Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Seorang wanita berbadan sintal berpakian seksi nyaris memperlihatkan semua tonjolan di tubuhnya berjalan berlenggak lenggok menyusuri lorong di perkantoran farmasi milik keluarga Collin.
"Maaf nona ada yang bisa kami bantu" Sapa sekertaris dengan senyum ramah.
"Oh tidak perlu, saya ingin menemui Devan" Jawabnya manja.
"Tapi nona, pak Devan sedang ada rapat penting dengan para dirut rumah sakit".
"Apa sih yang lebih penting dari aku, princes Agatha yang cantik jelita" Ucapnya yang membuat semua orang menahan tawa.
Agatha tidak lagi memperdulikan para pegawai Devan, ia masuk ke ruangan kerja dokter tampan dan juga CEO Collin group yang bergerak di bidang farmasi dan peralatan rumah sakit.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Devan keluar dari ruang meeting dan berjalan memasuki ruangannya dengan dokter Andriana di sampingnya.
Ceklek
Agatha duduk di kursi kebesaran Devan membelakangi pintu, membuat Devan dan Andriana terdiam saling melemparkan pandangan.
"Siapa Van?"
"Entahlah An".
Sret
Setelah beberapa saat kemudian Agatha memutar tempat duduknya sambil berteriak.
"Kejutan!"
"Hah kamu! Ngapain kamu ke sini sih!" Ketus Devan setelah melihat Agatha yang begitu norak dan bikin Andriana menahan tawa.
"Devan, aku kan calon istrimu masasih gak boleh memberikan kejutan padamu" Jawab Agatha manja.
Andriana hanya senyum senyum sendiri menahan tawa melihat Devan digoda oleh Agatha yang menurutnya berpenampilan sangat lucu.
"Sayang, ayo dong cium aku, aku kangen banget sama kamu".
"Ih ogah, lagian ngapain kamu kemari! Baju apa itu yang kamu pakai, malu tahu, sana sana pergi dan ganti bajunya!" Gertak Devan yang membuat Agatha memanyunkan bibirnya sambil melangkah menjauh dari Devan, mengambil tempat duduk di sofa.
Andriana tersenyum tipis lalu berbisik pada Devan " Kayaknya dia layak menjadi nyonya Collin".
"Apaan sih, kamulah calon nyonya Collin yang sesungguhnya" Ucap Devan sembari berbisik dan mencuri cium di pipi Andriana yang membuat pemilknya menggeliat sambil tersenyum lebar dan mencubit pinggangnya.
"Hehehe apa yang kalian lakukan! Kamu siapa sih? Beraninya mendekati calon suamiku!" Gertak Agatha sambil melipat kedua tangannya.
Andriana tersenyum tipis lalu berjalan menjauh dari Devan" Baiklah nona, dia calon suami kamu kan? Silahkan, saya mau kembali ke rumah sakit. Oh iya pak Devan, karena saya tidak bawa mobil sendiri jadi balik ke rumah sakit bareng sama dokter Andra ya, permisi" Andriana pun melangkah keluar dari ruangan itu.
"Eh An, tunggu! Siapa yang mengijinkanmu satu mobil dengan Andra! Aku yang akan mengantarmu! Tunggu!" Teriak Devan sambil berlari mengejar Andriana, tak memperdulikan Agatha yang berada di sana memanyunkan bibirnya.
Andriana terus berjalan sambil senyum senyum sendirian.
***
Sore hari, Arnold dan Adit pulang ke rumah hampir bersamaan. Mereka nampak hanya diam dan tak saling bicara.
"Kak, di mana kak Saskia? Apa hari ini dia tidak masuk kerja?" Tanya Arnold memulai percakapan di ruang tengah.
Adit tersenyum miring" Hemm apa pedulimu Arnold, wanita jalang seperti dia, aku sudah tidak perduli lagi".
"Tapi kak, dia kan ibunya anak anak kakak, tidak baik terus dendam seperti ini, mungkin saja semua ini hanya salah paham, kak Saskia sangat mencintaimu mana mungkin dia selingkuh" Ucap Adit
Adit melotot tajam pada Arnold yang membuatnya terdiam, menunduk gemetar.
Tak lama kemudian Saskia datang dengan menggendong Daniar dan menuntun Diego di tangan kirinya.
"Papa" Panggil Diego dengan polosnya.
Adit menahan nafas, air matanya mulai menetes, ia menunduk sejenak dan mengusap wajahnya dengan lengannya, mencoba tersenyum untuk menutupi sakit di hatinya.
"Iya sayang, sini sama papa?" Ucap Adit mengulurkan kedua tangannya.
