Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertengkaran rin dan takumi

Takumi mengetuk kaca. Rin memalingkan wajah ke arah lain dan tetap memejamkan mata, lalu menekan tombol kunci pintu.

Takumi mengetuk lagi. Rin tidak menjawab, namun ia tidak menyadari satu hal: pintu pengemudi masih belum terkunci. Takumi akhirnya berjalan mengitari mobil dan masuk melalui sisi pengemudi. Ia duduk di kursinya.

"Hei. Keluar."

Rin membuka satu mata, mengintip ke arah Takumi, lalu segera memalingkan wajah.

"Berisik. Ini sudah jam tidurku."

Mata Takumi menyipit. Tanpa banyak bicara, ia menekan tombol unlock, membuat pintu otomatis terbuka. Rin langsung membelalakkan mata. Takumi keluar dari mobil dan menutup pintu pengemudi, lalu berjalan menuju pintu Rin.

Rin buru-buru bangkit, tangannya mencari kunci mobil yang tadi tertancap di tempatnya, tetapi kunci itu sudah tidak ada.

"Haaah..."

Pintu di sampingnya tiba-tiba terbuka. Rin menoleh. Takumi berdiri di sana, menatapnya beberapa detik sebelum melangkah mendekat. Jarak mereka menjadi sangat dekat, membuat Rin langsung membeku.

"Apa... apa yang kau—"

Takumi menunduk sedikit, dan tangannya bergerak ke bagian samping kursi. Rin seketika memerah; pikirannya malah melompat ke kejadian di kamar tadi.

Namun Takumi hanya menarik tuas kursi, menggeser posisi jok agar Rin lebih mudah keluar. Setelah itu ia mundur dan mempersilakan Rin turun.

Rin terdiam, lalu wajahnya berubah kesal.

"Cuma mau geser kursi?"

Takumi tidak menjawab. Rin turun dengan gerakan kesal dan langsung menendang-nendang pasir kecil di bawah kakinya.

Rin berjalan beberapa langkah lalu berhenti di sisi pagar kayu, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Takumi masih berdiri tidak jauh darinya sambil mengisap rokok.

Rin menghirup udara malam dalam-dalam, kemudian langsung mengerutkan hidung.

"Udara di sini juga tidak segar. Sudah tercemar nikotin dan karbon monoksida."

Takumi meliriknya. Rin menunjuk rokok di tangan pria itu.

"Mending aku pulang dan tidur."

"Kalau mau pulang, pulang saja sendiri."

Rin langsung menoleh. "Kau... kau menyebalkan takumi!"

Ia berjalan mendekati Takumi, dan karena kesal, ia sengaja menabrakkan tubuhnya ke tubuh pria itu. Tenaganya tentu saja tidak seberapa, dan Takumi tahu itu, tetapi ia justru pura-pura terdorong beberapa langkah ke belakang. Rin mendengus puas, lalu berbalik dan berjalan menuju jalan raya.

"Rin."

Rin tidak berhenti; langkahnya justru semakin cepat. Takumi memperhatikan beberapa saat, baru menyadari gadis itu benar-benar marah.

"Rin, tunggu."

Takumi segera menyusul, meraih pergelangan tangan Rin untuk menghentikannya.

"Hei. Kenapa jadi benar-benar marah?"

"Lepaskan. Apaan sih!"

Rin berusaha menarik tangannya, tetapi Takumi tidak langsung melepaskan. Ia menunjuk ke arah jalan yang semakin gelap.

"Di sana gelap."

Rin masih merengut.

"Kalau kau meminta Kyo menjemputmu sekalipun, kau tetap harus berjalan melewati jalan ini. Di sekitar sini juga masih banyak hewan liar dan..."

Takumi sengaja berhenti sebentar.

"...setan."

Langkah Rin langsung berhenti.

"Setan?"

Ia menoleh perlahan. Baru sekarang ia memperhatikan keadaan sekitar: pohon-pohon besar berdiri di sepanjang jalan, dan penerangannya tidak terlalu banyak. Rin menelan ludah.

"Sial..."

Takumi hampir tersenyum karena tahu ancamannya tepat sasaran. Rin mengepalkan tangannya sendiri, lalu berbalik dan dengan langkah kesal serta hentakan kaki kecil kembali berjalan menuju jembatan.

