Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Bab 22: Rasa Tenang yang Menyelimuti
(±
Langkah kaki Deka berhenti tepat di ambang pintu kamar sebelum ia melangkah pergi. Seketika, ruangan yang tadi terasa begitu sepi dan dingin, seolah berubah menjadi tempat yang hangat dan terlindungi hanya karena kehadirannya yang masih tertinggal di sana. Raina berdiri mematung di tempatnya, matanya tak lepas dari punggung pria itu yang tampak kokoh dan teguh, seolah menjadi benteng tak tertembus bagi siapa saja yang berdiri di belakangnya. Napasnya yang tadi tersengal-sengal karena gelisah, kini perlahan teratur. Detak jantungnya yang biasanya berpacu kencang seperti burung yang terperangkap dalam sangkar sempit, kini melambun tenang, teratur, dan lembut.
Di saat itulah kesadaran itu menghampirinya perlahan namun pasti, menyusup ke setiap sudut hatinya tanpa suara, seolah embun pagi yang menempel lembut di kelopak bunga sebelum matahari terbit. Aku merasa tenang, batinnya berbisik, tak percaya pada apa yang baru saja ia rasakan. Aku merasa aman. Selama ia berada di dekatku, seakan tidak ada satu pun hal di dunia ini yang dapat menyakitiku.
Pikiran itu membuat pipinya memerah seketika, membakar kulitnya hingga ke pangkal telinga. Ia menunduk dalam, memeluk dirinya sendiri dengan kedua lengan seolah ingin menahan perasaan itu agar tidak meluap dan terbaca oleh siapa pun—termasuk Deka yang masih berdiri di sana. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Pria di hadapannya adalah seseorang yang baru saja ia kenal, seseorang yang datang membawa perubahan besar dalam hidupnya dalam waktu yang begitu singkat. Ia seharusnya tetap waspada, tetap menjaga jarak, dan tidak membiarkan hatinya terlena begitu saja. Namun setiap kali Deka berada dalam jangkauan pandangannya, setiap kali suara berat dan tenang itu menyapa telinganya, semua pertahanan yang susah payah ia bangun perlahan runtuh, digantikan oleh rasa percaya yang tumbuh begitu saja, tanpa alasan yang jelas, tanpa syarat yang rumit.
Deka menoleh perlahan. Tatapan matanya yang tajam namun hangat jatuh tepat ke wajah Raina yang sedang menunduk, berusaha menyembunyikan gejolak di dalam hatinya.
"Ada yang ingin kau katakan, Raina?" suaranya terdengar rendah dan lembut, namun cukup untuk membuat jantung Raina kembali berpacu, kali ini bukan karena takut atau gelisah, melainkan karena rasa malu yang mendadak melanda.
Raina menggeleng cepat, tak berani menatap mata itu lebih lama. "Tidak... tidak ada. Terima kasih."
Deka menatapnya sejenak, seolah mampu membaca setiap hal yang tersembunyi di balik pandangan mata yang berusaha menghindar itu. Namun ia tak memaksanya. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya sebelum ia mengangguk pelan.
"Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Segala sesuatu akan baik-baik saja," ucapnya dengan nada yang begitu yakin, seolah kata-katanya adalah sebuah janji yang pasti ditepati.
Kata-kata itu sederhana, namun dampaknya pada hati Raina luar biasa. Mendengarnya saja, beban yang terasa menindih dadanya selama ini seolah menjadi lebih ringan. Ia merasa seolah-olah memang benar-benar tidak perlu takut, tidak perlu cemas, selama ada Deka yang berdiri di sisinya.
"Baik," jawabnya pelan, suaranya hampir tak terdengar namun penuh kepatuhan yang tak disadarinya sendiri. "Kau juga beristirahat."
Deka melangkah pergi, menutup pintu perlahan hingga suara langkah kakinya menghilang sepenuhnya. Kini Raina sendirian kembali di dalam kamar. Namun, seketika pintu itu tertutup, rasa tenang yang tadi menyelimuti hatinya perlahan berkurang, digantikan oleh kekosongan yang samar. Udara di ruangan itu kembali terasa lebih sejuk, dan detak jantungnya yang tadi tenang, kini kembali sedikit berpacu, kali ini bukan karena takut, melainkan karena kehilangan kehadiran yang begitu menenangkan itu.
