Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:684
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: SANGKAR EMAS DI ATAS KOTA

Fajar belum sepenuhnya terbit, namun di sekitar bengkel tua yang menyembunyikan klinik darurat bawah tanah. Tiga buah mobil van hitam dengan kaca yang dilapisi anti peluru pekat terparkir berjejer di dalam area dalam bengkel, mesinnya sengaja dibiarkan menyala halus tanpa suara yang bising. Di luar bangunan, puluhan anak buah pilihan dari Black Cobra berdiri siaga dengan posisi menyebar, membentuk barikade untuk memblokir. Pandangan mata mereka yang beringas terus menyapu tajam setiap sudut jalanan sepi yang masih berselimut kabut tipis. Mereka semua tahu, meskipun faksi White Tiger telah hancur lebur malam ini, sisa-sisa serigala jalanan yang lapar pasti sedang mengintai di luar sana, menunggu kesempatan untuk melakukan pembalasan dendam yang licik.

Di dalam ruang perawatan klinik yang temaram, Eksan memaksa tubuh tegapnya untuk bangkit berdiri dari atas ranjang operasi. Otot-otot di rahangnya menegang keras saat rasa perih yang luar biasa dahsyat kembali membakar perut kirinya. Dokter Surya seketika melangkah maju, tangannya terulur untuk menahan pundak kekar Eksan dengan raut wajah penuh peringatan yang sangat serius. Ia tahu betul bahwa jahitan baru di perut pemuda itu bisa saja robek kembali dan memicu pendarahan internal yang fatal jika dipaksakan bergerak secara ekstrem. Namun, Eksan hanya membalas tindakan tersebut dengan satu tatapan membuat Dokter Surya refleks menarik kembali tangannya dengan tergesa gesa. Bagi seorang Eksan Prasetya, berlama-lama di dalam klinik bawah tanah yang lokasinya sudah mulai bocor ke beberapa telinga luar adalah tindakan yang sangat bodoh. Keamanan Nasya berada jauh di atas rasa sakit yang mendera tubuhnya sendiri.

"Kita pindah sekarang juga. Panggil Rangga dan Bara untuk mengamankan jalur evakuasi utama," perintah Eksan dengan suara rendah yang berat dan serak, namun memiliki perintah yang seharusnya dan tak bisa di bantah oleh siapa pun. Ia meraih kemeja hitam yang disediakan di samping meja medis, lalu mengancingkan nya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menutupi balutan perban putih tebal yang melilit perut.

Nasya berdiri terdiam di samping ranjang rumah sakit darurat itu, dengan kedua tangan yang masih terkunci rapat di dalam genggaman erat Eksan. baju milik faksi yang ia kenakan membuat tubuh terlihat begitu menarik, menciptakan sebuah kontras visual yang mempertegas statusnya saat ini, MK jiwa polos yang telah sepenuhnya diseret masuk ke dalam pusaran kegelapan sang penguasa aspal kota. Nasya tidak memprotes, tidak pula mengeluarkan sepatah kata pertanyaan pun tentang ke mana mereka akan pergi malam ini. Rentetan suara dentuman balok kayu, jeritan amarah penuh dendam, dan genangan darah segar yang ia saksikan langsung di gudang kontainer beberapa jam lalu telah menyisakan seluruh keberaniannya untuk melawan dari pemuda berbahaya di hadapannya.

Rangga membuka pintu kayu ruangan medis dengan gerakan cepat, memberikan kode anggukan kecil yang menandakan bahwa jalur menuju mobil van di luar sudah sepenuhnya bersih dari segala potensi ancaman luar. Eksan mulai melangkah perlahan, menumpu sebagian besar berat tubuhnya pada tangan kanannya yang memegang pipa besi cadangan di sisi lain tubuhnya, namun ia tetap memaksa setiap langkah kakinya berjalan santai demi menjaga wibawa di hadapan seluruh barisan anak buah. Begitu pintu bengkel terbuka, semua anggota Black Cobra yang berdiri siaga langsung menundukkan kepala mereka dengan rasa hormat yang mendalam, secara otomatis membelah barisan untuk memberikan jalan bagi sang ketua tertinggi dan gadis sekolah yang malam ini resmi diakui sebagai pemimpin mereka.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kabin mobil van hitam yang berada di posisi barisan paling tengah dari konvoi rahasia tersebut. Pintu geser mobil ditutup dengan keras yang miliki kedap suara, seketika mengisolasi mereka berdua dari dinginnya malam kota sepi. Sepanjang perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu jam membelah jalanan protokol kota yang sunyi, Eksan sama sekali tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nasya. Kepala pemuda itu bersandar pasrah pada bantalan kursi kulit mobil, dengan sepasang kelopak matanya yang terpejam rapat demi menahan rasa nyeri hebat yang terus berdenyut-denyut di perutnya seiring dengan guncangan kendaraan. pada saat kesadarannya berada di ambang batas akibat kehilangan terlalu banyak darah, tangan hangat Nasya tetap terasa menjadi obat buat eksan yang membuat tenang dan meredakan rasa nyeri.

