Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hari Rabu, sepekan setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Gencatan Senjata di Pelabuhan Lama. Markas Unit Manajemen Krisis (kamar Bella) kini tidak lagi terlihat seperti kamar tidur remaja. Kasur telah didorong ke sudut, sementara bagian tengah ruangan didominasi oleh sebuah meja lipat besar, proyektor portabel murah yang dibeli Riko dari pasar loak, dan whiteboard yang penuh dengan coretan spidol.
Di atas meja, terdapat empat gelas es teh manis dan satu cangkir espresso ganda (milik Bella). Dion, Rindi, Tono, dan Bono duduk melingkar dengan buku catatan masing-masing, mereka terlihat seperti dewan direksi startup yang sedang kelelahan setelah maraton rapat (sprint meeting).
"Bos," Riko mengangkat tangan kanannya yang pegal karena mencatat. "Perjanjian damai kan udah ditandatangani, leo juga udah narik mundur semua anak Serigala dari teritori kita. Kenapa kita masih harus lembur bikin analisis begini? Bukannya kita udah menang?"
Bella Anastasia atau lebih tepatnya, Sarah Paramitha yang sedang mengoperasikan tubuh remaja ini menyesap espresso-nya dengan anggun sebelum menatap Riko.
"Riko, dalam dunia bisnis, berpuas diri pasca-penandatanganan kontrak adalah penyebab utama kebangkrutan," ucap Bella dengan nada datar yang selalu sukses membuat anak buahnya merinding. "Sebuah tanda tangan di atas kertas bermeterai memang mengikat secara hukum, tetapi ia tidak memiliki kemampuan fisik untuk menahan pukulan tongkat bisbol. Kita harus menganalisis probabilitas pelanggaran kontrak (Breach of Contract)."
Bella berdiri dan berjalan menuju whiteboard, ia mengetuk papan itu dengan ujung spidol. Di sana, sudah tergambar matriks Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) khusus untuk organisasi kompetitor mereka, Geng Serigala.
"Dion, sebagai Head of Internal Security, bacakan profil pimpinan kompetitor kita," perintah Bella.
Dion berdehem, membuka buku catatannya. Insting jalanan yang ia miliki kini perlahan bertransformasi menjadi kemampuan intelijen korporat yang mumpuni.
"Target pertama, Leo. Jabatannya CEO Geng Serigala, Strengths (Kekuatan). Dia punya karisma yang kuat, dihormati mutlak oleh bawahannya, dan otaknya lumayan jalan untuk ukuran preman. Dia tahu kapan harus mundur, weaknesses (Kelemahan) adalah dia terlalu percaya sama wakilnya, si Toni."
"Tepat," Bella mengangguk setuju, melingkari nama Toni di papan tulis dengan spidol merah. "Leo adalah tipe pemimpin visioner yang rasional. Dia bisa diajak berbisnis. Namun, masalah terbesar Geng Serigala saat ini terletak pada manajemen lapis kedua mereka yaitu Toni."
Bella menatap keempat anggotanya. "Berdasarkan observasi kita di pelabuhan, Toni menunjukkan indikasi kuat sebagai 'Karyawan Toksik' (Toxic Employee). Dia memiliki ego yang lebih besar dari kapasitas intelektualnya, temperamental, dan secara terbuka menentang kebijakan CEO-nya di depan umum. Dalam ilmu HRD, karyawan seperti Toni adalah bom waktu. Dia akan menciptakan faksi pemberontak (splinter group) dan melakukan insubordinasi."
Tono mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah-istilah berat tersebut. "Insub... insub apa, Bos? Intinya si Toni bakal nusuk Leo dari belakang, gitu?"
"Tepat sekali, Tono. Kemampuan simplifikasimu sangat efisien," puji Bella, membuat Tono tersenyum bangga hingga giginya terlihat. "Jika Toni melakukan kudeta dan mengambil alih Geng Serigala, MoU yang kita buat dengan Leo akan otomatis dibatalkan secara sepihak. Toni akan melancarkan serangan balasan yang tidak terstruktur dan berpotensi merusak fasilitas sekolah kita."
"Gila..." Budi bergumam ngeri. "Terus kita harus gimana, Bos? Nyerang mereka duluan sebelum si Toni berontak?"
"Kekerasan proaktif (Preemptive Strike) adalah pemborosan sumber daya," jawab Bella dingin. "Pendekatan kita adalah Resolusi Konflik melalui Diplomasi B2B (Business to Business). Saya akan membuka saluran komunikasi langsung dengan Leo. Saya akan menawarkan konsultasi manajemen secara cuma-cuma kepadanya untuk menyingkirkan karyawan toksiknya, sebelum karyawan toksik itu menghancurkan bisnis kita."