Diego hendak melangkah namun ditarik oleh Saskia " Tidak Diego kamu anaknya mama".
"Papa, Diego mau sama papa, lepasin tangan Diego ma?"
Saskia menatap ke arah Adit dan Arnold dengan tajam penuh kemarahan.
"Arnold apa kamu masih tetap diam?" Ucap Saskia yang membuat Adit ikut menatap Arnold yang semakin gemetar.
"A-apa maksud k-kak Saskia?"
"Apa yang kalian bicarakan?" Ucap Andriana yang tiba tiba muncul dari balik pintu ruang utama dan memecah ketegangan di antara mereka.
Ketiga orang itupun menoleh bersamaan.
"Oh iya mas Adit tadi Pak Devan nitip sesuatu padaku untuk diberikan kepadamu, ayo mas ikut aku ke depan " Ucap Andriana sambil membalikkan badannya dan berjalan ke teras diikuti Adit di belakangnya.
Andriana menengok ke arah Saskia dan Arnold yang masih terpaku di ruang tengah, lalu kembali mengalihkan pandangan pada Adit dan menarik tangannya untuk bersembunyi.
"Mas Adit, apa yang kamu lakukan? Bukankah sudah aku peringatkan jangan lagi bertindak gegabah, jangan sampai kak Saskia tahu kalau kamu sudah tahu semuanya ".
Adit terdiam, tangannya mengepal penuh amarah.
"Tenangkan dirimu mas Adit, kalau kita ingin menangkap basah mereka berdua, kita harus bersikap seolah oleh kita tidak tahu apa apa. Kita butuh bukti yang kuat untuk melempar mereka berdua pergi dari keluarga ini".
Adit menarik nafas panjang lalu mencoba untuk tersenyum tipis meskipun hatinya telah hancur tak tersisa.
Arnold adalah adik kandungnya tapi tega menghancurkan rumah tangganya. Kesalahan yang sangat fatal ini tidak bisa dimaafkan oleh Aditama Wijaya.
Siapa yang menghancurkan harus lebih hancur darinya.
"Ambil ini, bilang saja kontrak dengan Collin group ada masalah yang perlu revisi" Ucap Andriana sambil menyodorkan berkas pada kakak iparnya itu.
Adit mulai mengerti dan berusaha untuk tetap tenang, berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Sedangkan Andriana meminta Arnold untuk menjauh dari kakaknya dengan alasan memintanya mengantarkan mobilnya ke bengkel yang langsung diiyakan oleh pria itu karena takut terlibat masalah dengan kakaknya yang memang tegas dan kejam.
Di ruangan itu Adit menatap wajah istrinya yang sedang ketakutan karena berada di ambang kehancuran. Ia berjalan mendekati Saskia bersama kedua anaknya.
"Sas, duduklah! Kasih Daniar padaku, pundak kamu pasti pegal dari tadi menggendongnya"Ucapnya pelan namun penuh tekanan.
Awalnya Saskia merasa heran dengan sikap Adit yang tiba tiba berubah. Tapi ia mencoba untuk berpikir positif dan tidak percaya diri kalau memang suaminya itu sangat mencintainya.
"Mas Adit" Panggil Saskia setelah memberikan Daniar untuk digendong oleh Aditama.
"Ehmmm, ada apa?" Jawab Adit dingin.
"Apa kamu masih marah kepadaku?"
Adit menarik nafas panjang lalu tersenyum tipis, ia meraih pipi Saskia dan menggeleng perlahan "Seharusnya aku yang minta maaf padamu sayang, karena salah paham aku sudah menyakitimu"
Saskia menunduk sejenak lalu berhambur ke pelukan suaminya sambil menangis.
"Mas, maafkan aku? Aku sungguh tidak pernah menduakanmu, aku difitnah,ada orang yang tidak senang melihatku bahagia denganmu makanya ia menggunakan cara yang keji ini untuk menjebakku"
Adit menarik nafas dalam dalam menahan gejolak emosi yang hampir meledak, karena ternyata istrinya tidak pernah benar benar menyesali perbuatannya. Ia mengepalkan tangannya untuk meredam amarahnya.
Saskia mengusap air mata palsunya dan tersenyum miring, ia mengira usahanya telah berhasil.
Adit pun hanya tersenyum tipis sambil menepuk pundak Daniar yang masih berada di bahunya.
Bayangan beberapa hari kemudian pun muncul di sekitar kepala Adit. Bayangan pengkhianatan, kebohongan dan semua hal yang dilakukan istrinya bersama pria lain.
Namun tiba tiba ia juga mulai memikirkan satu hal yang terus menghantui pikirannya beberapa minggu terakhir ini.