terasa berbeda. Beberapa murid dari kelas lain sengaja lewat depan kelas XI-C hanya untuk mengintip, penasaran seperti apa "guru viral" itu mengajar. Ada yang menyapa Reyhan di lorong dengan antusias, ada juga guru-guru lain yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan antara kagum dan cemburu.
Di dalam kelas sendiri, suasana justru terasa lebih hidup dari biasanya. Murid-murid yang biasanya cuek terhadap pelajaran kini justru semangat, seolah ingin membuktikan bahwa kelas mereka memang seseru yang terlihat di video. Bahkan Bimo, meski masih menjaga image santainya, terlihat lebih aktif ikut diskusi dibanding hari-hari sebelumnya.
Sore harinya, Reyhan duduk sendirian di kelas yang sudah kosong, memandangi layar holografik sistem yang menampilkan progres misinya.
> [Progres Misi: 2/5 murid mencapai target kenaikan nilai sementara — berdasarkan proyeksi tugas dan kuis harian.]
> [Sisa waktu: 1 hari.]
Angka itu, meski masih jauh dari target, sudah menunjukkan pergerakan pertama kalinya sejak dia mulai mengajar. Reyhan tersenyum tipis, meski di balik itu ada kecemasan besar besok adalah hari terakhir, sekaligus hari ujian yang akan menentukan segalanya.
Ia memandang keluar jendela kelas yang mulai temaram, memikirkan tiga muridnya Dimas yang mulai tertarik belajar lewat warungnya, Nadia yang mulai berani menulis dan bicara, dan Bimo yang meski masih menjaga sikap dinginnya, diam-diam mulai terlihat peduli.
Reyhan menutup layar holografik itu perlahan, menghela napas panjang.
"Besok," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, "harus jadi hari yang berbeda."
Ia tidak tahu, bahwa esok hari akan membawa tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar ujian tengah semester biasa.