kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
...****************...
Evelyn tidak bisa tidur.
Ia duduk di balkon kamarnya sambil memandang lampu kota yang berkilauan dari kejauhan.
Di tangannya terdapat secangkir teh yang sejak tadi tidak diminumnya.
Pikirannya terus kembali pada kejadian beberapa jam lalu.
Anita.
Cara wanita itu berbicara kepada Arseno.
Cara Anita mengatakan bahwa mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
Dan terutama...
Cara Anita begitu percaya diri ketika berdiri di dekat Arseno.
Evelyn menghela napas panjang.
"Kenapa aku memikirkan ini?"
Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri.
"Dia hanya teman lama Arseno."
Namun hatinya tidak bisa menerima jawaban itu begitu saja.
Karena Evelyn pernah berada di posisi yang sama.
Pernah percaya kepada seseorang.
Pernah mengira seseorang mencintainya.
Dan akhirnya...
Ia menemukan dirinya dikhianati.
Roland.
Nama itu kembali muncul di pikirannya.
Pria yang pernah membuatnya percaya bahwa cinta bisa menjadi tempat paling aman.
Pria yang ternyata hanya mendekatinya karena membutuhkan uang dan koneksi keluarga Hills.
Evelyn memejamkan mata.
Ia masih ingat bagaimana rasanya mengetahui semuanya.
Rasa malu.
Marah.
Kecewa.
Dan yang paling menyakitkan...
Perasaan bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dicintai dengan tulus.
Ponselnya bergetar.
Nama Arseno muncul di layar.
Evelyn ragu sejenak sebelum akhirnya mengangkat.
"Halo?"
"Belum tidur?"
Suara Arseno terdengar tenang.
"Belum."
"Ada apa?"
"Tidak ada."
Arseno diam.
"Evelyn."
"Hm?"
"Kau sedang memikirkan Anita?"
Evelyn terdiam.
Arseno langsung tahu.
"Jadi benar."
"Aku hanya..."
Evelyn menghela napas.
"Dia terlihat sangat dekat denganmu."
"Anita?"
"Ya."
Arseno langsung menjawab,
"Dia memang sudah mengenalku cukup lama."
Evelyn menggigit bibir.
"Nah."
"Apa?"
"Seperti itu."
"Maksudmu?"
"Kau mengatakannya dengan santai."
"Karena memang tidak ada yang perlu disembunyikan."
Evelyn terdiam.
Arseno melanjutkan,
"Anita adalah kenalan keluarga."
"Dia pernah mengejarku."
Evelyn langsung terdiam.
"Kau tahu?"
"Ya."
"Dan?"
"Aku tidak pernah membalas perasaannya."
Evelyn menatap langit.
"Benarkah?"
"Benar."
"Dia pernah menyatakan cinta?"
"Beberapa kali."
Evelyn tersenyum pahit.
"Lalu kau menolaknya."
"Ya."
"Kenapa?"
Arseno diam sejenak.
"Karena aku tidak mencintainya."
Jawaban itu membuat Evelyn terdiam.
Namun kemudian muncul pertanyaan lain.
"Bagaimana kalau suatu hari kau berubah pikiran?"
Arseno langsung menjawab,
"Aku tidak akan berubah."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Karena aku tahu apa yang kurasakan."
Evelyn menunduk.
Namun jauh di dalam hatinya...
Keraguan masih ada.
Keesokan paginya...
Berita baru kembali muncul.
"ANITA HARA DAN ARSENO ANDREAS, CINTA LAMA YANG BELUM BERAKHIR?"
Evelyn membaca artikel tersebut di ruang kerjanya.
Isi berita itu dipenuhi foto lama Anita dan Arseno.
Ada foto mereka menghadiri pesta keluarga.
Ada foto Anita berdiri di samping Arseno.
Bahkan ada foto ketika Anita memberikan hadiah kepada Arseno.
Judul-judul provokatif memenuhi media.
Evelyn meletakkan ponselnya.
Naomi yang berada di depannya langsung menyadari perubahan wajahnya.
"Nona?"
"Aku tidak apa-apa."
"Berita tentang Anita?"
Evelyn mengangguk.
Naomi duduk di depannya.
"Jangan percaya."
"Aku tahu."
"Tapi?"
Evelyn tersenyum lemah.
"Aku pernah berada dalam hubungan yang membuatku percaya kepada seseorang."
Naomi terdiam.
"Dan ternyata semuanya bohong."
Evelyn menatap meja.
"Aku tidak ingin mengalami itu lagi."
Naomi menggenggam tangannya.
"Tuan Arseno bukan Roland."
Evelyn tersenyum kecil.
"Aku tahu."
"Tapi hati kadang tidak mengerti."
Siang harinya...
Arseno datang ke Hills Corporation.
Begitu masuk ke ruangan Evelyn, ia langsung menyadari sesuatu.
"Kau murung."
Evelyn menatapnya.
"Aku tidak murung."
"Kau tidak tersenyum."
"Aku sedang bekerja."
"Kau biasanya tetap bisa tersenyum sambil bekerja."
