### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omzet 30jt
Hari ketujuh, hari terakhir misi karier Reyhan sebagai pedagang. Ia bangun sebelum subuh, tubuhnya masih pegal dari kesibukan luar biasa kemarin, tapi semangatnya jauh lebih besar dari rasa lelahnya.
"Bang, ini beneran kita masak dari jam segini?" tanya Fajar, menguap lebar sambil menggosok matanya yang masih setengah terpejam.
"Iya, Jar. Hari ini harus maksimal, tinggal ini kesempatan terakhir."
"Ya udah deh, demi kejayaan bersama," gumam Fajar, mulai mengambil talenan dan pisau dengan gerakan masih setengah sadar.
"Hati-hati motongnya, jangan sampe jari kamu ikut keiris, ntar malah jadi bumbu rahasia baru."
"Amit-amit, Bang. Nggak lucu bercandanya pagi-pagi gini."
Menjelang siang, mereka berdua sudah menyiapkan bahan dalam jumlah yang jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya, mengantisipasi lonjakan pembeli yang mungkin masih berlanjut dari efek viral kemarin.
Andre, seorang pemuda pengangguran yang tinggal tak jauh dari lokasi jualan, tiba-tiba menghampiri sambil menenteng kantong plastik berisi baju gantinya.
"Mas, denger-denger butuh bantuan tambahan? Temen saya cerita kemarin rame banget sampe kewalahan."
Reyhan menoleh, sedikit kaget dengan tawaran mendadak itu. "Iya nih, kebetulan banget. Kamu bisa bantu apa?"
"Saya biasa bantu-bantu di warung tetangga, Mas. Lumayan bisa masak sama layanin pembeli."
"Wah, pas banget! Kenalin, saya Reyhan, ini Fajar."
"Andre, Mas. Salam kenal."
Fajar langsung menyalami Andre dengan semangat berlebihan. "Wah, akhirnya ada bala bantuan resmi! Sekarang saya bisa naik jabatan jadi supervisor."
"Supervisor apaan, Jar, kerjaan kamu masih ngiris bawang," celetuk Reyhan.
"Ya kan sekarang ada junior, Bang, otomatis saya naik level dong."
Andre tertawa mendengar obrolan itu. "Kalian berdua kompak banget ya, kayak duo komedian."
"Ini bukan komedian, Dre, ini derita sehari-hari," jawab Fajar sambil tertawa.
Sore itu, dengan tenaga tambahan dari Andre, operasional gerobak jadi jauh lebih lancar.
Reyhan fokus memasak, Fajar mengatur antrean dan menerima uang, sementara Andre membantu menyiapkan bahan dan mengantarkan pesanan ke pembeli yang makan di tempat.
"Mas, ini pesenan nomor lima belas," kata Andre, menyerahkan kotak nasi goreng ke seorang pembeli.
"Makasih, Mas," jawab pembeli itu, tersenyum puas.
Pak Herman, yang sudah hafal betul rutinitas ini, mendekat sambil membawa mangkuk kosongnya lagi.
"Mas, jatah saya udah nambah karyawan baru berarti porsi gratis saya juga nambah dong?"
"Pak Herman ini modus terus," celetuk Fajar. "Tiap ada perkembangan usaha, larinya ke jatah gratisan."
"Ya iyalah, saya kan investor moral juga di sini, sama kayak kamu, Jar."
"Lah, kok Pak Herman ngaku-ngaku posisi saya."
"Nasib, Jar, posisi 'investor moral' ternyata banyak peminatnya."
Reyhan tertawa mendengar perdebatan konyol itu sambil terus memasak tanpa henti. "Ya udah, satu porsi gratis buat Pak Herman, tapi abis ini jangan nagih lagi ya, Pak."
"Siap, Mas. Sampe minggu depan aja saya nagihnya."
"iyaa kalo saya masih jualan kalo engga?"
"Ya kan siapa tau nanti balik lagi ke sini bawa usaha baru, Mas. Saya loyal kok sama pelanggan gratisan kayak saya."
Menjelang sore, antrean kembali terbentuk meski tidak separah kemarin, cukup untuk membuat mereka bertiga sibuk tanpa jeda. Sinta muncul lagi, kali ini membawa kabar tak terduga.
