"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa senyum-senyum?
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Lo nggak mau masuk dulu Cel?” tanya Rayna begitu mobil Celine tepat berada di pekarangan kediaman Wijaya, “Cuma ada bang Rey kok, mami sama papi nggak ada.”
Mendengar kata ‘bang Rey’, pipi Celine mendadak panas. Ia berusaha menahan kegugupannya di depan Rayna. Rona kemerahan tampak mulai menjalar ke pipinya. “N-nggak deh, lain kali aja ya Ray. Gue…gue masih ada janji sama oma.”
Rayna mengernyitkan kening. “Janji apa? Kan hari ini lo bilang jadwal lo kosong semua Cel?”
Celine tersenyum kikuk, “Itu… gue ada janji mau nemenin oma ke butik sore ini!” Celine menyengir. “Mending lo masuk ya…”
“Ah Celine… lo nggak asik ah. Ayo masuk dulu. Temenin gue bentaran doang,” bujuk Rayna. “Kenapa sih nggak mau? Biasanya juga mau?”
“Ya..ya karena gue harus balik Rayna.”
“Rayna, lagi ngomong sama siapa?”
Celine membelalak. Tubuhnya membeku, begitu mendengar suara yang sangat ia kenali. Reyhan Biantara Wijaya—abang sulung Rayna yang saat ini bertugas memimpin salah satu cabang wijaya Group.
“Rayna gue pamit ya, titip salam buat abang lo!” Secepat kilat Celine memasuki mobilnya dan langsung menyalakan mesin lalu segera pergi dari kediaman Wijaya.
Rayna melambai pelan, merasa heran melihat tingkah Celine yang tidak biasanya. Dan anehnya, Celine akan selalu seperti ini setiap kali ada Reyhan, mendengar suara Reyhan, atau bahkan saat Rayna menyebutkan nama Reyhan. “Aneh banget, mana pipinya Celine merah-merah kaya pake blush on.”
“RAYNA.”
“Iya abang! Rayna masuk!” sahut Rayna sambil melangkah masuk ke dalam kediaman.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Sesampainya Celine di kediaman Erlangga, ia segera masuk dengan langkah terburu-buru. Sampai Nadia yang sedang minum teh sambil membaca majalah dibuat heran melihat tingkah cucunya itu.
“Celine, kenapa lari-lari begitu? Kalau jatuh bagaimana?” tegur Nadia lembut. “Jalan yang benar.”
Celine nyengir begitu berada di dekat Nadia. Sisa-sisa kegugupannya belum sepenuh hilang dari kediaman Wijaya tadi. Suara Reyhan yang memanggil rayna tadi masih saja tertinggal di kepalanya.
“Kenapa wajah kamu merah begitu? Seperti tomat lho,” tanya Nadia.
Celine memegang pipinya. “Masa sih oma? Masih merah banget?”
Nadia mengangguk. “Kenapa kamu? Lagi kasmaran? Sama siapa?”
Ditanya begitu oleh Nadia, Rona kemerahan di wajah Celine semakin bertambah. Rasa panas semakin menjalar. Ia hampir saja tidak bisa menahan kedutan senyum di bibirnya. “Anu…itu oma…aku..”
“Siapa yang buat cucu oma malu-malu begini?” goda Nadia sambil tersenyum.
“Oma! Udah ih jangan ditanya terus! Aku ke kamar deh, oma nggak asik!” Celine mengerucutkan bibirnya. Lalu melangkah menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
Namun saat melewati kamar Aksa, ia justru melihat pemandangan yang membuatnya terheran-heran sekaligus geli. Celine sampai menganga tak percaya dengan apa yang dia lihat di sana. “Papa kenapa senyum-senyum gitu?!”
Celine memegang knop pintu perlahan, menjaga keseimbangan—tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya. Ia malah terdorong masuk karena pintu yang terbuka. Membuat Aksa yang sedang duduk di tepi kasur menoleh.
“Hai…papa,” sapa Celine cengengesan.
“Ngapain kamu di situ, celine?” tanya Aksa menaikkan sebelah alisnya.
“Itu… tadi ada cicak masuk kamar papa. Celine mau usir cicaknya,” jawab Celine cepat. “Mampus anjir, lagian pintunya kenapa kedorong sih?!”
Aksa mengangguk, “Oh ya? Lalu dimana cicaknya? Kamu berhasil mengusirnya?”
Pada akhirnya Celine ketahuan berbohong. Ia melangkah mendekati Aksa masih dengan cengirannya yang membuat Aksa menggeleng pelan melihat putri semata wayangnya itu. “Celine nggak sengaja liat papa senyum-senyum.”
Aksa berdehem pelan. Menetralkan ekspresinya. Kembali ke ekspresi andalannya—datar. Lalu ia menutup buku hitam di pangkuannya dan menyelipkannya di bawah bantal. “Papa…cuma lihat foto lama.”
“Di…buku itu?” tanya Celine penasaran. Ia melirik ke tempat dimana Aksa meletakkan buku itu. Rasa penasarannya meluap-luap. “Apa yang buat papa sampe senyum-senyum gitu? Terus sejak kapan papa punya buku hitam? Sial gue pengen tau!”
