Indonesia
NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Boleh Minta Banyak Hal

Bella menatap Keira yang menguap di depan layar.

"Semalam tidak tidur?"

"Tidur. Kurang."

"Suami pulang, pola tidur rusak. Rumus lama."

Keira melempar tisu ke arahnya. Bella tertawa lalu mengingatkan bahwa Keira tidak harus menerima setiap ajakan keluarga atau lembur yang tidak penting.

"Kalau tak mau datang, bilang ada tenggat," katanya. "Kau tinggal sendiri enam tahun dan masih merasa harus menjawab semua orang."

"Aku tidak menjawab semua orang."

"Pesan Ko Fabian selalu kau baca."

Keira menatap layar ponselnya yang memang menampilkan dua pesan belum dibalas. Ia mematikannya.

Pesan pertama menanyakan jadwal makan keluarga. Pesan kedua menawarkan sopir. Tidak ada ancaman di sana, tetapi Keira mengenali pola lama: Fabian memberi bantuan yang tidak diminta, lalu memperlakukan penerimaannya sebagai kedekatan.

Keira mengetik jawaban singkat bahwa ia akan datang bersama Nathan sesuai undangan Mama. Ia menolak sopir dan tidak memberi alasan tambahan.

"Begitu lebih baik," kata Bella setelah membaca dengan izin. "Tidak harus memakai lembur sebagai alasan kalau kau memang tidak mau."

"Kau baru saja menyuruhku memakai lembur."

"Itu untuk orang yang belum siap berkata tidak langsung. Kau sudah siap."

Keira mengirim pesan tersebut. Tanda dibaca muncul segera, tetapi Fabian tidak membalas. Sunyi itu terasa lebih berat daripada kalimat.

Saat makan siang, Nathan menunggu di taman udara. "Tim, Lucas, dan Emma datang jam tujuh. Bi Surti memasak. Mereka pulang sebelum sepuluh."

"Bagus."

"Kau ingin makan apa sekarang?"

"Pho."

"Ada kedai Vietnam dua blok."

Mereka makan cepat lalu kembali ke NARA. Ivan telah mengubah sudut kantor Nathan menjadi ruang untuk dua orang. Ada dua cangkir pasangan, bantal leher, selimut, pelembap tangan, sandal, dan kotak camilan.

Keira berhenti di pintu. "Apa ini?"

Ivan berdiri tegak. "Perlengkapan untuk kenyamanan Mbak Keira."

"Aku tidak membutuhkan sandal berbulu di kantor."

"Saya bisa menggantinya."

"Jangan ganti. Kembalikan. Cangkir dan selimut boleh tinggal."

Nathan melihat dua cangkir bertuliskan Papa dan Mama, lalu menahan tawa. "Yang ini juga?"

"Kembalikan."

Ivan segera mencatat. "Baik."

"Dan jangan membeli kosmetik tanpa bertanya jenis kulit orang," tambah Keira.

"Baik, Mbak. Maaf."

Setelah Ivan keluar, Nathan mengangkat cangkir Mama. "Aku sebenarnya suka."

"Kalau begitu pakai sendiri."

Nathan menaruhnya kembali dengan kecewa.

Keira bekerja dari sofa sambil menunggu rapat Nathan selesai. Ia melihat cara suaminya berubah saat berbicara kepada tim. Nada menggoda lenyap. Instruksinya ringkas, matanya dingin, dan setiap angka harus punya sumber. Ketika rapat selesai, Nathan kembali mendekat dengan senyum yang hanya muncul untuknya.

Rapat membahas gelombang pelamar baru. Bu Ranti melaporkan beberapa kandidat memberikan portofolio terlalu sempurna, dengan riwayat kerja yang sulit diverifikasi. Nathan memerintahkan pemeriksaan ulang tanpa menyebut insiden Carl di depan staf baru.

"Tidak ada akses produksi sebelum pemeriksaan selesai," katanya. "Keterampilan bisa diuji. Motif harus dilihat dari konsistensi."

Tim mempertanyakan apakah jadwal peluncuran akan mundur. Nathan menolak mengorbankan keamanan untuk satu minggu lebih cepat. Keira mengamati bagaimana ia tidak meninggikan suara, tetapi seluruh ruangan langsung mengikuti.

Setelah peserta rapat keluar, Nathan membuka kancing manset dan menjatuhkan diri di kursi dekat sofa.

"Jadi Pak Nathan yang dingin itu memang ada," kata Keira.

"Dia hanya bekerja pada jam kantor."

"Sekarang masih jam kantor."

"Istriku ada di ruangan. Sistem berganti otomatis."

"NARA mencapai tujuh puluh lima persen dalam uji Turing internal," katanya.

"Artinya seperempat orang masih tahu mereka berbicara dengan mesin."

"Artinya tiga perempat tidak tahu."

"Kau optimistis."

Nathan duduk di lantai dekat sofa. "Cinta juga model yang terus belajar."

"Jangan mulai."

"Sebelum menikah, dataku berkata aku tidak suka orang mengganggu jadwal. Lalu satu ciuman membuat semua hasil prediksi berubah."

"Itu bukan sains."

"Itu anomali menarik."

Nathan mengusulkan membeli ranjang untuk kantor agar Keira bisa tidur siang. Keira menolak. Mereka berkompromi pada bantal datar dan selimut yang dapat disimpan di lemari.

"Kau sadar aku tidak akan selalu datang ke sini?"

"Aku tahu. Tapi kau boleh datang kapan pun."

Keira mengingat nasihat Bella. Orang yang tidak menyapa lebih dulu tidak perlu dipaksa menjadi dekat. Undangan tidak selalu menjadi kewajiban. Ia menyukai prinsip sederhana itu dan memutuskan memakainya pada pertemuan sosial berikutnya.

Pendingin ruangan berdengung. Setelah makan, matanya berat. Ia merebahkan kepala pada bantal yang disetujui dan menutup mata.

Nathan tetap bekerja tanpa suara. Beberapa menit kemudian, ia berlutut di samping sofa. Sehelai rambut Keira jatuh ke pipi.

Jarinya terangkat, berhenti satu sentimeter dari rambut itu.

"Hanya sekali," bisiknya pada diri sendiri.

Keira tidak bergerak. Nathan menahan napas, masih belum menyentuh.

Kemudian Keira membuka satu mata. "Kalau mau merapikan rambutku, tanya."

Nathan tertangkap basah, tetapi tidak menarik tangan. "Boleh?"

"Boleh. Satu helai."

Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga dengan sentuhan ringan. Keira kembali memejamkan mata.

"Ternyata aku boleh meminta banyak hal," bisik Nathan.

"Meminta, ya. Bukan selalu mendapat."

Nathan tersenyum dan kembali ke mejanya. Di sofa, Keira akhirnya tertidur tanpa merasa perlu menjaga setiap suara.

Selimut pilihan mereka menutupi kakinya, sementara cangkir bertuliskan Mama sudah hilang dari meja. Batas itu kecil, jelas, dan dihormati tanpa drama. Begitulah rasa aman mulai tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!