Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Awalnya Airin terlihat bingung, tapi tetap bergeser sedikit dan mempersilahkan gadis di depannya untuk duduk.
“Makasih. Kamu murid baru juga? Atau kakak kelas?”
Airin menyimpan ponselnya. “Murid baru. Aku kesini untuk wawancara.”
“Sama berarti.” Gadis itu memegang kedua tangan dan mengusapnya beberapa kali. “Gugupnya, aku ‘nggak terlalu jago soal wawancara. Badanku sering gemetaran.”
Airin tersenyum, “Adrenalin ya? Waktu kecil aku juga begitu, tapi kalau sudah terbiasa akan hilang sendiri.”
“Aku jarang diwawancara sih.” Dia meringis. “Oh, namaku Ophelia, kamu siapa?”
“Airin—eh? Ophelia?”
“Memangnya kenapa?”
“Ophelia Pratama?” ulangnya. “Kamu yang dapat peringkat satu di seluruh angkatan itu?”
Ophelia tersenyum. “Begitulah.”
“Keren. Aku saja dua puluh terbawah.”
Sebentar, itu menghina diri.
“Bukan berarti aku bangga sih, hehe.”
“Akademis bukan satu-satunya yang penting di sekolah ini ‘kan ya?” ucap Ophelia. “Ayahku—ayah angkatku bilang kalau yang terpenting di sekolah ini adalah koneksi. Itu hal yang sulit sih, mengingat aku seperti berasal dari dunia lain. Kebanyakan dari kalian pastinya sudah saling mengenal sejak kecil.”
Ah ya.
Airin teringat sesuatu. Kak Aiden bilang Ophelia adalah anak angkat yang diadopsi hanya untuk pamor.
Bagaimana perasaan dia soal itu?
Ophelia mengangkat satu tangannya, melihat telapaknya yang mulai gemetaran. “Melakukan segala yang terbaik walau hanya di akademis atau wawancara, adalah hal yang harus bisa aku lakukan.”
Oh.
Airin memegang tangan itu. “Aku bisa membantu.”
“Maksudnya?”
“Yah, keluargaku juga tidak terlalu berpengaruh sih,” ucapnya. “Tapi temanku berasal dari kalangan tinggi. Kalau soal koneksi, aku bisa mengenalkan kalian.”
Ophelia tersenyum sedikit, agak tidak yakin. “Tapi aku cuma tau sedikit soal sosialita begitu. Keluarga angkatku juga masih merintis, belum ada yang bisa kami lakukan sebagai balasannya.”
“Aku bisa ajarin hal dasar, sekarang kamu kenal dia dulu aja,” keukeuh Airin. “Kaiser itu baik kok, kalau aku yang minta dia pasti mau.”
Ophelia berkedip.
“Kaiser? Kaiser yang itu?”
Airin mengangguk. “Yang itu.”
“Mahawirya?”
“Iya.”
Ophelia meringis. “Bukannya aku mau menolak tapi—mereka itu benar-benar berada di level yang berbeda ‘kan ya? Entah kenapa aku malah takut.”
“Dia benar-benar baik lho, sekalipun terlahir di keluarga yang hampir seperti bangsawan dia tidak membeda-bedakan orang.” nada yang dipakai Airin terdengar lebih lembut. “Bahkan kakaknya, Aiden juga tertarik padamu. Dia itu memegang rekor nilai tertinggi selama beberapa tahun terakhir, tapi dikalahkan olehmu begitu saja.”
Ophelia tertawa kecil, “Aku minta maaf kalau begitu.”
“Mereka pastinya senang kalau bertemu orang secerdas dirimu. Bilang saja kamu temanku.”
Gadis di depannya terlihat terdiam sebentar, seakan memproses hal yang baru dikatakan oleh Airin sebelum kemudian tersenyum tulus.
“Makasih,” ucapnya lembut. “Aku kira aku ‘nggak bakal dapat teman di sekolah ini.”
Netra Airin sempat melebar mendengar itu.
Di sosialita tinggi, dia juga hanya kenal dengan Kaiser. Bahkan mungkin jika bukan karena keluarganya dekat dengan keluarga Mahawirya, mungkin ia tidak akan bisa masuk dengan nilai yang menyedihkan.
Ia juga sempat khawatir tidak akan punya teman.
“Kita mirip ya?” ujarnya. “Kamu tahu? Sebenarnya keluargaku itu bisa dibilang bawahan setia dari keluarga Mahawirya. Kakekku merupakan teman baik dari kakeknya Kaiser karena pernah menyelamatkan nyawanya dulu. Dari sana dia seakan mengangkat derajat keluarga kami? Memberikan segalanya agar kami bisa berdiri sendiri.”
Ophelia terlihat mendengarkan hal itu dengan seksama.
“Aku bisa akrab dengan Kaiser karena kami teman masa kecil. Kaiser suka marah sih kalau tahu, tapi orang-orang tetap melihat keluarga Purnomo sebagai ‘anjing setia’ yang cuma berdiri di bayangan Mahawirya.”
“Ternyata tidak semua keluarga sosialita sama ya?” gumam Ophelia.
“Iya kan?” Airin meringis. “Aku juga tidak terlalu spesial.”
Ophelia kembali tersenyum dan memakai topinya. “Aku bisa membantumu dalam akademis kalau kamu mau. Setidaknya, itu hal yang bisa aku lakukan.”
“Serius? Makasih.” balasnya.
Airin terlihat tersenyum sembari melihat sepatunya beberapa saat sebelum langsung berdiri. “Masih ada waktu sebelum wawancara ‘kan ya? Aku bisa ajak kamu keliling sekolah sebentar.”
“Memangnya boleh?”
“Tentu!” Airin menarik tangan Ophelia agar ikut berdiri. “Ada tempat yang belum aku liat, mereka bilang—”
Ah.
