Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sore itu, sekitar pukul empat, suara notifikasi dari Sistem Keajaiban tiba-tiba bergema di dalam kepala Revan.
[Petualangan hari ini telah berakhir.]
[Tingkat penyelesaian: 72%.]
[Hadiah: Satu perangkat tembus pandang.]
Revan membuka hadiah tersebut dan langsung mengernyit.
Lagi-lagi alat pelacak tak terlihat.
Persis seperti yang dia dapat sebelumnya.
“Serius? Kenapa hadiahnya benda yang sama lagi?” Revan menghela napas. “Nggak bisa kasih sesuatu yang baru? Yang lebih keren sedikit kek.”
Walaupun agak kecewa, Revan akhirnya punya waktu untuk memikirkan kembali tentang Sistem Keajaiban yang selama ini muncul secara misterius dalam hidupnya.
Sampai sekarang, dia sudah mengaktifkannya tiga kali.
Dia memang belum sepenuhnya memahami cara kerja sistem itu, tetapi setidaknya beberapa pola mulai terlihat.
Revan mengambil buku catatan kecilnya lalu mulai menuliskan semua kesimpulan yang berhasil dia dapatkan.
Pertama.
Sistem Keajaiban hanya bisa digunakan satu kali dalam sehari.
Namun, waktu berakhirnya masih menjadi misteri.
Revan menduga durasi sistem berkaitan dengan tingkat penyelesaian misi. Semakin cepat dia menyelesaikan petualangan, semakin cepat pula sistem tersebut berakhir.
Kedua.
Petualangan yang diberikan sistem benar-benar acak.
Sistem tidak akan mengikuti keinginannya.
Contohnya hari ini.
Revan sebenarnya berharap Sistem Keajaiban membantunya memecahkan Kasus Tangan Hilang.
Tapi apa yang dia dapat?
Bertemu dengan seorang wanita bernama Jeni, mengejar pencuri, bahkan sampai menunggang unta di tempat wisata.
Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus!
Lalu ada satu hal lagi yang menarik perhatian Revan.
Kata-kata aneh yang muncul ketika Sistem Keajaiban aktif sepertinya memiliki arti tertentu.
Seperti petualangan ketiga.
Ada sesuatu yang berkaitan dengan takdir dan benang merah.
Dan semuanya tampaknya berhubungan dengan Jeni.
Sementara kata-kata mengenai naik dan turun kemungkinan besar berkaitan dengan pengalamannya menunggang unta.
Revan mengusap dagunya.
“Jangan-jangan kata-kata itu sebenarnya petunjuk untuk petualangan berikutnya?”
Kalau memang begitu, berarti memahami kata-kata tersebut bisa membantunya memprediksi apa yang akan terjadi.
Tema yang muncul di sistem juga terasa tidak biasa.
Revan masih ingat beberapa kata.
Dia langsung membuka internet melalui ponselnya dan mencari arti kata-kata tersebut.
Setelah membaca beberapa artikel, matanya sedikit menyipit.
Ternyata semua petunjuk itu berkaitan dengan filosofi alam dan simbol-simbol kuno Nusantara.
Air melambangkan kehidupan, ketenangan, sekaligus kekuatan yang terus mengalir.
Gunung melambangkan keteguhan, pusat kekuatan.
“Air dan gunung…”
Revan terdiam.
Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa sistem itu memang sengaja memberikan petunjuk.
Kalau dia berhasil memahami tema dan kata-kata aneh yang muncul setiap kali sistem aktif, mungkin dia bisa meningkatkan tingkat keberhasilannya secara drastis.
“Berarti aku harus pelajari ini lebih dalam.”
Revan menutup buku catatannya.
Kalau dia benar-benar bisa memahami cara kerja Sistem Keajaiban, suatu hari nanti mungkin dia bisa memanfaatkannya sesuai keinginannya.
Namun untuk saat ini, dia memutuskan untuk mengesampingkan sistem tersebut.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Kasus Tangan Hilang.
Semakin Revan memikirkannya, semakin dia merasa bahwa Sistem Keajaiban belum tentu bisa membantunya memecahkan kasus tersebut.
Bahkan, sistem itu bisa saja terus memberinya petualangan aneh yang tidak berhubungan dengan kasus dan hanya membuang waktunya.
“Kalau memang begitu…”
Revan bersandar di kursinya.
Setelah mempertimbangkan cukup lama, akhirnya dia mengambil keputusan.
