Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ciiiit.

Suara decitan ban motor sport memecah keheningan malam di kawasan perumahan elit.

Kenji menghentikan motornya tepat di depan gerbang besi sebuah rumah mewah bergaya modern.

Rumah itu adalah kediaman pribadi milik anggota dewan bernama Bagas.

Dua orang penjaga berseragam safari langsung berlari menghampiri gerbang.

"Hei, kawasan ini dilarang untuk umum, pergi dari sini!" bentak salah satu penjaga.

Kenji turun dari motornya dan berjalan santai mendekati gerbang besi tersebut.

Dor. Dor.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kenji menembak kedua penjaga itu tepat di kepala mereka.

Bruk.

Kedua tubuh itu ambruk ke tanah seketika.

Kenji menendang pintu gerbang kecil yang tidak terkunci itu lalu melangkah masuk ke halaman.

Klak.

Dia mengganti magasin pistolnya sambil terus berjalan menuju pintu utama rumah.

Suara tembakan tadi rupanya sudah memancing keluar belasan penjaga bayaran dari dalam rumah.

Mereka semua berhamburan keluar membawa berbagai macam senjata api.

"Itu Kenji Bratadikara, bunuh dia!" teriak kepala penjaga dari teras rumah.

Kenji hanya menyeringai tipis melihat para penjaga yang terlihat panik itu.

Trang. Prang.

Baku tembak langsung pecah menghancurkan kaca-kaca jendela rumah mewah tersebut.

Kenji bergerak sangat lincah berlindung dari balik pilar ke pilar lainnya.

Setiap peluru yang keluar dari senjatanya tidak pernah meleset dari sasaran.

Dor. Dor. Dor.

Mayat para penjaga bayaran bergelimpangan di atas rumput taman yang terawat rapi.

Hanya butuh waktu lima menit bagi Kenji untuk membersihkan seluruh area luar rumah itu.

Dia menaiki tangga teras lalu mendobrak pintu kayu jati utama dengan satu tendangan keras.

Brak.

Di dalam ruang tamu yang luas, Bagas sedang bersembunyi di balik sofa panjang sambil gemetar ketakutan.

Politisi muda itu memegang sebuah pistol emas kecil dengan kedua tangan yang basah oleh keringat.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki Kenji terdengar menggema di ruangan yang kini sangat sepi itu.

"Keluar dari persembunyianmu, pengecut," ucap Kenji dengan nada suara yang sangat dingin.

Bagas menelan ludahnya dengan susah payah.

Dia memberanikan diri untuk berdiri dan menodongkan pistol emasnya ke arah Kenji.

"J-jangan mendekat, atau aku tembak kepalamu!" ancam Bagas dengan suara yang bergetar hebat.

Kenji sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

Dia malah berjalan lurus menghampiri moncong senjata Bagas dengan tatapan mata meremehkan.

"Kau pikir mainan kecil itu bisa membunuhku?" ejek Kenji.

Bagas menarik pelatuknya dengan panik.

Klak.

Pistol itu macet karena Bagas lupa mengokangnya dalam keadaan kalut.

Mata Bagas membelalak lebar menyadari kebodohannya sendiri.

Sret.

Kenji langsung mencengkeram pergelangan tangan Bagas dan memelintirnya dengan sangat kasar.

Krek.

"Arghhh!" jerit Bagas melengking saat tulang tangannya patah seketika.

Pistol emas itu jatuh ke lantai karpet.

Kenji menendang lutut politisi itu hingga dia jatuh berlutut di depannya.

Bugh.

"Ampun, tolong ampuni aku, Kenji!" tangis Bagas pecah seketika.

Pria arogan yang tadi sore melecehkan Anya itu kini terlihat sangat menyedihkan.

"Aku bisa memberimu uang, proyek pemerintah, apa saja yang kau mau!" mohon Bagas lagi.

Kenji menunduk dan mencengkeram rahang Bagas dengan kuat.

"Uang tidak bisa menebus darah ratuku yang sudah menetes malam ini," desis Kenji pelan.

Kenji mencabut pisau karambit dari pinggangnya.

Sring.

"Ini bayaran karena kau berani mengirim anjing pembunuh padanya."

Cras.

Bilah melengkung itu merobek leher Bagas dalam satu gerakan yang sangat cepat dan presisi.

Bagas memegangi lehernya yang menyemburkan darah segar, matanya mendelik menatap Kenji sebelum akhirnya ambruk ke lantai.

Bruk.

Kenji mengelap pisaunya ke baju Bagas lalu memutar tubuhnya berjalan keluar dari rumah itu.

Malam ini, dia telah mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada Walikota.

Di tempat lain, suasana rumah sakit khusus klan Bratadikara terasa sedikit tegang.

Anya sedang duduk di atas ranjang periksa sementara seorang dokter sedang membersihkan lukanya.

"Aw, pelan-pelan Dokter, itu perih," ringis Anya saat alkohol menyentuh luka gores di dahinya.

"Maaf, Nona Anya, ini agar lukanya tidak infeksi," jawab dokter itu sopan.

Bima berdiri tidak jauh dari ranjang dengan sikap tubuhnya yang selalu tegap.

"Bima, apakah kau sudah mengurus semua kekacauan di jembatan tadi?" tanya Anya sambil menahan perih.

"Sudah, Nona, polisi yang berada di daftar gaji kita sedang membersihkan tempat kejadian perkaranya," jawab Bima datar.

Anya menghela napas lega mendengarnya.

Dokter selesai menempelkan perban kecil di dahi dan lengan Anya lalu undur diri dari ruangan.

Kriet. Blam.

Kini hanya tersisa Anya dan Bima di dalam ruang rawat tersebut.

