Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — Harta Karun di Tepi Sungai
Suara gemericik air sungai yang dingin mengalir di antara bebatuan berlapis es. Menjadi satu-satunya suara di pagi yang sunyi itu.
Uap tipis membumbung dari permukaan air.
"Ngh..." Yana menyapu air dingin ke wajahnya.
Ia sedang berendam perlahan di tepi sungai yang dangkal. Luka cakar di lengan kirinya sudah mulai mengering, dibebat kain bersih.
Dinginnya air sungai seolah membuang seluruh rasa lelah dari pertarungan kemarin.
Yana lalu menyandarkan punggungnya pada batu tebal di tepi sungai.
Matanya menatap lurus ke arah rumpun bambu hijau yang tumbuh subur di seberang air.
Daun-daun bambu melambai lambat ditiup angin utara.
"Perubahan yang dibarengi dengan menjaga alam..." gumam Yana pelan.
Kata-kata Dewa Binatang dari mimpinya semalam terus berputar di dalam kepala.
Ia lalu tersenyum tipis.
Mata cokelatnya menatap tajam ke arah aliran air jernih di bawahnya.
Di sana, di balik sela-sela bebatuan sungai, puluhan ikan berukuran sebesar lengan orang dewasa berenang bebas tanpa ada yang mengusik.
"Orang-orang suku selalu menganggap air ini beracun hanya karena binatang bertulang tajam di dalamnya," bisik Yana pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ingatan masa lalunya menyeruak.
Ikan. Bubu bambu. Perangkap air tradisional.
"Ah..." Yana memukul pelan dadanya sendiri.
"Kenapa aku baru teringat sekarang? Ini kan cara paling mudah untuk mendapatkan makanan tanpa harus membunuh binatang besar di hutan!"
.
Klek!
Klek!
Suara sembilu bambu yang dibelah bergema di pinggir sungai.
Yana sudah keluar dari air dan mengenakan mantel bulunya kembali. Dengan pisau batu yang tajam di tangannya, Yana mulai memotong batang-batang bambu muda itu menjadi bilah-bilah yang tipis.
Sret... Sret...
Jari-jarinya yang cekatan merangkai bilah bambu itu.
Ia merajutnya membentuk anyaman silinder dengan corong masuk melengkung di bagian dalam.
Prinsip dasar bubu: ikan bisa masuk dengan mudah mengikuti bau umpan, tetapi tidak akan pernah bisa keluar karena terhalang susunan bambu yang runcing di dalam.
.
Satu jam berlalu.
Dua jam berlalu.
.
Di tanah salju di samping Yana, lima buah bubu bambu berukuran sedang sudah tercipta dengan rapi.
"Selesai." Yana mengelap keringat tipis di dahinya.
Ia lalu memasukkan sisa-sisa jeroan burung dan sedikit umpan ke dalam tiap-tiap bubu.
Plop!
Plop!
Satu per satu bubu bambu itu ditenggelamkannya ke dasar sungai yang agak dalam. Ia mengikatkan tali serat kayu dari bubu ke batang pohon di tepi sungai agar tidak terbawa arus sungai yang deras.
"Sekarang... tinggal menunggu."
.
Dua jam kemudian.
Yana berjalan kembali ke tepi sungai sambil membawa wadah anyaman kulit yang besar.
Ia menarik tali serat kayu bubu pertama.
Keprak! Keprak!
Air sungai mendadak berkecipak hebat ketika bubu bambu itu terangkat ke permukaan!
"Wah..." mata Yana berbinar.
Di dalam bubu pertama saja, ada tiga ekor ikan bersisik perak berukuran besar yang meloncat-loncat dengan panik!
Yana menarik bubu kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Semua bubu terisi penuh!
Ikan-ikan segar bergeliat menumpuk di dalam wadah kulit yang dibawanya.
"Totalnya... hampir 7 kilogram!" Yana tersenyum puas melihat hasil tangkapanya.
Dengan 7 kg ikan ini, kebutuhan protein suku bisa terpenuhi untuk sementara waktu.
.
Bruk!
Yana meletakkan wadah kulit berisi ikan segar di atas meja kayu rumahnya.
Ia segera membersihkan sisik dan membuang jeroan ikan-ikan tersebut.
Daging ikan segar itu lalu dipanggang di atas bara api unggun besar dengan taburan garam batu serta rempah wangi hutan.
Srrr...
Aroma gurih yang luar biasa menggugah selera seketika menyeruak ke seluruh penjuru rumah.
Aroma daging panggang yang lembut, manis, dan berlemak tipis.
"Bau apa ini? Enak sekali..." kata Aron.
"Ayah! Kemarilah, makan siang sudah siap!" panggil Yana.
Aron keluar dari pintu kayu sambil mengusap pundaknya yang pegal usai merapikan benteng.
"Yana? Kamu memasak apa sampai aromanya menyengat seperti ini—"
Langkah Aron terhenti seketika.
Matanya membelalak lebar. Wajah tegap sang Kepala Suku mendadak pucat pasil bagai melihat hantu saat menatap isi piring kayu di atas meja.
"Y-Yana..." suara Aron gemetar hebat. "Apa... apa yang kamu letakkan di atas meja itu?!"
Yana mengerutkan kening heran. "Ikan panggang, Ayah. Aku baru saja menagkapnya dari sungai."
"APA?!" bentak Aron panik. Ia langsung melangkah maju dan membuang kayu penjepit dari tangan Yana!
Prak!
"Yana! Apa kamu sudah gila?!" teriak Aron dengan napas memburu, matanya menatap Yana dengan kepedulian dan ketakutan yang luar biasa.
"Ada apa, Ayah?" Yana bingung.