Mobil van hitam yang membawa mereka akhirnya mulai melambatkan kecepatannya, berbelok dan memasuki sebuah jalur turunan curam menuju area basement dari sebuah gedung apartemen mewah bergaya modern yang terletak tepat di pusat distrik bisnis tersibuk di kota itu. Tempat ini sangat bertolak belakang dengan markas gudang kontainer faksi yang kumuh dan kotor, ataupun bengkel tua yang dipenuhi bau karat besi dan darah kering. Ini adalah sebuah rumah pribadi yang mewah milik Eksan Prasetya, sebuah aset rahasia bernilai fantastis yang dibeli secara legal dari hasil pengelolaan jalur distribusi logistik resmi di pelabuhan kota. Tempat perlindungan super ketat ini bahkan tidak pernah diketahui keberadaannya oleh anggota Black Cobra biasa, melainkan hanya diketahui oleh dua orang kepercayaan tertingginya, yaitu Rangga dan Bara.

Eksan menuntun langkah Nasya menaiki sebuah lift khusus berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan sensor pemindai sidik jari pribadinya, langsung melesat menuju ke lantai teratas gedung tersebut tanpa henti. Begitu pintu lift terbuka sebuah ruangan luas dengan arsitektur modern minimalis bercita rasa tinggi langsung menyambut pandangan mata Nasya yang tampak takjub sekaligus terlena. Dinding kaca berukuran raksasa yang membentang dari ujung lantai hingga langit-langit ruangan memperlihatkan pemandangan spektakuler hamparan lampu-lampu kota yang mulai meredup dari ketinggian lantai tiga puluh, bersiap menyambut berkas cahaya pagi yang mulai naik dari balik awan.

"Mulai hari ini dan seterusnya, ini adalah tempat tinggal barumu, Nasya. Tidak ada pengecualian," ucap Eksan dengan nada suara yang sangat rendah namun tegas, Ia perlahan melepaskan pegangan tangannya untuk pertama kali sejak malam yang berdarah tadi, lalu berjalan dengan badan yang tidak stabil mendekati sofa panjang di tengah ruangan, merebahkan tubuh di sana dengan nafas dan fisik mengalami kelelahan sekaligus menahan sakit sangat menahan sakit.

Nasya berjalan dengan langkah kaki yang sangat pelan dan ragu-ragu mendekati dinding kaca raksasa itu, menatap hamparan lampu kota di bawah sana yang terlihat begitu kecil dan tak berdaya bagaikan miniatur mainan anak-anak. Tempat ini memang sangat mewah, indah, dipenuhi fasilitas kelas atas, dan sangat bersih dari debu jalanan. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Nasya menyadari bahwa lantai tiga puluh ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas megah yang sengaja dibangun tinggi di atas awan untuk mengurung kebebasannya. Di tempat ini, ia telah sepenuhnya terputus dari rumahnya yang sederhana, kehangatan ibunya, dan rutinitas sekolahnya sebagai remaja normal pada umumnya.

"Eksan... sampai kapan sebenarnya aku harus terus terkurung di dalam tempat seperti ini?" tanya Nasya dengan suara yang sangat lirih, nyaris pecah oleh rasa rindu dan kepasrahan yang mendalam. Ia membalikkan tubuh mungilnya, menatap lurus ke arah pemuda yang kini sedang berbaring miring di atas sofa sambil terus memandangnya dengan tatapan posesif yang begitu pekat dan tidak pernah pudar seujung kuku pun. "Bagaimana dengan kondisi ibuku di rumah? Dia pasti sedang menangis histeris mencari keberadaan sekarang. Aku tidak bisa menghilang begitu saja dari kehidupanku yang lama tanpa memberikan kabar apa pun kepada keluargaku, Eksan."

Eksan merubah posisi duduknya menjadi sedikit lebih tegak dengan gerakan yang dipaksakan kasar, sama sekali mengabaikan rasa perih luar biasa yang kembali mencuat di balik balutan perban perut kirinya hingga wajahnya tampak sedikit pias. "Rangga sudah mengatur semuanya dengan sangat rapi sejak dua jam yang lalu. Dia mengirimkan pesan singkat menggunakan nomor samaran kepada ibumu, mengabarkan bahwa kau saat ini sedang berada di rumah salah satu teman sekelas untuk menyelesaikan tugas kelompok besar di luar kota selama beberapa hari ke depan. Ponsel lamamu juga sudah dihancurkan oleh Bara hingga hancur berkeping-keping untuk menghindari segala bentuk pelacakan sinyal GPS dari sisa-sisa anggota faksi utara yang masih berkeliaran di bawah sana. Semua kebutuhan pribadi, pakaian baru, makanan mewah dari restoran terbaik, hingga buku-buku pelajaran sekolahmu akan diantar langsung oleh anak buahku ke depan pintu ini setiap pagi."

Eksan bangkit berdiri dari sofa dengan perlahan, melangkah dengan sorot mata yang dipenuhi badai obsesi yang gelap menghampiri sosok Nasya yang masih berdiri mematung di depan dinding kaca besar. Ia menghentikan langkah kaki lebarnya tepat di posisi belakang gadis itu, menyudutkan dan mengurung tubuh mungil Nasya di antara kedua lengan kekarnya yang bertumpu kuat pada permukaan kaca yang dingin. Aroma maskulin yang khas bercampur dengan wangi obat antiseptik yang pekat dari tubuh Eksan seketika mengepung seluruh indra penciuman Nasya, membuatnya merinding ketakutan sekaligus merasakan sebuah kehangatan aneh yang dia rasakan .

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!