Takumi berjalan di belakangnya dengan ekspresi yang sedikit lebih ringan.

Sesampainya di dekat mobil, Takumi menatap Rin yang masih memasang wajah kesal.

"Kau ini kenapa sih? Kekanak-kanakan sekali."

Rin menoleh. Takumi mengembuskan asap rokok ke arah samping, lalu kembali menatapnya. Rin mendengus.

"Setidaknya ada dua pria yang menunggu jawabanku."

Takumi mengerutkan dahi. "Maksudmu Kiba dan Kyo?"

Rin mengangkat bahu. "Setidaknya mereka tidak membuatku kesal seperti kau."

Takumi mengendus pelan.

"Kiba hanya bermain-main denganmu, Rin."

Rin langsung menatapnya. "Apa?"

"Aku tidak perlu menjelaskan semuanya."

Nada suara Takumi mulai terdengar lebih serius.

"Dan pria pemilik kafe itu juga tidak jauh berbeda."

Rin langsung mengerutkan dahi.

"Takumi, aku tidak suka arah pembicaraanmu."

Ia menatap pria itu dengan kesal.

"Jangan seolah-olah kau bisa mengatur siapa saja yang boleh berteman denganku."

Takumi diam. Rin melanjutkan dengan suara lebih tegas:

"Aku mengenal Kiba dengan baik. Dan Kyo juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatku merasa tidak aman."

Takumi menatapnya.

"Jauhi Kiba."

Rin membelalakkan mata. "Kenapa?"

"Jangan terlalu memberinya harapan."

Rin menatap Takumi tidak percaya.

"Kau gila."

Ia berbalik dan berjalan menuju mobil. Takumi mengikutinya dengan pandangan.

Rin membuka pintu mobil, namun sebelum ia sempat masuk, Takumi menahan pintunya dan menutupnya kembali.

"Selama kau berada di dalam rumah yang aku sewa, segala sesuatu yang ada di dalamnya menjadi tanggung jawabku."

Suara Takumi rendah. Rin terdiam, menatap wajah pria itu saat Takumi melanjutkan:

"Termasuk kau, Rin."

Rin tidak langsung menjawab. Jarak mereka cukup dekat; wajah Rin perlahan memerah, namun kali ini bukan karena malu atau perasaan lain yang belum ia pahami—ia sedang menahan emosi. Rin mengepalkan tangannya.

"Aku bukan barang yang harus kau tanggung jawabkan."

Takumi menatapnya tanpa berkedip. "Aku tidak mengatakan kau barang."

"Lalu kenapa kau terus mengaturku?"

Takumi terdiam. Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu harus mengatakan apa. Malam di sekitar mereka begitu sunyi, hanya diselingi suara angin yang bergerak melewati pepohonan.

Rin akhirnya memalingkan wajah. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Napas Rin terdengar lebih berat dari sebelumnya, sementara Takumi masih berada tepat di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca..

Entah kenapa, perkataan Rin justru membuat sesuatu di dalam dirinya terasa semakin tidak nyaman—dan ia sendiri belum tahu apa alasannya.

"Camkan yang kukatakan, Rin. Kalau kau tidak ingin menyesal."

Rin menggeleng. "Aku tidak mau."

Mata Takumi menyipit. Rin mengangkat wajahnya.

"Lebih baik aku membenci mereka setelah mereka benar-benar melakukan sesuatu yang buruk kepadaku daripada harus menghindari mereka hanya karena ucapanmu yang tidak jelas itu, Takumi."

Takumi terdiam sesaat. "Kau keras kepala."

Rin mendengus kecil dan membalikkan badan, kembali menuju mobil dengan niat segera pulang. Namun ketika tangannya menarik gagang pintu, pintu itu tidak terbuka—terkunci.

"Aku mau pulang," katanya tanpa menoleh. "Percakapan ini membuatku tidak nyaman."

Takumi mematikan rokoknya dengan ujung sepatu, lalu mengembuskan sisa asap dari paru-parunya.

"Aku tidak mau."

Rin menoleh. Takumi menatapnya tenang.

"Aku tidak akan pulang sampai emosimu turun."

Rin terdiam. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Takumi lagi.

"Kalau kau menilai Kyo dan Kiba seperti itu..." Suara Rin mulai terdengar lebih tenang, tetapi justru semakin tajam. "...apa kau kira kau lebih baik daripada mereka?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!