Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan direktur harjono
Beberapa hari setelah Kopral Sinta mulai bertugas sebagai perawat magang tersebut, Kwila mendapati dirinya semakin sering berinteraksi dengan Direktur Harjono, sosok pria berusia sekitar lima puluh tahun yang selama ini dikenal sebagai pemimpin rumah sakit yang cukup berwibawa namun juga misterius, jarang berinteraksi langsung dengan staf medis biasa kecuali untuk urusan yang benar-benar penting.
Pagi itu, ketika Kwila sedang memeriksa jadwal shift di ruang perawat, Direktur Harjono tiba-tiba muncul dengan langkah yang begitu tenang namun penuh wibawa, membuat seluruh staf yang berada di ruangan tersebut langsung menegakkan posisi duduk mereka sebagai tanda hormat.
"Kwila, boleh saya bicara sebentar?" tanya Direktur Harjono dengan nada yang terdengar ramah, meski ada sesuatu dari tatapannya yang membuat Kwila merasakan sedikit ketidaknyamanan yang begitu sulit dia jelaskan secara pasti.
"Baik, Pak Direktur," jawab Kwila dengan nada formal, mengikuti Direktur Harjono menuju ruangan pribadinya yang terletak di lantai atas gedung rumah sakit tersebut, sebuah ruangan yang jarang sekali dikunjungi staf medis biasa kecuali dalam situasi tertentu.
Sesampainya di ruangan tersebut, Direktur Harjono duduk di kursi kerjanya yang begitu mewah, menatap Kwila dengan tatapan yang begitu tajam, seolah sedang menilai sesuatu dari sosok perawat muda yang berdiri di hadapannya tersebut. "Kwila, saya dengar belakangan ini kamu cukup dekat dengan perawat magang baru, Sinta. Bagaimana kesan kamu terhadap dia?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Kwila merasakan jantungnya berdebar sedikit lebih kencang, menyadari bahwa pertanyaan tersebut mungkin memiliki maksud tersembunyi yang berkaitan dengan kecurigaan Direktur Harjono terhadap identitas asli Sinta tersebut. "Dia perawat yang cukup rajin dan cepat belajar, Pak. Kenapa Bapak menanyakan hal ini?"
"Tidak apa-apa, hanya rasa ingin tahu biasa. Saya selalu memperhatikan perkembangan seluruh staf baru di rumah sakit ini," jawab Direktur Harjono dengan nada yang berusaha terdengar santai, meski Kwila bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya jujur dari penjelasan tersebut.
Percakapan tersebut berlanjut dengan berbagai pertanyaan ringan lainnya mengenai pekerjaan Kwila sehari-hari, namun sepanjang percakapan tersebut, Kwila terus merasakan tatapan Direktur Harjono yang begitu intens, seolah sedang mencoba membaca sesuatu dari ekspresi wajahnya, sebuah tatapan yang membuat Kwila semakin waspada mengenai kemungkinan bahwa gerak-geriknya selama ini mungkin sudah mulai dicurigai oleh sosok yang diduga menjadi otak di balik kejahatan besar tersebut.
"Baiklah, Kwila, terima kasih atas waktunya. Kamu boleh kembali ke tugas kamu sekarang," ujar Direktur Harjono akhirnya, mengakhiri percakapan tersebut dengan senyum yang terkesan begitu dipaksakan.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Kwila merasakan kelegaan yang begitu besar, meski kekhawatiran mengenai kemungkinan kecurigaan Direktur Harjono terhadap dirinya dan Sinta tersebut tetap menghantui pikirannya sepanjang sisa hari itu. Dia segera mencari kesempatan untuk menghubungi Sinta secara diam-diam, memberitahu mengenai pertemuan mencurigakan tersebut.
"Sinta, tadi saya dipanggil Direktur Harjono, dia nanya-nanya soal kamu. Saya khawatir dia mulai curiga," bisik Kwila ketika mereka berdua bertemu di lorong yang sepi, jauh dari jangkauan kamera pengawas yang tersebar di berbagai sudut rumah sakit tersebut.
"Tenang, Kwila, saya akan lebih hati-hati mulai sekarang. Tapi ini justru menunjukkan bahwa kita mungkin sudah semakin dekat dengan kebenaran, sampai Direktur Harjono merasa perlu mengawasi kita secara langsung," jawab Sinta dengan nada yang tetap tenang, meski dia sendiri menyadari bahwa situasi tersebut semakin berbahaya bagi keselamatan mereka berdua.
