ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Luna mengeratkan pegangan pada tali ranselnya. Sepatu bermerek yang ia kenakan biasanya hanya menyentuh lantai marmer atau karpet hotel bintang lima, namun kini ia harus beradu dengan jalanan aspal yang tidak rata dan becek di beberapa bagian.
Luna sambil menatap layar ponselnya yang menunjukkan titik tujuan tinggal beberapa ratus meter lagi.
Pemandangan di sekelilingnya berubah drastis. Jika tadi di jalan utama ia masih melihat gedung perkantoran yang gemerlap, kini ia justru memasuki gang panjang yang diapit tembok-tembok tinggi penuh coretan.
Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip sekarat, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster bagi imajinasi Luna yang sedang kalut.
Hawa dingin malam mulai menembus jaketnya. Suara gonggongan anjing di kejauhan membuat bulu kuduknya berdiri. Sesekali ia berpapasan dengan warga sekitar yang menatapnya dengan heran—mungkin karena Luna terlihat sangat 'asing' dengan pakaian dan tas mahalnya di lingkungan sesederhana itu.
"Nggak mungkin apartemen ada di dalam sini," Luna membatin, matanya menyipit mencoba membaca papan nomor di setiap bangunan yang ia lewati.
Langkahnya melambat saat ia sampai di ujung gang yang semakin remang. Pikirannya mulai berkelana ke mana-mana; bagaimana kalau ia dirampok? Bagaimana kalau ini sebenarnya pemukiman yang tidak aman? Rasa bangga karena berhasil kabur tadi pagi perlahan mulai terkikis oleh rasa takut yang nyata.
Namun, egonya jauh lebih besar daripada ketakutannya. Pulang ke rumah berarti menyerah kalah pada perjodohan ayahnya. Dan bagi Luna Damaris, kata 'menyerah' tidak ada dalam kamusnya.
Hingga akhirnya, setelah melewati sebuah tikungan tajam yang nyaris gelap total.
Langkah Luna terhenti seketika. Di sebuah sudut remang, tepat di balik reruntuhan bangunan kecil yang tampak seperti pos penjagaan terbengkalai, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Napas Luna tertahan di kerongkongan. Melalui celah dinding yang retak, ia melihat seorang pria bertubuh tegap sedang mencengkeram kerah baju pria lain yang sudah terkulai lemas dengan wajah babak belur.
Suasana seketika berubah mencekam; suara bising jalan raya di kejauhan seolah lenyap, digantikan oleh suara degup jantung Luna yang berpacu liar.
Sialnya, tangan Luna masih menggenggam ponsel dengan layar yang menyala terang—menerangi wajahnya yang pucat di tengah kegelapan.
Pria itu menoleh. Gerakannya cepat dan tajam. Begitu matanya menangkap keberadaan Luna dan ponsel di tangannya, tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan mengancam. Ia mengira Luna baru saja merekam tindakan brutalnya.
"Sial!" desis pria itu.
Luna ingin berteriak, namun suaranya seolah hilang. Sebelum ia sempat membalikkan badan untuk lari, pria itu sudah bergerak secepat kilat. Hanya dalam dua langkah besar, ia sudah berada di depan Luna.
"Tunggu, aku nggak—"
Kalimat Luna terputus saat tangan kekar pria itu menyambar lengannya dengan kasar, lalu menariknya paksa masuk ke area gelap di belakang pos terbengkalai tersebut. Luna terpekik saat punggungnya membentur dinding beton yang dingin dan keras.
Pria itu langsung mengunci posisi Luna, menumpukan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu sehingga Luna tidak punya celah untuk kabur.
Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau samar tembakau dan keringat menyerbu indra penciuman Luna.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Mata pria itu berkilat penuh ancaman, menatap tajam langsung ke manik mata Luna yang bergetar ketakutan.
"Serahin ponselnya," suara pria itu berat dan rendah, terdengar seperti geraman peringatan. "Atau loe bakal nyesal sudah lewat jalan ini."
Luna terpaku. Ia baru saja kabur dari ayahnya untuk mencari kebebasan, namun kini ia justru terjebak dalam masalah yang jauh lebih mematikan.
Dalam jarak sedekat ini, Luna bisa merasakan embusan napas pria itu di kulit wajahnya. Meski rasa takut masih ada, mata Luna tidak sengaja memindai fitur wajah pria di depannya.
Di bawah temaram lampu jalan yang mati-segan-hidup-tak-mau, ia menyadari bahwa pria ini memiliki garis wajah yang sangat tegas dan tampan, walau aura berandalan memancar kuat darinya.
Beberapa anting perak yang menggantung di telinganya berkilat saat ia bergerak, menambah kesan liar pada penampilannya.
Pria itu menatap Luna dengan intens, matanya yang tajam seolah sedang meneliti setiap jengkal wajah Luna.
"Kasih ponselnya sekarang," desis pria itu lagi, suaranya sedingin es. "Gue nggak suka mengulang kalimat yang sama."
Luna, yang dasarnya memang tidak pernah mau tunduk pada perintah siapapun, justru merasa emosinya tersulut.
"Gue bilang gue nggak ngerekam, ya nggak ngerekam! Jangan nuduh sembarangan ya!" balas Luna sengit, suaranya bergetar antara marah dan takut.
"Jangan bohong. gue lihat lo ngarahin ponselnya ke gue tadi. Sini!"
Pria itu mencoba merampas ponsel dari tangan Luna dengan kasar. Refleks, Luna menarik tangannya menjauh. Karena sudah merasa terpojok dan kesal setengah mati, insting bertahan hidup Luna mengambil alih.
Dengan sekuat tenaga, ia mengarahkan tendangan maut menggunakan ujung sepatunya tepat ke arah tulang kering pria itu.
*Krak!*
"Akh!" Pria itu mengerang kesakitan, refleks melepaskan kuncian tangannya dan membungkuk untuk memegangi kakinya yang berdenyut hebat.
Melihat celah itu, Luna tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendorong pundak pria itu dengan kedua tangannya sekuat mungkin.
Karena posisinya yang sedang tidak seimbang, pria itu jatuh terjungkal hingga terduduk di atas tanah yang kotor.
Luna segera menjauh dari pria itu. Namun, sebelum ia mengambil langkah seribu untuk kabur ia berhenti sejenak.
Ia kembali menatap pria yang masih terduduk sambil menahan amarah itu.
Dengan berani, Luna menjulurkan lidahnya lebar-lebar, mengejek pria itu habis-habisan.
"Makanya, jadi orang jangan sok! Wlee!"
Setelah memberikan salam perpisahan yang kekanak-kanakan itu, Luna kembali berlari secepat kilat, menghilang di kegelapan gang, meninggalkan pria itu yang sedang menatap punggungnya dengan tatapan yang seolah ingin menelan Luna hidup-hidup.