Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Kembar Tiga?!
"Pak Nathan?"
Nathan berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
Perawat membuka pintu UGD. "Pasien meminta Anda masuk."
Karina berbaring di ranjang pemeriksaan dengan infus di tangan. Wajahnya masih pucat, tetapi pendarahan sudah berkurang. Nathan mendekat dan langsung menggenggam jemarinya.
"Bagaimana?"
Karina tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada dokter perempuan yang berdiri di sisi monitor.
"Kami sudah melakukan tes darah awal," kata dokter. "Hasil beta hCG Ibu Karina positif."
Nathan mengernyit. "Artinya?"
"Kehamilan."
Ruangan mendadak sunyi.
Karina tertawa kecil, suaranya pecah. "Nggak mungkin, Dok. Saya sudah delapan tahun berobat. Tiga dokter bilang peluang saya hampir tidak ada."
"Sulit hamil bukan selalu berarti mustahil. Kami tetap perlu memastikan lokasi dan kondisi kehamilan melalui USG. Pendarahan bisa menjadi tanda ancaman keguguran, tetapi kita belum boleh menyimpulkan."
Nathan menatap Karina, lalu menghitung waktu dalam diam. "Malam di hotel..."
"Diam," bisik Karina.
Dokter memberi mereka waktu sebentar. Karina menutup wajah dengan tangan.
"Aku hamil?"
Nathan duduk di tepi ranjang. "Kita dengar dokter sampai selesai."
"Delapan tahun aku menunggu. Sekarang, saat aku sedang bercerai..."
"Kak, lihat aku."
Karina menurunkan tangan. Mata Nathan juga merah, tetapi genggamannya stabil.
"Apa pun hasil USG, kamu nggak sendirian."
Pemeriksaan dilakukan beberapa menit kemudian. Lampu diredupkan. Dokter menggerakkan alat USG sambil memperhatikan layar.
Nathan berdiri di dekat kepala Karina. Pada awalnya hanya terlihat bentuk hitam dan abu-abu yang tidak mereka pahami.
Dokter memperbesar gambar. "Kantung kehamilan berada di dalam rahim."
Karina menahan napas.
Sebuah bunyi cepat memenuhi ruangan.
Detak jantung.
Air mata langsung mengalir ke pelipis Karina. Selama bertahun-tahun, dia membayangkan suara itu. Tidak pernah sekalipun dia percaya akan benar-benar mendengarnya.
Karina teringat ruang tunggu klinik pertama. Perempuan-perempuan lain datang dengan suami, membawa map pemeriksaan dan harapan yang sama. Setiap bulan dia menghitung masa subur, mengatur jadwal kerja, minum obat yang membuat tubuhnya membengkak, lalu menatap satu garis pada alat tes.
Pada tahun kelima, dia berhenti membeli pakaian bayi diam-diam. Pada tahun kedelapan, dokter menyarankan agar mereka menerima kemungkinan hidup tanpa anak. Andri memeluknya di parkiran, tetapi malam itu juga tidur di ruang tamu karena Mama Kusnadi kembali menelepon.
Semua kegagalan itu sekarang berkumpul menjadi satu suara cepat dari monitor.
"Boleh saya dengar lagi?" tanya Karina.
Dokter menaikkan volume sebentar. Karina menggenggam tangan Nathan. Dia tidak sadar melakukannya sampai Nathan membalas genggaman tersebut dengan hati-hati.
"Ada satu?" tanya Nathan.
Dokter tidak langsung menjawab. Dia mengubah sudut alat, lalu memanggil perawat untuk melihat monitor.
"Ada masalah?" Nathan menegang.
"Tunggu sebentar."
Satu bentuk kecil tampak. Lalu bentuk kedua.
Dokter menggerakkan kursor lagi.
"Ibu Karina," katanya perlahan, "saya melihat tiga embrio dengan denyut jantung."
Karina berkedip. "Tiga?"
"Kehamilan kembar tiga. Dari gambaran awal, kemungkinan identik, tetapi perlu evaluasi lanjutan untuk memastikan pembagian plasenta dan kantung ketuban."
Nathan menatap layar seolah tidak memahami bahasa manusia.
"Kembar tiga?" ulangnya.