Tanpa sepengetahuan Airin, tatapan mata Ophelia menjadi lebih tajam.
Naif sekali.
...****************...
Untungnya, semua berjalan lancar.
Yelena terlihat sudah terbiasa dengan pertanyaan sedangkan Ophelia yang berlatih semalaman di depan kaca juga menjawab dengan tenang.
Walaupun di bawah meja tangan dan kakinya benar-benar gemetaran.
Tapi tatapan para guru itu terlihat kesal.
Pertanyaannya juga lebih ke bisnis yang dijalankan keluarga Pratama, seberapa besar kekayaan mereka sekarang, seberapa banyak koneksi yang mereka punya.
Bahkan sepertinya mereka lupa kalau Ophelia mendapat peringkat pertama.
“Perbaiki posturmu dan atur ekspresi agar jangan terlihat datar begitu,” ucap Yelena ketika mereka akhirnya keluar dari ruangan. “Dan lain kali jawab pertanyaan dengan jawaban yang mereka inginkan. Sarkasme hanya akan membuat mereka semakin membenci kita.”
“Jawab orang yang datang lima menit setelah wawancaranya dimulai,” balas Ophelia. “Memangnya Ibu kemana? Mereka tidak akan sekesal itu kalau tidak disuruh menunggu.”
Yelena mengeluarkan cermin dan melihat make up-nya. “Ibu membuat koneksi untukmu agar kehidupan sekolahmu nanti lebih tenang. Harusnya kamu berterima kasih.”
Ophelia memutar mata.
Tadi Yelena datang dengan baju yang agak berantakan dan lipstik yang terlihat dipakai terburu-buru. Rambutnya yang tadi pagi disanggul juga sudah digerai—terlihat agak kusut.
Pastinya dia bermesraan dulu dengan kakaknya Kaiser itu.
“Lia!”
Di ujung koridor sana, Airin terlihat melambai padanya. Dia terlihat berbicara dengan Kaiser sembari menunjuk Ophelia.
“Itu putri bungsu keluarga Purnomo? Kamu kenal?” tanya Yelena.
“Kami mengobrol sedikit tadi.”
“Bagus,” Yelena tersenyum. “Jadilah sahabatnya, dia punya koneksi yang lumayan dengan keluarga Mahawirya.”
Seperti dirimu tidak saja.
“Ibu akan menunggu di mobil, jangan membuat masalah.”
Begitu Ibu angkatnya pergi, Airin bersama dengan Kaiser—yang terlihat setengah diseret—berjalan menuju Ophelia.
Oke.
Ophelia mengeluarkan topi dan kembali memakainya.
Bagaimana ia harus bersikap di depan pewaris itu?
“Gimana? Wawancaranya lancar?”
Ophelia mengangkat jempol. “Sukses. Walaupun kayaknya mereka agak kesal karena Ibuku telat masuk.”
“Bagus deh,” Airin menghela nafas. “Aku nunggu dari tadi, kukira wawancaramu tidak akan selama itu. Punyaku bahkan tidak sampai lima menit.”
Ophelia menahan diri untuk tidak mengeluarkan sarkasme.
“Oh.” Airin menarik Kaiser yang ada di sampingnya. “Ini Kaiser. Kaiser, ini Ophelia. Dia yang dapat peringkat satu itu lho. Dia juga jadi teman pertamaku disini.”
“Salam kenal,” senyum Ophelia.
Wajah pemuda itu datar, tidak menampilkan emosi apapun. Dia menatap Ophelia untuk beberapa detik sebelum mengangkat tangannya.
“Salam kenal juga.”
Ophelia menerima jabatan tangan itu.
Terlalu formal, terasa dipaksakan.
Dulu ketika pertama kali Ophelia bicara padanya adalah di pesta ulang tahun Kaiser yang ke-18. Dia terlihat seperti mayat hidup, dengan mata yang hampa.
Seperti manusia yang tidak punya jiwa.
Sekarang, tatapan mata itu berganti.
Dia masih memakai wajah datarnya, tentu. Tapi Ophelia tahu kalau setiap gerak geriknya sekarang sedang diamati.
Hm.
Ia harus belajar tersenyum lebih tulus.
“Kamu ‘nggak langsung pulang kan?” tanya Airin. “Aku sama Kaiser mau lihat-lihat gedung ekskul. Kamu mau ikut? Tadi kita nggak sempat kesana.”
“Boleh.”
Airin langsung sumringah.
“Kalau gitu bentar, aku mau telfon kak Aiden dulu.”
Gadis itu terlihat mengeluarkan ponselnya dan berjalan menjauh. Tapi sepersekian detik sebelum melewati Ophelia, Airin mengedipkan matanya beberapa kali.
Kode?
Apa dia pura-pura pergi supaya Ophelia bisa bicara berdua dengan Kaiser?
Ophelia membuka topi.
Dia memang punya rencana untuk mendekati keluarga Mahawirya sih, tapi itu masih di jauh-jauh hari.
Haruskah Ophelia tanya soal kakaknya Kaiser itu? Beritahu adiknya kalau ternyata saudaranya punya hubungan gelap dengan istri orang?
Tidak, itu terlalu gegabah.
“Kakakku, Chelsea. Kalau tidak salah dia satu kelas denganmu kan?” tanya Ophelia. “Dia bicara banyak tentangmu.”
Kaiser bahkan tidak menatapnya.
“Kalau tidak niat tersenyum lebih baik tidak usah,” ucapnya dingin. “Dan sebut saja maumu dariku apa. Jangan memanfaatkan Airin demi keuntunganmu begitu.”
Ophelia mengubah senyum palsunya menjadi seringai.
Begini, jauh lebih menarik.