Evelyn menghela napas.
"Arseno."
"Hm?"
"Aku ingin bertanya."
"Tanya saja."
"Apakah kau benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun kepada Anita?"
Arseno langsung duduk di depan Evelyn.
"Tidak."
"Sedikit pun?"
"Tidak."
"Dia cantik."
"Aku tahu."
"Dia terkenal."
"Aku tahu."
"Dia sudah mengenalmu selama bertahun-tahun."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tidak pernah menyukainya?"
Arseno tersenyum kecil.
"Karena cinta tidak bekerja seperti daftar kriteria."
Evelyn terdiam.
Arseno melanjutkan.
"Aku tidak mencintainya."
"Dan aku tidak akan mencintainya hanya karena dia sudah lama mengenalku."
Evelyn menatapnya.
"Lalu siapa yang kau cintai?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Begitu sadar apa yang baru saja ia tanyakan...
Wajah Evelyn langsung memerah.
Arseno juga terdiam.
Mereka saling menatap.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Arseno berkata pelan,
"Kau benar-benar ingin tahu?"
Evelyn kehilangan keberanian.
"Tidak."
Ia langsung mengambil berkas.
"Kita bahas pekerjaan saja."
Arseno tertawa kecil.
"Kau yang bertanya."
"Aku berubah pikiran."
"Baiklah."
Namun sebelum Arseno berdiri...
Ia berkata,
"Evelyn."
"Hm?"
"Kalau kau ingin tahu..."
Arseno menatap matanya.
"Orang itu adalah seseorang yang setiap hari membuatku ingin pulang lebih cepat."
Evelyn terdiam.
"Seseorang yang membuatku memeriksa ponsel berkali-kali hanya untuk melihat apakah dia mengirim pesan."
"Seseorang yang membuatku tertawa tanpa alasan."
Arseno tersenyum.
"Dan seseorang yang sangat keras kepala."
Evelyn langsung tahu.
Wajahnya memerah.
"Arseno..."
"Ya?"
"Jangan membuatku malu."
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu."
Namun keraguan Evelyn belum sepenuhnya hilang.
Trauma tidak bisa lenyap hanya karena beberapa kalimat manis.
Arseno memahami itu.
Karena itu ia tidak memaksanya.
Ia hanya terus menunjukkan melalui tindakan.
Ia tidak menyembunyikan ponselnya.
Ia tidak menghilang tanpa kabar.
Ia selalu memberi tahu Evelyn jika harus menghadiri acara bersama Anita.
Dan ketika Anita mencoba mendekatinya...
Arseno selalu menjaga jarak.
Beberapa hari kemudian...
Evelyn menerima undangan makan malam dari Arseno.
Mereka bertemu di restoran yang sama seperti sebelumnya.
Saat Evelyn datang, Arseno sudah menunggu.
"Aku ingin meminta maaf."
Evelyn duduk.
"Untuk apa?"
"Karena masalah Anita membuatmu tidak nyaman."
Evelyn menggeleng.
"Ini bukan salahmu."
"Tapi aku tahu kau takut."
Evelyn terdiam.
Arseno menatapnya serius.
"Aku tahu apa yang terjadi dengan Roland."
Evelyn sedikit terkejut.
"Aku tahu kau pernah dikhianati."
"Aku juga tahu kau mungkin takut hal yang sama terjadi lagi."
Evelyn menunduk.
"Kadang aku membenci diriku sendiri karena masih memikirkan itu."
"Jangan."
Evelyn mengangkat kepala.
"Jangan menyalahkan dirimu karena pernah terluka."
Arseno mengulurkan tangannya di atas meja.
"Aku tidak akan memaksamu percaya kepadaku."
"Tapi aku akan terus membuktikan bahwa aku berbeda."
Evelyn menatap tangan Arseno.
Perlahan...
Ia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu.
"Terima kasih."
Arseno tersenyum.
"Aku akan memberimu waktu."
Evelyn tersenyum kecil.
"Jangan terlalu baik."
"Kenapa?"
"Nanti aku benar-benar jatuh cinta."
Arseno terdiam.
Kemudian tersenyum.
"Kurasa aku tidak keberatan."
Evelyn tertawa kecil.
"Percaya diri sekali."
"Karena aku sudah lebih dulu jatuh."
Senyum Evelyn perlahan menghilang.
Ia menatap Arseno.
Kali ini tidak ada kamera.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada sandiwara.
Hanya mereka berdua.
Dan untuk pertama kalinya...
Evelyn mulai percaya bahwa mungkin cinta tidak selalu berakhir dengan pengkhianatan.
Mungkin...
Kali ini akan berbeda.
Namun di tempat lain...
Anita sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Ia melihat tangan Evelyn yang berada di atas tangan Arseno.
Tatapannya berubah dingin.
"Jadi kau mulai mempercayainya lagi."
Anita tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
Ia menggenggam ponselnya.
"Aku harus membuat sesuatu yang jauh lebih meyakinkan."
Permainan Anita belum berakhir.
Justru...
Baru dimulai.
...****************...