Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Dia Bukan untuk Kalian

Nara

Aku menemukan Sekar berjongkok di tepi gang dengan wajah basah.

Satu jam sebelumnya, Bu Tumi mengirim pesan singkat. Keluarga lelaki itu datang hari ini. Beliau tidak meminta bantuanku. Mungkin hanya ingin aku tahu bahwa kalau terus diam, orang lain akan datang dengan niat yang lebih jelas.

Aku mencoba bekerja. Gagal.

Akhirnya aku menyetir sendiri ke alamat Bu Tumi dengan alasan memastikan Sukir tidak muncul. Kebohongan itu bertahan sampai aku melihat Fajar dan orang tuanya keluar dari gang. Bu Yanti masih bicara keras, cukup keras untuk didengar tetangga.

"Anak pembantu berani sekali menolak keluarga kita. Bibitnya bermasalah, sikapnya juga tidak tahu diri."

Lalu aku melihat Sekar di dekat tembok.

Bahunya bergerak tanpa suara. Tangannya menutup mulut seolah bahkan tangis pun harus disembunyikan agar tidak mengganggu orang.

Dadaku terasa dihantam.

Aku berjalan melewati Sekar lebih dulu dan berhenti di depan keluarga Fajar.

"Bu," kataku. "Kalau cuma mau menghina orang, tak usah repot-repot datang ke sini."

Bu Yanti berhenti. Matanya membesar ketika mengenaliku. "Den Nara?"

Fajar menoleh ke arah Sekar, lalu kembali kepadaku. Wajahnya pucat.

"Ini urusan keluarga," kata Bu Yanti setelah menemukan suaranya. "Kami cuma menyampaikan ketidakcocokan."

"Ketidakcocokan bisa disampaikan tanpa merendahkan pekerjaan, pendidikan, dan orang tua seseorang."

"Den tidak mendengar seluruh pembicaraan."

"Saya mendengar cukup banyak dari ujung gang."

"Den tidak punya hubungan dengan kami," katanya. "Kenapa ikut campur?"

"Karena penghinaan Ibu terjadi di depan orang yang berada dalam perlindungan rumah kami."

"Perlindungan? Dia pegawai, bukan keluarga."

"Status kerja tidak menghapus martabat."

Bu Yanti memandang mobilku yang parkir di jalan besar, lalu kemeja dan jam tanganku. Aku melihat perhitungannya berubah. Jika aku hanya tetangga biasa, mungkin dia sudah meninggikan suara. Nama Adiwijaya memaksanya menahan lidah, dan itu justru membuktikan bahwa kesopanannya bergantung pada kedudukan lawan bicara.

"Kami tidak bermaksud menghina," katanya lebih pelan. "Kami cuma realistis. Pernikahan menyatukan dua keluarga."

"Realistis tidak berarti kejam. Ibu boleh menolak. Sekar juga boleh menolak. Tidak satu pun dari pilihan itu membutuhkan kalimat bahwa hidupnya tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan."

Seorang penjual di ujung gang berhenti menata botol. Bu Yanti menyadari semakin banyak orang mendengar. Wajahnya memerah.

Suaminya menyentuh lengan Bu Yanti, meminta diam. Namun perempuan itu merasa martabatnya dipertaruhkan di depan tetangga.

"Kami keluarga baik-baik. Wajar mencari menantu yang sepadan. Fajar punya pekerjaan, pendidikan, dan nama keluarga. Gadis itu cuma ART yang menumpang tinggal di rumah orang."

Aku mengambil satu langkah mendekat. Suaraku justru menjadi lebih rendah.

"Dia bekerja di rumah keluarga saya. Artinya saya tahu persis bagaimana dia menjalankan tanggung jawab. Sekar merawat bayi delapan bulan dengan sabar, mengatur pekerjaan tanpa mencuri satu rupiah, dan tetap mencari cara belajar meski hidup tidak pernah memberinya kemudahan. Apa yang Ibu tahu selain jawaban dari lima pertanyaan?"

Bu Yanti membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

"Saya tidak menyetujui cara Ibu bicara," kata Fajar. "Saya sudah meminta maaf kepada Mbak Sekar."

Aku menatapnya. Kecemburuan membuatku ingin menyalahkan lelaki itu juga. Namun dari wajahnya terlihat jelas dia sudah melawan ibunya dan kehilangan kesempatan karena menghormati keputusan Sekar.

"Kalau begitu pastikan keluarga Anda pergi tanpa menambah luka," kataku.

