Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Setelah sarapan pagi yang diwarnai canda tawa dan lirikan penuh rona, Keanu memboyong Bunga keluar dari area vila menuju kawasan butik eksklusif di pusat kota Belitung.
Sesuai janjinya, Keanu membebaskan Bunga untuk memilih pakaian apa saja yang disukainya. Dengan sabar, Keanu menunggu di sofa butik seraya mengamati istrinya yang sibuk memilah-milah deretan gaun sopan, pakaian santai, hingga hijab dengan warna-warna lembut.
Setiap kali Bunga mencoba sebuah gaun dan keluar dari ruang ganti untuk meminta pendapat, Keanu hanya bisa menatap terpana. Senyum tipis tak pernah lepas dari bibir pria itu.
"Ambil semua yang kau suka, Bunga. Tidak perlu melihat label harganya," ujar Keanu santai saat melihat Bunga sempat ragu memegang sebuah gaun berpotongan elegan.
Bunga tersenyum manis, lalu menggelengkan kepalanya seraya memberi isyarat tangan.
"Secukupnya saja, Kak Keanu... Aku tidak butuh terlalu banyak pakaian."
"Bagi suamimu, tidak ada kata 'terlalu banyak' untuk membahagiakan istrinya," balas Keanu mantap seraya mengusap lembut pipinya Bunga yang merona.
Setelah menyelesaikan pembayaran dan menyuruh pihak butik mengantarkan semua belanjaan langsung ke vila, Keanu menggandeng erat tangannya Bunga melangkah menyusuri pesisir pantai di sore hari. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, menyapu pasir putih yang mereka pijak.
Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Bunga merasakan kedamaian yang seutuhnya. Ketakutan akan masa lalu dan bayangan malam berdarah itu seolah perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat yang mengalir dari genggaman tangan Keanu.
*
*
Sementara itu, di sebuah ruang rapat bernuansa remang di Jakarta.
Seorang pria paruh baya berjas hitam mewah duduk di ujung meja jati yang panjang. Pria itu menatap tajam ke arah dua orang anak buahnya yang berdiri menunduk di hadapannya.
"Jadi, Detektif Jordan dan Adrian mulai mencium jejak aliran dana itu?" tanya pria misterius itu dengan suara berat yang mengintimidasi.
"B..benar, Tuan," sahut salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. "Detektif Jordan berhasil meretas salah satu rekening cangkang di Singapura. Mereka mulai mengarah ke perusahaan utama Anda."
Pria itu terkekeh dingin, sebuah tawa yang sanggup mengucurkan keringat dingin bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia mengetukkan jemarinya di atas meja kayu dengan irama teratur.
"Keanu pikir dia sangat cerdik dengan bersembunyi di Belitung bersama wanita bisu itu," gumamnya sinis. "Dan Lucas... dia pikir dengan menjadi kambing hitam, dia bisa menyelamatkan putrinya? Sungguh naif."
Pria misterius itu menyandarkan tubuhnya, matanya berkilat penuh kekejaman.
"Beri pelajaran kecil untuk Keanu dan istrinya di Belitung. Buat mereka sadar, bahwa di mana pun mereka bersembunyi, mata dan tanganku bisa menggapai mereka kapan saja. Pastikan liburan romantis mereka berubah menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan!" perintahnya dingin.
"Baik, Tuan! Pelaksanaan akan dimulai malam ini!" jawab anak buahnya sebelum membungkuk hormat dan bergegas pergi.
Pria itu memandang ke luar jendela gedung pencakar langit, menatap gemerlap kota Jakarta di malam hari dengan senyum penuh tipu daya.
"Riki Sanjaya sudah mati... dan sekarang, giliran putrimu dan menantu keluarga Alexander yang akan menyusul ke neraka."
*
*
Malam mulai menyelimuti Pulau Belitung. Angin pantai berembus lebih kencang dari biasanya, membawa hawa dingin yang perlahan merayap masuk melalui celah vila.
Di dalam honeymoon suite, suasana terasa begitu hangat dan damai. Bunga yang baru selesai menata pakaian barunya ke dalam lemari, melangkah menuju area ruang tengah. Ia melihat Keanu sedang duduk di sofa, fokus menatap layar laptopnya yang menampilkan beberapa laporan pekerjaan dari kantor.
Bunga melangkah pelan, lalu menyodorkan secangkir teh herbal hangat yang baru saja diseduhnya ke atas meja.
Keanu mendongak. Raut wajahnya yang semula serius seketika mengendur saat menatap Bunga. Pria itu menutup laptopnya, lalu meraih cangkir teh tersebut.
"Terima kasih, Bunga," tutur Keanu lembut.
Ia meminum teh itu sedikit, lalu menepuk bagian sofa di sampingnya. "Duduklah di sini. Jangan berdiri terus."
Bunga mengangguk, lalu duduk canggung di samping Keanu. Namun, belum sempat mereka menikmati keheningan malam itu, mendadak seluruh lampu di dalam vila padam total.
Ctek!
Kegelapan pekat seketika mengurung ruangan. Hanya tersisa cahaya bulan dari balik jendela kaca besar.
Bunga tersentak kaget. Trauma masa lalunya terhadap kegelapan dan ancaman mendadak membuat napasnya seketika memburu. Tubuhnya gemetar hebat, dan secara refleks ia memeluk erat lengan Keanu.
"Bunga, tenang... Aku di sini," bisik Keanu sigap. Pria itu langsung merengkuh tubuh Bunga ke dalam dekapannya, menyalurkan rasa aman melalui hangatnya dada dan usapan lembut di punggung istrinya.
Keanu mengerutkan keningnya curiga. Sebuah vila eksklusif kelas atas seperti ini seharusnya memiliki generator otomatis yang menyala dalam hitungan detik jika terjadi pemadaman listrik. Namun, sudah hampir satu menit, ruangan masih gelap gulita.