"Binatang bersisik dari air itu berduri tajam di dalam dagingnya!" seru Aron keras, memegang kedua bahu Yana. "Orang-orang tua zaman dulu mati tersedak karena duri beracun itu mencekik tenggorokan mereka! Binatang itu tidak bisa dimakan!"
Aron menatap wajah Yana dengan raut sedih yang mendalam.
"Yana... Ayah tahu kamu sangat sedih karena pembatalan pertunangan dengan Luka kemarin. Tapi jangan menyiksa dirimu sendiri dengan memakan racun seperti ini!"
Aron berpikir putri kesayangannya sedang frustrasi dan terganggu pikirannya akibat ditinggal oleh Luka dan Ayla.
Yana tertegun sejenak. Lalu, ia menghela napas panjang.
"Ayah... dengarkan aku dulu."
Yana mengambil sepotong daging ikan panggang yang masih hangat.
Dengan jarinya yang terampil, ia membelah daging putih yang lembut itu dan memisahkan susunan duri tengahnya dengan sangat mudah di depan mata Aron.
Sret.
Duri ikan terangkat utuh tanpa tersisa di dalam daging. Yana memasukkan sepotong daging ikan putih bersih itu ke dalam mulutnya sendiri. Ia mengunyahnya dengan santai.
"Lihat? Tidak ada duri. Rasanya sangat manis dan lembut, jauh lebih lezat daripada daging rusa yang keras."
Aron melongo. Matanya berkedip-kedip tak percaya melihat putrinya mengunyah dan menelan daging itu tanpa kesakitan sedikit pun.
"K-kamu... tidak tersedak?" tanya Aron dengan suara pelan.
"Tentu saja tidak," Yana menyodorkan sepotong daging ikan yang sudah bersih dari duri kepada ayahnya. "Cobalah sedikit, Ayah."
Dengan tangan gemetar, Aron menerima potongan daging itu. Ia memasukkannya ragu-ragu ke dalam mulut.
Mata Aron seketika membelalak lebar!
Tekstur lembut yang meleleh di lidah, rasa gurih alami berpadu dengan rempah garam...
"Ini... ini sungguh binatang berduri dari sungai itu?!" panggil Aron terkesima.
"Iya," jawab Yana sambil tersenyum tipis. "Binatang ini tidak beracun, Ayah. Orang-orang zaman dulu tersedak hanya karena mereka tidak tahu cara memisahkan durinya dari daging."
"Luar biasa..." gumam Aron, mengunyah cepat dan langsung mengambil potongan berikutnya. "Bagaimana kamu bisa menangkap ikan sebanyak ini sendirian tanpa senjata?"
Yana menunjuk ke arah lima bubu bambu yang tergeletak di dekat pintu.
"Aku membuat ini. Namanya bubu bambu. Kita hanya perlu menaruh umpan dan meninggalkannya di sungai. Ikan-ikan akan masuk sendiri tanpa perlu kita tunggu."
Aron menghentikan kunyahannya. Matanya yang tajam menatap bubu bambu, lalu menatap Yana dengan binar kagum yang membakar.
"Hanya dengan alat bambu ini... kita bisa mendapatkan makanan dari sungai kapan saja?"
"Bahkan saat musim badai salju sekalipun, ikan di dasar sungai tetap ada," tambah Yana tegas.
Aron mengepalkan tangannya rapat-rapat. Pikirannya langsung melayang pada kondisi suku yang sedang kekurangan bahan makanan akibat kepergian para pemburu.
"Yana!" tegas Aron. "Nanti sore, kumpulkan seluruh wanita dan remaja suku di lapangan!"
"Untuk apa, Ayah?"
"Aku ingin kamu mengajari para wanita suku cara membuat bubu bambu ini!" seru Aron penuh semangat. "Jika para wanita bisa menangkap puluhan kilogram ikan setiap hari dari sungai, suku kita tidak akan pernah kelaparan lagi!"
****
Sore harinya.
Puluhan wanita suku berkumpul di lapangan dengan wajah penasaran. Di tengah-tengah mereka, Yana memegang belahan bambu, memperagakan cara merajut anyaman bubu dengan sangat teratur.
Para wanita tampak takjub melihat alat sederhana yang bisa menghasilkan makanan melimpah itu.
Namun, di saat suasana suku mulai membaik dan dipenuhi harapan baru...
Srrr...
Angin utara mendadak bertiup sangat kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
DUK! DUK! DUK!
Suara ketukan keras bergema dari pintu gerbang utama pemukiman.
"Buka gerbang! Tolong!" teriak sebuah suara dari luar.
Paman Bimo dan para penjaga segera berlari ke atas menara pengawas.
Ketika Paman Bimo mengintip ke luar gerbang melalui celah kayu, wajahnya seketika memucat bagai kertas.
Di luar gerbang yang tertutup rapat, berdiri seorang pemuda pengikut Luka dengan tubuh berselimut darah segar dan mantel yang robek-robek parah.
"Paman Bimo! Tolong kami!" jerit pemuda itu histeris dari balik gerbang.
"Apa yang terjadi?!" teriak Paman Bimo dari atas.
Pemuda itu jatuh berlutut di atas salju, air matanya menetes bercampur darah.
"Luka... Ayla... dan kelompok Suku Rubah... kami dijebak!"
Yana dan Aron yang baru tiba di depan gerbang langsung menghentikan langkah.
Pemuda di luar gerbang menatap ke atas menara dengan mata penuh ketakutan yang luar biasa.
"Suku Rubah... mereka membantu Ayla! Mereka membantai kelompok kami di Lembah Tengkorak... dan sekarang, mereka sedang berjalan menuju kemari membawa monster hutan!"