Indonesia
NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 SUMPAH (PELEPASAN SEKAR MAYANG)

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🕒🕒🕒🕒🕒🕒🕒

Jarum jam dinding tua di ruang tamu berdetak konstan, memecah kesunyian yang mengendap pekat di setiap sudut rumah.

Menunjuk tepat pada pukul 03.00 dini hari.

Sepertiga malam terakhir telah tiba.

Waktu di mana tabir antara alam manusia dan alam gaib menipis, dan waktu di mana pintu-pintu langit terbuka lebar bagi mereka yang bersujud.

Zaki membuka kedua matanya.

Tidur pulasnya yang tanpa beban itu berakhir tepat di jam yang telah ia niatkan. Pemuda itu bangkit dari kasur kapuknya, menyibakkan selimut bermotif wayang pudar yang menutupi tubuhnya.

Hawa dingin khas pedesaan Jawa Timur langsung menyergap, menusuk pori-pori kulitnya hingga ke tulang. Namun, hawa dingin itu tak menyurutkan langkahnya sedikit pun.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ke sumur di belakang rumah. Zaki menimba air yang terasa sedingin bongkahan es untuk mengambil wudu.

Setiap basuhan air ke wajah, tangan, hingga kakinya, seolah meluruhkan sisa-sisa keraguan yang mungkin masih bersembunyi di relung batinnya.

Ia sedang menyucikan diri, bukan hanya secara fisik, melainkan juga menyucikan niat dan jiwanya.

Kembali ke dalam kamar masa kecilnya, Zaki menggelar sajadah lusuh yang dulu sering dipakai mendiang Bapaknya. Menghadap kiblat, ia mengangkat kedua tangan, dan mengucapkan takbir.

Shalat Tahajud malam itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Gerakannya lebih pelan, bacaannya lebih fasih dan meresap, dan sujudnya terasa jauh lebih panjang.

Di atas sajadah itu, Zaki menumpahkan segala keluh kesah, kerinduan, serta memohon kekuatan yang teramat besar kepada Sang Pencipta.

Ia memohon ridha atas sebuah keputusan besar yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Setelah salam dan merapal selawat serta zikir yang panjang, Zaki tak lantas beranjak.

Ia tetap duduk bersila di atas sajadah.

Posisinya tegap.

Napasnya ditarik dan dihembuskan dengan ritme yang sangat teratur.

Ia memusatkan seluruh titik fokus energi batinnya.

Malam ini, di ruangan ini, ia akan menuntaskan sebuah janji.

Zaki memejamkan mata.

Bukan dengan rapalan mantra, bukan pula dengan bakaran kemenyan, melainkan dengan panggilan batin yang bergetar dari pusat dadanya, ia memanggil sosok pelindungnya.

"Sekar Mayang... Hadirlah..."

Hanya butuh hitungan detik setelah panggilan batin itu digaungkan, perubahan drastis langsung melanda kamar sempit itu.

Suhu udara yang tadinya dingin normal, mendadak anjlok menjadi sedingin es, membuat bulu kuduk berdiri tegak.

Bersamaan dengan itu, aroma semerbak bunga kantil merah yang luar biasa pekat menyeruak, memenuhi setiap jengkal ruang udara.

Udara terasa berat, seolah oksigen di ruangan itu digantikan oleh entitas dari dimensi lain.

Zaki perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.

Tepat di hadapannya, hanya berjarak satu jengkal dari ujung sajadahnya, sosok Sekar Mayang telah duduk bersimpuh.

Wanita gaib itu tak lagi memancarkan aura menggoda seperti biasanya. Busana kemben merah dan selendang kuning keemasannya masih sama, kecantikan parasnya yang tiada tara pun tak memudar sedikit pun.

Namun, tak ada senyum nakal di bibir merahnya.

Tak ada kilatan hawa nafsu dari sepasang matanya.

Sepasang pupil merah cerah milik Sekar Mayang itu kini menatap Zaki dengan sorot yang teramat dalam, sayu, dan penuh melankoli.

Seolah-olah, perewangannya itu sudah tahu betul apa niat tuannya memanggilnya di waktu yang paling sakral ini.

