Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERDEBATAN

Keesokan harinya, saat masa liburan sekolah baru saja dimulai, Doni telah berada di rumah Kristin. Ia berpamitan dengan sopan kepada Mama Kristin, menyampaikan bahwa ia hendak mengajak Kristin pergi berbelanja perlengkapan yang dibutuhkan untuk kegiatan perkemahan yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Mama Kristin tersenyum ramah dan mengizinkan, sepasang mata itu menatap pemuda di hadapannya dengan penuh kepercayaan.

Doni dan Kristin pun berangkat menaiki motor sport milik Doni. Sepanjang pagi hingga menjelang siang, mereka berkeliling dari satu toko ke toko lain, memilih dan memilah perlengkapan yang akan dibawa Kristin nantinya. Doni dengan sabar membantu menimbang kualitas dan kegunaan setiap barang yang diseleksi, memastikan semuanya cukup aman dan tahan untuk dipakai di alam bebas. Setelah merasa cukup dan semua keperluan yang dirasa penting sudah terpenuhi, Doni mengajak Kristin mampir makan di sebuah warung lesehan sederhana yang terletak di tepi jalan raya. Tempat itu tampak sederhana namun bersih, dengan meja dan bangku kayu yang tertata rapi di bawah atap rumbia.

Mereka memesan menu yang sama: bebek bakar dengan sayur kangkung hangat, serta dua gelas jus jeruk segar. Tak lama, pesanan pun datang. Aroma harum bumbu rempah yang meresap hingga ke dalam daging bebek seketika menggugah selera. Mereka pun mulai menikmati hidangan itu dalam keheningan yang hangat. Sambil menyuap nasi, Doni menatap Kristin dan berkata dengan nada lembut, "Coba periksa sekali lagi, barang apa saja yang belum kau miliki. Jika masih ada yang kurang, kita bisa lanjut mencarinya setelah selesai makan."

Kristin berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap lurus ke manik mata Doni, lalu bertanya dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi berat dan serius, "Kak, apa sebenarnya hal yang sedang Kakak sembunyikan dariku?"

Doni tertegun. Tangannya yang memegang sendok perlahan terhenti di udara. Ia menatap wajah gadis itu dengan tatapan bingung, lalu menjawab dengan tenang, "Menyembunyikan apa? Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu."

Kristin menghela napas pelan, lalu menatapnya lekat-lekat seakan ingin menembus isi hati pemuda itu. "Kalau begitu, Kak, kenapa Kakak tidak pernah sekalipun bercerita tentang masa lalu Kakak? Tentang hal yang membuat Kakak bersikap dingin dan tertutup kepada siapa pun selama ini?"

Doni terdiam sejenak. Sebuah pemahaman melintas di benaknya. Ia tahu pasti siapa yang menceritakan hal itu. Nisa. Nisa telah menceritakan garis besarnya kepada Kristin. Doni mengalihkan pandangannya ke arah piring yang masih berisi makanan, lalu berkata dengan nada datar, "Itu bukan hal yang penting untuk dibahas."

Kristin tersenyum tipis namun penuh kepahitan. Suaranya terdengar menyindir namun matanya memancarkan kesedihan yang nyata. "Bukan hal yang penting? Kalau bukan hal penting, Kak, mengapa hal itu justru begitu memengaruhi sikap dan watak Kakak hingga hari ini? Mengapa hal itu mengubah seluruh hidup Kakak?"

Doni menghela napas panjang, dadanya terasa sesak seketika. Ia menatap Kristin kembali, lalu berkata dengan nada yang berusaha tegas namun tetap lembut, "Sebaiknya kita makan saja dulu. Hal ini tidak perlu dibahas sekarang."

Mendengar jawaban itu, tangan Kristin perlahan meletakkan sendok dan garpu ke tepi piring. Ia menatap makanan yang masih penuh itu dengan tatapan yang tak berminat lagi. "Kalau begitu, aku sudah tidak berselera lagi," ucapnya pelan namun tegas. Ia berhenti makan seketika, menolak menyentuh makanan itu lagi.