Raina melangkah perlahan mendekati jendela, membiarkan cahaya remang-remang dari luar menerangi wajahnya. Ia menatap ke arah taman yang gelap di bawah sinar rembulan, namun pikirannya tak lepas dari sosok pria yang baru saja meninggalkannya. Ia mencoba menganalisis perasaannya sendiri, mencoba memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Selama ini, hidupnya selalu dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan. Setiap langkah yang diambilnya selalu penuh keraguan, setiap kata yang diucapkannya selalu penuh kehati-hatian. Ia takut disakiti, takut dikhianati, takut dipermainkan. Namun sejak bertemu Deka, perlahan namun pasti, rasa takut itu mulai luntur. Bukan karena keadaan di sekelilingnya menjadi lebih aman, melainkan karena kehadiran pria itu yang seolah menjadi perisai tak kasat mata, melindunginya dari segala kegelisahan yang selama ini mendiami hatinya.
Ia menyadari hal itu dengan jelas dan itu membuatnya malu setengah mati. Bagaimana mungkin ia bisa merasa begitu nyaman di dekat seseorang yang belum lama dikenalnya? Bagaimana mungkin kehadiran pria itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa aman dan terlindungi? Bukankah itu hal yang konyol? Bukankah ia seharusnya lebih berhati-hati, lebih waspada?
Namun hati memiliki logikanya sendiri, logika yang tak dapat dijangkau oleh akal budi sekalipun. Semakin ia mencoba menyangkal perasaan itu, semakin ia mencoba menjauhkan diri dari rasa nyaman yang diberikan oleh kehadiran Deka, semakin kuat pula rasa itu mencengkeram hatinya. Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya selalu ke arah pria itu, seolah di samping Deka adalah tempat di mana hatinya seharusnya berada.
Raina menghela napas panjang, membiarkan udara malam yang sejuk menyentuh wajahnya, berusaha menenangkan kembali gejolak di dalam dadanya. Ia tahu, ia tak dapat terus menyangkal hal ini pada dirinya sendiri. Setiap kali Deka menatapnya, setiap kali suaranya terdengar menenangkan, setiap kali ia merasa terlindungi di dekatnya—semua itu adalah bukti nyata bahwa perasaannya telah berubah, telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam dan lebih berarti sekadar rasa hormat atau rasa terima kasih.
Namun ia belum siap untuk mengakuinya. Belum siap untuk mengatakannya kepada siapa pun, terutama kepada Deka sendiri. Bagaimana jika pria itu tidak merasakan hal yang sama? Bagaimana jika ia hanya menganggapnya sebagai seseorang yang perlu dilindungi, tanpa perasaan yang lebih dari itu? Pikiran itu membuat hatinya terasa perih sekaligus takut. Lebih baik ia menyimpannya rapat-rapat di dalam hatinya, menjaganya dengan baik, dan membiarkannya tumbuh dalam diam, daripada mengungkapkannya dan berakhir dengan rasa sakit yang tak sanggup ia tanggung.
Malam itu, Raina berbaring di atas tempat tidurnya, namun matanya tak kunjung terpejam. Bayangan wajah Deka terus muncul di benaknya, bersamaan dengan rasa tenang yang tadi ia rasakan saat berada di dekat pria itu. Setiap kali ia membayangkan dirinya berdiri di samping Deka, hatinya terasa damai seketika. Namun setiap kali ia teringat bahwa ia menyukainya, ia merasa wajahnya memerah dan jantungnya berdebar kencang karena malu.
Ia memeluk bantal erat-erat, menatap langit-langit kamar yang remang-remang, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri, seolah berusaha meyakinkan hati yang terus berdebar itu.
Besok... saat aku melihatnya lagi, aku pasti akan merasakan hal yang sama. Aku akan merasa tenang. Aku akan merasa aman. Dan aku akan tetap malu untuk mengakuinya, bahkan kepada diriku sendiri sekalipun.
