Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang dan Drama Meja Makan
Kalau kata pepatah, badai baru saja reda, tapi pabrik drama keluarga West sepertinya tidak pernah libur sehari pun.
Hari sudah beranjak malam. Aroma sedap dari hidangan makanan Cina pesanan khusus Reina—mulai dari bebek panggang saus hoisin hingga dumpling udang kukus—baru saja tertata rapi di atas meja makan marmer putih penthouse lantai empat puluh. Reina dan Jino baru saja hendak menarik kursi untuk menikmati makan malam romantis mereka setelah seharian bersantai.
Tiba-tiba...
Ting... tong... ting... tong...!
Suara bel pintu utama berbunyi nyaring, ditekan secara brutal dan terus-menerus, seolah sang tamu di luar sana sedang dikejar setan atau tengah mendesak ingin merobohkan pintu.
Jino yang baru saja memegang sumpit langsung menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras seketika. Manik mata kelamnya memancarkan ketidaksenangan yang teramat sangat. Baru semalam ia menikmati kedamaian, sekarang siapa lagi makhluk kurang ajar yang berani merusak waktu makan malam pengantin baru mereka?
Reina, di sisi lain, justru mengerjap beberapa kali. Alih-alih kesal, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman penuh antisipasi yang amat mencurigakan.
"Wah, wah... sepertinya kita kedatangan tamu agung lagi, Tuan Muda," ujar Reina geli, menaruh kembali sumpitnya. "Mau dibukakan pintu atau mau disiram air panas dari lantai atas?"
Jino mendengus kasar. Ia bangkit dari kursi dengan wajah tertekuk masam. "Biar aku yang urus. Kalau kali ini yang datang suruhan nenek lagi, aku pastikan mereka langsung dilempar pakai helikopter dari rooftop."
Jino melangkah dengan langkah lebar penuh amarah menuju pintu utama. Begitu ia memutar gagang dan membuka pintu lebar-lebar, alisnya langsung terangkat tinggi-tinggi.
Bukan Madame Victoria. Bukan pula pengacara keluarga.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria tampan berambut perak rapi dengan setelan desainer Italia kelas atas, menenteng buket bunga mawar putih raksasa yang menutupi separuh wajahnya. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis manja bergaun merah terang dengan ekspresi wajah penuh drama.
Mereka adalah Ethan Sterling—mantan rekan bisnis licik sekaligus saingan masa lalu Jino yang pernah dipermalukan dalam tender besar tahun lalu—bersama adik perempuannya yang terkenal tukang bikin rusuh, Chloe Sterling.
"Surprise, bro!" sapa Ethan dengan seringai sok akrab, menyingkirkan buket bunga besar itu dari wajahnya. "Dengar-dengar kau baru saja menikah tanpa mengundang para kolega elit ya? Aku dan Chloe sengaja datang jauh-jauh untuk memberikan selamat secara langsung kepada pengantin baru!"
Jino menatap dua sosok di hadapannya dengan sorot mata membunuh yang suhunya setara titik beku kutub utara. "Siapa yang mengizinkan kalian menginjakkan kaki di lantai penthouse-ku? Pergi dari sini sebelum aku panggil tim keamanan gedung untuk menyeret kalian."
Chloe mendengus sinis, sengaja melangkah maju melewati Jino begitu saja tanpa diundang, masuk ke dalam ruang tengah. "Wah, sombong sekali sambutannya, Tuan Muda West. Padahal kami datang dengan niat baik membawakan hadiah pernikahan lho!"
Reina, yang menyusul berdiri di belakang Jino dengan melipat kedua tangan di dada, menyaksikan adegan penyusupan tidak tahu malu itu dengan senyuman penuh minat. Matanya berbinar-binar cerah. Wah, bahan adegan baru buat novel wuxianya datang sendiri nih, batin Reina senang.
Ethan ikut menyelonong masuk tanpa dosa, meletakkan buket bunga besar itu di atas meja makan mewah mereka, lalu matanya langsung menatap hidangan makanan Cina yang tersaji.