"Mas! Saya baru dari kantor, katanya bos saya penasaran juga sama nasi goreng viral ini, minta dianterin ke kantor buat rapat sore."
"Berapa porsi, Kak?"
"Dua puluh porsi, Mas. Bisa nggak?"
Reyhan menoleh ke Andre dan Fajar yang sama-sama melongo mendengar angka itu.
"Bisa, Kak! Tim kami udah lengkap sekarang," jawab Reyhan mantap, meski dalam hati sedikit was-was mengingat stok bahan yang mulai menipis.
"Tim kami katanya, Bang. Kompak amat," bisik Fajar sambil menyikut Andre.
"Ya iyalah, kita kan emang tim beneran sekarang," jawab Andre, tersenyum bangga.
Setelah pesanan dari kantor Sinta selesai diantar oleh Andre menggunakan motor pinjaman dari Pak Herman, Reyhan menghitung ulang hasil penjualan hari itu dengan tangan gemetar karena lelah sekaligus antusias.
"Jar, coba bantu hitung, ini kayaknya udah gede banget hari ini."
Fajar menghitung uang di kotak kecil sambil mulutnya komat-kamit. "Bang... ini... total hari ini aja udah lebih dari lima juta!"
"Serius?!"
"Serius, Bang! Belum termasuk yang dari Kak Sinta tadi!"
Reyhan membuka layar holografik sistem dengan jantung berdebar kencang.
> [Progres Misi: Rp16.230.000 / Rp15.000.000]
> [SYARAT TERPENUHI. Target minimal telah tercapai.]
> [Waktu tersisa dapat digunakan untuk menambah bonus performa.]
"JAR! ANDRE! TARGETNYA UDAH TERCAPAI!" teriak Reyhan spontan, membuat beberapa pembeli yang masih ada di sekitar menoleh heran.
"Beneran, Bang?!" Fajar langsung melompat kegirangan, hampir menyenggol wajan yang untungnya sudah tidak berisi apa-apa.
"Alhamdulillah, selamat, Mas Reyhan!" seru Andre, ikut senang meski baru bergabung sehari.
Pak Herman, yang kebetulan masih berjaga di dekat situ, ikut bertepuk tangan. "Wah, selamat, Mas! Traktir jatah gratisan spesial dong hari ini!"
"Pak Herman modus lagi," celetuk Fajar, tapi kali ini ikut tertawa lepas bersama yang lain.
Malam itu, meski target sudah tercapai, mereka bertiga memutuskan untuk tetap melayani sisa pembeli yang masih datang, sekalian menghabiskan bahan baku yang tersisa.
Reyhan menatap sekelilingnya Fajar yang masih semangat mencatat pesanan meski matanya sudah setengah terpejam karena kantuk, Andre yang cekatan membantu meski baru satu hari bergabung, dan Pak Herman yang setia menjaga ketertiban trotoar sejak hari pertama.
"Kalian berdua," kata Reyhan sambil membereskan sisa peralatan, "makasih banyak ya, hari ini nggak bakal setercapai ini tanpa bantuan kalian."
"Sama-sama, Bang. Meski upah saya masih nasi goreng doang," canda Fajar.
"Nanti kalo saya beneran lanjutin usaha ini di masa depan, kalian saya cari lagi," janji Reyhan, meski dalam hati dia tahu, mulai besok dia akan menjalani karier yang sama sekali berbeda lagi.
Andre tersenyum. "Siap, Mas. Kapan pun dibutuhin, kabarin aja."
Malam itu, meski target sudah tercapai, mereka bertiga memutuskan untuk tetap melayani sisa pembeli yang masih datang, sekalian menghabiskan bahan baku yang tersisa.
Antrean malam itu ternyata masih cukup panjang, efek dari video wawancara content creator kemarin yang terus dibagikan ulang di berbagai platform.
"Bang, ini kayaknya masih bakal rame sampe malem," kata Fajar, melirik antrean yang belum juga habis meski jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Ya udah, kita lanjutin aja selagi bahan masih ada. Sekalian nambah bonus performa dari sistem."