"Kau memanggilku di waktu yang sangat suci, Tuanku sayang..." suara Sekar Mayang mengalun memecah keheningan.

Nadanya bergetar pelan, lirih, bagai alunan sinden yang meratapi perpisahan.

Zaki menatap lekat wajah cantik di hadapannya. Sedikit pun ia tak memalingkan wajah.

"Waktunya sudah tiba, Sekar Mayang," ucap Zaki dengan nada berat namun penuh ketegasan yang mutlak.

"Aku telah memutuskan untuk menetap di sini. Aku tidak akan menjual rumah ini, dan aku akan kembali menata hidupku sebagai seorang manusia biasa." tambah Zaki.

Sekar Mayang menundukkan wajahnya sejenak. Rambut hitam panjangnya menjuntai menutupi sebagian wajah cantiknya yang terlihat sendu.

"Lalu... apakah hidup sebagai manusia biasa itu... tak lagi menyisakan ruang untukku di sisimu, Zaki?" tanya Sekar Mayang.

Sebenarnya kemarin siang, malah Sekar Mayang sendiri yang mengatakan, jika Zaki ingin mencintai bangsa manusia maka tuannya itu harus segera melepasnya.

Perlahan, wanita gaib itu mengangkat wajahnya. Jari-jari lentiknya yang seputih bedak terulur ke depan, menyentuh lembut punggung tangan Zaki yang terlipat di atas paha.

Sentuhannya sedingin es, namun entah kenapa Zaki bisa merasakan kehangatan kasih sayang yang luar biasa tulus dari sosok lelembut itu.

Kasih sayang yang telah menjaganya sejak ia kehilangan kedua orang tuanya.

"Kau ingat percakapan kita di kamar ini kemarin siang?" Zaki berucap pelan, tak menepis sentuhan Sekar Mayang.

"Kau sendiri yang memberitahuku, Sekar Mayang. Kau bilang, jika kelak aku memutuskan untuk mencintai wanita dari bangsaku, maka aku harus melepasmu. Jika tidak, energi gaibmu justru akan menjadi kutukan yang merusak hubunganku."

Sekar Mayang terdiam. Sepasang mata merahnya perlahan mulai berkaca-kaca.

"Kau juga bilang..." lanjut Zaki, menelan ludah untuk menekan bongkahan emosi di tenggorokannya.

"Bahwa di masa depan, Nisa adalah takdirku. Ya walaupun aku belum tahu apakah ucapanmu itu benar atau tidak. Kau bahkan menguji batinnya bersama Dayang Putri untuk memastikannya. Jika semua itu benar, maka aku tidak punya pilihan lain."

"Tapi, Tuanku..." Sekar Mayang menyelanya, suaranya kini terdengar parau.

"Apakah kau benar-benar sanggup mengarungi kerasnya dunia ini tanpaku? Aku yang menjagamu sejak kau kecil. Aku yang melindungimu dari segala marabahaya gaib saat kau merantau sendirian. Memutuskan ikatan kita, berarti kau akan benar-benar telanjang dari perlindungan gaib."

"Aku sanggup," jawab Zaki tanpa ragu.

"Aku manusia, Sekar Mayang. Dan sudah menjadi kodrat seorang manusia, seorang khalifah di bumi, untuk bersandar hanya kepada Sang Pencipta, bukan kepada bangsa lelembut. Dan di sisi lain... aku melakukan ini karena aku menyayangimu sebagai bagian dari perjalananku, serta menyayangi Nisa sebagai masa depanku, jika memang itu benar..."

Jawaban itu telak menghancurkan pertahanan gaib Sekar Mayang.

Dari sudut mata merah cerahnya, meneteslah sebulir cairan bening.

Air mata gaib.

Untuk pertama kalinya, Zaki melihat sosok perewangannya itu menangis.

Sebuah pemandangan yang amat sangat langka dan mustahil. Entitas perewangan sejatinya tak memiliki kelenjar air mata layaknya manusia.

Namun, besarnya rasa kehilangan dan ikatan batin yang telah terjalin belasan tahun, memaksa energi gaib wanita itu memanifestasikan kesedihannya ke dalam wujud air mata.

