Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Rumah besar Wijaya mulai terasa lebih tenang setelah Marissa diusir. Namun Adeline tahu bahwa ketenangan itu hanya permukaan. Di balik senyum dan obrolan ringan keluarganya, masih ada banyak rahasia yang belum terungkap. Gadis kecil itu terus mendengarkan setiap hari, berharap bisa menangkap suara hati yang akan membawa mereka pada kebenaran utuh.

Suatu pagi, Lucas datang berkunjung. Sepupu Adeline yang berusia dua belas tahun itu selalu menjadi teman bermain favoritnya. Lucas adalah anak yang ceria dan penuh energi, selalu membawa tawa ke mana pun dia pergi. Meskipun usianya lebih tua, Lucas tidak pernah meremehkan Adeline. Dia selalu mendengarkan cerita-cerita Adeline dengan serius, bahkan ketika orang dewasa menganggapnya hanya imajinasi.

"Hai, Ade!" sapa Lucas dengan semangat saat masuk ke ruang tamu. "Aku bawakan mainan baru. Ayo kita main di taman belakang!"

Adeline tersenyum melihat sahabatnya. Dia segera bangkit dan berlari bersama Lucas ke taman belakang rumah. Mereka bermain petak umpet dan berlarian di antara bunga-bunga, tertawa riang seperti anak-anak seusia mereka.

Namun ketika Lucas bersembunyi di balik semak-semak dekat pagar belakang, dia menemukan sesuatu. Sebuah amplop kusut tergeletak di antara dedaunan, setengah terkubur tanah. Lucas mengambilnya dan membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas yang penuh dengan angka-angka dan tulisan tangan yang rapi.

"Ade, lihat ini," panggil Lucas dengan suara penasaran. "Aku menemukan sesuatu di sini."

Adeline mendekati sahabatnya dan melihat kertas-kertas itu. Gadis kecil itu tidak mengerti angka-angka dan tulisan di atasnya, tetapi dia merasakan ada sesuatu yang penting. Telinga batinnya mulai mendengarkan, mencoba menangkap suara hati dari pemilik amplop itu. Namun tidak ada siapa pun di sekitar taman belakang selain mereka berdua.

"Menurutku ini penting, Ade," kata Lucas dengan serius. "Ini mungkin ada hubungannya dengan masalah perusahaan ayahmu. Kita harus menunjukkan ini pada Pamanku."

Adeline mengangguk setuju. "Tapi kita harus berhati-hati, Lucas. Orang jahat mungkin tahu kalau kita menemukan ini. Kita harus memberitahu Ayah tanpa membuat keributan."

Lucas tersenyum bangga. "Aku tahu cara berhati-hati. Aku sering melihat ayahku menyembunyikan dokumen penting di brankasnya. Aku bisa meniru caranya."

Mereka berdua menyembunyikan amplop itu di tas Lucas dan kembali ke rumah dengan wajah biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam hati mereka, ada kegembiraan dan ketegangan. Mereka merasa seperti detektif kecil yang sedang menyelidiki kasus besar.

Malam itu, Adeline dan Lucas menemui Adrian di ruang kerjanya. Dengan hati-hati, mereka menceritakan penemuan mereka dan menunjukkan amplop itu. Adrian menerima kertas-kertas itu dengan tangan gemetar. Dia membacanya dengan teliti, wajahnya semakin gelap setiap kali membaca satu halaman.

"Ini adalah daftar transfer dana rahasia," kata Adrian dengan suara berat. "Ini adalah bukti bahwa ada lebih banyak orang yang terlibat dalam konspirasi ini. Daniel harus melihat ini."

Adeline menatap ayahnya dengan penuh harap. "Apakah ini membantu, Ayah?"

Adrian memeluk putrinya dan Lucas dengan penuh syukur. "Ini sangat membantu, Sayang. Kalian berdua luar biasa. Tanpa kalian, mungkin kita tidak akan pernah menemukan bukti ini."

Lucas tersenyum lebar. "Aku senang bisa membantu, Paman. Aku dan Ade akan terus mencari petunjuk jika ada yang lain."

Adrian mengusap rambut Lucas dengan lembut. "Kalian berdua harus tetap berhati-hati. Jangan pernah mengambil risiko sendirian. Jika kalian menemukan sesuatu, beri tahu aku atau Daniel."

Malam itu, ketika Lucas hendak pulang, dia berbisik pada Adeline, "Kita partner, ya, Ade? Kita akan mengungkap semua rahasia jahat ini bersama-sama."

Adeline mengangguk dengan senyum bahagia. "Partner selamanya, Lucas. Terima kasih sudah membantuku."

Lucas tertawa dan melambai dari mobil. Adeline menatap mobil sahabatnya yang perlahan menjauh, merasa beruntung memiliki teman seperti dia. Di tengah semua kekacauan dan ketakutan, Lucas adalah cahaya terang yang membuatnya tetap kuat.

Keesokan harinya, Daniel datang untuk melihat bukti yang ditemukan Lucas. Dia memeriksa setiap lembar kertas dengan teliti dan mengangguk puas. "Ini adalah bagian dari jaringan pengkhianatan yang lebih besar. Dengan bukti ini, kita bisa mengungkap lebih banyak orang yang terlibat."

Adrian menghela napas lega. "Akhirnya kita punya sesuatu yang konkret. Kita bisa mulai mengambil tindakan."

Adeline yang duduk di sudut ruangan, tersenyum mendengar percakapan itu. Dia merasa bangga karena bisa membantu ayahnya. Dan dia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Lucas yang selalu mendukungnya.

Suatu sore, ketika Adeline dan Lucas bermain di taman, Adeline mendengar sesuatu. Suara hati seseorang yang berada di dekat pagar belakang. Suara itu berbicara tentang amplop yang hilang, tentang ketakutan bahwa bukti itu akan menghancurkan semua rencana mereka.

"Aku mendengar sesuatu, Lucas," bisik Adeline. "Ada seseorang di luar pagar. Dia mencari amplop yang kita temukan."

Lucas menegang. "Apa yang harus kita lakukan?"

Adeline memegang tangan sahabatnya. "Kita harus diam dan tidak menunjukkan bahwa kita tahu. Kita akan memberitahu Ayah nanti."

Mereka berdua kembali ke rumah dengan tenang, tidak menunjukkan ketakutan mereka. Tetapi di dalam hati, mereka tahu bahwa petualangan mereka baru saja dimulai. Mereka telah menemukan petunjuk penting, dan sekarang mereka harus melindunginya dari orang-orang jahat yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya.

Malam itu, ketika Adeline berbaring di tempat tidurnya, dia tersenyum memikirkan sahabatnya. Lucas telah menjadi bagian penting dari perjuangannya. Bersama-sama, mereka akan mengungkap semua rahasia dan membawa keadilan bagi keluarga mereka.

"Terima kasih, Lucas," bisik Adeline pada bintang-bintang. "Karena menjadi sahabatku dan percaya padaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!