Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Siang itu, Dika kembali ke ruang kerjanya setelah rapat selesai. Ia tidak langsung duduk. Pikirannya masih tertuju pada pesan dari bagian keuangan yang masuk beberapa jam lalu.
Ada hubungan antara salah satu perusahaan penerima aset dengan seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga.
Kalimat itu terus terngiang. Dika mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut kembali.
Jarinya berhenti di atas layar. Ia sebenarnya bisa saja langsung meminta nama orang itu. Akan tetapi, setelah bertahun-tahun mempercayakan hampir seluruh urusan keluarga kepada Miranda, Dika tahu satu hal.
Jika memang ada sesuatu yang disembunyikan, orang yang menyembunyikannya tidak akan tinggal diam setelah merasa terancam.
Ia akhirnya membalas. Jangan hubungi orang tersebut. Cari semua hubungan transaksinya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk. Baik, Pak. Dika meletakkan ponselnya. ia merasa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan pencatatan.
Selama bertahun-tahun, ia bekerja keras membangun perusahaan. Ia mempercayakan urusan tertentu kepada orang-orang terdekat karena merasa tidak mungkin memeriksa semuanya seorang diri.
Termasuk kepada Miranda. Perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya. Pikiran Dika tiba-tiba terhenti ketika terdengar ketukan di pintu.
Seorang staf keuangan masuk membawa satu map tipis.
"Pak, ini hasil pemeriksaan sementara."
Dika menerima map tersebut. "Apa yang kalian temukan?"
"Belum bisa kami simpulkan semuanya. Tapi ada beberapa transaksi yang polanya hampir sama."
Dika membuka halaman pertama. "Berapa lama?"
"Data yang berhasil kami lacak cukup panjang, Pak. Ada transaksi yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu."
Dika mengangkat wajah. "Dan semuanya berkaitan dengan perusahaan yang sama?"
"Sebagian besar iya. Tapi ada beberapa nama perusahaan lain yang muncul di tengah."
Dika kembali melihat berkas. "Siapa yang memiliki kewenangan atas transaksi-transaksi itu?"
Staf tersebut terlihat ragu sejenak.
"Sebagian menggunakan tanda tangan atau persetujuan dari orang yang berbeda. Tapi beberapa di antaranya memang melewati bagian yang berada di bawah kewenangan Bu Miranda."
Ruangan mendadak terasa sunyi. Dika menutup map.
"Jangan sebarkan informasi ini."
"Baik, Pak."
"Dan satu lagi."
Staf itu berhenti di dekat pintu. "Telusuri transaksi paling awal."
"Transaksi pertama?"
"Ya. Aku ingin tahu kapan semua ini dimulai."
Staf tersebut mengangguk lalu keluar. Dika bersandar di kursinya. Jika transaksi itu sudah berlangsung bertahun-tahun, berarti seseorang telah merencanakannya dengan sangat hati-hati. Dan kemungkinan besar, semua itu bukan kesalahan.
Di rumah, Miranda sedang berdiri di depan jendela ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nomor yang muncul di layar sebelum menjawab.
"Bagaimana?"
Suara di seberang terdengar pelan. "Pak Dika mulai memeriksa transaksi lama."
Wajah Miranda langsung berubah. "Seberapa jauh?"
"Belum tahu. Tapi bagian keuangan sudah diminta menelusuri hubungan antarperusahaan."
Miranda terdiam. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
"Apakah namaku sudah muncul?"
"Belum secara langsung."
Miranda mengembuskan napas lega, meski hanya sesaat. "Jangan lakukan apa pun dulu."
"Kalau Pak Dika terus mencari?"
Miranda menatap halaman rumah dari balik kaca. "Kalau dia menemukan semuanya, kita semua akan selesai."
Sambungan terputus. Miranda masih berdiri di sana. Selama ini ia selalu percaya bahwa Dika tidak akan pernah memeriksa kembali urusan lama. Ia terlalu sibuk dengan perusahaan dan terlalu percaya kepadanya.
Tetapi keadaan mulai berubah. Yang paling membuat Miranda gelisah bukan hanya soal uang. Ada satu hal lain yang jauh lebih berbahaya.
Masa lalu.
Jika Dika mulai membuka kembali semua catatan lama, bukan tidak mungkin ada sesuatu yang selama ini sengaja ia kubur ikut muncul ke permukaan.
Miranda segera mengambil tasnya. Ia tidak menuju kantor. Ada seseorang yang harus ia temui terlebih dahulu. Seseorang yang mungkin bisa membantu memastikan satu nama tidak pernah sampai ke telinga Dika.
Sementara itu, di tempat lain, kegiatan pemeriksaan kesehatan yang diadakan rumah sakit hampir selesai. Azmira baru saja menyelesaikan pasien terakhir ketika seorang panitia datang menghampirinya.
"Dok, ada satu keluarga yang masih menunggu di luar."
"Masih ada?"
"Katanya mereka datang terlambat karena harus membawa anaknya dari desa sebelah."
Azmira langsung mengambil kembali peralatan pemeriksaannya.