Prang!
Suara kaca jendela bagian belakang yang pecah berkeping-keping terdengar membahana, membelah keheningan malam!
Bunga menjerit tanpa suara, ia semakin erat mencengkeram kemeja Keanu.
Matanya Keanu menyipit tajam di dalam kegelapan. Pendengarannya yang tajam menangkap derap langkah kaki berat yang melangkah masuk secara paksa ke dalam vila. Bukan cuma satu orang, melainkan tiga hingga empat orang berbadan tegap yang bergerak dengan senyap namun mematikan.
"Tetap di belakangku, Bunga. Jangan lepaskan peganganmu," bisik Keanu dengan nada suara yang berubah sangat dingin dan berbahaya.
Keanu membimbing Bunga berdiri perlahan, memposisikan tubuh tegapnya sebagai perisai utama untuk melindungi istrinya dari bahaya yang melangkah mendekat di balik kegelapan.
Pesan teror dari sang 'monster' di Jakarta rupanya baru saja dimulai.
Di tengah kegelapan pekat yang menyelimuti vila, aura mencekam terasa semakin pekat. Bayangan empat orang pria berbadan tegap melangkah masuk dari arah balkon belakang, membawa bilah pisau dan tongkat besi yang berkilat tertimpa sinar bulan.
"Keanu Alexander..." suara berat salah satu pria bertopeng itu memecah keheningan. "Ada salam dari atasan kami. Katanya, tempat teraman pun tak bisa melindungimu dan wanita bisu itu dari jangkauannya."
Keanu menyeringai dingin. Bukannya gentar, pandangan matanya justru semakin tajam bagaikan belati.
"Suruh atasanmu keluar dari persembunyiannya kalau memang punya nyawa cadangan," balas Keanu dengan nada rendah yang sarat ancaman. "Mengirim anjing-anjing seperti kalian hanya membuktikan betapa penakutnya dia!"
"Banyak cakap!" bentak pria itu.
Seorang penyusup maju menerjang Keanu dengan pisau terhunus. Dengan reflek secepat kilat, Keanu mendorong tubuhnya Bunga ke balik pilar kokoh, lalu memutar tubuhnya menghindari sabetan tajam itu. Keanu menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya keras hingga terdengar bunyi krek yang membuat ngilu, dilanjutkan dengan tendangan keras tepat di dada yang membuat pria bertopeng itu terlempar menabrak meja kayu.
Brak!
Dua penyusup lainnya langsung maju bersamaan. Keanu bergerak lincah menangkis pukulan tongkat besi menggunakan lengan luarnya, lalu memberikan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah dan perut lawan.
Bunga yang bersembunyi di balik pilar menyaksikan pertarungan sengit itu dengan dada bergemuruh panik. Air mata ketakutan membasahi pipinya, namun ia berusaha keras untuk tidak panik agar tidak memecah konsentrasi Keanu.
Melihat kawan-kawannya mulai tersudut oleh ketangguhan Keanu, penyusup keempat menyadari celah. Ia berpaling dan melangkah cepat menuju tempat Bunga bersembunyi dengan pisau teracung!
Mata Bunga membelalak.
Keanu yang melirik pergerakan itu mendadak panik luar biasa. "Bunga, awas!"
Tanpa memperdulikan tongkat besi yang menghantam bahunya sendiri, Keanu melompat cepat dan menerjang pria yang hampir menggapai Bunga. Keanu mencengkeram leher penyusup itu, membantingnya keras ke lantai keramik hingga tak berkutik.
Namun, akibat terjangannya yang impulsif demi melindungi Bunga, lengan Keanu sempat tersabet ujung pisau lawan hingga darah segar mulai merembes membasahi kemeja putihnya.
Brak!
Pintu depan vila mendadak didobrak dari luar. Tim pengaman pribadi resor dan anak buah suruhan Tuan Alexander akhirnya menerobos masuk dengan senter berdaya tinggi dan senjata terarah.
"Jangan bergerak!" teriak komandan pengawal.
Melihat situasi tak lagi menguntungkan, dua penyusup yang tersisa buru-buru melompati jendela kaca yang pecah dan melarikan diri ke arah kegelapan pantai.
Lampu darurat resor seketika menyala, menerangi ruangan yang kini berantakan.
"Tuan Keanu! Anda tidak apa-apa?" tanya kepala pengawal bergegas mendekat.
"Amankan area ini dan kejar mereka sampai dapat!" perintah Keanu tegas seraya menahan rasa panas di lengannya.
Bunga keluar dari balik pilar dengan tubuh gemetar hebat. Begitu melihat darah membasahi lengan suaminya, Bunga merintih tanpa suara. Air matanya menetes semakin deras. Ia buru-buru mendekati Keanu, jemarinya yang gemetar menyentuh luka itu dengan raut penuh rasa bersalah dan kepedihan.
Keanu mengabaikan rasa sakit di lengannya. Ia menggunakan tangannya yang lain untuk merengkuh tubuh Bunga ke dalam dekapannya yang hangat, mengusap kepala istrinya lembut.
"Aku tidak apa-apa, Bunga... Ini cuma luka kecil," bisik Keanu penuh kehangatan, berusaha menenangkan napasnya Bunga yang masih memburu. "Selama kau aman, luka ini tidak ada artinya."
Bunga menggelengkan kepalanya seraya menyembunyikan wajahnya di dadanya Keanu, meremas erat kemeja suaminya. Di dalam hatinya yang terluka, Bunga semakin sadar bahwa ancaman 'monster' itu nyata, namun tekad Keanu untuk melindunginya pun jauh lebih besar dari ketakutan apa pun di dunia ini.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander