Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
****
Malam kembali merayap dingin di Istana Zhen. Angin salju menampar pelan jendela kayu yang tertutup rapat, tetapi di dalam kamar utama, udara justru dihangatkan oleh pendar emas lilin dan tungku arang yang membara pelan.
Xiu Ying duduk anggun di tepi ranjang. Jarum perak di tangannya berkilat menembus kegelapan samar. Otaknya yang cerdas sejak tadi pagi tidak berhenti berputar. Penarikan pasukan Putra Mahkota yang terlalu mendadak, sirnanya Kasim Wu tanpa jejak, hingga ingatan akan sentuhan jemari, kekuatan fisik, dan ketangkasan Zhen Yu saat penyatuan panas mereka di atas kereta kuda... semuanya menyusun teka-teki yang terlalu sempurna.
Zhen Yu... kau menutupi rahasiamu dengan sangat rapat, batin Xiu Ying, matanya berkilat tajam penuh keputusan. Malam ini, aku sendiri yang akan membongkar topengmu.
Xiu Ying telah menyusun sebuah mekanisme sederhana namun mematikan di dalam kamar. Sebuah benang sutra transparan terikat tipis di dekat ambang pintu kayu internal, terhubung langsung dengan tiga jarum tumpul berbobot berat yang siap meluncur cepat dari balik tirai jika benang tersebut tersentuh. Hanya seseorang dengan refleks beladiri tingkat tinggi dan kecerdasan insting luar biasa yang sanggup menghindari ayunan cepat jarum tersebut.
Cklek.
Pintu kamar terbuka pelan. Pangeran Zhen Yu melangkah masuk sambil memeluk sebuah patung kayu berbentuk kelinci. Wajah tampannya dipasang raut polos khas berakal anak kecil.
"Kakak Cantik! Yu-er bawa kelinci kayu!" seru Zhen Yu riang, melangkah lebar mendekati Xiu Ying.
Namun, tepat saat kaki kanannya hendak menapak lantai di dekat tirai, ujung sepatunya menyenggol benang sutra tipis yang tak kasat mata.
SRAK!
Tiga jarum berbobot meluncur deras membelah udara, mengincar dada dan leher Zhen Yu dengan kecepatan yang tak masuk akal!
Dalam kurun waktu kurang dari seperseribu detik, raut polos kekanak-kanakan di wajah Zhen Yu sirna sepenuhnya. Insting mematikan yang terlatih selama bertahun-tahun mengambil alih refleks tubuhnya. Tanpa membuang patung kayunya, Zhen Yu memutar tubuhnya secara melekuk, melompat ringan ke udara dengan kelincahan tiada tara, lalu mendarat tanpa suara di belakang tirai—menghindari ketiga jarum yang akhirnya menancap dalam pada tiang kayu di belakangnya.
Suasana kamar seketika hening mencekam.
Zhen Yu berdiri tegak. Postur tubuhnya tak lagi membungkuk atau ragu, melainkan tegap, gagah, dan memancarkan wibawa dominan yang amat pekat. Ia menatap tiga jarum di tiang kayu, lalu perlahan memutar tubuhnya menatap Xiu Ying.
Di tepi pembaringan, Xiu Ying menyilangkan dadanya dengan senyum miring yang sarat akan kemenangan.
"Ketangkasan yang sangat luar biasa untuk seorang pangeran yang kata orang bahkan takut melihat pedang," sindir Xiu Ying dengan nada suara yang tenang namun menusuk.
Zhen Yu membisu sejenak. Manik matanya yang hitam pekat menatap dalam-dalam ke dalam iris mata istrinya. Ia melihat tidak ada ketakutan atau amarah di sana, melainkan kecerdasan, rasa ingin tahu, dan kepercayaan yang amat dalam.
Zhen Yu menghela napas panjang sebuah helaan napas kebebasan yang telah ia tahan selama belasan tahun. Ia tersenyum pasrah, senyuman yang amat tampan, dewasa, dan memikat.
Ia meletakkan kelinci kayunya di atas meja, lalu melangkah pelan mendekati Xiu Ying. Langkah kakinya tak lagi berat atau ceroboh, melainkan seringan bulu, memancarkan aura penguasa sejati.
"Istriku memang terlalu cerdas..." buka Zhen Yu. Suaranya tak lagi tinggi atau kekanak-kanakan, melainkan berat, dalam, dan seksi suara asli pria dewasa yang semalam membisikkan janji di leher Xiu Ying.
Xiu Ying menahan napasnya sejenak saat mendengar suara asli suaminya dari jarak sempit ini. Dada wanita itu berdebar kencang.
Zhen Yu berlutut di hadapan Xiu Ying. Dari dalam lipatan jubah mewahnya, ia mengeluarkan sebuah stempel giok hitam berukir naga bersayap dan mawar hitam—segel komando tertinggi yang menguasai seluruh rahasia dan kekuatan tempur kerajaan.
"Pria idiot yang dilindungi olehmu selama ini... adalah Pimpinan Utama Jaringan Bayangan Mistik," aku Zhen Yu tulus, menyerahkan segel giok itu ke atas telapak tangan Xiu Ying. "Seluruh mata-mata, pembunuh bayaran, dan informasi di kekaisaran ini berada di bawah kendaliku. Dan mulai malam ini... seluruh kekuatanku adalah milikmu."