Mulai sekarang, dia akan mengandalkan kemampuannya sendiri.
Seluruh energinya akan dia curahkan untuk memecahkan Kasus Tangan Hilang.
Bagaimanapun juga, dia sudah bertaruh.
Kehilangan uang Rp3,6 juta, sebenarnya bukan masalah besar.
Yang membuat Revan tidak terima adalah kehilangan muka.
Dia tidak mungkin membiarkan orang seperti Budi tertawa di belakangnya.
Kalau memang harus bekerja keras, dia akan melakukannya.
Meskipun Revan bukan seorang ahli kriminal yang memiliki pendidikan khusus di bidang penyelidikan, pengalaman masa lalunya tidak bisa diremehkan.
Dulu, ketika masih bekerja di sebuah kelompok lama, dia sudah beberapa kali berhasil menangkap mata-mata.
Dia mungkin tidak memiliki teori yang lengkap, tetapi nalurinya dalam mengejar seseorang cukup tajam.
Malam itu, Revan mencetak semua informasi penting mengenai Kasus Tangan Hilang.
Setelah itu, dia membawa semuanya pulang.
Rumah yang ditempatinya sekarang sebenarnya cukup nyaman.
Hanya saja ada satu masalah.
Tidak ada Wi-Fi.
Pemilik rumah, Pak Jaya, rupanya lebih memilih menggunakan paket data dari ponselnya sendiri daripada memasang Wi-Fi.
Alasannya cukup sederhana.
Dia takut putrinya, malah sibuk bermain ponsel dan mengabaikan sekolah.
Masalahnya, Pak Jaya tidak tahu satu hal.
Putrinya bukan anak biasa.
Siska justru cukup jago soal komputer.
Bahkan, dia sudah berhasil mendapatkan kata sandi Wi-Fi tetangga.
Jadi larangan itu sama sekali tidak berpengaruh.
Revan juga bukan orang yang mau rugi.
Sejak pertama kali pindah, dia sudah berhasil mendapatkan kata sandi tersebut dari Siska.
Alhasil, koneksi internet yang mereka gunakan diam-diam berasal dari rumah tetangga sebelah.
Revan duduk di depan meja.
Semua dokumen mengenai Kasus Tangan Hilang dia susun satu per satu.
Dia ingin memeriksa ulang setiap informasi.
Tidak boleh ada satu detail pun yang terlewat.
Kasus Pertama
Kasus pertama terjadi pada 22 April tahun lalu, di sebuah terowongan dekat pusat kebugaran di kawasan Jakarta.
Korban bernama Gita.
Seorang karyawan perusahaan asing yang sehari-hari bekerja di Jakarta Pusat.
Saat itu, Gita sedang menghadiri sebuah konser musik.
Setelah konser selesai, dia mengikuti arus penonton menuju keluar melalui terowongan.
Namun di tengah perjalanan, seseorang tiba-tiba menyerangnya dari belakang.
Gita kehilangan kesadaran.
Ketika akhirnya sadar, tangan kanannya sudah tidak ada.
Yang lebih mengerikan, pelaku ternyata tidak membiarkannya mati kehabisan darah.
Setelah memotong tangan korban, pelaku justru memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan.
Tindakan itu membuat kasus tersebut semakin aneh.
Pelaku jelas sangat kejam.
Namun di sisi lain, dia juga cukup memahami cara menjaga korban tetap hidup.
Yang paling mengerikan adalah...
Tidak ada bukti.
Sama sekali.
Padahal lokasi kejadian dipenuhi orang.
Kamera CCTV juga terpasang di berbagai sudut.
Namun polisi tidak menemukan satu pun rekaman yang bisa menunjukkan wajah atau identitas pelaku.
Gita memang berada di tengah kerumunan ketika diserang.
Namun saat itu pencahayaan cukup buruk.
Hari juga sudah larut malam.
Sebagian besar orang sedang kelelahan setelah menonton konser.
Tidak ada satu pun saksi yang benar-benar melihat kejadian tersebut.
Polisi langsung mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Tetapi lima hari kemudian, pada 26 April, kasus serupa kembali terjadi.
Kasus Kedua
Korban kali ini bernama Larasati.
Wanita yang sebelumnya juga pernah diwawancarai Revan bersama Nina.
Kasus Larasati bahkan jauh lebih sulit dipercaya.