Bu Yanti memandang putranya tidak percaya. "Kau diam saja saat orang luar menegur ibumu?"

"Den Nara benar soal ucapan Ibu."

"Kau bahkan baru mengenal perempuan itu."

"Karena baru mengenal, saya tidak berhak memaksanya menerima penghinaan."

Ada kejujuran dalam jawaban Fajar yang membuatku menghormatinya sekaligus semakin tidak menyukainya. Dia lelaki baik. Dalam keadaan berbeda, mungkin dia bisa memberi Sekar hidup yang jauh lebih sederhana daripada dunia keluargaku.

Pikiran itu menyalakan rasa panas di dada.

Bu Yanti menunjuk ke arah Sekar. "Kalau Den begitu membelanya, ambil saja. Jangan biarkan dia mengganggu keluarga orang lain."

"Bu!" Fajar berseru.

Aku menahan diri agar tidak membalas dengan kemarahan mentah. Sekar bukan barang yang bisa diambil atau diserahkan.

"Dia tidak mengganggu siapa pun," kataku. "Putra Ibu yang meminta kesempatan. Sekar sudah menolak dengan jelas."

"Den tahu dari mana?"

Pertanyaan itu membuat gang kembali sunyi. Tetangga berpura-pura menyapu dan mengatur dagangan, tetapi telinga mereka mengarah kepada kami.

Aku tahu dari laporan Bu Tumi dan dari cara Sekar menatap mobilku sepuluh hari lalu. Aku tahu karena aku terlalu peduli pada siapa yang berdiri dekat dengannya.

Namun aku tidak akan mengumumkan perasaan kami di depan orang asing.

"Saya tahu karena dia bekerja di rumah kami dan keselamatannya menjadi tanggung jawab kami," jawabku. "Satu hal lagi, Bu. Dia bukan untuk kalian. Titik."

Bu Yanti tersentak. Kalimat itu lebih memiliki daripada yang kurencanakan. Aku tidak menariknya kembali.

Sekar mengangkat wajah. Dari jarak beberapa meter, matanya yang basah menatapku seolah aku baru mengucapkan sesuatu yang belum sanggup dia pahami.

Fajar mengikuti tatapanku. Kesadaran perlahan muncul di wajahnya.

"Saya mengerti," katanya pelan.

Aku tidak yakin dia memahami batas yang sebenarnya. Sekar belum menjadi milikku dan aku tidak punya hak menandainya demikian. Kalimatku berarti dia bukan orang yang pantas mereka nilai lalu buang, bukan pengakuan kepemilikan.

Tetapi bagian paling jujur dalam diriku juga tahu aku tidak tahan membayangkan Sekar menjadi bagian keluarga lelaki lain.

Ayah Fajar akhirnya membawa istrinya menuju kendaraan. Bu Yanti masih hendak berdebat, tetapi Fajar membuka pintu untuknya.

Sebelum masuk, Fajar menoleh kepada Sekar. "Sekali lagi, saya minta maaf. Saya tidak akan mengganggu Mbak lagi."

Sekar mengangguk lemah.

Setelah kendaraan mereka pergi, tetangga perlahan kembali ke rumah masing-masing. Gang menyisakan suara televisi, wajan dari warung, dan napas Sekar yang patah-patah.

Aku mendekatinya.

"Bisa berdiri?"

Dia mencoba, tetapi lututnya goyah. Aku menahan siku tanpa menariknya paksa. Setelah dia tegak, kami berdiri terlalu dekat di sisi tembok kusam.

"Den datang untuk apa?" tanyanya.

"Memastikan Sukir tidak muncul."

"Bohong."

Aku terdiam.

"Bu Tumi mengabari Den?"

"Ya."

"Kenapa beliau mengabari Den?"

"Karena mungkin semua orang selain kita lelah melihat kita berpura-pura tidak peduli."

Pipinya memerah di balik bekas air mata. Aku mengangkat tangan, lalu berhenti beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Boleh?"

Dia tidak langsung menjawab. Kemudian dagunya turun sedikit.

Aku menyeka air mata di pipinya dengan ibu jari. Kulitnya dingin, sedangkan tanganku terasa terlalu panas. Gerakan sederhana itu membuat seluruh gang seperti menghilang.

"Jangan biarkan orang seperti mereka membuatmu ragu pada dirimu sendiri," kataku.

"Mereka tidak sepenuhnya salah. Saya memang tidak punya rumah, ijazah, atau keluarga baik."