Xiu Ying menatap segel giok hitam di tangannya, lalu mendongak menatap Zhen Yu. Senyuman hangat dan bangga terukir di bibirnya.
"Jadi... 'Mawar Hitam' yang membuat Putra Mahkota ketakutan setengah mati sampai menarik pasukannya tadi pagi... adalah suamiku sendiri?" tanya Xiu Ying terkekeh pelan.
"Dia berani berniat meracunimu di perjamuan," balas Zhen Yu, matanya berkilat tegas. "Siapa pun yang menyentuhmu, harus membayar harganya dengan darah. Aku berpura-pura bodoh selama bertahun-tahun untuk bertahan hidup di istana yang berdarah ini... tapi di depanmu, aku tidak ingin lagi ada kebohongan."
Xiu Ying menyentuh pipi tegas Zhen Yu dengan jemari lentiknya. "Terima kasih karena telah jujur padaku, Zhen Yu."
Zhen Yu menggenggam tangan Xiu Ying yang berada di pipinya, mencium telapak tangan hangat istrinya dengan kelembutan yang dalam. Rasa lega dan gairah yang membara bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Tidak ada lagi panggung sandiwara, tidak ada lagi topeng, hanya ada mereka berdua sebagai pasangan penguasa yang saling memiliki sepenuhnya.
"Malam ini..." bisik Zhen Yu parau, berdiri dan memiringkan tubuhnya di atas pembaringan, mengurung tubuh ramping Xiu Ying di bawah naungan tubuh tegapnya. "Bolehkah aku mencintaimu tanpa ada kepura-puraan?"
Xiu Ying menatap mata pekat suaminya, menyunggingkan senyum manis yang memikat. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Zhen Yu. "Tentu saja... Suamiku."
Zhen Yu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam, panas, dan menuntut daripada malam sebelumnya. Tanpa kepura-puraan keluguan, sentuhan Zhen Yu dipenuhi dengan dominasi murni seorang pria yang memuja wanitanya.
"Mnh... ahh..." desah Xiu Ying lolos di sela-sela lumatan hangat bibir Zhen Yu.
Jemari terampil Zhen Yu dengan cepat dan luwes melepas ikatan gaun sutra ungu milik Xiu Ying. Kain-kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai kamar, memperlihatkan keindahan tubuh mulus Xiu Ying di bawah pendar emas lilin.
Zhen Yu menghentikan ciumannya sejenak, menatap keindahan istrinya dengan binar kehangatan dan hasrat yang membara. Ia menyusuri leher halus Xiu Ying dengan ciuman-ciuman panas yang membuat Xiu Ying mendongak, meremas bahu kokoh Zhen Yu.
"Ah! Zhen Yu... hhngh..." desah Xiu Ying terengah-engah saat bibir hangat Zhen Yu mengecup ceruk leher dan dadanya.
Zhen Yu melepas jubah mewahnya sendiri, membiarkan tubuh tegap berototnya yang dipenuhi sedikit garis luka tempaan pertarungan menyatu rapat dengan kulit halus Xiu Ying. Pria itu menyatukan kembali jemari mereka di atas bantal empuk, mengunci tatapan mata Xiu Ying saat penyatuan mendalam itu kembali terjadi.
"Nngghh! Ahh!" jerit pelan Xiu Ying tertahan, matanya berkaca-kaca dipenuhi nikmat yang tiada tara ketika rasa hangat meluap memenuhi seluruh rongga dadanya.
"Xiu Ying... Istriku... milikku..." bisik Zhen Yu dengan suara berat dan seksi di dekat telinga Xiu Ying, bergerak dalam irama yang dalam, ritmis, dan penuh dengan kehangatan cinta yang membakar dinginnya malam.
"Ahh! Lebih... mnh... Zhen Yu... pelan... ahh!" desah Xiu Ying tersengal-sengal, dadanya naik turun memburu. Gesekan lembut dan kehangatan tiada tara dari penyatuan mereka membuat otaknya benar-benar melayang dalam kepungan gairah.
"Suka, hm?" bisik Zhen Yu parau, mengecup pelik keringat di dahi Xiu Ying sembari mempercepat gerakannya dengan ketangkasan yang memabukkan.
"Suka... ahh! Aku... sangat mencintaimu... Zhen Yu... ahh!" aku Xiu Ying jujur tanpa tersisa, menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada dekapan pria di atasnya.
Erangan rendah Zhen Yu bersahutan dengan desahan nikmat Xiu Ying di dalam kamar yang terisolasi dari dunia luar. Puncak kenikmatan tiada tara meledak bersamaan, menyatukan dua jiwa yang kini tak lagi terpisahkan oleh rahasia apa pun.
Xiu Ying bersandar lelah namun bahagia di atas dada bidang Zhen Yu yang bernapas memburu. Zhen Yu merengkuh tubuh ramping istrinya, menyelimuti mereka berdua dengan beludru tebal, lalu mencium puncak kepala Xiu Ying penuh kehangatan.
Di bawah naungan malam musim dingin, aliansi sejati mereka telah lahir—sebuah pasangan penguasa yang memadukan kejeniusan finansial dan kekuatan bayangan rahasia yang siap mengguncang seluruh kekaisaran.
Bersambung....