"Bonus performa itu apaan, Bang?"
"Nggak tau pasti, tapi kayaknya makin gede omzetnya, makin gede juga bonusnya."
"Wih, kalo gitu ayo kita kebut, Bang! Andre, semangat!"
"Siap, Kak Fajar!" jawab Andre riang, meski sebenarnya baru kenal Fajar sehari, sudah mulai ikut-ikutan gaya bercanda rekan barunya itu.
"'Kak Fajar'? Wah, akhirnya ada yang manggil saya dengan hormat," kata Fajar bangga, membusungkan dada meski wajahnya masih berminyak karena keringat seharian bekerja.
"Jangan keenakan, Jar, kamu tetep tim ngiris bawang," sela Reyhan sambil tertawa.
Dua jam berikutnya berlalu dengan kesibukan yang tidak kalah intens dari sore tadi. Beberapa pembeli baru datang dari luar area biasa, penasaran dengan video yang terus viral di berbagai grup keluarga dan komunitas kuliner lokal.
"Mas, saya jauh-jauh dari daerah sebelah lho, katanya ini enak banget," kata seorang ibu-ibu sambil menunggu pesanannya.
"Wah, jauh amat, Bu. Makasih udah mau mampir."
"Nggak apa-apa, sekalian jalan-jalan sore sama anak saya," jawab ibu itu sambil menunjuk anaknya yang sedang asyik main gawai di sampingnya.
Fajar, yang mendengar itu, langsung menyeletuk. "Wah, berarti kita ini udah kayak destinasi wisata kuliner dong, Bang."
"Destinasi wisata trotoar, maksudnya," balas Reyhan, membuat ibu itu tertawa mendengar candaan mereka.
Menjelang jam sepuluh malam, bahan baku benar-benar habis total, memaksa mereka menutup gerobak lebih awal dari rencana meski masih ada beberapa orang yang datang terlambat.
"Waduh, maaf ya, Mas, bahannya udah abis," kata Reyhan ke seorang pemuda yang baru datang dengan wajah kecewa.
"Yah, padahal udah niat banget ke sini, Mas. Besok masih buka nggak?"
Reyhan terdiam sejenak, tidak enak hati harus menjelaskan bahwa besok dia sudah tidak lagi berjualan nasi goreng karena harus menjalani karier baru dari sistem.
"Sementara ini mungkin nggak buka dulu, Mas. Tapi kalau ada rejeki, mungkin nanti balik lagi."
"Yah, sayang banget. Ya udah deh, semoga next time bisa coba."
Pemuda itu pergi dengan wajah kecewa, meninggalkan Reyhan dengan perasaan campur aduk senang karena responnya luar biasa, tapi juga sedih membayangkan harus meninggalkan usaha yang baru saja mulai berkembang ini.
Setelah benar-benar tutup, mereka bertiga menghitung ulang seluruh hasil penjualan hari itu dengan teliti, dibantu kalkulator ponsel Fajar yang layarnya sudah retak di pojok kanan.
"Bang, ini totalnya... " Fajar menatap layar kalkulatornya dengan mulut menganga. "Tiga puluh satu juta, Bang! Gila!"
"Serius, Jar? Coba hitung ulang, jangan-jangan salah pencet."
Fajar menghitung ulang dengan teliti, kali ini dibantu Andre yang ikut memverifikasi. "Bener, Bang, tiga puluh satu juta dua ratus ribu. Kita ini jadi orang kaya baru apa gimana?"
"Ini kan omzet kotor, Jar, belum dipotong modal sama biaya-biaya lain."
"Ih, Abang ini rusak suasana aja, udah seneng-seneng malah diinget-inget hitungan bersih."
Reyhan tertawa mendengar protes Fajar, meski dalam hati dia sendiri masih tidak percaya dengan pencapaian sebesar itu, jauh melampaui target minimal sistem yang bahkan sudah terpenuhi sejak sore tadi.
Malam itu ditutup dengan perasaan lega dan bangga yang campur aduk, sekaligus rasa penasaran besar tentang apa yang akan sistem berikan sebagai reward atas pencapaian yang jauh melampaui target awal ini.