Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Di Atas Kamu Di Bawah
BAB 35
Aku Di Atas Kamu Di Bawah
Dinda melepas satu per satu hiasan yang masih terpasang di kepalanya. Kemudian mulai membersihkan wajahnya dari sisa riasan saat Daffa sedang di kamar mandi.
Meski sebenarnya ia merasa canggung dan malu, mau tidak mau Dinda harus mulai membiasakan diri. Bagaimanapun, keadaan mereka sudah berubah. Dan mulai sekarang, ia harus belajar merasa nyaman berada di dekat Daffa, termasuk dalam situasi seperti ini.
Dinda kemudian berjalan mendekati kopernya. Ia membuka koper itu dan mulai mencari pakaian yang akan dikenakannya untuk tidur.
Namun, saat sedang memilih, gerakannya tiba-tiba terhenti. Tangannya tanpa sengaja berhenti pada pakaian dalam miliknya yang sedang ia pegang.
Dinda terdiam sejenak. Wajahnya perlahan memerah ketika menyadari situasi yang akan ia hadapi malam ini.
“Ntar gue harus jemur di mana, nih?! Masa iya di kamar mandi? Terus dilihatin Bang Daffa?”
Seketika Dinda membeku. Pikiran yang semula hanya memikirkan pakaian dalam, kini justru melanglang buana ke mana-mana.
“Cil, ambilin handuk.”
“ASTAGHFIRULLAH...!”
Dinda sontak terlonjak. Ia buru-buru mengambil pakaian tidur lainnya, lalu memasukkan pakaian dalam tersebut kembali ke dalam koper.
Suara Daffa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi sukses membuat jantungnya hampir copot. Lelaki itu hanya menyembulkan kepala dari balik pintu, sementara tubuhnya tetap bersembunyi di dalam kamar mandi.
Melihat Dinda yang berdiri kaku sambil memegang sesuatu di tangannya, Daffa sedikit mundur dan kembali menyembunyikan diri.
“Handuk, Cil. Dingin,” pintanya, terdengar memelas.
Dinda melihat sekeliling ruangan hingga matanya menemukan handuk yang dijemur pada jemuran besi kecil di sudut kamar.
Ia segera mengambilnya, lalu berjalan mendekati pintu kamar mandi. Dengan pandangan tetap menunduk, Dinda menyodorkan handuk tersebut kepada Daffa.
“Nih. Jangan lupa lagi, Bang. Kalau perlu siapin dulu di kamar mandi. Abang sekarang nggak tinggal sendiri lagi di kamar ini,” ujar Dinda mengingatkan.
“Iya, tadi lupa,” jawab Daffa santai.
Tanpa banyak bicara, Daffa mengambil handuk dari tangan Dinda, lalu kembali masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Dinda mengembuskan napas lega. Hal sesederhana memberikan handuk saja terasa begitu canggung baginya.
Tidak lama kemudian, Daffa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Begitu melihatnya, Dinda sontak mengalihkan pandangan ke arah dinding. Wajahnya kembali terasa panas.
Tanpa berani menoleh lagi, ia segera mengambil handuk dan pakaian tidur yang sudah dipilihnya, kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi.
Dinda bahkan sengaja menundukkan kepala sepanjang perjalanan, seolah-olah dinding di depannya jauh lebih menarik untuk dipandangi daripada Daffa.
Daffa hanya meliriknya sekilas dengan ekspresi santai, seakan tidak menyadari kepanikan yang baru saja dibuatnya.
Daffa mengambil kaus dan celana pendek santai untuk dikenakannya saat tidur. Sementara itu, suara air dari kamar mandi masih terdengar. Dinda rupanya masih membersihkan diri.
Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponsel.
Entah karena bosan atau sekadar ingin melihat kembali momen hari ini, ia membuka media sosial miliknya. Beberapa foto pernikahannya sudah ia simpan di akun pribadinya yang sengaja ia atur menjadi privat.
Daffa menggulir layar perlahan, memperhatikan satu per satu foto yang tersimpan di sana. Ada foto dirinya bersama Dinda saat akad, foto mereka berdua setelah acara, hingga beberapa momen sederhana yang sempat diabadikan keluarga.