“Tidak usah kepo, Celine.” Aksa berdiri, melipat tangannya di dada. “Kamu sendiri? Baru pulang? Kenapa pipimu merah-merah begitu? Lagi kasmaran kamu?”
Celine melotot. Ia mundur selangkah. Mencoba menjauh dari pandangan Aksa. Tangannya kembali memegang kedua pipinya, berusaha menutupi rona kemerahan yang masih tertinggal karena Reyhan. “*Tuh kan keinget lagi! Papa kok notice sih? Pasti makin merah nih pipi gue*!”
“Nggak! Ini cuma karena, Celine kepanasan!” kata Celine cepat. “Lagian yang kasmaran kan papa! Kok senyum-senyum gitu? Ngeliatin apa?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan Celine Ariana,” ujar Aksa, “Yang kasmaran itu kamu, sampe pipi kamu merah, terus muka kamu persis seperti tomat.”
“Papa apaan sih?! Celine nggak kasmaran yah?! Yang kasmaran itu papa!” balas Celine menatap Aksa tersenyum miring, “Siapa yang semalam ngajakin Asya makan sate? Terus jalan-jalan malam?”
*Damn*
Aksa terdiam. “Jangan sok tau kamu.” Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. “Balik ke kamar sana.”
Celine semakin menatap Aksa dengan tatapan memicing. Ia semakin menyeringai karena berhasil membalas perkataan Aksa. “Cie…yang kasmaran juga. Tapi…Asya-nya masih suka galak tuh, kasian deh papanya aku.”
Aksa menghela nafas. “Celinee.”
“Papaaaa.”
“Kamu ini nakal sekali ya.”
Celine mengikuti gerakan Aksa, berkacak pinggang menghadap pria itu. “Papa juga nakal! Kita kan sama-sama lagi Kasmaran!” Namun Celine langsung menutup mulutnya.
“Siapa laki-laki itu Celine? Siapa yang berani membuat putri papa seperti ini?” desak Aksa.
“Nggak ada!, Celine asal ngomong aja kok!” balas Celine cepat.
Aksa melipat tangannya di dada. Ia menatap celine dengan datar. “Jangan berpacaran dulu. Skripsi kamu saja belum ada perkembangannya. Judulnya belum di ACC juga kan?”
Celine cemberut kesal, “Papa juga! Asyara belum nerima papa kan? Masih terus digalakin kan?”
“Celine Ariana Erlangga, kembali ke kamar kamu. Sekarang.”
“Iya papa Aksa Kalandra Erlangga,” balas Celine kemudian langsung kabur ke kamarnya sebelum Aksa kembali mengeluarkan kata-kata perintahnya.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Malamnya, Celine melakukan video call dengan Asyara dan Rayna. Di tengah-tengah video call yang berlangsung, Celine mengirimkan sebuah foto sekali lihat yang membuat obrolan semakin heboh.
“*Celiine! Apa maksud lo ngirim itu*?!” Suara Asyara terdengar melengking kesal.
Celine tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Asyara yang tampak kesal. “Gimana Sya? Romantis kan? Gue aja yang ngeliatnya baper, lo gimana?”
“*OH MY GOD! LO deket sama Pak Aksa, Sya? Sejak kapan? So sweet banget! Makan berdua gitu, sampe di suapin gitu*!” pekik Rayna gemas dengan suara cemprengnya yang membuat Asyara semakin memekik kesal.
“Iya Ray, jadi lo tunggu aja undangan resminya yah. Sebentar lagi, gue bakal punya mama sambung. Namanya Asyara Putri Erlangga, keren kan?” ucap Celine disertai tawanya.
“*Celiiine! Hapus nggak! Hapus semua foto yang lo punya! Atau gue bakal sebar punya lo*!” ancam Asyara kesal.
Celine semakin tertawa. “Lo mau ngirim apa memangnya? Apa rahasia gue? Nggak ada deh kayanya.”
“*Sialan! Awas lo*!”
Ting!
Ting!
Dua notifikasi masuk ke ponsel Celine. Di room chat grup mereka, dua foto sekali lihat dikirim Asyara. Dengan rasa penasaran, Celine membuka dua foto itu. Seketika matanya membelalak melihat apa yang Asyara kirimkan. “Asya bajingan! Dari mana lo dapet foto itu sialan?!” pekik Celine.
Tawa Asyara terdengar begitu keras. Disusul oleh Rayna yang cengengesan menatap Celine di layar. “*Mampus kan*.”
“*Maaf Cel, itu gue yang kirim sama Asya. Yang waktu lo ke rumah gue, terus ketemu bang Rey*,” ucap Rayna polos.
Celine semakin melotot. “Rayna?! Lo fotoin gue?!”
Rayna mengangguk sambil tersenyum menampakkan giginya. “*Iya, baguskan*?”
“RAYNA MAHARANI! LO?! AAAGRH!” pekik Celine, “Hapus, fotonya sekarang Rayna!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...