Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : DERMAGA HARAPAN BARU
Dua tahun berlalu sejak gema ikrar pernikahan di tepi pantai Teluk Mutiara diucapkan.
Waktu berjalan dengan keanggunan yang menenangkan di pesisir selatan itu. Desa Teluk Mutiara tidak lagi menjadi tempat terisolasi yang terlupakan, tetapi juga tidak berubah menjadi kawasan komersial yang bising. Di bawah perlindungan sertifikat konservasi yang dihibahkan oleh Aletta Foundation, hutan mangrove tumbuh makin lebat, benteng batu karang terawat sempurna, dan lautan membiru jernih memberi makan ratusan keluarga nelayan.
Sekolah desa di bawah bukit kini telah menjelma menjadi pusat pendidikan pesisir yang dipuji di tingkat provinsi. Bangunan kayu aslinya tetap dipertahankan, namun kini dilengkapi dengan laboratorium komputer bertenaga surya dan perpustakaan lengkap. Anak-anak desa tidak lagi bercita-cita sekadar menjadi penonton kemajuan kota, melainkan tumbuh menjadi generasi yang percaya diri akan masa depan mereka sendiri.
Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke samudra luas, rumah panggung kayu beratap rumbia milik Ethan Austin dan Azahra Aletta makin terasa hangat. Pohon-pohon mangga dan mawar kampung yang ditanam dua tahun lalu kini telah tumbuh rindang, membingkai teras kayu dengan keasrian yang alami.
Sore itu, sinar matahari hangat membiaskan warna emas yang memukau di atas hamparan air laut yang tenang. Angin pesisir berhembus lembut, membawa harum aroma laut dan dedaunan basah.
Azahra Aletta melangkah keluar ke teras rumah bukitnya. Ia mengenakan gaun katun longgar berwarna kuning gading yang bersahaja. Rambut panjangnya terikat rapi ke belakang dengan pita kain sederhana. Wajahnya yang memancarkan ketenangan murni tampak makin berseri-seri. Tangan wanitanya perlahan mengelus perutnya sendiri yang kini telah membuncit hangat—sebuah kandungan berusia tujuh bulan yang membawa calon kehidupan baru di dalam keluarga kecil mereka.
Dari arah jalan setapak tanah di bawah bukit, suara langkah kaki yang tegap berirama terdengar mendekat.
Ethan Austin melangkah naik menyusuri tangga kayu bukit. Ia mengenakan kaos oblong katun putih yang bersih dan celana linen abu-abu santai. Di tangan kanannya, ia memikul sekeranjang kayu berisi buah-buahan segar yang baru dipetik dari kebun warga dan beberapa ekor ikan kakap segar hasil tangkapan Pak Basri.
Sosok Ethan kini benar-benar telah menyatu dengan tanah pesisir ini. Garis rahangnya yang tegas tak lagi memancarkan ketegangan dingin seorang penguasa korporasi, melainkan kehangatan dari seorang pria, seorang suami, dan calon ayah yang telah menemukan arti hidup yang sesungguhnya.
Mata kelabu Ethan mendongak, seketika berbinar terang saat menangkap sosok Azahra yang sedang berdiri memegang perutnya di teras.
Ethan meletakkan keranjang kayunya di samping tangga, lalu melangkah cepat menghampiri istrinya. Ia merangkulkan kedua tangannya yang hangat dan kuat secara berhati-hati di sekeliling pinggang Azahra dari belakang, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dada bidangnya.
Ethan menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya di bahu Azahra lalu mengecup pipi istrinya dengan kelembutan yang amat mendalam.
"Bagaimana keadaan si kecil hari ini, Sayang?" bisik Ethan hangat di telinga Azahra. "Tidak membuat ibunya kelelahan, kan?"
Azahra terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Ethan. Tangan Azahra menggenggam jemari tegap suaminya yang melingkar di atas perutnya.
"Dia sangat aktif sore ini, Ethan," jawab Azahra lembut, matanya berbinar haru. "Sepertinya dia tahu kalau ayahnya baru pulang membawa buah mangga kesukaannya."