"Bima, aku menemukan sesuatu yang sangat penting di rumah Walikota tadi," ucap Anya serius.

Bima langsung melangkah maju mendekati ranjang Anya.

"Informasi apa yang Anda dapatkan, Nona?"

"Ada sebuah ruang rahasia di balik rak buku besar di ruang kaca belakang tempat aku minum teh."

Anya menatap mata Bima untuk meyakinkan pria itu.

"Pintu ruangannya terbuat dari baja setebal sepuluh sentimeter, aku yakin brankas dokumennya ada di dalam sana."

Bima mengerutkan keningnya mendengar informasi yang sangat detail itu.

"Itu informasi yang luar biasa, tapi bagaimana Anda bisa tahu ketebalan pintunya?" tanya Bima curiga.

"Aku sempat melihat ujung pintunya saat pelayan membuka rak itu untuk membersihkan debu," bohong Anya cepat.

"Dan ada satu hal aneh lagi yang aku temukan di atas meja kerja Nyonya Ratna."

Bima mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Mataku tidak sengaja membaca draf naskah video ulasan telur ayam berdurasi dua puluh sampai tiga puluh detik."

"Naskah itu mencantumkan merek LunaraMode secara spesifik."

Anya mengingat kembali detail yang ditangkap oleh Mata Elangnya tadi sore.

"Kenapa istri seorang Walikota sibuk mengurus naskah video promosi telur ayam murahan?"

Mata Bima seketika sedikit melebar seolah menyadari sesuatu yang sangat krusial.

"LunaraMode, jadi itu nama perusahaan cangkangnya," gumam Bima pelan.

"Maksudmu perusahaan itu dipakai untuk mencuci uang suap?" tanya Anya memastikan.

"Benar, Nona, klan Naga Hitam selalu menyalurkan uang suap dalam bentuk transaksi barang kebutuhan pokok."

Bima mengangguk hormat pada Anya dengan rasa kagum yang tidak disembunyikan lagi.

"Naskah video promosi itu kemungkinan besar adalah kode sandi untuk jadwal pengiriman uang suap minggu ini."

"Kita bisa menggunakan informasi ini untuk menyadap jalur uang mereka," tambah Anya bersemangat.

[Pemberitahuan Sistem: Anda berhasil memecahkan teka-teki jaringan uang musuh.]

[Hadiah: Poin Kecerdasan bertambah.]

Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dengan kasar dari luar.

Brak.

Kenji melangkah masuk dengan jaket kulit hitamnya yang sedikit kotor.

Pria itu terlihat sangat kelelahan, tapi matanya langsung mencari keberadaan Anya.

"Kenji," panggil Anya sambil tersenyum lega.

Kenji berjalan cepat menghampiri ranjang dan langsung memeluk tubuh Anya lagi.

Grep.

Aroma darah masih tercium samar dari tubuh pria itu, tapi Anya tidak peduli sama sekali.

"Kau sudah membunuhnya?" bisik Anya pelan.

"Ya, bajingan itu sudah mati," jawab Kenji sambil mencium puncak kepala gadisnya.

Bima berdehem pelan untuk mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian di sana.

Ehem.

Kenji melepaskan pelukannya lalu menatap asistennya itu dengan tajam.

"Tuan Muda, Nona Anya baru saja memberikan informasi lokasi brankas dan jalur pencucian uang Walikota," lapor Bima.

Kenji menoleh menatap Anya dengan pandangan tidak percaya.

"Kau benar-benar menemukan semuanya hanya dalam waktu satu jam minum teh?" tanya Kenji takjub.

"Aku kan sudah bilang, aku bukan pajangan yang tidak berguna," balas Anya bangga.

Tiba-tiba, suara sirene mobil polisi terdengar melengking dari arah jalan raya di luar rumah sakit.

Ninu. Ninu. Ninu.

Suara sirene itu tidak hanya satu, tapi terdengar puluhan dari berbagai arah yang berbeda.

Kenji langsung berjalan mendekati jendela dan mengintip ke luar.

"Sial, Walikota ternyata bergerak lebih cepat dari dugaanku," umpat Kenji kasar.

"Ada apa, Kenji?" tanya Anya ikut panik.

"Kematian Bagas pasti sudah sampai ke telinganya, dia mengerahkan seluruh kepolisian kota untuk memburu kita malam ini."

Kenji menoleh ke arah Bima yang sudah bersiaga mencabut senjatanya.

"Bima, aktifkan protokol darurat merah."

"Tinggalkan rumah sakit ini dan pindahkan semua anggota inti ke bungker markas bawah tanah sekarang juga."

"Baik, Tuan Muda," jawab Bima lalu berlari keluar ruangan untuk memberi perintah.

Kenji kembali menghampiri Anya dan membantunya turun dari ranjang.

"Kita harus pergi dari sini sebelum polisi mengepung gedung ini, kau bisa berlari?" tanya Kenji.

"Aku bisa, kakiku tidak terluka sama sekali," jawab Anya mantap.

Kenji menggenggam tangan Anya dengan sangat erat.

"Mulai malam ini, kita secara resmi menjadi buronan nomor satu di kota ini."

"Kau takut?" tanya Kenji menatap mata gadis itu.

Anya membalas genggaman tangan pria itu tidak kalah eratnya.

"Selama kau tidak melepaskan tanganku, aku tidak akan pernah takut pada siapa pun," jawab Anya tanpa ragu.

Kenji tersenyum tipis lalu menarik tangan Anya berlari menyusuri lorong evakuasi rahasia.

Perang melawan pemerintah kota kini sudah tidak bisa dihindari lagi.

Dan Anya akan memastikan Walikota itu bertekuk lutut di bawah kaki klan Bratadikara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!