Indonesia
NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 — Hari Tersial dalam Hidup Kurosawa Kaito

Kalau ada penghargaan untuk "Orang Paling Sial se-Jepang," Kurosawa Kaito yakin dia bakal menang telak. Bukan menang dalam artian bagus. Menang dalam artian dia bakal telat datang ke acara penghargaannya sendiri, salah masuk ruangan, terus panitianya ngasih piala ke orang lain karena namanya kebaca salah di undangan.

Semua berawal dari alarm, Kaito ingat betul dia sudah pasang alarm jam setengah enam pagi. Dia bahkan pasang tiga alarm cadangan karena dia tahu diri, dia tahu track record-nya sama benda elektronik nggak pernah bagus.

Tapi entah kenapa pagi itu, ketiga-tiganya kompak nggak bunyi. Bukan mati baterai. Bukan silent mode karena ketindihan. HP-nya nyala normal dan alarm-nya aktif, cuma... nggak bunyi. Kaito baru sadar jam tujuh lewat dua puluh menit, saat sinar matahari udah nembus tirai kamar kosnya dengan sangat pede.

"Oke, hari ini nggak akan seburuk itu. Gue masih bisa ngejar." gumamnya ke langit-langit kamar.

Dia langsung lompat dari kasur, sikat gigi sambil pakai celana dan nyeruput kopi instan yang dia bikin buru-buru di dapur mini apartemennya. Masalahnya di detik yang sama dia mau nenteng tas kerja, kucing tetangga yang entah gimana caranya bisa masuk ke lorong apartemennya lompat dari atas pagar dan bikin dia kaget setengah mati. Refleks tangannya kesenggol dan kopi panas itu tumpah, tepat ke satu-satunya kemeja bersih yang belum dicuci ulang minggu ini.

Kaito berdiri di situ beberapa detik, menatap noda coklat yang mekar di dada kemejanya kayak lukisan abstrak yang nggak diminta siapa pun.

Dia nggak marah. Udah kebal. Dia cuma narik napas panjang, ganti baju secepat mungkin yang berarti dia harus pakai kemeja cadangan yang sebenarnya udah agak kekecilan sejak dia naik berat badan tahun lalu dan lari ke stasiun, dan di situlah drama utamanya dimulai.

Dia sampai di peron tepat saat pintu kereta menutup, bukan menutup dalam arti "oh sayang sekali, ketinggalan lima menit." Ini menutup di depan mukanya, persis pas dia mengulurkan tangan buat nahan pintunya. Kaito bahkan sempat dengar bunyi "ting" tanda pintu terkunci, terus kereta itu jalan ninggalin dia berdiri di peron kayak orang yang baru aja diputusin pacar di depan umum.

Tiga detik. Dia telat cuma tiga detik.

Orang normal mungkin bakal mikir, ah sial, nunggu kereta berikutnya aja. Tapi buat Kaito, ini bukan kejadian random ini pola. Pola yang udah dia amatin sejak SMA dan makin dia amatin, makin dia sadar hidupnya kayak dikutuk sama semacam hukum probabilitas terbalik. Kalau ada satu dari sejuta kemungkinan buruk yang bisa kejadian, itu bakal kejadian ke dia. Bukan ke orang lain tapi ke dia.

Dan hari ini, dia nggak boleh telat. Karena hari ini dia ada presentasi besar ke manajer regional. Presentasi yang udah dia siapin dua bulan lebih, lembur hampir tiap malam, demi satu kesempatan buat naik posisi dari staf logistik biasa jadi koordinator tim. Kesempatan yang kalau lolos bisa ngubah banyak hal dari gaji, jam kerja, rasa percaya diri yang udah lama dia nggak punya.

Dia akhirnya sampai kantor telat dua puluh menit, ngos-ngosan, kemeja kekecilan, dan langsung disambut tatapan manajernya yang udah duduk di ruang meeting sambil ngecek jam tangan.

"Maaf Pak, tadi ada kendala di jalan," kata Kaito, buru-buru nyalain laptop dan nyambungin ke proyektor.

Dan di situlah, di depan sepuluh orang termasuk manajer regional yang khusus datang dari kantor pusat, file presentasinya nggak mau kebuka.

Bukan lemot. Bukan loading lama. File-nya yang dua bulan dia susun, yang dia backup di tiga tempat berbeda karena dia paranoid banget soal ini, tiba-tiba corrupt. Semua backup-nya. Cloud-nya lagi maintenance server tepat pagi itu. Flashdisk cadangannya, entah kenapa ke-format sendiri semalam pas dia nyolokin buat ngecek terakhir kali.

Kaito berdiri di depan layar kosong, isi kepala rasanya kayak ikut kosong juga.

"Saya... akan coba jelaskan secara lisan," katanya, suara mulai gemetar.

Dia coba. Dia jelasin sekuat tenaga, tanpa slide, tanpa data visual yang udah dia rancang biar meyakinkan. Manajer regional itu dengerin dengan ekspresi yang susah dibaca, sesekali manggut, sesekali nulis sesuatu di notes-nya. Tapi Kaito tahu, presentasi tanpa visual itu setengah dari kekuatannya ilang. Dia kayak nyoba jual mobil tapi mobilnya ketinggalan di rumah.

