Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Hati yang Belum Usai

Handoko akhirnya kembali ke Yogyakarta dengan hati yang hampa.

Perjalanan pulang yang biasanya terasa biasa saja, kali ini terasa begitu panjang. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, sementara pikirannya dipenuhi potongan-potongan kejadian yang belum sanggup ia terima sepenuhnya.

Dua minggu lebih sehari setelah ia tersadar dari koma, barulah Handoko mengetahui kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan darinya. Kakaknya, Haryanto, dan ayahnya, Priambodo, telah meninggal dunia di tempat dalam kecelakaan itu.

Dua orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya pergi dalam satu kejadian yang sama. Bahkan ketika ia masih terbaring tak berdaya, mereka telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Kabar itu sempat membuat Handoko merasa seolah-olah seluruh hidupnya runtuh dalam sekejap. Namun ternyata, kehilangan belum selesai menghampirinya.

Kini, wanita yang begitu dipujanya—wanita yang pernah menjadi impiannya untuk menemani sisa hidup, wanita yang selama bertahun-tahun tersimpan begitu dalam di sudut hatinya—juga pergi meninggalkannya.

Mellisa.

Nama itu berulang kali bergaung di kepalanya.

Tidak ada pertengkaran terakhir. Tidak ada kesempatan untuk saling menatap. Tidak ada genggaman tangan. Tidak ada satu pun kata perpisahan yang sempat mereka ucapkan.

Mellisa pergi begitu saja dari hidupnya. Tanpa sempat mengatakan selamat tinggal. Handoko menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang berat menindihnya sejak ia mengetahui semua kenyataan itu.

Dulu, ia pernah membayangkan akan menghabiskan sisa hidup bersama Mellisa. Menjalani hari-hari sederhana, menua bersamanya, dan suatu hari nanti mengenang masa muda mereka sambil tertawa.

Tetapi hidup ternyata memiliki jalan yang berbeda. Ayahnya telah pergi. Kakaknya telah pergi. Dan kini Mellisa pun meninggalkannya.

Tiga kehilangan datang hampir bersamaan, meninggalkan lubang besar yang rasanya tidak mungkin bisa ditutup dalam waktu singkat.

Handoko memejamkan mata. Ia merasa benar-benar sendirian.

Ia pulang ke Yogyakarta bukan sebagai seorang pria yang membawa harapan untuk memulai kembali hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang harus belajar menerima kenyataan bahwa orang-orang yang paling ia cintai telah pergi satu demi satu.

Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kepada Mellisa, ia bahkan tidak sempat mengucapkan satu kalimat sederhana. Selamat tinggal.

Sebulan setelah mengetahui bahwa Mellisa telah menikah, Handoko akhirnya mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menikah dengan Pratiwi.

Wanita yang seharusnya menjadi istri kakaknya, Haryanto.

Keputusan itu tentu bukan sesuatu yang mudah. Handoko tahu, pernikahan tersebut lahir dari keadaan yang tidak pernah mereka rencanakan. Haryanto telah pergi, meninggalkan Pratiwi dan keluarganya dalam duka yang mendalam. Sementara dirinya sendiri masih berusaha berdamai dengan kehilangan ayah, kakak, dan perempuan yang pernah begitu dicintainya.

Namun ketika keluarga meminta dirinya menggantikan Haryanto, Handoko tidak serta-merta menolak.

Ia sudah mengenal keluarga Pratiwi. Ia tahu bagaimana mereka memperlakukan orang lain, bagaimana mereka menjaga kehormatan keluarga, dan bagaimana Pratiwi dibesarkan dengan nilai-nilai yang baik.

Lebih dari itu, Handoko melihat sendiri seperti apa Pratiwi. Ia adalah perempuan yang sederhana, lembut, dan tahu bagaimana menghargai orang lain. Tidak pernah sekalipun Pratiwi berusaha mengambil tempat yang bukan miliknya. Bahkan dalam kondisi kehilangan calon suaminya, perempuan itu justru lebih banyak memikirkan perasaan keluarga Haryanto daripada dirinya sendiri.

Mungkin, pikir Handoko, Tuhan memang sedang menuntunnya ke jalan yang berbeda. Bukan jalan yang pernah ia impikan bersama Mellisa, tetapi jalan yang harus ia jalani.

Handoko pun mencoba membuka hatinya. Ia tidak pernah berjanji kepada Pratiwi bahwa dirinya bisa langsung mencintainya seperti ia pernah mencintai Mellisa. Namun ia berjanji akan menghormatinya sebagai seorang istri dan memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk membangun kehidupan bersama.