"Baik. Aku periksa."
Ia berjalan menuju ruangan kecil yang digunakan sebagai tempat pemeriksaan tambahan. Di sana, seorang ibu sedang duduk sambil memangku anak laki-laki yang tampak lemas.
Azmira segera memeriksa kondisinya. Beberapa menit kemudian, ia memberikan penjelasan kepada sang ibu mengenai apa yang perlu dilakukan.
"Untuk sementara tidak terlihat kondisi yang mengharuskan dirawat di rumah sakit. Tapi kalau demamnya kembali tinggi atau anaknya semakin lemas, segera dibawa ke fasilitas kesehatan."
Ibu itu mengangguk berkali-kali. "Terima kasih, Dok."
Azmira tersenyum. "Jangan lupa ikuti obat dan petunjuk yang tadi saya berikan."
Setelah keluarga itu pergi, Azmira membereskan meja pemeriksaan. Ia baru sadar William masih berada di tempat tersebut.
Lelaki itu sedang berbicara dengan pihak pengelola kegiatan. Tidak ada sikap berlebihan. Ia hanya memastikan laporan kegiatan, jumlah peserta, dan kebutuhan tindak lanjut sudah dicatat.
Setelah selesai, William berjalan menghampiri Azmira.
"Sudah selesai?"
"Sudah."
"Capek?"
"Sedikit."
William mengangguk. "Besok laporan kegiatan akan masuk ke bagian manajemen. Kalau ada kebutuhan tambahan untuk pasien yang ditemukan hari ini, sampaikan melalui koordinator."
Azmira menatapnya. "Kamu sampai memikirkan tindak lanjutnya juga?"
William tersenyum kecil. "Kalau hanya datang saat acara berlangsung, lalu setelah itu semua selesai begitu saja, buat apa mengadakan kegiatan seperti ini?"
Azmira tidak langsung menjawab. Ia baru menyadari sesuatu. Selama ini William memang sering berada di dekatnya. Tetapi hari itu, ia melihat William bukan sebagai seorang lelaki yang sedang berusaha mendekatinya.
Ia melihat seseorang yang serius dengan tanggung jawabnya.
"William."
"Ya?"
"Terima kasih."
William sedikit mengernyit. "Untuk apa?"
"Untuk kegiatan hari ini."
William tersenyum. "Sama-sama."
Mereka berjalan keluar bersama. Namun baru beberapa langkah, salah seorang staf pengelola berlari kecil menghampiri William.
"Pak, maaf. Ada laporan dari lokasi pemeriksaan tadi."
William menerima tablet yang diberikan kepadanya.
"Ada apa?"
"Tim menemukan seorang anak yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Keluarganya tidak punya biaya untuk datang ke rumah sakit."
William membaca laporan itu. "Jadwalkan pemeriksaan lengkap."
"Untuk biayanya bagaimana, Pak?"
William mengembalikan tablet tersebut. "Masukkan ke program bantuan kesehatan."
Staf itu mengangguk. "Baik, Pak."
Azmira yang berdiri tidak jauh dari sana mendengar percakapan itu. William tidak menjelaskan apa pun kepadanya.
Ia bahkan sudah kembali membicarakan laporan lain dengan staf rumah sakit. Entah kenapa, justru hal sederhana itu membuat Azmira terdiam. Ia mulai memahami bahwa perhatian William bukan hanya ditujukan kepadanya.
Lelaki itu memang seperti itu. Peduli pada apa yang menjadi tanggung jawabnya. Dan tanpa sadar, hal itu membuat perasaan Azmira tumbuh sedikit demi sedikit.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, Dika masih berada di ruang kerja. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari bagian keuangan.
Pak, kami menemukan transaksi yang jauh lebih lama.
Dika segera membuka lampiran. Ia membaca keterangan yang tercantum di dalamnya.
Tanggal transaksi itu membuat alisnya berkerut. Periode tersebut adalah masa ketika Rina pergi meninggalkannya.
Dika kembali membaca tanggal itu. Dulu ia mengira kepergian Rina hanyalah masalah rumah tangga yang berakhir dengan keputusan perempuan itu meninggalkan dirinya.
Tetapi sekarang ada sesuatu yang terasa janggal. Sebuah transaksi besar tercatat tidak lama setelah Rina pergi.
Dan penerima dana tersebut memiliki hubungan dengan seseorang dari lingkaran keluarganya. Dika menatap layar cukup lama.
Tangannya perlahan mengepal. "Kenapa transaksi ini ada di waktu itu?"
Ia segera menghubungi bagian keuangan. "Besok pagi aku mau seluruh data transaksi periode tersebut."
"Baik, Pak."
"Jangan ada yang terlewat."
Setelah sambungan berakhir, Dika masih menatap layar, dua puluh lima tahun, masa lalu yang selama ini ia anggap selesai mulai terbuka kembali.
Dan tanpa ia sadari, jejak itu perlahan sedang membawanya menuju satu nama yang selama ini tidak pernah ia cari dengan sungguh-sungguh.
Rina.
Bersambung ...
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