Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cofee Shop 29.
Aroma kopi terpanggang dan desis mesin espresso di sudut kafe biasanya menjadi latar belakang favorit Galang untuk melepas penat. Namun, sore di hari Minggu ini, riuh rendah pengunjung kafe justru terasa seperti dengung lalat yang mengganggu di telinganya.
Galang menatap cangkir Americano-nya yang sudah mendingin. Es batunya sudah mencair sempurna, mengencerkan cairan hitam di dalamnya—mirip seperti isi kepalanya yang mendadak hambar dan berantakan.
Di seberang meja, Rian sedang sibuk mengunyah kentang goreng, sementara Anwar fokus mengaduk Matcha Latte sambil sesekali membolak-balik halaman buku di tabletnya. Atmosfer santai khas akhir pekan yang biasa mereka bagikan mendadak terasa timpang karena kediaman Galang yang tidak biasa.
"Kamu ngajak kita ke sini cuma buat nemenin kamu ngelamunin gelas, Lang?" Rian membuka suara, menyeka saus di ujung bibirnya dengan tisu. "Muka kamu kusut banget, kek baju belum disetrika tiga hari."
Galang menghela napas berat. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi besi, menatap langit-langit kafe sebelum akhirnya melirik kedua sahabatnya.
Ada rasa gengsi yang menahan lidahnya, tapi dadanya terlalu sesak kalau harus menyimpan ini sendirian.
"Saya... ngerasa ada yang ilang, Ri, War," ucap Galang lirih. Suaranya agak serak.
Anwar menurunkan tabletnya, memberikan atensi penuh. "Ilang apa? Dompet mu? Perasaan kemarin di grup kamu pamer habis dapet jatah bulanan."
"Bukan barang," Galang menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Livy."
Satu nama itu membuat gerakan tangan Rian yang hendak mengambil kentang goreng langsung terhenti. Rian berkedip beberapa kali, memastikan dia tidak salah dengar.
"Livy? Livy si cewek gila yang dua tahun ini hobi ngintilin kamu ke mana-mana? Yang pernah buat spanduk di pertandingan basket bulan lalu?" Rian memastikan, lalu sedetik kemudian, tawa kerasnya pecah. "Bwahaha! Demi apa kamu nyariin dia? Bukannya kamu kudu sujud syukur karena akhirnya kuping kamu tenang gak denger cemprengan dia lagi?"
Galang tidak membalas tawa itu. Tatapannya lurus dan dingin, membuat tawa Rian perlahan menyusut hingga menyisakan dehaman canggung.
"Saya gak bercanda," kata Galang rendah.
Anwar, yang sejak tadi mengamati ekspresi Galang, mengembuskan napas panjang. Dia meletakkan cangkirnya dengan pelan. Berbeda dengan Rian yang melihat ini sebagai lelucon, Anwar melihat perubahan psikologis yang nyata pada sahabatnya.
"Gara-gara cowok baru itu?" tebak Anwar tepat sasaran.
Galang mengangguk kaku. "Namanya Rayhan. Ternyata dia teman masa kecil Livy yang baru pindah dari Jepang. Dan dia... dia gak kek saya yang selalu dorong Livy ngejauh." Galang menjeda kalimatnya, meremas jemarinya sendiri. "Rayhan terang-terangan membela Livy waktu di rumahnya."
Ada jeda yang cukup panjang di meja mereka. Ruang kosong itu kini diisi oleh rasa sesal yang terlambat disadari. Selama ini, Livy adalah konstan dalam hidup Galang.
Namun, begitu perhatian itu ditarik sepenuhnya dan dialihkan kepada orang lain yang menghargainya, Galang baru menyadari seberapa besar ruang yang selama ini diisi oleh kehadiran gadis itu.
Rian menggeleng-gelengkan kepala, raut wajahnya berubah dari geli menjadi tidak habis pikir. "Lagian kamu juga sih, Lang. Kamu selalu sinis sama dia. Sekarang pas dia udah capek dan ada cowok lain yang memperlakukan dia kayak ratu, kamu baru ngerasa kehilangan? Kamu egois namanya."
"Saya tahu!" potong Galang, suaranya naik satu oktav, memancing pandangan sekilas dari meja sebelah. Galang segera merendahkan suaranya lagi, menunduk dalam-dalam. "Saya tahu saya brengsek. Tapi saya gak pernah tahu kalau rasanya bakal se-sakit ini pas lihat dia ketawa sama cowok lain. Saya ngerasa... posisi saya digantiin tanpa saya bisa protes."
Anwar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung simpati sama sekali. Dia membenulkan letak kacamatanya, lalu menatap Galang lurus-lurus.
"Satu kata buat kamu, Lang: Kualat," ucap Anwar tenang namun menohok tepat di ulu hati Galang.
Galang mendongak, menatap Anwar dengan tatapan terluka. "War, saya nyari saran, bukan pengen dipojokin njir."
"Saya gak mojokin kamu, saya cuma ngomong fakta," balas Anwar datar. "Dua tahun belakang ini, Lang. Livy naruh harga dirinya di bawah kaki kamu. Dia peduli sama kamu lewat batas wajar sampai dicap 'cegil' sama seantero sekolah, dan kamu selalu mandang dia sebelah mata. Kamu selalu berasumsi dia bakal tetep ada di sana, sekeras apa pun kamu ngusir dia. Sekarang semesta lagi muter rodanya. Livy lagi disembuhin sama orang yang tepat, dan kamu... kamu baru mau mulai ngejar pas dia udah di garis finish orang lain."
Kata-kata Anwar menghujam telak. Galang tidak bisa membantah. Pikiran Galang melayang pada kejadian tiga hari lalu di koridor sekolah, saat dia mencoba menyapa Livy. Livy hanya mengangguk sopan—sangat sopan, terlalu sopan sampai terasa asing—lalu berbalik berjalan searah dengan Rayhan yang sudah menunggunya di ujung jalan.
Tidak ada lagi binar obsesif di mata gadis itu. Yang tersisa hanyalah tatapan datar seorang asing.
"Saya harus gimana?" tanya Galang, suaranya bergetar egois sekaligus rapuh. "Saya gak bisa biarin dia lepas gitu aja. Saya mau dia balik."
Rian menghela napas, menepuk bahu Galang dengan sisa rasa empatinya sebagai sahabat. "Kalau kamu mau dia balik, kamu gak bisa cuma modal cemburu doang, Lang. Kamu harus ngerasain apa yang dia rasain dulu, perjuangan yang gak dihargai. Masalahnya, sanggup gak kamu bersaing sama masa lalunya yang sekarang jadi 'Calon?' masa depannya?"
Galang terdiam. Di dalam kafe yang bising itu, dia akhirnya menyadari bahwa fasenya telah berubah. Dia bukan lagi target yang dikejar dengan ugal-ugalan. Kini, dialah yang harus berlari, menerobos badai ego dan rasa bersalahnya sendiri, untuk mengejar balik hati yang pernah dia sia-siakan.
"Selagi janur itu kuning belum melengkung, saya akan buktikan senin ini! Makasih atas saran nya bro." Galang mendadak bersemangat. Membuat kedua teman nya agak ngeri.
......................
...****************...
Tbc,