Indonesia
NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KOMIK PERTAMA

Hari Selasa adalah hari yang dinanti-nanti. Hari di mana Raka dan kawan-kawan akan merampungkan hasil akhir dari komik pertamanya.

​Namun, di rumahnya, Raka masih tertidur lelap. Rasa lelah yang menumpuk dari kemarin membuat tubuhnya berat untuk bangkit, sampai akhirnya teriakan sang ibu terpaksa menjadi alarm kedua.

​"Raka! Bangun! Udah jam berapa ini?!"

​Terkesiap mendengar teriakan itu, Raka langsung meloncat dari tempat tidur dan buru-buru berlari ke kamar mandi. Ia membersihkan badan secepat yang ia bisa, mengenakan seragam sekolah dengan cekatan, lalu melesat ke meja makan. Setelah melahap sarapannya dalam beberapa suapan, Raka langsung berlari ke luar pintu dan menancap gas motornya agar tidak terlambat.

​Setibanya di sekolah, Raka memarkirkan motornya dengan sigap. Ia melangkah menuju gedung utama untuk masuk ke kelasnya.

​Di sepanjang koridor, Raka melihat riuhnya suasana pagi. Ada banyak siswa-siswi yang sedang berbincang di depan ruang guru, dan ada pula yang asyik duduk santai bahkan rebahan di atas rumput taman sekolah yang hijau.

​"Wah, gak kerasa udah tiga bulan gue sekolah di sini. Kapan-kapan gue ajak Alya sama Dimas ke taman itu lagi kali ya?" batin Raka. Ia lalu tersenyum tipis. "Ya... mungkin sekarang bakal ada anggota baru seperti Aira yang pengin ikut."

​Tanpa butuh waktu lama, Raka sudah sampai di koridor kelas 10. Ia sempat bergumam sendiri untuk mengusir rasa canggung sekaligus mengisi ulang energinya sebelum menghadapi maraton penyelesaian komik sore nanti.

​Begitu masuk kelas, Raka langsung merebahkan tubuhnya di kursi. Tepat saat ia mendaratkan bokongnya, Dimas yang baru saja tiba menyapanya ramah.

​"Halo, Rak!"

​"Ya, halo," sahut Raka sambil menoleh.

​Dimas mengamati wajah Raka sejenak. "Hmm, gue liat-liat kayaknya muka lu udah mendingan dari kemarin."

​"Ya, alhamdulillah. Apalagi hari ini penyelesaian akhir, kan?" Raka tersenyum tipis.

​"Iya, bener banget!" sahut Dimas bersemangat.

Lonceng sekolah akhirnya berbunyi, menandakan selesainya pelajaran pertama hingga ketiga. Tanpa membuang waktu, Raka dan Dimas langsung melangkah menuju ruang klub yang kini sudah resmi berganti nama menjadi Klub Desain dan Komik.

​Langkah Raka dan Dimas terhenti sejenak di depan pintu. Mereka sedikit kaget melihat plang kayu baru yang terpasang rapi di atas kosen.

​"Wah, sekarang udah ada plang namanya ya, Rak? Mirip orang mau buka toko aja, hahaha!" kelakar Dimas.

​"Iya juga, sih. Tapi jujur, jauhh lebih bagus ada plangnya begini daripada polos," sahut Raka sambil tersenyum.

​Tiba-tiba pintu berdecit terbuka. Aira muncul dengan setengah badan menyembul keluar, melambaikan tangan menyuruh mereka cepat. "Kalian ngapain berdiri di situ? Sini cepat masuk, gak usah dilihatin lama-lama!"

​"Oke, oke!"

​Mereka segera melangkah masuk. Seperti dugaan, sisa lembaran draf dan penyelesaian cerita tinggal sedikit lagi. Melihat sisa tugas yang ringan, otak Dimas dan Raka langsung memikirkan hal lain: refreshing main PS!

​Baru saja mereka hendak menyalakan konsol, Aira langsung menghampiri dengan berkacak pinggang. "Aduh, kenapa kalian malah mau main?"

​"Lah, refreshing lah! Dari kemarin lelah gila, masa gak boleh istirahat bentar?" balas Dimas agak kesal.

​Raka ikut menimpali membela rekannya. "Iya, bener kata Dimas. Kita main dulu sebentar, bikin bagian akhir mah gampang. Ya kan, Mas?"

​"Iya! Lagian lu kan udah ngajarin gue banyak hal, Ra. Masa iya seorang Aira yang pandai ngajar gak ngasih muridnya napas?" goda Dimas.

​Pipi Aira mendadak merona tipis. "A-apaan, sih! Bikin malu aja!"

​"Hahaha! Sisi lain lu kalau lagi malu bikin gue ngakak!" gelak Dimas.

​Alya yang memperhatikan drama kecil itu dari sudut meja hanya bisa tertawa kecil menahan geli.

​Aira menghela napas panjang menetralkan wajahnya. "Haa... Udahlah, Mas, gak usah mulai ribut. Kerjain ini dulu sampai tuntas, baru kalian boleh main sepuasnya."

​"Siap, Bos!" sahut Dimas dan Raka serempak.