Namun di sudut hatinya yang paling dalam, Raina tahu. Ia sudah tak dapat lagi membohongi dirinya sendiri. Rasa itu sungguh ada, tumbuh dan mengakar kuat, dan seiring berjalannya waktu, ia tahu, rasa itu hanya akan semakin besar. Dan meskipun ia masih malu untuk mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri, ia tak mampu lagi menolak kenyataan yang mulai terang benderang di hadapannya: Deka adalah rumah baginya. Tempat di mana hatinya merasa pulang.
Saat kesadaran itu kembali menyapu hatinya, Raina tersenyum tipis di dalam kegelapan malam, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia terlelap dalam tidur yang damai, tanpa rasa takut, tanpa rasa cemas. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu—selama Deka ada di dekatnya, ia akan selalu aman. Dan pengetahuan itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa utuh kembali.
Keesokan paginya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Raina yang baru saja terbangun. Udara pagi terasa segar, membawa aroma tanah basah dan bunga yang tumbuh di halaman. Raina bangun dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada rasa berat di dadanya, tidak ada kegelisahan yang menyergap begitu ia membuka mata. Yang ia rasakan hanyalah kedamaian yang lembut, menyusup ke setiap sudut hatinya, seolah sisa kehadiran Deka semalam masih tertinggal di sana, melindunginya bahkan di dalam tidurnya.
Ia berdiri dan melangkah menuju jendela, membukanya lebar-lebar. Angin pagi menyapu wajahnya, sejuk dan menyegarkan. Saat ia menatap ke bawah, terlihat sosok Deka yang sedang berdiri di halaman, memunggungi arah kamar, menatap ke arah gerbang yang tertutup rapat. Punggungnya yang tegap tampak tenang, seakan tak ada beban yang memikul pundaknya. Namun Raina cukup mengenali—meski baru sebentar—bahwa di balik ketenangannya itu, ada tanggung jawab besar yang ia pikul, ada kekhawatiran yang ia simpan sendirian agar orang-orang di sekitarnya tetap merasa aman.
Hati Raina bergetar pelan. Pria itu selalu begitu. Selalu tampak kuat, selalu tampak tenang, seakan tak ada satu pun hal yang mampu mengguncangnya. Padahal ia tahu, Deka juga manusia biasa yang bisa lelah, bisa cemas, bisa terluka. Namun ia memilih untuk menyembunyikan semua itu, menjadi perisai bagi orang-orang yang ia sayangi. Termasuk dirinya.
Tanpa disadarinya, Raina tersenyum pelan sambil menatap sosok itu dari balik jendela. Rasa sayang yang sedari tadi berusaha ia sembunyikan, kini kembali merembes keluar, lebih lembut namun lebih kuat dari sebelumnya. Ia menyadari bahwa perasaannya bukan sekadar kagum atau sekadar merasa berterima kasih atas perlindungan yang diberikan. Ia menyadari bahwa hatinya telah memilih tempat untuk pulang, dan tempat itu adalah di samping Deka.
Namun sekali lagi, rasa malu itu datang menyusul. Bagaimana mungkin ia mengatakannya? Bagaimana jika Deka tidak merasakan hal yang sama? Bagaimana jika kehadirannya justru menjadi beban bagi pria yang sudah memikul begitu banyak beban itu? Lebih baik ia menyimpannya dalam diam, menjadi kekuatan bagi dirinya sendiri, dan perlahan-lahan membuktikannya lewat perhatian kecil yang tulus.
Raina menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sedikit demi sedikit tumbuh di dadanya. Ia menyisir rambutnya dengan jari, membetulkan pakaiannya, lalu melangkah keluar kamar menuju halaman. Setiap langkah yang diambilnya terasa berbeda—bukan karena ragu, melainkan karena ada tujuan yang jelas di hatinya. Ia ingin menyapa Deka. Ia ingin berterima kasih. Dan meskipun ia belum mampu mengungkapkan perasaannya sepenuhnya, ia ingin pria itu tahu bahwa kehadirannya berarti segalanya bagi ketenangannya.