Dia tidak diserang di tempat umum.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada jalan gelap.
Tidak ada konser.
Larasati kehilangan tangannya...
di kamar tidurnya sendiri.
Malam itu, tidak ada kejadian aneh.
Larasati baru saja selesai mandi, kemudian pergi tidur.
Namun ketika terbangun keesokan harinya, tangan kanannya sudah hilang.
Tidak sulit membayangkan betapa paniknya dia saat itu.
Rumah Larasati memang belum berada di kawasan perumahan elite seperti sekarang, tetapi di sekitar tempat tinggalnya terdapat cukup banyak kamera CCTV.
Polisi memeriksa semua rekaman.
Hasilnya nihil.
Tidak ada orang mencurigakan.
Tidak ada kendaraan mencurigakan.
Tidak ada aktivitas aneh.
Bahkan rekaman CCTV selama tujuh hari sebelum kejadian ikut diperiksa.
Tetap tidak ditemukan apa-apa.
Menurut hasil penyelidikan, pintu rumah Larasati memang menunjukkan tanda-tanda seperti pernah dibuka secara paksa.
Namun pemeriksaan forensik membuktikan bahwa pintu tersebut sebenarnya tidak pernah didobrak.
Kesimpulannya hanya ada satu.
Pelaku memiliki kunci rumah Larasati.
Saat kejadian, Larasati sedang sendirian.
Beberapa hari sebelumnya, dia sempat bertengkar hebat dengan suaminya sampai mengusir pria tersebut dari rumah.
Karena itu, polisi tentu saja langsung mencurigai sang suami.
Namun saat kejadian berlangsung, suaminya sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
Hubungan mereka memang sudah lama bermasalah.
Pada akhirnya, pernikahan mereka pun berujung perceraian.
Setelah kasus Larasati, Kasus Tangan Hilang mendadak berhenti.
Tidak ada korban baru selama satu tahun.
Sampai akhirnya...
Kasus Ketiga
Tepat satu tahun kemudian.
Tanggalnya kembali sama.
22 April.
Korban ketiga bernama Meylina.
Seorang ibu rumah tangga dari keluarga berada.
Suaminya merupakan pengusaha kaya yang cukup dikenal di kalangan tertentu.
Malam itu, Meylina menghadiri sebuah pesta.
Dalam perjalanan pulang, dia tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Ketika membuka mata keesokan paginya...
Tangan kanannya sudah hilang.
Yang membuat kasus ini semakin aneh, Meylina ditemukan masih berada di dalam mobil BMW miliknya.
Mobil tersebut berhenti di sebuah gang sempit di kawasan Jalan Jatinegara.
Dalam kondisi panik, Meylina langsung keluar dari mobil dan berlari mencari pertolongan.
Dia akhirnya ditemukan oleh warga setelah meminta bantuan di sebuah gerai makanan cepat saji tidak jauh dari lokasi.
Sekali lagi...
Tidak ada jejak pelaku.
CCTV memang berhasil merekam mobil BMW milik Meylina.
Namun tidak ada rekaman yang menunjukkan siapa pelakunya.
Dari hasil pemeriksaan tempat kejadian, polisi menduga pelaku sudah bersembunyi di dalam mobil sebelum Meylina masuk.
Begitu Meylina masuk dan mobil berjalan, pelaku menyerangnya hingga tidak sadarkan diri.
Setelah itu, pelaku membawa mobil tersebut ke sebuah gang sepi.
Di sanalah tangan kanan Meylina dipotong.
Kemudian pelaku meninggalkan korban kembali di dalam mobil.
Setelah itu...
Menghilang tanpa jejak.
Revan menatap tumpukan dokumen di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, dia mengembuskan napas panjang.
“Gila…”
Dia langsung teringat perkataan Nina sebelumnya.
Pelaku ini benar-benar seperti hantu.
Tapi setelah membaca seluruh informasi tersebut, Revan baru sadar...
Nina bahkan belum melebih-lebihkan sedikit pun.
“Jangan-jangan…”
Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tatapannya tertuju pada tiga kasus yang terpampang di meja.
“Tiga korban. Tiga lokasi berbeda. Tidak ada saksi. Tidak ada rekaman. Tidak ada jejak…”
Tangannya perlahan mengepal.
“Jangan-jangan kasus ini memang…”
Revan terdiam cukup lama.
“…benar-benar nggak bisa dipecahkan?”