Dokter tersenyum tipis. "Iya. Tiga."
Nathan menghitung bentuk di monitor dengan telunjuk. "Satu, dua... tiga."
Karina tertawa sekaligus menangis. Tangannya menutup mulut. Delapan tahun kosong, lalu hidup memberinya tiga detak jantung sekaligus.
Kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ketakutan datang.
"Darah tadi bagaimana?"
Ekspresi dokter kembali serius. "Ada tanda ancaman keguguran. Kehamilan kembar tiga termasuk risiko tinggi. Ibu perlu dirawat setidaknya malam ini, istirahat ketat, dan kontrol teratur dengan dokter spesialis obstetri."
Dia menjelaskan bahwa Karina harus menghindari naik turun tangga, mengangkat beban, perjalanan melelahkan, dan hubungan intim selama trimester pertama. Jika pendarahan bertambah, muncul nyeri hebat, demam, atau pusing berat, Karina harus segera kembali ke UGD.
"Apa semuanya akan selamat?" tanya Karina.
Dokter menarik kursi agar sejajar dengan ranjang. "Saya tidak bisa memberi jaminan. Pada kehamilan kembar tiga, risiko keguguran, kelahiran prematur, tekanan darah tinggi, dan gangguan pertumbuhan memang lebih besar. Tapi saat ini ketiganya memiliki denyut. Itu yang kita jaga."
"Apa pendarahan tadi karena kami..."
Karina tidak mampu menyelesaikan kalimat. Nathan mengambil alih. "Kami sempat berciuman dan dia berdiri cepat. Sebelumnya perutnya sudah kram sejak pagi."
Dokter mengangguk tanpa menghakimi. "Jangan menyalahkan satu gerakan. Perdarahan bisa punya banyak sebab. Yang penting mulai sekarang ikuti pembatasan. Tidak ada hubungan intim sampai dokter menyatakan aman."
Nathan langsung menjawab, "Baik."
Karina meliriknya. "Cepat sekali."
"Aku lebih suka menunggu daripada kehilangan mereka."
Dokter menuliskan obat dan jadwal kontrol. Karina perlu pemeriksaan darah lanjutan, USG ulang, serta konsultasi dengan Sp.OG yang menangani kehamilan risiko tinggi. Makan dalam porsi kecil, cukup cairan, asam folat, dan istirahat bukan sekadar saran, tetapi bagian dari perawatan.
"Apakah Ibu punya keluarga yang bisa mendampingi?"
Karina dan Nathan saling pandang.
"Saya bisa," kata Nathan.
"Anda tinggal bersama?"
"Belum," jawab Karina.
"Mulai besok," kata Nathan pada saat yang sama.
Dokter menahan senyum. "Silakan selesaikan pembicaraan itu sendiri. Yang jelas, Ibu Karina jangan tinggal tanpa bantuan selama masih ada risiko pendarahan."
"Apartemennya lantai enam tanpa lift," kata Nathan.
Dokter menatap Karina. "Itu tidak ideal. Untuk sementara, sebaiknya tinggal di tempat yang aksesnya lebih aman atau ada orang yang membantu."
"Saya bekerja," kata Karina. "Saya nggak bisa hanya berbaring berbulan-bulan."
"Kita tidak bicara berbulan-bulan tanpa evaluasi. Fokus sekarang melewati fase perdarahan dan trimester awal. Setelah itu aktivitas disesuaikan hasil kontrol."
Nathan mengangguk seolah semua keputusan sudah berada di tangannya. "Saya urus."
Karina menoleh. "Jangan memutuskan sendiri."
"Kamu mau naik enam lantai setiap hari sambil membawa tiga bayi?"
"Mereka belum bayi."
Dokter menyela dengan tenang. "Perdebatan boleh dilanjutkan setelah Ibu tidak pendarahan. Malam ini, istirahat."
Setelah dokter pergi, Nathan mengambil cetakan USG. Tiga titik kecil diberi tanda.
"Ini benar-benar anak kita?" tanyanya.
"Menurutmu anak siapa?"
"Aku cuma masih nggak percaya."
Karina merebut hasil USG, lalu memeluknya ke dada. "Aku juga."