Doni menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan segala rasa sesak dan kekesalan yang mulai merayap di hatinya. Ia berusaha tetap bersabar. "Baiklah... Kalau begitu, barang apa lagi yang masih kurang? Ke mana kita harus mencarinya?"

Kristin hanya menjawab singkat sambil menatap ke arah jalan yang mulai ramai, "Aku mau pulang. Aku ingin tidur. Tidak ada lagi yang perlu dibeli."

Doni mengangguk pelan. Ia mencoba memaklumi perubahan suasana hati pasangannya yang sedang tersinggung dan kecewa. Ia pun memanggil pelayan, membayar seluruh pesanan mereka yang bahkan belum habis disantap, lalu keduanya melangkah kembali menuju motor sport yang terparkir tak jauh dari sana.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Kristin, suasana terasa hening dan kaku. Tak sepatah kata pun terucap di antara mereka. Hanya suara deru mesin motor dan bunyi kendaraan lain yang sesekali terdengar melintas. Hati Doni terasa berat, begitu pula hati Kristin yang dipenuhi rasa kecewa yang tak terungkapkan. Sesampainya di depan rumah Kristin, gadis itu turun dari motor sebelum berkata, "Kak, tidak perlu ikut turun. Langsung pulang saja. Aku mengantuk dan tidak ingin diganggu."

Tanpa menunggu jawaban, Kristin melangkah masuk menuju pintu rumahnya dan menutup pintu itu rapat-rapat di belakangnya. Doni terpaku sejenak di atas motor sportnya, menatap pintu yang tertutup itu, sebelum akhirnya ia memutar gas dan melajukan motornya pergi meninggalkan rumah itu.

Begitu masuk ke dalam rumah, Kristin menyapa sekilas Mamanya yang sedang berada di ruang tamu, namun ia tak berhenti sejenak pun. Langkah kakinya langsung melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tak menghiraukan panggilan atau sapaan Mamanya yang tampak bingung melihat wajah putrinya yang murung. Begitu masuk ke dalam kamar, Kristin segera mengunci pintu itu dari dalam. Kakinya lemas seketika, dan ia jatuh terkulai di tepi tempat tidurnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menangis dalam diam, merasakan betapa perihnya hati ketika menyadari bahwa Doni ternyata belum sepenuhnya membuka hatinya untuknya. Kak Doni masih menyimpan rapat masa lalunya, seakan takut atau tak percaya untuk membaginya kepada Kristin. Di sela-sela isak tangisnya, Kristin berjanji dalam hati: saat nanti mereka berangkat berkemah, ia akan menjaga jarak dari Kak Doni. Ia akan memberi jarak agar pemuda itu menyadari betapa pentingnya kejujuran dan keterbukaan di antara mereka. Perlahan, lelah yang melanda akhirnya membuat Kristin terlelap dengan kedua matanya yang sembab dan bengkak.

Sementara itu, Doni melajukan motor sportnya menuju tempat biasa ia berkumpul bersama teman-temannya. Sesampainya di sana, ia mematikan mesin dan melangkah masuk dengan wajah yang tampak kusut dan penuh keresahan. Raka, salah seorang temannya, segera menghampiri dan menatap wajah Doni dengan tatapan penuh selidik. "Wah, tumben muka kau kusut begitu. Ada apa?"

Doni tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap Raka dan bertanya, "Apakah kau punya stok minuman keras di sini?"

Raka mengernyitkan dahi, namun ia hanya mengangguk pelan dan melangkah masuk ke ruang belakang. Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua botol minuman beralkohol kadar tinggi beserta dua gelas. Doni langsung mengambil salah satu botol, membuka penutupnya dengan kasar, lalu menuangkan isinya hingga penuh ke dalam gelas. Tanpa menunggu lama, Doni mengangkat gelas itu dan menghabiskannya dalam satu tegukan hingga tetes terakhir.