Malam itu, Kwila menceritakan seluruh kejadian tersebut kepada Dawin, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan bahwa penyamaran Sinta mulai terancam terbongkar akibat kecurigaan Direktur Harjono tersebut. "Mas, saya khawatir banget. Kalau sampai ketahuan, Sinta bisa dalam bahaya besar."
"Saya akan koordinasikan dengan Sinta untuk mempercepat proses pengumpulan bukti, sebelum kecurigaan Direktur Harjono berkembang menjadi tindakan yang lebih konkret," jawab Dawin dengan penuh perhitungan, menyadari bahwa waktu yang mereka miliki untuk menyelesaikan penyelidikan tersebut mungkin semakin terbatas mengingat situasi yang mulai berkembang begitu cepat tersebut.
Keesokan harinya, Sinta yang telah mendapat instruksi untuk mempercepat proses pengumpulan bukti tersebut, memutuskan untuk mengambil risiko dengan mencoba mengakses ruang bawah tanah rumah sakit tersebut pada malam hari, ketika sebagian besar staf medis sudah pulang dan pengawasan keamanan cenderung lebih longgar dibandingkan siang hari.
Dengan menggunakan kartu akses palsu yang telah dipersiapkan tim intelijen militer sebelumnya, Sinta berhasil menyusup ke area terlarang tersebut, menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang berisi berbagai peralatan medis canggih yang tidak sesuai dengan standar fasilitas rumah sakit umum pada biasanya, lengkap dengan beberapa lemari pendingin khusus yang diduga digunakan untuk menyimpan organ tubuh manusia yang telah dipanen secara ilegal tersebut.
Menyaksikan bukti nyata tersebut, Sinta segera mengambil foto-foto sebagai bukti dokumentasi, menyimpannya dengan aman di dalam perangkat komunikasi tersembunyi yang telah dia bawa. Namun ketika dia hendak keluar dari ruangan tersebut, langkah kakinya terhenti mendadak mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari lorong di luar ruangan tersebut, membuat jantungnya berdebar kencang menyadari bahwa dia mungkin telah terdeteksi oleh petugas keamanan yang sedang melakukan patroli malam.
Dengan sigap, Sinta bersembunyi di balik salah satu lemari penyimpanan besar tersebut, menahan napas sambil mengamati dua orang petugas keamanan yang memasuki ruangan tersebut untuk memeriksa kondisi peralatan penyimpanan, tanpa menyadari keberadaannya yang bersembunyi begitu dekat dengan mereka. Setelah beberapa menit yang terasa begitu mencekam, kedua petugas tersebut akhirnya meninggalkan ruangan tersebut, memberikan Sinta kesempatan untuk keluar dengan selamat, membawa bukti yang akan segera mengubah seluruh arah penyelidikan mereka menjadi babak yang jauh lebih menegangkan dan berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya, sebuah bukti yang akan menjadi kunci penting dalam upaya membongkar seluruh kejahatan keji yang telah lama berlangsung di balik dinding rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan bagi masyarakat yang membutuhkan tersebut.
Setelah keluar dari area terlarang tersebut dengan selamat, Sinta segera menghubungi Dawin melalui saluran komunikasi rahasia yang telah mereka sepakati sebelumnya, melaporkan keberhasilan misi tersebut dengan nada yang masih sedikit menunjukkan ketegangan akibat momen mendebarkan yang baru saja dia alami. "Komandan, saya berhasil dapat bukti fotonya. Ada ruangan tersembunyi di bawah tanah yang isinya lemari pendingin buat nyimpen organ, persis kayak yang dicurigain Kwila."
Mendengar laporan tersebut, Dawin merasakan campuran antara kelegaan dan kemarahan yang begitu mendalam, menyadari bahwa kecurigaan mereka selama ini ternyata benar adanya. "Kerja bagus, Sinta. Segera kirim bukti fotonya lewat jalur aman, dan pastikan kamu tetap waspada, jangan sampai identitas kamu terbongkar sekarang setelah kita dapat bukti sepenting ini."
"Siap, Komandan," jawab Sinta sebelum menutup komunikasi tersebut, segera mengirimkan bukti foto yang telah dia kumpulkan tersebut melalui jalur komunikasi terenkripsi yang aman dari kemungkinan penyadapan pihak luar.