Keheningan berikutnya berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi antara dua orang yang berusaha melupakan satu malam, melainkan dua orang yang terikat oleh tiga kehidupan kecil.
"Andri harus tahu?" tanya Nathan.
Tubuh Karina menegang. "Belum. Tidak ada yang boleh tahu sebelum kondisinya aman."
"Kevin?"
"Belum."
"Orang tuamu?"
"Belum."
Nathan mengembuskan napas. "Jadi cuma kita."
"Dan dokter."
"Aku suka bagian cuma kita."
Karina memelototinya, tetapi senyum kecil muncul di bibir Nathan. Dia menaruh telapak tangan di atas selimut, dekat perut Karina tanpa menyentuh.
"Boleh?"
Karina ragu, lalu mengangguk.
Tangan Nathan mendarat sangat ringan. Tidak ada perubahan yang bisa dirasakan dari luar, tetapi ekspresinya berubah. Semua kenakalan lenyap.
"Tiga," bisiknya. "Aku bikin tiga sekaligus."
"Jangan bangga dulu. Aku yang harus mengandung."
"Aku akan bantu."
"Caranya? Kamu ikut mual?"
"Kalau bisa, iya."
Jawaban itu terlalu tulus untuk ditertawakan.
Karina menatap wajah muda di samping ranjang. Dia belum menyelesaikan perceraian. Nathan masih kuliah. Mereka bahkan belum mampu melewati satu makan malam di depan Kevin tanpa saling mengancam.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," katanya.
"Kamu mau mereka?" tanya Nathan.
Karina memeluk hasil USG lebih erat. "Aku menunggu mereka hampir sepertiga hidupku."
"Bukan itu maksudku. Jangan jawab karena penantian, orang tua, atau apa kata orang. Kamu sendiri mau?"
Pertanyaan itu membuat Karina diam. Dia takut pada kehamilan berisiko, takut sidang cerai berubah menjadi skandal, takut Nathan akan sadar bahwa usia dua puluh terlalu muda untuk menjadi ayah tiga anak. Namun saat membayangkan tiga detak tadi berhenti, dadanya seperti diremas.
"Mau," bisiknya. "Aku mau semuanya."
Nathan mengangguk. "Kalau begitu kita mulai dari sana."
"Kamu juga punya pilihan."
"Aku sudah memilih malam itu. Aku cuma belum tahu hasilnya akan sebanyak ini."
Karina tertawa kecil, lalu meringis ketika perutnya kembali kram. Nathan langsung menekan bel perawat. Kepanikan di wajahnya begitu nyata sampai Karina justru harus menenangkannya.
Perawat memeriksa infus dan memastikan nyeri masih dalam batas yang dipantau. Setelah lampu diredupkan, Nathan menarik kursi rapat ke ranjang.
"Pulanglah," kata Karina. "Besok kamu kuliah."
"Aku bisa kuliah dari sini."
"Kamu nggak membawa buku."
"Aku anak pintar."
Karina memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, dia merasakan Nathan masih menggenggam ujung jarinya, seolah takut tiga detak kecil itu akan menghilang jika dia melepaskan.
Nathan merapikan selimutnya. "Pertama, kamu istirahat. Besok kita cari dokter terbaik dan tempat tinggal yang aman."
"Lalu?"
Nathan terdiam cukup lama. Tatapannya turun pada hasil USG, kemudian kembali ke mata Karina.
Di luar jendela, langit mulai berubah pucat. Malam yang dimulai dengan tuntutan menghapus satu foto berakhir dengan cetakan gambar lain di tangan mereka. Foto pertama adalah kesalahan yang ingin Karina lenyapkan. Gambar USG ini justru ingin dia simpan seumur hidup.
Nathan mengambil ponselnya dan memotret hasil tersebut setelah meminta izin. Dia membuat satu folder baru, memberi nama Tiga Keajaiban, lalu menunjukkan layar kepada Karina.
"Nggak ada yang boleh melihat," kata Karina.
"Aku kunci. Cuma kita."
"Dan dokter."
"Dokter nggak masuk grup keluarga."
Karina hampir memukul lengannya, tetapi urung ketika melihat Nathan mencium gambar tiga titik kecil itu dengan mata lembap.
"Lahirkan," katanya mantap. "Aku akan menjaga kalian semua."