Raka melotot melihat tingkah temannya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Hei, apa yang terjadi, Bro? Apa kau sedang galau begitu?"

Doni tak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Raka, lalu kembali menuangkan isi botol itu ke dalam gelasnya. Tangannya meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Kristin, lalu menunggu balasan. Namun tak ada balasan yang masuk. Layar ponsel itu tetap sepi. Doni mencoba menelepon, namun panggilannya pun tak diangkat. Berulang kali ia mencoba, namun hasilnya tetap sama. Hal itu membuat hatinya semakin gusar dan tak tenang. Ia kembali meneguk isi gelasnya, berharap rasa panas yang menjalar di tenggorokan mampu sedikit meredakan sesak yang menghimpit dadanya. Raka hanya diam melihat tingkah temannya itu, lalu ikut duduk di hadapan Doni dan ikut meneguk minuman yang ada di gelasnya, membiarkan temannya meluapkan segala kekesalan yang ada di hatinya.

Malam pun berganti. Di rumahnya, Kristin telah selesai makan malam bersama Mamanya, meskipun porsi makanannya jauh lebih sedikit dari biasanya. Kini ia berada di dalam kamarnya, sibuk melipat dan menyusun perlengkapan yang akan dibawa untuk perkemahan nanti. Pintu kamarnya terdengar diketuk pelan. Mamanya masuk dan berdiri sejenak menatap putrinya yang tampak sibuk namun tak bersemangat.

"Kristin..." panggil Mamanya lembut. "Apakah ada masalah? Sepertinya hubungan kalian berdua sedang tidak baik-baik saja."

Kristin berhenti melipat baju di tangannya. Ia menunduk sejenak, lalu berkata dengan nada ketus, "Mama, tolong jangan bahas soal Kak Doni lagi. Aku kesal padanya. Dia menutup rapat masa lalunya dan tak mau menceritakannya kepadaku. Seakan aku orang asing yang tak berhak mengetahuinya."

Mama Kristin menghela napas pelan, lalu melangkah mendekat dan menepuk lembut bahu putrinya. "Kristin, Mama hanya ingin berpesan satu hal. Jangan biarkan amarah menguasai hatimu. Pikirkanlah dengan kepala yang dingin." Setelah berkata demikian, Mama Kristin tersenyum tipis dan melangkah keluar meninggalkan putrinya sendirian di dalam kamar.

Kristin kembali melanjutkan kegiatannya dengan hati yang masih tak tenang. Matanya kemudian tertuju pada layar ponsel yang tergeletak di tepi tempat tidur. Ia mengambilnya dan melihat ada sejumlah pesan serta panggilan tak terjawab dari Doni yang dikirimnya siang tadi. Kristin membaca pesan-pesan itu satu per satu.

Pesan pertama berbunyi: "Aku minta maaf. Bukan aku tak ingin bercerita, hanya saja aku belum siap untuk membahas hal itu saat ini."

Pesan kedua: "Kristin, tolong angkat teleponmu. Aku ingin berbicara denganmu."

Dan pesan terakhir berbunyi: "Jika kau butuh waktu untuk berpikir, aku akan memberikannya. Tapi jangan terlalu lama membiarkan kita seperti ini. Aku menunggumu."

Air mata kembali menetes di pipi Kristin saat membaca baris terakhir pesan itu. Hatinya terasa perih dan bimbang. Dalam hatinya, ia berbisik pelan: "Seharusnya Kak Doni berusaha memohon dan membujukku, bukan justru memberiku waktu untuk berpikir sendirian seperti ini." Kristin meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula. Ia mencoba menepis segala bayang-bayang wajah Doni dari pikirannya, berusaha menenangkan diri. Kepalanya terasa pening sekali. Dengan berat hati, ia menarik selimut dan memejamkan matanya, berharap esok hari semuanya akan terasa lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!