Dion terbatuk hingga tersedak es tehnya. "Uhuk! Bos... lo mau... ngajarin ketua geng musuh cara mimpin gengnya sendiri?! Lo mau ngasih konseling HRD ke Leo?!"
"Kepemimpinan yang baik lebih efektif daripada kekerasan, Dion," ucap Bella, mengutip prinsip dasar manajemen organisasi. "Jika saya bisa mengubah Leo menjadi pemimpin yang lebih baik dan lebih terstruktur, maka dia akan menjadi perisai kita dari preman-preman liar seperti Toni. Mengubah kompetitor menjadi mitra strategis adalah bentuk penaklukan tertinggi."
Keempat remaja itu saling berpandangan dengan mulut setengah terbuka, bos mereka tidak lagi sekadar berpikir di luar kotak (out of the box). Bos mereka telah mengambil kotak tersebut, menghancurkannya, dan mendaur ulangnya menjadi meja direksi.
"Dion, atur jadwal pertemuan (Calendar Invite) dengan Leo," perintah Bella, merapikan blazer seragamnya. "Tentukan tempat di wilayah netral. Coffee shop di pusat perbelanjaan Grand City, besok sepulang sekolah. Pastikan dia datang sendiri."
"S-siap, Bos. Gue kirim pesannya sekarang."
~Kamis sore, pukul 16:00 WIB~
Executive Lounge Coffee di Mal Grand City, tempat ini dipilih Bella dengan sangat hati-hati. Ini adalah coffee shop premium yang sering dikunjungi oleh para eksekutif muda dan pengusaha. Suasananya tenang, dihiasi lampu temaram elegan, dan alunan musik jazz instrumental yang lembut. Ini bukanlah tempat di mana para berandal sekolah biasanya berkumpul.
Tujuan Bella memilih lokasi ini adalah Taktik Dominasi Psikologis (Psychological Dominance), membawa seorang preman jalanan ke lingkungan elit yang asing baginya akan secara otomatis menurunkan tingkat kepercayaan dirinya dan membuatnya lebih reseptif (terbuka) terhadap negosiasi. Bella duduk di sofa kulit sudut, mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Di depannya terdapat secangkir teh chamomile dan sebuah tablet digital. Dion berdiri di luar pintu masuk kafe, bertindak sebagai perimeter security (keamanan wilayah luar).
Pukul 16:05, pintu kaca kafe terbuka. Leo melangkah masuk. Ia masih mengenakan jaket kulit hitam andalannya, namun tanpa atribut geng yang mencolok. Begitu masuk, Leo tampak sedikit canggung dengan tatapan para pelanggan berjas yang meliriknya. Ia mencari-cari sosok Bella dan menemukannya duduk di sudut ruangan dengan postur sempurna layaknya seorang CEO muda. Leo berjalan mendekat dan menarik kursi di hadapan Bella.
"Tepat waktu. Kualitas yang sangat bagus untuk seorang pemimpin," sapa Bella, meletakkan tablet-nya. "Silakan pesan apa saja, biaya pertemuan (entertainment expense) hari ini dibebankan pada kas saya."
Leo mendengus pelan, menyilangkan lengannya di atas meja. Matanya yang tajam bak serigala menatap Bella dengan rasa penasaran yang intens.
"Aku bukan bawahanmu, Bella. Simpan basa-basi korporatmu itu," kata Leo, suaranya berat. "Kamu meminta pertemuan empat mata setelah memaksaku menandatangani gencatan senjata. Apa lagi yang kamu inginkan? Mau meminta uang keamanan dariku?"
"Aku tidak butuh uangmu, Leo. Kas kami sangat stabil," Bella tersenyum tipis, menyesap tehnya dengan anggun. "Aku mengundangmu ke mari untuk membahas sebuah kelemahan struktural (Structural Vulnerability) di dalam organisasimu yang berpotensi merugikan kedua belah pihak."
"Organisasiku solid," bantah Leo cepat, meski ada sedikit keraguan di matanya.
Bella mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat di manik mata Leo. "Apakah solid? Mari kita lakukan Evaluasi Kinerja (Performance Review) singkat. Siapa nama wakilmu? Toni, benar?"
Mendengar nama itu, rahang Leo menegang sesaat. Reaksi mikro-ekspresi itu tidak luput dari mata Sarah Paramitha yang telah mewawancarai ribuan kandidat karyawan.
"Apa urusannya dengan Toni?" tanya Leo, nada suaranya berubah defensif.