Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tania terkekeh pelan, sebuah tawa halus yang justru terdengar amat mendinginkan darah di telinga Chana.
"Bagus sekali pembelaanmu, Tante Chana," Ucap Tania seraya melangkah maju satu pukulan pendek. "Sejak kapan seorang pembunuh ngaku kalau anaknya berniat membunuh? Dulu waktu kalian menyetrika punggungku, apa kalian ingat dosa? Waktu kalian membiusku di halte dan melempar tubuhku ke sungai, apa kalian berpikir soal jin atau iblis?"
Wajah Chana yang tadinya memerah oleh amarah seketika menyusut pucat. "K-kamu... jangan asal bicara, ya!"
"Aku tidak pernah asal bicara, Tante," sahut Tania dingin namun tetap mengumbar senyum manisnya. "Lihat putri kesayanganmu itu. Tubuhnya lemas, suaranya hilang, dan dia ketakutan setengah mati. Itu baru balasan kecil dari rasa sakit yang selama ini kalian tumpuk."
"Gadis tidak tahu diri!" Chana menunjuk muka Tania dengan jari yang bergetar hebat. "Aku akan adukan semua perbuatanmu ini pada Ameer dan Kakek Hamzah! Aku akan pastikan Ameer menceraikanmu dan mengusirmu dari rumah ini!"
Tania tidak gentar sedikit pun. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menatap Chana dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Silakan, Tante. Panggil Mas Ameer sekarang juga," tantang Tania santai. "Tapi ingat... saat Mas Ameer datang dan melihat ada kabel listrik pemanas air tercabut di kamar mandiku, aku tinggal bilang kalau Filio mencoba menyetrumku saat aku mandi. Menurut Tante, siapa yang akan Mas Ameer percayai? Istrinya yang polos ini... atau Tante dan Filio yang dari dulu memang tidak suka padaku?"
"K-kamu..." Chana kehilangan kata-kata. Lidahnya mendadak terasa kelu dan kaku.
"Lagipula..." bisik Tania mendekat, menurunkan nada suaranya hingga terasa begitu menusuk, "...kalau Mas Ameer sampai turun tangan menyelidiki insiden listrik ini, rahasia penculikan di sungai pasti ikut terbongkar. Tante yakin mau mengambil risiko itu?"
Filio yang berada di pangkuan ibunya memegang erat kain baju Chana, menggelengkan kepalanya yang lemas dengan raut wajah memohon agar ibunya tidak memperpanjang masalah ini.
Chana mengepalkan tangannya rapat-rapat. Napasnya kempas-kempis menahan rasa sesak di dadanya. Ia sadar betul, Tania telah mengunci semua posisinya.
"Keluar dari kamarku, Tante," perintah Tania halus namun penuh penekanan. "Papah Filio dan bersihkan ceceran busa itu sebelum aku memanggil pelayan untuk melihat betapa menyedihkannya kalian berdua ini."
Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun lagi, Chana dengan susah payah mengangkat tubuh Filio yang gemetar, membimbing putrinya keluar dari kamar Tania dalam kekalahan total.
____
Malam harinya, suasana di ruang makan utama Mansion Hasanuddin tampak begitu tenang di luar, namun menyimpan ketegangan yang pekat di dalam. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya hangat ke atas meja makan marmer tempat keluarga besar itu berkumpul.
Tania tampil anggun dengan balutan gamis yang rapi dan senyum lembut yang menyejukkan. Tanpa sedikit pun sisa ketegangan dari insiden kamar mandi tadi siang, ia begitu lihai dan telaten melayani Kakek Hamzah.
"Ini sup iga nya, Kakek. Garamnya sengaja Tania kurangi sedikit sesuai petunjuk dokter," ujar Tania penuh perhatian seraya menyerahkan mangkuk porselen ke hadapan sang kakek.
"Terima kasih, Tania sayang. Kamu memang cucu menantu yang paling tahu cara merawat orang tua," puji Kakek Hamzah dengan wajah berseri-seri.
Setelah itu, Tania berbalik melangkah mendekati Ameer. Meski hatinya masih menyisakan sedikit rasa canggung, Tania dengan tenang merapikan piring Ameer, menyendokkan nasi, dan menuangkan lauk secukupnya.
"Mas Ameer, mau tambah sayurnya juga?" tanya Tania halus.
