Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30 BUKU SEJARAH LAMA

***

Fajar menggeliat pelan di balik jendela tinggi Kastil Ravengard. Embun pagi masih menggantung di sela-sela kaca, tetapi hawa di dalam aula utama tak lagi sejuk, melainkan berat. Terisi oleh bisikan-bisikan para bangsawan yang datang lebih awal—wajah-wajah mencurigakan yang tak bisa menyembunyikan senyum tipis mereka setiap kali menyebut nama Darian von Ravengard dalam nada meremehkan.

Di ruang pertemuan khusus yang dulu digunakan Grand Duke untuk menerima para utusan militer dan bangsawan sekutu, kini berdiri seorang wanita berpakaian keabu-abuan sederhana dengan jubah gelap kebesaran Ravengard menjuntai dari pundaknya. Perutnya yang membuncit lima bulan tak menyembunyikan wibawa tajam dari tatapannya. Iris von Ravengard berdiri sebagai perisai utama di medan diplomasi dan keangkuhan politik saat ini.

Kapten Arven berdiri di belakangnya, tegak namun jelas tampak tidak senang.

“Jumlah surat ‘keprihatinan’ meningkat dua kali lipat minggu ini, Yang Mulia,” lapor Arven sembari menyerahkan map kulit tipis. “Dan sebagian besar dari mereka berasal dari faksi bangsawan timur yang sejak awal menolak pengangkatan Grand Duke.”

Iris membuka map itu perlahan. Matanya melirik isinya dengan cepat. Kalimat berbunga-bunga, terselubung sindiran:

...mengkhawatirkan bagaimana Grand Duchess yang dalam keadaan hamil tetap memegang urusan militer dan logistik...

...keputusan membuka gerbang kastil bagi rakyat adalah tindakan gegabah yang bisa menimbulkan celah keamanan...

...semoga Grand Duchess menyadari batas kapasitasnya sebagai wanita dalam menjaga integritas wilayah sebesar Ravengard...

Ia menutup map itu. Pelan. Tenang. Lalu membalas dengan suara datar.

“Jika mereka tahu batas seorang wanita... mereka pasti tak akan pernah lahir dari rahimnya.”

Arven menunduk pelan, menahan senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya.

Lisa yang berdiri di samping meja, masih memegang nampan teh hangat, ikut menimpali, “Beberapa bangsawan perempuan juga mulai berbisik di pesta, Yang Mulia. Tentang bagaimana Anda terlalu... keras, dan tidak mencerminkan sosok keibuan.”

Iris menarik napas pelan, menatap ke arah jendela.

“Seseorang harus menjadi baja... saat seluruh istana ini hanya ingin melihatku runtuh. Dan aku lebih memilih menjadi keras... daripada membiarkan anakku tumbuh di atas puing-puing.”

Tiba-tiba, suara langkah tergesa terdengar dari ujung koridor.

Seorang utusan istana datang, berkeringat dan tergopoh, lalu berlutut dengan kepala tertunduk. Di tangannya sebuah gulungan bersegel emas dengan lambang naga bersayap kekaisaran Valeria.

“Undangan resmi dari... Yang Mulia Permaisuri Istana.”

Lisa meletakkan nampan dengan pelan. Kapten Arven segera menatap tajam ke utusan itu.

Iris meraih gulungan tersebut. Tangannya membukanya perlahan, dan saat membaca isinya... alisnya sedikit terangkat.

Kepada Grand Duchess Iris von Ravengard.

Dengan ini, kami mengundang Anda untuk menghadiri Jamuan Musim Panas Istana Kekaisaran, yang akan dilangsungkan tiga hari dari sekarang. Kehadiran Anda diharapkan sebagai representasi dari tanah Ravengard dan seluruh wilayah utara.

Kehadiran ini bersifat wajib.

Dengan penuh hormat,

Permaisuri Kekaisaran Valeria.

“Wajib?” gumam Lisa.

“Pancingan,” jawab Iris datar. “Atau mungkin... jebakan.”