Saat langkah kakinya terdengar mendekat, Deka berbalik perlahan. Tatapan matanya jatuh tepat ke wajah Raina, dan seketika itu juga, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang begitu menenangkan, seketika membuat seluruh kegelisahan yang sempat muncul di hati Raina kembali luruh.
"Sudah bangun?" tanyanya pelan, suaranya berat namun lembut, membasahi hati Raina seperti embun pagi yang menyejukkan kelopak bunga.
Raina mengangguk, berusaha menahan senyumnya agar tidak terlihat terlalu lebar. "Iya. Terima kasih... untuk semalam."
Deka menatapnya sejenak, seolah memahami makna tersirat di balik ucapan itu. Lalu ia mengangguk pelan, melangkah mendekat selangkah, berdiri tak terlalu dekat namun cukup agar Raina dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari dirinya.
"Kau tidak perlu berterima kasih untuk hal itu, Raina. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan," ucapnya tenang. "Dan kau... sepertinya pagi ini terlihat lebih tenang."
Wajah Raina seketika memerah. Ia menunduk pelan, memainkan ujung jubahnya dengan jari yang sedikit gemetar. "Iya... aku merasa lebih baik. Selama... selama kau ada di dekatku, aku merasa tidak perlu takut."
Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa direncanakan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Saat ia menyadari apa yang baru saja ia ucapkan, hatinya berdebar kencang seketika. Ia berani mengatakannya? Sedikit saja, namun tetap terucap.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Angin pagi masih berhembus pelan, membelai dedaunan di sekitar mereka. Raina tak berani mendongak, takut melihat reaksi Deka, takut melihat keraguan atau sekadar kebingungan di wajah pria itu. Namun kemudian, ia merasakan sentuhan lembut di atas kepalanya—sebuah usapan ringan yang penuh kelembutan dan rasa sayang, yang membuat seluruh tubuhnya terasa hangat hingga ke jantung.
"Aku selalu ada di sini, Raina," suara Deka terdengar begitu dekat, begitu tulus, seakan janji itu diucapkan bukan hanya dengan mulut, melainkan dengan segenap hatinya. "Selama kau butuh, selama kau menginginkannya. Aku akan selalu ada di sini."
Raina mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan manik mata Deka yang menatapnya dalam, penuh ketulusan dan kehangatan yang tak disembunyikan lagi. Di tatapan itulah Raina menemukan jawabannya. Bahwa ia tidak sendirian dalam perasaannya. Bahwa di balik sikap tenang dan pendiam pria itu, ada perasaan yang sama tumbuh dan bersemi, menunggu waktu yang tepat untuk terungkap sepenuhnya.
Air mata bahagia menggenang di sudut matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Ia tersenyum, meski pipinya masih memerah karena malu, dan mengangguk pelan.
"Terima kasih, Deka," ucapnya lirih, namun penuh makna. "Itu saja yang ingin kukatakan."
Deka tersenyum lebih lebar kali ini, senyum yang begitu tulus dan meneduhkan, seakan matahari pagi ikut menyinari wajahnya. Ia mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke arah halaman, namun kali ini berdiri di samping Raina, berdiri berdampingan, seakan memberi tahu dunia—bahwa ia tidak akan membiarkan wanita di sisinya berjalan sendirian lagi.
Raina berdiri di sana, di samping Deka, merasakan ketenangan yang begitu utuh menyelimuti hatinya. Ia belum mengucapkan cinta. Ia belum berani mengakuinya sepenuhnya. Namun ia tahu, Deka sudah paham. Dan itu sudah cukup. Cukup baginya untuk terus melangkah, untuk terus menatap masa depan dengan tenang, karena kini ia tahu—di mana pun Deka berada, di sanalah tempat hatinya merasa pulang. Di sanalah ia merasa tenang. Di sanalah ia merasa aman. Dan ia tak lagi malu untuk mengakuinya, setidaknya pada hatinya sendiri: Ia telah menemukan rumahnya.