Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Rahasia di Grup Angkatan
Keheningan seketika menyelimuti meja sudut kedai es krim yang penuh cahaya hangat. Cassandra menatap layar ponsel Maya dengan napas tertahan, sementara angka pengunduh dokumen digital itu terus bertambah cepat di grup obrolan SMA Garuda.
Layar ponselnya menampilkan berkas PDF berjudul Sisi Gelap Dua Peretas Garuda yang kini tersebar luas di ribuan akun siswa. Nama Cassandra dan Narendra terpampang jelas di baris paling atas sebagai dalang utama di balik kekacauan sistem sekolah.
"Ini... ini siapa yang mengunggah berkas ini, May?" tanya Cassandra dengan suara yang mendadak bergetar hebat.
Maya menggelengkan kepalanya cepat seraya meremas jemarinya yang panik. "Gue enggak tahu, Cas! Akun pengirimnya pakai nama anonim dan langsung keluar dari grup angkatan setelah mengunggah file itu."
Narendra mengambil alih ponsel tersebut dengan gerakan tenang, menyapu setiap halaman dokumen dengan tatapan mata yang menajam dingin. Di balik tulisan provokatif itu, ada rekaman suara percakapan rahasia mereka saat meretas server di laboratorium kemarin.
"Sistem enkripsi dokumen ini dibuat rapi banget," kata Narendra seraya mengembalikan ponsel Maya dengan raut wajah penuh perhitungan. "Orang ini sengaja memanfaatkan grup obrolan sekolah buat menghancurkan reputasi kita secara terbuka."
Cassandra memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri, merasakan tatapan aneh dari beberapa murid SMA Garuda di kedai es krim tersebut. Cerita manis dan tawa bahagia mereka beberapa menit lalu seolah mendadak sirna diterpa badai baru.
Narendra meraih tangan Cassandra di atas meja, meremas jemari cewek itu dengan sangat hangat untuk menyalurkan rasa aman. "Gue enggak bakal biarkan orang ini bikin lu jatuh, Cas."
Cassandra menatap sorot mata Narendra yang begitu mantap dan dipenuhi rasa kasih sayang yang jujur. Usapan lembut ibu jari Narendra di punggung tangannya perlahan meredakan riak kepanikan di dadanya.
"Kita hadapi ini bareng-bareng kan, Ren?" bisik Cassandra seraya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.
Narendra tersenyum miring, mendaratkan sebuah usapan lembut di kepala Cassandra sebelum berdiri dari kursinya. "Pasti. Sekarang kita pulang dulu, kita bereskan masalah ini dari rumah."
Keesokan Harinya.
Suasana SMA Garuda di pagi hari terasa sangat berbeda dari biasanya. Bisik-bisik miring dan tatapan penuh prasangka menyambut kedatangan Cassandra dan Narendra begitu mereka melangkah masuk dari gerbang utama.
Murid-murid yang biasanya menyapa ramah kini memilih berbisik di balik ponsel mereka seraya memperhatikan gerak-gerik pasangan tersebut. Isu bahwa Cassandra dan Narendra adalah peretas berbahaya yang merusak fasilitas sekolah telah menyebar seperti api menyambar jerami kering.
Cassandra berjalan seraya menundukkan kepalanya, merasa kikuk dan tidak nyaman dengan atmosfer dingin di koridor lantai satu.
Namun, Narendra dengan santai menyelipkan jemarinya ke dalam sela-jemari Cassandra, menggandeng cewek itu secara terbuka di hadapan semua murid. Tindakan berani Narendra membuat beberapa siswi di koridor spontan berbisik gemas sekaligus iri.
"Enggak usah dengerin omongan mereka, Cas," pangkas Narendra pelan di samping earphone yang terpasang di telinga Cassandra. "Mereka cuma belum tahu kebenaran yang sebenarnya."
Cassandra mendongak menatap profil wajah Narendra dari samping, merasakan gelombang keberanian kembali membakar dadanya. Pipi cewek itu memerah merona melihat ketenangan cowoknya yang begitu memesona di tengah tekanan.
"Genggaman lu kekencangan, Ren," goda Cassandra seraya tertawa kecil untuk mencairkan suasana tegang.
Narendra terkekeh pelan, makin mempererat genggaman tangannya seraya melempar senyum manis pada Cassandra. "Biar semua orang tahu kalau cewek peretas paling hebat di sekolah ini cuma milik gue."
Mereka berdua berjalan menuju ruang kelas XI IPA 2 dengan langkah mantap tanpa rasa takut lagi.
Begitu mereka tiba di dalam kelas, suasana ruangan mendadak hening seketika. Beberapa teman sekelas mereka langsung menghentikan pembicaraan dan menatap ke arah pintu dengan canggung.
Ketua kelas mereka, Bimo, melangkah mendekati meja Narendra dan Cassandra dengan raut wajah yang amat serius.
"Ren, Cas... pihak sekolah baru saja mengeluarkan pengumuman resmi," kata Bimo dengan nada suara yang tertahan. "Kalian berdua dipanggil ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga."
Pukul 09.00 WIB.
Di dalam ruang Kepala Sekolah yang berAC dingin, atmosfer terasa begitu menekan. Bapak Kepala Sekolah duduk di balik meja kerjanya dengan berkas cetak dokumen rahasia tersebut terhampar di depannya.
Di samping Kepala Sekolah, berdiri seorang pria paruh baya bersetelan jas hitam rapi yang tampak asing bagi Cassandra dan Narendra.
"Narendra, Cassandra, kabar yang beredar di grup obrolan sekolah ini sangat mencoreng nama baik SMA Garuda," ujar Kepala Sekolah dengan nada kecewa yang berat. "Apakah benar kalian yang melakukan peretasan pada server sekolah?"
Narendra melangkah maju satu tindak, memasang badannya di depan Cassandra secara protektif. "Kami meretas server itu bukan untuk merusak, Pak, tapi untuk membongkar kejahatan Pak Hermawan dan peretas luar yang mengincar data sekolah."
Pria bersetelan jas di sebelah Kepala Sekolah tiba-tiba terkekeh pelan, melangkah mendekat seraya memutar-mutar pena mahal di jemarinya.
"Penjelasan yang sangat puitis dari seorang remaja, Narendra," seloroh pria asing itu dengan intonasi suara yang amat tenang namun sinis.
Cassandra mengernyitkan dahinya, merasa familiar dengan gaya bicara dan aura intimidasi yang dipancarkan pria tersebut.
Pria itu meletakkan kartu namanya di atas meja Kepala Sekolah, lalu menatap Cassandra dan Narendra dengan senyum yang amat dingin.
"Perkenalkan, saya adalah konsultan hukum baru yang ditunjuk oleh pengurus yayasan untuk membersihkan nama sekolah ini," lanjut pria itu seraya merapikan jasnya.
Ia melirik ke arah ponsel Cassandra yang tergeletak di atas meja, lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantung Cassandra seketika berhenti berdetak.
"Dan saya sudah menyiapkan dokumen skorsing permanen untuk kalian berdua... yang akan berlaku otomatis jika dalam sepuluh detik kalian tidak menyerahkan kunci enkripsi utama milik almarhum ayahmu, Cassandra."