Arven melangkah mendekat, nadanya penuh kewaspadaan. “Jika ini undangan resmi istana, berarti semua mata akan tertuju pada Anda. Ini bisa jadi panggung untuk menjatuhkan.”

“Dan juga... panggung untuk melawan balik,” sahut Iris, menyandarkan tubuhnya sebentar ke kursi di belakangnya.

Lisa tampak ragu. “Tapi Yang Mulia, Anda sedang hamil. Jalan ke ibu kota akan sulit, belum lagi para bangsawan—”

“Mereka sudah bicara tentangku tanpa kehadiranku. Sekarang, biarkan aku hadir dan menatap mereka langsung. Mereka ingin melihat kelemahanku?” Iris bangkit dari duduknya. “Maka akan kuperlihatkan... bagaimana seorang ibu melindungi rumahnya.”

Arven tampak menahan kekaguman yang perlahan berubah menjadi rasa hormat mendalam.

“Kapten,” kata Iris kemudian, “siapkan pengawal pribadi. Kita akan berangkat dua hari dari sekarang.”

“Dengan siapa Anda ingin didampingi, Yang Mulia?”

Iris menatap Lisa, yang langsung membuka mulut, “Saya akan ikut. Saya akan siapkan kebutuhan Anda dan bayi.”

Iris mengnoduk. “Bagus. Dan tolong berikan surat balasan pada istana. Tulis saja…”

Ia berjalan pelan ke jendela, memandang benteng Ravengard yang berdiri kokoh di kejauhan.

“Ravengard akan hadir. Dan seperti biasanya... kami tak pernah datang hanya untuk duduk diam.”

Malam menyelimuti Kastil Ravengard dengan bisu yang berat. Di luar, angin musim panas berembus pelan, membawa aroma tanah dan rumput yang mulai mengering. Tapi di dalam ruang perpustakaan utama, suasananya jauh dari nyaman.

Lampu gantung kristal temaram memantulkan cahaya keemasan di rak-rak tinggi yang dipenuhi buku tua. Udara dalam ruangan terasa dingin menusuk tulang—entah karena batu-batu kastil yang menyerap embun malam, atau karena sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap.

Di sudut ruangan, di sebuah sofa kulit tua yang tampaknya lebih sering diduduki oleh Grand Duke dalam kesunyian malamnya, kini duduk Iris von Ravengard. Gaun malam tipis berwarna abu-abu lembut membungkus tubuhnya, sementara selimut wol tipis disampirkan sembarangan di bahunya.

Rambut peraknya digelung longgar, sebagian terurai hingga menyentuh tengkuk. Perutnya yang besar membuat posisi duduknya agak membungkuk ke depan, dan di atas pangkuannya terletak sebuah buku besar berjudul Sejarah Rahasia Valeria: Volume II.

Di tangan kirinya, tergenggam sebuah surat berstempel lilin hitam khas Ravengard. Sudah berkali-kali ia membacanya, namun senyum tipis di bibirnya belum juga luntur.

Lisa berdiri tidak jauh, mengawasi dari kejauhan dengan cemas.

“Yang Mulia... Anda belum tidur sejak makan malam. Anda butuh istirahat sebelum perjalanan besok,” ucapnya pelan.

Iris tidak menjawab segera. Matanya tetap terpaku pada baris terakhir surat di tangannya, seolah sedang membacanya untuk keseratus kalinya:

‘Aku lebih suka hawa dingin seorang wanita utara yang kini tinggal di Ravengard... daripada dinginnya salju utara yang tak pernah memberi kehangatan.’

Iris mendesah, lalu berdecak. “Kenapa dia bisa manis sekali saat jauh, padahal biasanya sekeras batu?”

Lisa menahan tawa. “Karena kalau dekat, Nyonya pasti akan memarahinya sebelum sempat menyelesaikan kalimat.”

Iris tersenyum kecil. “Benar juga.”

Lisa melangkah mendekat, menata bantal kecil di belakang punggung Iris. “Apa isi suratnya? Sampai Yang Mulia tersenyum dari tadi?”

Iris menyerahkan kertas itu sambil mengalihkan pandangannya ke buku besar di pangkuan.