Ameer menatap Tania lekat-lekat. Bayangan kecantikan alami Tania tanpa khimar semalam kembali melintas sejenak di benaknya, membuat dada pria tegap itu berdesir. "Cukup, Tania. Terima kasih," jawab Ameer dengan nada bariton yang terdengar lembut.
Berbeda jauh dengan atmosfer hangat di ujung meja Kakek Hamzah, suasana di sisi meja Chana dan Filio justru sehening kuburan. Kedua wanita itu hanya menunduk, mengaduk-aduk makanan di piring mereka tanpa selera. Wajah Filio masih amat pucat pasi, dan jemarinya sesekali masih bergetar kecil, dampak trauma dari sengatan listrik tadi siang.
Danin memperhatikan gerak-gerik putri tunggalnya dengan dahi berkerut heran.
"Filio... kamu kenapa, Nak?" tanya Danin tiba-tiba, memecahkan keheningan di sisi meja mereka. "Muka kamu pucat sekali seperti orang sakit. Bibirmu juga agak membiru begitu. Kamu sedang tidak enak badan?"
Clang!...
Sendok di tangan Filio terlepas dan berdenting keras menyentuh piring, membuat Filio tersentak kaget.
"T-tidak apa-apa, Papa..." jawab Filio terbata-bata, menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. "Filio cuma... cuma sedikit lelah dan pusing."
Danin beralih menatap istrinya dengan pandangan menuntut. "Chana, apa kamu sudah bawa Filio ke dokter? Kenapa anak kita bisa sepucat ini?"
Chana menelan ludah susah payah. Matanya sempat melirik ke arah Tania yang sedang menuangkan air putih dengan tenang. Mengingat ancaman Tania tadi siang, Chana tak berani membocorkan kejadian yang sebenarnya.
"S-sudah, Pah... Tadi siang sudah aku bawa ke rumah sakit," paut Chana gelisah, berusaha mengontrol nada suaranya. "Dokter bilang Filio hanya stres dan kecapekan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Danin menghela napas panjang, meski dalam hatinya masih merasa ada hal besar yang disembunyikan oleh istri dan anak perempuannya itu.
Di tengah keheningan yang kembali merayap, ponsel kerja milik Ameer yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat. Layar ponsel menampilkan kode area internasional.
Ameer mengerutkan kening. Mengingat pentingnya panggilan tersebut, ia meminta izin dengan sopan pada Kakek Hamzah. "Kakek, Tania... Saya sudah selesai, saya izin angkat telepon sebentar."
Ameer berdiri dan melangkah beberapa meter ke area koridor luar ruang makan yang lebih tenang, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo, Komandan," sapa Ameer dengan nada tegas dan dingin.
Dari seberang telepon, suara berat berwibawa khas pimpinan markas militer agen sector 7 khusus di Amerika terdengar amat mendesak.
"Ameer, maaf mengganggu waktumu di Indonesia. Tapi ini darurat. Dokumen pengunduran dirimu dari satuan tugas khusus sudah kami terima, namun pimpinan markas memberikan satu syarat mutlak sebelum izin resmimu keluar."
Ameer menyipitkan matanya. "Misi apa?"
"Ada satu misi intelijen tingkat tinggi terakhir yang harus kamu tuntaskan langsung di lapangan. Misi ini sangat krusial dan hanya kamu yang memiliki kualifikasi untuk memimpinnya. Setelah misi ini selesai, kamu sepenuhnya bebas, pensiun dari dunia militer, dan bisa menetap permanen di Jakarta untuk meneruskan bisnis kakekmu."
Ameer terdiam sejenak. Pandangannya menerawang menembus kaca jendela besar yang menampakkan taman malam Mansion Hasanuddin. Di satu sisi, ia ingin segera menyelesaikan tugasnya agar bisa fokus menjaga Kakek Hamzah dan melindungi Tania dari ancaman internal keluarga ini. Namun di sisi lain, misi terakhir ini adalah tiket kebebasan mutlaknya dari dunia pertempuran.
"Berapa lama waktu yang saya punya?" tanya Ameer mantap.
"Tim akan menjemputmu lusa. Siapkan dirimu, Ameer."
"Dimengerti, Komandan," paut Ameer sebelum mengakhiri panggilan.
Saat Ameer memutar badan untuk kembali ke ruang makan, ia mendapati Tania berdiri tak jauh di ambang pintu, menatapnya dengan binar mata samar yang terlihat cemas.