"Hmm, baunya enak juga," komentar Ethan santai. "Ngomong-ngomong, Jino, kudengar istrimu ini cuma gadis desa antah-berantah ya? Kasihan sekali. Kau yang bergelimang harta harus terjebak menikah dengan wanita biasa yang bahkan tidak tahu cara memegang garpu perak di acara jamuan formal."
Skakmat! Ejekan telak itu meluncur begitu saja dari mulut Ethan, sengaja memancing emosi Jino agar meledak.
Jino sudah mengepal erat kedua tangannya, siap melayangkan bogem mentah ke wajah brengsek Ethan. Namun, sebelum Jino sempat bergerak, Reina justru tertawa kecil—suara tawa yang terdengar sangat manis namun sukses membuat bulu kuduk Ethan dan Chloe meremang seketika.
Reina melangkah anggun mendekati meja makan. Ia mengambil sumpitnya kembali, lalu menatap Ethan dan Chloe bergantian dengan sorot mata setajam pisau bedah.
"Wah, Tuan Ethan Sterling yang terhormat," sapa Reina ramah dengan nada suara yang sangat lembut. "Datang tidak diundang, merusak waktu makan orang, lalu menghina tuan rumah. Silsilah keluarga Sterling rupanya tidak pernah mengajarkan cara mengetuk pintu sebelum masuk ya? Pantas saja perusahaan logistik keluargamu tahun lalu nyaris bangkrut gara-gara salah hitung muatan kontainer."
Skakmat balik! Wajah Ethan seketika memerah padam menahan malu bercampur geram. Informasi rahasia soal hampir kolapsnya perusahaan keluarganya itu memang ditutup rapat dari publik.
Chloe yang tidak terima kakaknya direndahkan langsung melangkah maju, menunjuk-nunjuk wajah Reina dengan angkuh. "Heh, perempuan desa! Jaga mulutmu ya! Kamu pikir kamu siapa berani—"
"Aku Nyonya Besar West, pemilik sah dari penthouse ini," potong Reina dingin, suaranya berubah tegas dan berwibawa hingga membuat Chloe tertegun. Reina maju selangkah, menatap Chloe lekat-lekat. "Dan asal kamu tahu, Nona Chloe, gaun merah mencolok yang kamu pakai itu adalah koleksi tiruan musim lalu dari butik KW super di pasar malam, kan? Lucu sekali melihat seseorang yang datang membawa 'hadiah' tapi dompetnya sendiri sedang megap-megap dikejar debt collector kartu kredit."
Wajah Chloe berubah pucat pasi seketika. Ia spontan meraba gaunnya sendiri, tidak menyangka rahasia kecil gaya hidup palsunya terbongkar di hadapan CEO Jino West dan istri sahnya.
Jino, yang tadinya berniat menghajar Ethan, kini justru bersandar santai pada dinding pembatas ruangan sambil melipat tangan di dada. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh kekaguman. Ia sama sekali tidak perlu repot-repot mengotori tangannya; sang istri tercinta sudah berhasil melumpuhkan kedua penyusup itu secara verbal dalam hitungan detik.
"Jadi..." Reina menatap Ethan dan Chloe dengan senyuman manis penutup mautnya. "Kalian mau jalan keluar sendiri lewat pintu utama secara terhormat, atau mau kubantu meneleponkan mobil derek sampah buat mengangkut kalian berdua keluar dari sini?"
Ethan menelan ludahnya susah payah. Ia menyadari bahwa kedatangan mereka untuk mencari masalah hari ini adalah keputusan paling bodoh dalam hidupnya. Dengan wajah menahan malu yang luar biasa, Ethan menarik tangan adiknya kasar.
"K-kita pergi dari sini, Chloe!" geram Ethan kesal, lalu buru-buru ngibrit keluar dari penthouse tanpa berani menoleh lagi ke belakang.
Begitu pintu tertutup rapat kembali, Reina menghela napas panjang, lalu berbalik menatap Jino sambil tersenyum lebar. "Nah, pengganggu sudah dibersihkan. Sekarang kita bisa lanjut makan malam dengan tenang, Tuan West!"
Jino berjalan mendekat, merengkuh pinggang Reina erat-erat, lalu mendaratkan ciuman penuh rasa bangga di dahi istrinya. "Kau benar-benar istri paling berbahaya yang pernah ada, Nyonya West."