“Sama seperti biasanya... tanya apakah anaknya menyusahkan ibunya. Lalu memuji bahwa aku bertindak hebat menyelamatkan Ravengard. Dan... berjanji akan pulang cepat.”

Lisa membaca sepintas, kemudian berkata dengan kagum, “Surat ini... seperti suara Yang Mulia Grand Duke Darian saat sedang duduk di balkon sore hari.”

Iris tertawa pelan, lalu mengelus perutnya yang tampak bergerak-gerak pelan. “Kau dengar itu, Nak? Ayahmu janji pulang cepat. Jadi... jangan terlalu banyak menendang ibu malam ini, ya?”

Tendangan kecil membuat perutnya berguncang sedikit. Iris meringis geli, lalu menatap Lisa.

“Anak ini selalu menanggapi kalau ayahnya disebut. Kau pikir ini tanda kekuatan atau tanda keras kepala?”

Lisa tersenyum hangat. “Mungkin keduanya, Nyonya. Tapi saya rasa... lebih mirip Anda.”

Iris membuka kembali buku tua itu. Jari-jarinya menyusuri halaman yang telah lapuk, matanya menyorot serius.

“Bayangan hitam itu bukan hal biasa,” gumamnya. “Beberapa bagian dari sejarah kekaisaran pernah menyebutnya. Di masa-masa kegelapan setelah Perang Seratus Tahun.”

Lisa mendekat. “Apa mereka... makhluk sihir?”

“Bukan,” jawab Iris pelan. “Setidaknya, tidak sepenuhnya. Mereka adalah manusia yang pernah menjadi bagian dari pasukan kekaisaran, tapi kemudian dikhianati, dibuang... lalu mereka kembali. Tanpa suara. Tanpa wajah. Hanya bayangan yang membakar.”

Lisa mengusap kedua lengannya. “Tapi mengapa sekarang... di saat Grand Duke tidak ada?”

Iris menutup buku itu perlahan. “Karena mereka tahu. Di balik pertahanan kastil yang kuat... ada wanita hamil yang berdiri sendirian. Atau setidaknya, mereka pikir begitu.”

Ia berdiri perlahan dari sofa, dengan Lisa sigap menopangnya. “Tapi mereka lupa... siapa wanita itu.”

Lisa tersenyum lebar. “Grand Duchess Iris von Ravengard.”

“Wanita utara yang bisa membakar,” sahut Iris dingin.

Mereka tertawa kecil.

Saat mereka hendak melangkah keluar, Iris melirik kembali surat suaminya di meja. Ia mendekat, membacanya sekali lagi dengan lirih:

‘Apa pun keputusanmu, Iris... kau punya dukunganku. Dan tak perlu menunggu hingga akhir perang untuk tahu: aku bangga padamu dengan segala yang telah dan akan kau hadapi.’

Iris mengusap ujung matanya yang mulai memanas.

“Aku akan melangkah ke istana besok... bukan hanya sebagai istrimu, Darian,” gumamnya. “Tapi sebagai diriku sendiri. Sebagai wanita dari tanah utara... dan ibu dari penerus Ravengard.”

Lampu padam satu per satu saat mereka meninggalkan perpustakaan. Surat Darian tertinggal di atas meja, diterangi cahaya bulan yang mengalir dari jendela kaca tinggi.

Di luar, malam kembali hening.

Tapi di dalam hati Iris dan di dalam rahimnya, sebuah api kecil menyala pelan. Dan api itu, seperti janji... tidak akan padam hingga perang terakhir usai.

****

Bersambung

1
Delta
lanjuuut thor👍👍👍
Delta
👍👍👍👍up yg byk thoor😄😍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚🫶
total 1 replies
Delta
👍👍👍👍
Delta
maantaap thor👍
kiu kiu
suka bangdt ma cerita fantSi
Heresnanaa_: maaciw kak, happy reading yaa 🫶😍
total 1 replies
Dewi Anggraeni
Up lagi thor 👍 semangat
Dewi Anggraeni
lanjutttt dong thor 👍jangan lama" 🙏
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!