​Proses penuntasan komik pun dimulai. Di sela-sela memegang pena, Dimas rajin mengajak ngobrol. Trik cerdiknya itu bukan cuma buat memperpanjang waktu santai, tapi juga membantu otaknya memahami alur Secercah Cahaya. Benar saja, dalam suasana rileks, pikiran mereka makin tenang dan ide-ide penutup mengalir deras tanpa hambatan.

​Hingga akhirnya, goresan terakhir selesai dilesakkan.

​Pekerjaan resmi beres! Mereka bergotong-royong merapikan kertas-kertas sisa yang tidak terpakai, memasukannya ke dalam box kardus untuk disimpan. Siapa tahu suatu saat bisa dimanfaatkan kembali.

​Selesai beberes, Raka dan Dimas tanpa buang waktu langsung melesat ke depan layar monitor untuk menyalakan PS. Melihat antusiasme kedua laki-laki itu, Aira dan Alya yang tadinya cuma menonton mendadak tertarik untuk ikut bergabung.

​Suasana ruang klub langsung pecah. Keempatnya duduk melingkar, berdebat heboh memilih game, hingga tertawa lepas melihat tingkah satu sama lain yang mendadak kekanak-kanakan. Ruangan kecil itu dipenuhi tawa, candaan, kejahilan, dan kehangatan yang begitu pekat. Seolah-olah tidak ada satu pun masalah sekolah yang sanggup mengusik kebahagiaan mereka saat itu.

​Setelah beberapa ronde permainan yang intens, mereka akhirnya terkulai terengah-engah.

​"Haa... Udah, udah! Capek banget mainnya!" seru Aira sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

​"Lah, kok udahan?" tanya Dimas.

​"Capek tahu ngeladenin kalian berdua yang bikin ribut terus!" omel Aira, meski bibirnya masih terkembang tersenyum.

​Dimas tertawa lebar, lalu menoleh ke arah Raka. "Hahaha! Yaudah, kalau gitu kita ke kantin aja yuk, Rak!"

​"LETSGO!" seru Raka bersemangat.

​Mereka mematikan konsol, merapikan kabel, dan meletakkan kaset game kembali ke atas meja. Dengan perasaan lega luar biasa karena tugas komik pertama mereka telah selesai, Raka dan Dimas memakai sepatu di depan pintu.

​Langkah kaki mereka membawa mereka menuju kantin. Di sepanjang koridor, obrolan mengalir santai—Raka yang antusias membahas alur video game yang baru ia tonton, sementara Dimas sibuk mengomel menceritakan rank game-nya yang baru saja turun musim.

Sesampainya di kantin, suasana sudah cukup ramai. Mereka segera memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing, lalu mencari meja kosong di sudut ruangan.

​Begitu mangkuk dan piring tersaji, bau harum makanan langsung membangkitkan selera.

​"Mantap, ini baru enak!" seru Raka sambil memegangi sendoknya.

​"Ya mestilah enak, Rak!" balas Dimas dengan mulut yang masih penuh mengunyah makanan.

​Aira yang duduk di seberang Dimas langsung menatapnya ilfil. "Aduh, makan tuh jangan sambil ngomong, kenapa sih? Berantakan tahu!"

​"Ngatur banget lu, Aira! Emangnya lu siapanya gue?" kesal Dimas tak mau kalah.

​Raka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua temannya itu. "Udah, udah, jangan ribut di depan makanan."

​Alya yang duduk di sebelah Aira cuma bisa tertawa pelan menikmati suasana. Mereka pun mulai menyantap cemilan dan makanan utama dengan lahap.

​Namun, dasar Dimas. Peringatan Aira tadi masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Di sepanjang obrolan, Dimas masih saja asyik nyerocos dengan mulut penuh. Akibatnya, uhuk! Dimas mendadak tersedak hebat hingga matanya berkaca-kaca.

​Melihat Dimas yang kelimpungan memegangi lehernya, Aira refleks panik dan buru-buru menyodorkan gelas minuman ke arah Dimas. "Tuh, kan! dibilangin juga apa! Nih, minum cepat!"

​Dimas langsung merebut gelas itu dan meneguknya cepat sampai habis. Kejadian spontan itu sukses membuat meja mereka diisi gelak tawa dan kekonyolan. Meski Dimas hobi mendebat nasihat Aira, pada akhirnya Aira juga yang paling cepat menolongnya.

Canda tawa di kantin siang itu seolah menjadi hadiah kecil atas kerja keras mereka beberapa minggu terakhir. Lembar demi lembar draf komik Secercah Cahaya yang dulu hanya berupa coretan ide di atas kertas, kini telah resmi rampung dan siap diperkenalkan ke dunia.

Di balik riuhnya tawa Dimas yang masih sibuk mengomeli Aira, serta Raka dan Alya yang tak henti-hentinya tersenyum, ada rasa lega yang membuncah di dada mereka. Langkah pertama yang paling sulit telah berhasil mereka lompati bersama.

Malam nanti, komik Secercah Cahaya akan resmi diunggah. Sebuah petualangan baru di dunia kreator siap dimulai—tanpa mereka sadari, babak promo yang penuh ujian sudah menanti di depan mata.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!