Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
📖 BAB 31: LIBURAN BERDUA
Matahari pagi baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai jendela kamar, menyinari permukaan lantai kayu yang mengkilap. Tidak ada suara telepon berdering, tidak ada suara panggilan pekerja, tidak ada jadwal rapat yang harus dipenuhi. Hanya ada keheningan yang damai, diiringi suara detak jam dinding yang berdetak tenang.
Dika membuka mata perlahan, menoleh ke samping. Di sebelahnya, Raina masih terlelap dengan tenang, rambutnya yang hitam legam terurai indah di atas bantal. Napasnya teratur, wajahnya tampak begitu damai seolah semua beban dunia telah lenyap dari pundaknya. Dika tersenyum lembut, membiarkan tangannya menyentuh pelan rambut istrinya, merasakan kelembutan yang selalu membuat hatinya tenang.
Sudah begitu lama mereka tidak memiliki waktu hanya untuk berdua saja. Sejak kehadiran buah hati mereka, sejak usaha semakin berkembang pesat, setiap detik waktu luang selalu terbagi-bagi. Terkadang mereka hanya sempat saling bertukar pandang sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Namun hari ini berbeda. Hari ini, mereka telah memutuskan untuk menitipkan anak-anak pada Ibu Dika yang sangat menyayangi mereka, dan pergi berdua saja, seperti masa-masa awal mereka bersatu.
Raina perlahan membuka matanya, terkejut sesaat saat melihat Dika sudah menatapnya dengan senyum yang begitu hangat.
"Sudah bangun?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur, lalu tersenyum malu.
"Sudah sejak tadi," jawab Dika pelan, lalu mendekatkan wajahnya. "Aku ingin menikmati momen ini selagi kita masih berdua di sini. Hari ini, tidak ada Dika sang pengusaha, tidak ada Raina sang ibu rumah tangga. Hari ini, kita hanya dua orang yang saling mencintai, yang ingin kembali merasakan indahnya waktu berdua."
Raina tersentuh, matanya berbinar lembut. Ia merangkul leher suaminya, menyandarkan keningnya pada kening Dika. "Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah mengingat hal sederhana seperti ini."
Perjalanan mereka menuju pantai yang sepi namun indah itu berlangsung penuh percakapan ringan dan tawa yang tulus. Dika sengaja memilih jalan yang agak memutar, membiarkan pemandangan hijau pepohonan dan ladang padi yang bergoyang ditiup angin menemani perjalanan mereka. Sesekali mereka berhenti hanya untuk melihat bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan, atau sekadar menghirup udara segar yang belum tercemar hiruk-pikuk kota.
Sesampainya di penginapan yang terletak di tepi pantai, suasana begitu tenang. Hanya ada suara deburan ombak yang memecah karang, dan angin laut yang membawa aroma garam segar. Kamar yang mereka tempati memiliki jendela kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan laut biru yang luas. Saat Dika membuka jendela itu lebar-lebar, angin sejuk langsung menyapa wajah mereka, seolah menyambut kedatangan dua hati yang sedang mencari ketenangan.
Sore itu, mereka berjalan menyusuri bibir pantai dengan kaki telanjang. Pasir putih yang halus terasa hangat menyentuh kulit kaki mereka. Air laut yang datang bergulung lembut membasuh kaki mereka, lalu mundur kembali membawa jejak langkah yang baru saja tercetak. Dika menggenggam tangan Raina erat, seolah tak ingin melepaskannya walau sedetik pun.
"Dulu," ucap Dika perlahan, matanya menatap jauh ke arah cakrawala tempat matahari mulai turun perlahan, "aku pernah berjanji padamu, akan membawamu ke tempat seperti ini. Saat itu aku belum punya apa-apa, bahkan aku ragu apakah aku sanggup memenuhi janji itu."
Raina menoleh, menatap wajah samping suaminya yang tampak gagah namun penuh kelembutan. "Aku tahu kamu akan melakukannya, Mas. Aku selalu percaya padamu, bahkan saat kamu sendiri belum percaya pada dirimu sendiri."
Dika berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap istrinya. Ia mengangkat tangan Raina, mencium punggung tangannya dengan penuh rasa syukur. "Kamu adalah anugerah terbesar yang pernah Tuhan berikan padaku. Semua yang aku miliki sekarang, semua yang aku capai, tidak ada artinya jika tidak ada kamu di sampingku."
Matahari perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, menyinari wajah mereka berdua yang tampak bersinar penuh cinta. Di tengah keheningan pantai itu, mereka berbagi cerita tentang masa-masa awal perkenalan, tentang ketakutan yang pernah ada, tentang harapan yang tumbuh perlahan, hingga akhirnya menjadi kenyataan yang begitu indah. Mereka tertawa mengingat kejadian-kejadian lucu, saling mengingat hal-hal kecil yang mungkin terlupakan orang lain namun tetap terukir jelas di hati mereka.
Malam harinya, mereka duduk di beranda kamar sambil menikmati makan malam sederhana yang disiapkan dengan penuh cinta. Cahaya lampu minyak yang remang-remang menciptakan suasana yang begitu romantis dan tenang. Tidak ada percakapan tentang uang, tentang bisnis, atau tentang masalah orang lain. Hanya ada percakapan tentang mereka berdua, tentang rasa syukur, dan tentang masa depan yang masih panjang untuk mereka lalui bersama.
"Kita berjanji ya," ucap Raina tiba-tiba, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang ke manik mata Dika. "Seberapa sibuk pun kita nanti, seberapa besar pun masalah yang datang, kita jangan pernah melupakan momen seperti ini. Jangan sampai kita menjadi asing satu sama lain hanya karena kesibukan duniawi."
Dika mengangguk mantap, menggenggam kedua tangan istrinya di atas meja. "Aku berjanji. Dunia boleh menawarkan segala kemewahan, tapi tidak ada yang lebih berharga bagiku selain senyummu. Kamu adalah rumahku, Raina. Ke mana pun aku pergi, pada akhirnya aku akan selalu kembali padamu."
Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang dan irama ombak yang menenangkan, mereka kembali merasakan getaran cinta yang sama persis seperti saat pertama kali mereka berjanji untuk hidup bersama. Cinta itu tidak berubah bentuk, hanya semakin dalam, semakin kuat, dan semakin hangat. Liburan sederhana ini bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan sebuah peringatan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal yang megah dan mewah, melainkan dari kebersamaan yang tulus dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Saat mereka akhirnya berbaring berdampingan, Dika memeluk Raina erat, membiarkan istrinya mendengarkan detak jantungnya yang berdetak tenang dan penuh cinta. Di luar angin malam bertiup sejuk, namun di dalam sana, kehangatan kasih sayang mereka menyelimuti segalanya, menjadikan tempat itu surga kecil yang paling indah bagi mereka berdua.