Zaki menarik napas panjang.

Mengumpulkan seluruh sisa ketegasan dan energi batinnya.

Saatnya telah tiba.

Zaki melepaskan tangannya dari genggaman Sekar Mayang, lalu menempelkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun wanita gaib itu.

Sekar Mayang memejamkan mata, membiarkan tuannya melakukan apa yang harus dilakukan, seraya terus meneteskan air mata.

"Dengan menyebut Asma Sang Pencipta Semesta Alam..." suara Zaki menggema di dalam kamar, menggetarkan dinding batin mereka berdua.

"Aku, Zaki, sebagai tuanmu... dengan ini memaafkan segala khilafmu, dan aku mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kesetiaan dan penjagaanmu selama ini."

Tubuh Sekar Mayang mulai berpendar, memancarkan cahaya merah yang berangsur-angsur meredup.

"Mulai detik ini, di sepertiga malam yang disaksikan oleh para malaikat... aku memutus ikatan batin antara diriku dan dirimu. Aku melepaskan sumpah penjagaanmu atasku. Kita sudah tak lagi terikat oleh perjanjian apa pun!"

Sekar Mayang tersedu, isakannya terdengar pilu menyayat hati.

"Dan sebagai titah terakhirku untukmu, Sekar Mayang..." lanjut Zaki, suaranya sedikit bergetar namun matanya menatap tajam ke arah sosok yang mulai memudar itu.

"Pergilah! Cari dan temukan di mana keberadaan Mbak Nisa sekarang. Bergabunglah dengan Dayang Putri. Lindungi wanita itu, jaga hatinya, seperti kau menjagaku selama ini. Jangan kembali padaku, karena tugasmu sekarang adalah untuknya!"

Seketika, angin berskala kecil namun bertekanan besar berputar di dalam kamar, menerbangkan ujung-ujung sajadah dan rambut Zaki.

Sekar Mayang membuka matanya yang kini dibanjiri air mata kemerahan.

Ia mendongak, menatap tuannya untuk yang terakhir kali.

Senyum getir namun penuh kelegaan terlukis di bibir indahnya.

"Akan kulaksanakan titah terakhirmu, Tuanku... Berbahagialah dalam kesederhanaanmu... Aku pamit, Zakiku sayang..."

Wanita gaib itu membungkukkan badannya dalam-dalam, menyentuhkan keningnya ke ujung sajadah Zaki sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari sesosok perewangan kepada tuannya yang bergelar manusia.

Lalu...

Wussshhh!

Bersamaan dengan angin malam yang menampar kaca jendela, wujud Sekar Mayang hancur menjadi serpihan cahaya merah yang terbang berhamburan, sebelum akhirnya menguap dan lenyap tanpa sisa.

Aroma pekat bunga kantil merah seketika tersapu bersih dari dalam kamar, digantikan oleh aroma tanah dan embun pagi yang murni.

Suhu udara yang sedingin es mendadak menghangat, kembali normal layaknya suhu kamar pada umumnya.

Zaki duduk terpaku di atas sajadahnya.

Tangannya yang tadi menyentuh ubun-ubun Sekar Mayang kini perlahan turun, beristirahat di atas pahanya.

Sunyi...

Sepi...

Tak ada lagi dengungan gaib...

Tak ada lagi hawa kehadiran entitas lain di belakang punggungnya.

Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Zaki merasakan sebuah ruang hampa yang teramat besar di dalam batinnya. Sebuah kekosongan yang sempat membuatnya merasa limbung.

Namun, beberapa detik kemudian, rasa hampa itu tergantikan oleh sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia merasa sangat ringan.

Beban astral berton-ton yang selama ini tak kasat mata membebani pundaknya telah lenyap tak berbekas.

Ia tak lagi bisa mendengar bisikan gaib.

Ia tak lagi bisa merasakan kedatangan bangsa lelembut.

Malam itu...

Disaat shalat Tahajudnya selesai...

Prosesi sakral pelepasan Sekar Mayang itu telah paripurna...

Zaki kini murni...

Seratus persen...

HANYA SEORANG MANUSIA BIASA YANG NORMAL.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!