Yang lebih menyakitkan, giliran rekan kerjanya, Tanaka, presentasi setelah dia dengan slide seadanya, data yang jauh lebih tipis, malah lancar jaya. Bukan karena Tanaka lebih siap. Kaito tahu persis Tanaka baru mulai nyusun materinya seminggu yang lalu. Tapi entah kebetulan apa, semua pertanyaan yang dilempar manajer pas sesi Tanaka justru pertanyaan yang jawabannya udah ada di slide dia. Sementara pertanyaan ke Kaito justru soal bagian yang harusnya ada di slide yang hilang.

"Bagus, Tanaka-san. Rapi," kata sang manajer, sambil tersenyum puas.

Kaito cuma bisa duduk di kursinya, nunduk, ngerasain sesuatu yang familiar banget: rasa "hampir," tapi ujungnya tetep nol.

Rasa itu bukan hal baru. Kaito bahkan masih inget momen pertama kali dia sadar hidupnya emang beda dari orang lain waktu SD, lomba undian berhadiah sepeda yang diadain sekolah pas acara Undoukai.

Dia satu-satunya anak yang beli kupon paling banyak, nabung uang jajan berminggu-minggu demi itu. Pas pengumuman, namanya kepanggil duluan buat nomor undian kedua dari belakang, hadiah paling kecil: gantungan kunci plastik.

Sementara sepedanya jatuh ke anak yang bahkan nggak niat beli kupon, cuma dikasih satu lembar sisa dari temennya. Kaito inget dia nggak nangis waktu itu, dia cuma ketawa kecil herannya sendiri, kayak ada bagian dari otaknya yang udah nyiapin diri buat kekecewaan itu jauh-jauh hari.

Sejak saat itu, dia mulai tanpa sadar nyatet pola-pola kecil kayak gitu. Undian yang selalu meleset tipis. Antrean yang selalu pindah ke kasir sebelah pas dia baru aja mau maju. Cuaca yang selalu hujan deras pas dia lupa bawa payung, padahal ramalan cuaca bilang cerah seharian. Lama-lama dia berhenti berharap, karena berharap cuma bikin jaraknya ke kekecewaan jadi lebih pendek.

Malamnya, dia jalan pulang lewat rute yang biasa, ngelewatin minimarket langganan buat beli makan malam instan. Di kasir, dia coba ikutan undian gratis yang minimarket itu adain untuk beli sekian, dapet satu kupon gosok. Bukan buat berharap menang apa-apa, cuma buat hiburan kecil di hari seburuk ini. Dia gosok kuponnya di depan kasir.

"Coba lagi," bunyi tulisan di kupon itu.

Standar. Wajar. Tapi yang bikin dia diem sebentar adalah, orang di belakangnya yang beli barang jauh lebih sedikit dari dia, dapat kupon "Gratis 1 Produk" persis di percobaan pertama. Kaito cuma ngangguk kecil ke diri sendiri, kayak orang yang udah lama berdamai sama kenyataan.

Sesampainya di apartemen kecilnya, dia jatuhin diri ke sofa yang udah agak kempes di bagian tengah, masih pake kemeja kekecilan yang belasan jam ini udah nemenin dia lewatin hari paling melelahkan bulan ini.

Dia natap langit-langit, mikir, mungkin ini emang takdirnya. Mungkin ada orang yang emang dilahirkan buat selalu berada semili di bawah garis keberuntungan. Bukan gagal total, kalau gagal total mungkin dia udah nyerah dari dulu. Tapi selalu, selalu, kurang dikit. Kereta ketinggalan tiga detik. File corrupt pas udah di depan mata. Kesempatan yang keliatan udah di tangan, terus lepas gitu aja.

HP-nya bunyi. Nama yang muncul di layar bikin dia sedikit senyum satu-satunya hal hari itu yang nggak berantakan.

Souma.

"Woy, Lo lagi di mana? Gue mau cerita sesuatu, penting nih." suara Souma langsung ceria dari seberang telepon, kontras banget sama mood Kaito.

"Di rumah. Kenapa emang?" jawab Kaito, males-malesan, masih rebahan.

"Lo tau nggak Aeon Requiem?"

"Game VR yang lagi rame di mana-mana itu? Tau, denger doang sih."

"Nah, gue udah main dua bulan ini dan gue serius, Kaito, ini beda banget sama game VR biasa. Lo kayak beneran hidup di dunia lain. Gue mau ngajak lo coba."

Kaito nutup mata sebentar, ngebayangin energi buat log in ke dunia baru, belajar sistem baru, ketemu hal baru yang cepat atau lambat pasti bakal berakhir sama kayak hal lain di hidupnya. Sial di sana juga kemungkinan besar.

"Gue lagi nggak mood, Souma. Hari ini... panjang banget ceritanya."

"Justru itu," suara Souma tiba-tiba lebih serius, tapi tetap ada nada semangat yang khas dia, "justru karena hidup lo sial banget, lo WAJIB coba game ini. Percaya gue sekali ini aja."

Kaito diem sebentar, ngebiarin kata-kata itu ngambang di udara.

"Kenapa emang? Emang game bisa ngubah nasib gue?"

Souma ketawa kecil di ujung telepon, tapi nada suaranya kedengeran seratus persen serius.

"Nggak tau. Tapi gue punya feeling aneh soal ini, Kaito. Feeling yang nggak bisa gue jelasin. Coba aja dulu. Kalau emang tetep sial, ya paling lo cuma buang waktu semalem doang, kan?"

Kaito natap langit-langit kamarnya lagi. Kali ini, entah kenapa dia nggak langsung nolak.

"...Oke deh. Toh nggak ada ruginya juga." katanya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke Souma.

Dia nggak tahu, kalimat asal yang baru aja dia ucapin itu bakal jadi awal dari segalanya.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!