Pratiwi pun memahami keadaan Handoko. Ia tahu ada seseorang dari masa lalu yang pernah menempati hati suaminya. Ia tidak pernah memaksa Handoko untuk melupakan siapa pun. Ia hanya meminta satu hal—agar Handoko bersedia menjalani kehidupan yang kini telah mereka pilih bersama.

Perlahan, hari-hari yang awalnya terasa canggung mulai berubah. Mereka belajar mengenal satu sama lain. Belajar memahami kebiasaan masing-masing. Belajar menjadi pasangan, bukan sekadar dua orang yang dipertemukan oleh keadaan.

Dan tanpa mereka sadari, rasa nyaman itu tumbuh menjadi kasih sayang. Handoko mulai menemukan ketenangan dalam diri Pratiwi. Sementara Pratiwi menemukan seorang suami yang meskipun tidak sempurna, selalu berusaha menjaga dan menghargainya.

Waktu pun berjalan. Setahun berlalu. Lima tahun.

Sepuluh tahun. Hingga dua puluh lima tahun kemudian, mereka masih berdiri berdampingan sebagai sepasang suami istri.

Pernikahan yang dahulu dimulai dari kehilangan, perlahan berubah menjadi rumah bagi keduanya.

Mereka telah melewati begitu banyak hal bersama—kebahagiaan, kesulitan, pertengkaran kecil, kelahiran anak, berbagai persoalan keluarga, hingga hari-hari sederhana yang justru menjadi kenangan paling berharga.

Handoko akhirnya menyadari satu hal. Tidak semua cinta datang dari kisah yang kita rencanakan.

Ada cinta yang tumbuh setelah kita berhenti mengejar sesuatu yang telah pergi. Dan Pratiwi adalah cinta yang tumbuh perlahan di dalam kehidupan yang awalnya tidak pernah ia bayangkan.

Selama dua puluh lima tahun, mereka menjalani biduk rumah tangga dengan harmonis. Bukan karena masa lalu Handoko benar-benar hilang dari ingatannya. Melainkan karena ia telah belajar bahwa mengenang seseorang tidak selalu berarti harus kembali kepadanya.

Ada kenangan yang cukup disimpan di dalam hati.

Sementara kehidupan harus tetap berjalan.

Namun, pertemuannya dengan Mellisa tadi ternyata mengguncang sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

Perasaan yang bertahun-tahun lalu pernah begitu kuat, perlahan muncul kembali tanpa ia kehendaki. Seolah-olah kehadiran Mellisa telah membuka pintu yang selama ini sengaja ia tutup rapat-rapat.

Bayangan mereka berdua semasa kuliah kembali berkelebat di benaknya. Tawa Mellisa ketika mereka menghabiskan waktu di kantin kampus, obrolan-obrolan sederhana di sela-sela perkuliahan, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu begitu akrab baginya. Kenangan itu datang silih berganti, begitu jelas, seakan waktu puluhan tahun tidak pernah memisahkan mereka.

Handoko memejamkan mata, berusaha menghentikan semuanya.

Ia sudah menikah. Ia memiliki kehidupan yang selama ini ia jalani bersama Pratiwi. Ada seorang perempuan yang telah mendampinginya melewati bertahun-tahun kehidupan, menerima dirinya, dan menjadi bagian dari keluarganya.

Lalu mengapa hanya dengan bertemu Mellisa, semua yang selama ini ia kira telah selesai kembali terasa begitu nyata?

Handoko mengembuskan napas panjang. Ada rasa bersalah yang perlahan menyusup ke dalam dadanya. Bukan karena ia telah melakukan sesuatu, tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa mungkin ada bagian dari hatinya yang belum pernah benar-benar ia bereskan.

Bukankah seharusnya ia sudah melupakan Mellisa?

Bukankah seharusnya nama itu sudah tidak lagi memiliki tempat di dalam pikirannya?

Namun malam ini, ia justru kembali mengingat perempuan itu dengan cara yang sama seperti dulu.

Dan yang paling menyakitkan adalah kesadaran bahwa selama ini ia mungkin bukan benar-benar telah melupakan Mellisa. Ia hanya belajar hidup tanpa perempuan itu.

Handoko membuka matanya perlahan. Tatapannya kosong menembus ruang di hadapannya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia takut pada perasaannya sendiri.

Sebab ia tahu, ada perasaan yang seharusnya tetap menjadi kenangan.

Dan ada cinta yang, meskipun telah lama dipaksa untuk pergi, ternyata tidak pernah benar-benar meninggalkan hati.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!