Sudut bibir Daffa terangkat tipis. Tanpa sadar, lelaki itu melihat foto mereka yang terpampang di layar ponselnya cukup lama.
“Bang, kok tidur di situ? Terus aku di mana?”
Dinda keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Wajahnya tampak cemberut ketika melihat Daffa sudah merebahkan diri di atas kasur yang rencananya akan menjadi tempat tidurnya mulai malam ini.
Daffa menoleh. Ia kemudian meletakkan ponselnya begitu saja dan beranjak dari kasur.
Alih-alih menjawab, lelaki itu menghampiri istrinya.
“Sini, duduk.”
Daffa menggiring Dinda untuk duduk di tepi kasur. Setelah itu, ia membuka lemari dan mengambil hair dryer miliknya.
Tanpa banyak bicara, Daffa mulai mengeringkan rambut Dinda.
“Jangan dibiarkan basah lama-lama. Nanti masuk angin.”
Dinda yang semula hendak protes akhirnya diam. Ia menurut begitu saja, membiarkan Daffa mengeringkan rambutnya.
Hembusan udara hangat dari hair dryer membuat rambutnya perlahan mengering. Sementara itu, Dinda hanya duduk diam dengan wajah sedikit menunduk.
Ada rasa canggung yang masih tersisa, tetapi entah kenapa, perhatian sederhana dari Daffa malam ini membuatnya merasa sedikit lebih nyaman.
“Abang cuma numpang doang. Nanti kalau tidur, Abang di bawah, kamu di atas, Cil.”
Senyum Dinda mulai terbentuk. Setidaknya ia tidak perlu berbagi tempat tidur dengan Daffa malam ini.
Namun, baru saja rasa leganya muncul, Daffa kembali bersuara.
“Tapi kalau tiba-tiba ada yang datang, Abang naik ke atas, ya, Cil.”
Tiga detik kemudian, senyum Dinda langsung memudar.
Ia menoleh pelan kepada Daffa dengan tatapan curiga.
“Tapi Abang masih ingat, kan, kalau kita...”
“Iya, iya. Ingat.” Daffa memotong santai. “Kita jalanin kayak pacaran. Kalau ternyata nggak cocok, terserah kamu, kan?”
Dinda terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis.
“Iya.”
Begitu rambut Dinda hampir seluruhnya kering, Daffa mematikan hair dryer. Ia meletakkannya kembali, lalu duduk di samping Dinda.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya terdiam. Suasana kamar yang sebelumnya terasa canggung perlahan menjadi lebih tenang.
“Biar bagaimanapun, kita sudah menikah, Cil. Abang tetap akan berusaha jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.”
Daffa terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Abang nggak akan maksa kamu. Kita jalanin pelan-pelan aja. Nggak perlu buru-buru.”
Tatapannya mengarah kepada Dinda.
“Tapi satu hal yang pasti, Abang akan berusaha melakukan yang terbaik buat kita.”
Sesaat, keduanya hanya diam dalam tatapan yang begitu lekat. Dinda bahkan tanpa sadar hanyut dalam sorot mata Daffa yang teduh.
Namun, semakin lama mereka saling menatap, jantung Dinda justru berdetak semakin cepat. Wajahnya mulai terasa panas. Ia mulai merasa suasana di antara mereka mulai terasa aneh.
Tanpa berpikir panjang, Dinda mendorong tubuh Daffa menjauh hingga lelaki itu sedikit terdorong ke belakang.
“Dah ah, aku mau tidur.”
Dinda buru-buru bangkit. Lalu mengambil tempat dan memposisikan tidurnya membelakangi Daffa, sambil menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.
Daffa hanya menatapnya beberapa detik dengan ekspresi datar, sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. Lalu beranjak pindah ke kasur bawah.
“Malam, Cil.”
Meski ucapan selamat malamnya tidak mendapat respons dari Dinda, senyum Daffa tetap terukir di wajahnya.
Ia meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, lalu merebahkan tubuh dengan nyaman. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar, sementara pikirannya perlahan larut dalam lamunan.
Malam ini terasa berbeda. Bukan hanya karena mereka akhirnya tidur dalam satu kamar, tetapi karena mulai malam ini, Dinda benar-benar telah menjadi istrinya.
Daffa mengembuskan napas pelan. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya sebelum akhirnya ia memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan