Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Keluarga Liem adalah raksasa yang bisa meremukkan Keluarga Baskoro hanya dengan satu jentikan jari.
Dan pria udik yang baru saja diusirnya ternyata adalah tamu kehormatan Keluarga Liem?
Arif hanya menatap datar pada Nana yang masih membungkuk di depannya.
"Ada urusan apa kau mencariku?" tanya Arif tanpa basa-basi.
"Tuan, ayah saya sedang sekarat dan dokter bilang waktunya sisa hitungan jam," ucap Nana memohon.
"Hanya Anda harapan terakhir kami, tolong ikutlah ke rumah sakit," pinta Nana dengan mata berkaca-kaca.
Arif diam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Namun tiba-tiba, dada Arif terasa sangat panas seperti dibakar api neraka.
Deg!
Arif memegangi dadanya dan wajahnya langsung memerah padam.
"Sial, Racun Api di tubuhku kumat karena terlalu banyak menggunakan Qi barusan," batin Arif menahan sakit.
Tubuh Arif sedikit limbung dan nyaris jatuh ke tanah.
Dengan sigap, Shinta yang berdiri di dekatnya refleks memegangi lengan Arif.
"Hei! Kau tidak apa-apa?" tanya Shinta yang masih kesal tapi entah kenapa merasa khawatir.
Zras!
Saat tangan Shinta menyentuh kulit Arif, sebuah energi sejuk yang luar biasa langsung mengalir ke tubuh Arif.
Panas api di dada Arif perlahan mereda bagaikan disiram bongkahan es balok.
Arif menoleh dan menatap tajam tepat ke mata Shinta.
"Energi Yin murni," batin Arif menyadari potensi luar biasa di dalam tubuh gadis judes ini.
"A-apa yang kau lihat? Jangan menatapku seperti itu, dasar mesum!" bentak Shinta melepaskan tangannya dengan wajah merona.
Seketika, panas di tubuh Arif kembali bergejolak ganas.
Arif mengatur nafasnya yang berat dan menatap Nana.
"Bawa aku ke ayahmu sekarang," perintah Arif dengan rahang mengeras.
"Baik, Tuan! Silakan masuk ke mobil saya," jawab Nana dengan cepat.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Arif menoleh kembali menatap Baskoro yang sedang pucat pasi.
"Lima hari, Baskoro," ucap Arif dengan senyum tipis yang mematikan.
"Nikmati lima hari sisa hidupmu."
Brummm!
Mobil mewah Keluarga Liem itu melaju pergi meninggalkan kediaman Baskoro yang kini dilanda kepanikan luar biasa.
Hana Baskoro jatuh terduduk di atas rumput dengan gaun pengantinnya yang kotor.
Pernikahan impiannya hancur berantakan di tangan pria yang baru saja dibuangnya.
Di dalam mobil menuju Rumah Sakit Medika Central, keringat sebesar biji jagung terus menetes dari pelipis Arif.
Dia menyandarkan kepalanya ke jendela kaca menahan gejolak api di organ dalamnya.
"Tuan Arif, Anda terlihat sangat pucat, apa Anda sakit?" tanya Nana dari kursi depan.
"Bukan urusanmu," jawab Arif singkat sambil memejamkan mata.
Shinta yang duduk di sebelah Arif hanya mencibir pelan melihat tingkah cowok itu.
"Orang ini pasti cuma pura-pura sakit biar dikasihani, cih," batin Shinta kesal.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit dan langsung berlari menuju ruang VVIP.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria tua terbaring sekarat dengan alat penyokong kehidupan.
Wajah pria tua itu sudah menghitam dan nafasnya sangat putus-putus.
Di sampingnya, Dokter Satria yang berseragam putih sedang menggelengkan kepalanya pasrah.
"Nona Nana, racun di tubuh Tuan Surya sudah masuk ke jantung."
"Saya sudah kehabisan akal, tolong bersiap untuk yang terburuk," ucap dokter itu sedih.
"Tidak! Ayah tidak boleh mati!" jerit Shinta sambil menangis histeris.
Arif berjalan gontai mendekati ranjang pasien dan menyingkirkan Dokter Satria dengan kasar.
"Minggir, kau menghalangi jalanku," ucap Arif dengan suara berat.
Dokter Satria melotot marah melihat pemuda lusuh berani mendorongnya.
"Hei! Siapa kau? Jangan sembarangan menyentuh pasien kritis!" bentak Dokter Satria.
Arif merogoh ke balik kemejanya dan mengeluarkan gulungan kain berisi puluhan jarum perak.
"Jarum akupuntur? Kau mau membunuh Tuan Surya dengan pengobatan kuno yang tidak jelas itu?!" teriak Dokter Satria panik.
"Tutup mulutmu atau aku akan membuatmu bisu selamanya," ancam Arif dengan tatapan membunuh.
Arif mengambil satu jarum perak yang paling panjang.
Dia mengalirkan sisa energi Qi murni ke ujung jarum itu hingga berbunyi mendengung pelan.
Ngiing.
Mata Dokter Satria nyaris copot melihat fenomena tidak masuk akal di depannya.
"I-itu Teknik Jarum Aura yang legendaris? T-tidak mungkin!" gumam Dokter Satria dengan lutut bergetar.
Jleb! Jleb! Jleb!
Gerakan tangan Arif berubah menjadi bayangan saking cepatnya.
Dia menusukkan enam jarum ke titik vital di dada Surya Liem dan jarum terakhir di ulu hati.
"Teknik Jarum Maut, buka gerbang kehidupan!" teriak Arif mengalirkan seluruh sisa energinya.
Tubuh Surya Liem tiba-tiba mengejang hebat ke atas ranjang.
Pria tua itu memiringkan kepalanya dan memuntahkan darah hitam pekat yang berbau busuk.
Huek!
Setelah memuntahkan darah itu, suara monitor detak jantung kembali berdetak dengan normal.
Garis-garis hitam di wajah Surya Liem langsung memudar dan nafasnya menjadi teratur.
"Keajaiban! Ini benar-benar mukjizat medis!" teriak Dokter Satria sambil menangis takjub.
Nana dan Shinta langsung menangis bahagia melihat ayah mereka kembali bernafas dengan tenang.
Surya Liem perlahan membuka matanya dan melihat sosok pemuda lusuh di sampingnya.
"Anak muda, kau yang menyelamatkan nyawaku?" tanya Surya Liem dengan suara lemah.
Arif hanya diam karena pandangannya mulai berputar hebat.
Racun Api di tubuhnya kini benar-benar meledak karena dia menguras habis energi Qi murninya.
Kulit Arif berubah menjadi semerah kepiting rebus dan suhu tubuhnya sangat panas.
"Tuan Arif! Ada apa dengan Anda?" teriak Nana panik.
Surya Liem memegang tangan Nana dan Shinta, lalu menatap Arif dengan penuh rasa syukur.
"Nyawaku adalah milikmu, Anak Muda," ucap Surya Liem.
"Sebagai balas budi, pilihlah antara Nana atau Shinta untuk menjadi istrimu."
Nana tersipu malu menundukkan wajahnya, sementara Shinta membelalakkan matanya tidak percaya.
"Ayah! Apa yang Ayah bicarakan? Aku tidak mau menikah dengan gembel ini!" tolak Shinta keras.
Arif sudah tidak kuat lagi berdiri menahan rasa sakitnya.
Aroma energi Yin dari tubuh Shinta adalah satu-satunya obat penawar untuknya saat ini.
Arif mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjuk tepat ke arah Shinta.
"Dia," ucap Arif dengan suara parau.
Bruk!
Setelah mengucapkan satu kata itu, Arif langsung jatuh pingsan ke lantai ruang rawat.
"Tuan Arif!" jerit Nana dan Shinta bersamaan memecah kepanikan di ruangan tersebut.