Ethan tersenyum lebar. Ia memindahkan telapak tangan kanannya yang luas di atas perut Azahra, merasakan dorongan halus dan gerakan kecil dari dalam sana. Binar kebahagiaan sejati terpancar terang dari mata kelabu Ethan—sebuah kebahagiaan murni yang tak pernah bisa dibeli dengan triliunan rupiah, saham korporasi, atau gedung-gedung pencakar langit yang dulu mendominasi hidupnya.
"Aku baru saja bertemu Rendy di dermaga tadi siang," gumam Ethan pelan, mempererat pelukannya di tubuh Azahra. "Dia membawa surat pengiriman buku terbaru untuk sekolah sekaligus kabar dari Jakarta."
Azahra menoleh sedikit, menatap samping wajah suaminya. "Kabar dari James?"
Ethan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulus tanpa ada sedikit pun sisa kecemburuan di hatinya.
"James baru saja resmi dilantik menjadi Ketua Konsorsium Pendidikan Pesisir Nasional," cerita Ethan. "Dan pekan lalu, perahu perpustakaan terapung ke-50 milik yayasan baru saja berlayar di perairan Maluku Utara dan Papua. Dia memimpin pelayarannya sendiri."
Azahra terpaku sejenak, lalu sebuah senyuman haru yang sangat indah terukir di bibirnya. Matanya menatap garis horizon laut yang tak bertepi.
"Dia benar-benar telah menemukan takdirnya yang baru," bisik Azahra pelan dengan suara bergetar bahagia. "Dia tidak lagi mengejar bayang-bayang masa lalu, tetapi membangun masa depan untuk banyak orang."
"Ya," sahut Ethan mantap. "Dia telah menjadi pria yang jauh lebih hebat dari siapapun yang pernah kukenal."
Ethan perlahan memutar tubuh Azahra agar mereka saling berhadapan di bawah naungan sinar emas matahari terbenam. Jemari tegap Ethan mengusap lembut pipi Azahra, menatap lurus ke dalam mata jernih wanita yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya.
"James telah menemukan takdirnya di lautan luas..." bisik Ethan dengan suara baritonnya yang rendah dan tulus, "...dan aku telah menemukan seluruh semesta, tujuan, dan rumahku di sini... di dalam pelukanmu, Azahra."
Azahra menatap mata kelabu Ethan yang dipenuhi oleh cinta tanpa syarat. Tidak ada lagi trauma kebohongan, tidak ada lagi ketakutan akan intrik masa lalu, dan tidak ada lagi dinding pemisah di antara mereka. Seluruh luka lama telah terobati sepenuhnya oleh waktu, ketulusan, dan keikhlasan.
Azahra menginjitkan kakinya sedikit, merengkuh leher Ethan, dan mendaratkan sebuah kecupan manis dan hangat di bibir suaminya. Ethan membalas kecupan itu dengan kelembutan yang mendalam, memeluk tubuh istrinya erat-erat di bawah saksi bisu nyanyian angin laut dan gelombang ombak yang berdesir teratur.
Matahari sore perlahan-lahan tenggelam di batas ufuk barat, membiaskan spektrum warna jingga keemasan dan keunguan yang memukau di atas permukaan samudra raya. Langit pesisir Teluk Mutiara terbentang luas tanpa batas, menaungi rumah kayu di atas bukit itu dalam kedamaian mutlak.
Di bawah kepak langit yang sama, tiga jiwa yang dulu terkoyak oleh kemewahan, dendam, dan egoisme kini telah menemukan pelabuhan hidup mereka masing-masing. James Daniel berlayar membelah lautan demi membagikan harapan bagi anak-anak bangsa, sementara Ethan Austin dan Azahra Aletta berdiri berdampingan menyambut kehidupan baru di tepi pantai yang sunyi.
Cinta telah menyelesaikan tugasnya dengan sempurna—bukan dengan cara mengurung atau memenangkan pertaruhan ego, melainkan dengan cara membebaskan, menyembuhkan, dan menyatukan jiwa-jiwa yang tulus dalam kesederhanaan yang abadi.
SELESAI
(maaf jika tidak nyambung author sudah berusah semaksimal mungkin , terimakasih)