"Itu daftar keadaan, bukan nilai dirimu."

"Keadaan menentukan cara orang memperlakukan saya."

"Untuk sementara."

Dia menatapku tidak percaya. "Den pikir semua bisa berubah dengan uang?"

"Tidak. Tapi kemampuan bisa dipelajari, tabungan bisa dibangun, dan rumah bisa dicari. Yang tidak bisa dibeli adalah keberanianmu pergi saat dipaksa menikah dan tetap bekerja setelah semua orang mencoba membuatmu malu."

Napasnya tersendat. Aku melanjutkan sebelum kehilangan keberanian.

"Kau menyelamatkan dirimu sendiri jauh sebelum bertemu saya. Jangan biarkan kedatangan saya hari ini menghapus itu. Saya hanya berdiri di sampingmu ketika kau sedang lelah."

"Saya tadi menangis."

"Menangis bukan berarti gagal menyelamatkan diri."

Matanya kembali berkaca-kaca. Kali ini dia tidak menutup wajah. Dia membiarkan air mata berikutnya jatuh, lalu menghapusnya sendiri.

"Saya bilang kepada Bu Yanti bahwa saya bangga karena pergi dari Bapak," katanya.

"Bagus."

"Suara saya gemetar."

"Tetap terdengar."

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, bahunya tidak lagi tampak seperti menahan seluruh tembok gang.

"Bagi keluarga Den, daftar itu juga penting."

Kalimatnya menusuk lebih tajam karena benar.

"Saya bukan keluarga Fajar," jawabku.

"Tapi Den belum pernah bilang Den berbeda."

Aku menarik tangan. Inilah kesempatan untuk mengatakan semuanya. Gang terbuka, Bu Tumi berdiri di balik tirai, dan Sekar menatapku dengan mata yang masih merah. Namun mengaku sekarang, ketika dia baru saja dihina dan diselamatkan, akan membuat perasaanku terdengar seperti utang yang harus dibayar.

"Saya akan membuktikannya dengan tindakan," kataku. "Bukan meminta jawaban saat kau sedang terluka."

"Lalu maksud Den, saya bukan untuk mereka?"

Aku menatapnya. "Maksud saya, kau bukan orang yang bisa mereka datangi, nilai, hina, lalu buang."

"Hanya itu?"

Pertanyaan lirih itu menahan napasku.

"Untuk sekarang," jawabku.

Ada bayangan senyum yang sangat kecil di bibirnya, bercampur kecewa dan lega. Aku ingin menghapus kata untuk sekarang, tetapi memilih menepati satu batas terakhir.

Aku menyentuh ujung jilbabnya yang basah karena air mata, lalu melepaskannya.

"Pulanglah setelah tenang. Saya tunggu di mobil supaya tidak ada yang mengganggu."

Sekar mengangguk. Sebelum masuk ke rumah Bu Tumi, dia menoleh sekali lagi.

Tatapannya tidak lagi sepenuhnya hancur. Ada pertanyaan di sana, pertanyaan yang sama dengan yang terus menggangguku sejak mobil melewati warung sepuluh hari lalu. Aku belum memberinya jawaban, tetapi hari ini aku berhenti berpura-pura bahwa pertanyaan itu tidak ada.

Aku menunggu pintu Bu Tumi tertutup, memastikan Sekar benar-benar berada di tempat aman itu.

Aku tetap berdiri di gang, menyadari kalimat yang tidak kusebut justru terdengar paling keras di antara kami.

1
sunaryati jarum
Bagus kau sudah bisa melawan ayahmu, yang seharusnya melindungi kamu Sekar
sunaryati jarum
Semoga berhasil
sunaryati jarum
Tuh kan sudah ada yang ngelamar.Apa Ratih suka sama Nara,kok benci sama
sunaryati jarum
Gitu dong angkat.martabatnys dulu agar tidak diremehkan , terutama Ratih.Emak itu ya kok banyak orang meremehkan karena pekerjaannya.Di tempat emak itu pembantu malah dijodohkan putranya.Tetanggaku pembantu pada seorang pejabat dijodohkan pada keponakannya,adik- adik pihak perempuan dibiayai pendidikan hingga kuliah dan bisa bekerja di pemerintahan
sunaryati jarum
Mungkin kalian berjodoh.Sekar kamu jangan menyiksa diri,lambung butuh diisi cukup tubuhmu butuh nutrizi.
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!