Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kopi Dingin, Ego Panas, dan Perjanjian Satu Bulan

Hujan rintik-rintik mengetuk kaca jendela Kafe "Selow Aja", menciptakan irama monoton yang seolah mengejek suasana canggung di meja nomor empat. Di meja itu, dua cangkir kopi telah dibiarkan mendingin sejak empat puluh lima menit yang lalu. Es batu di gelas iced americano milik Gala sudah mencair sepenuhnya, sementara cappuccino milik Senja kehilangan busanya, menyisakan cairan cokelat pekat yang rasanya pasti sepahit perdebatan mereka siang ini.

Senja, seorang wanita berusia dua puluh enam tahun dengan profesi yang tak biasa—stuntwoman alias pemeran pengganti adegan berbahaya—menatap tajam pria di hadapannya. Rambut hitam sebahunya diikat asal-asalan, menampilkan bekas luka gores kecil di rahangnya akibat bantingan di lokasi syuting dua hari lalu. Matanya yang tajam bak elang kini menyiratkan kekecewaan yang mendalam, bercampur dengan ego yang menolak untuk runtuh.

Di seberang meja, Gala duduk bersandar dengan gaya arogan yang sangat khas. Jaket kulit hitamnya berbau asap rokok dan aspal jalanan, sebuah testimoni bisu dari profesinya sebagai jurnalis investigasi yang kerap mempertaruhkan nyawa demi sebuah headline. Di pelipis kanannya terdapat plester luka berukuran lumayan besar—hasil dari aksi nekatnya menyusup ke gudang penyelundupan ayam jago ilegal minggu lalu. Wajahnya tampan, namun raut tengil dan keras kepalanya sering kali membuat Senja ingin melemparkan mesin cuci ke arahnya.

"Jadi, ini kesimpulan dari hubungan kita selama dua tahun? Berakhir di kafe pinggir jalan dengan kopi yang rasanya kayak air cucian piring?" Suara Gala memecah keheningan, nada suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar datar dan tak peduli, meski di dalam dadanya jantungnya berdetak tidak karuan.

Senja mendengus, melipat kedua tangannya di atas meja. "Jangan menyalahkan kopinya, Gal. Salahkan egomu yang setinggi Gunung Everest itu. Kamu selalu bertindak nekat tanpa memikirkan perasaanku. Tiap kali nomor tak dikenal meneleponku, aku selalu berpikir itu dari rumah sakit atau kamar mayat! Dan saat aku marah, kamu malah bilang aku terlalu protektif. Kamu egois!"

"Aku egois?!" Gala mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit. "Lalu bagaimana denganmu, Nja? Kau pikir melihat pacarmu melompat dari lantai tiga gedung terbengkalai, atau dilindas mobil demi adegan film murahan itu tidak membuatku gila? Kita ini sama-sama keras kepala, Senja. Kita sama-sama dominan. Kalau kita terus bersama, salah satu dari kita bakal mati muda, entah karena stres atau karena serangan jantung!"

"Bagus kalau kamu sadar!" Senja menggebrak meja, membuat beberapa pelanggan kafe menoleh ke arah mereka. "Kalau begitu, kita sudahi saja semuanya hari ini. Kita putus. Mulai detik ini, kita jalan sendiri-sendiri!"

Kata "putus" itu meluncur dari bibir Senja dengan cepat, namun begitu kata itu mengudara, ada rasa hampa yang tiba-tiba menyergap perutnya. Ia tidak benar-benar ingin mengatakannya. Ia hanya ingin Gala menahannya, meminta maaf, dan berjanji akan lebih berhati-hati. Namun, yang ia hadapi adalah Gala—pria dengan gengsi absolut yang pantang terlihat memohon di depan wanita.

Alih-alih menahan tangan Senja, Gala justru tersenyum sinis. "Oke. Kalau itu maumu, kita putus. Tapi..." Gala menggantung kalimatnya, otak jurnalisnya yang licik mulai merangkai sebuah tantangan. "...biar adil, dan biar terbukti siapa di antara kita yang sebenarnya tidak bisa hidup tanpa yang lain, kita buat perjanjian."

Senja mengerutkan keningnya. "Perjanjian apa? Jangan macam-macam, Gal."

"Satu bulan," ucap Gala mantap. "Tiga puluh hari dari sekarang. Kita berdua bebas mencari pacar baru. Kita lihat siapa yang bisa move on duluan. Kalau dalam tiga puluh hari salah satu dari kita atau kita berdua gagal menemukan orang yang lebih baik, kita harus mengakui kekalahan. Kita balikan. Dan janji, tidak akan pernah ada kata putus lagi seumur hidup."

Senja mendidih mendengar nada meremehkan dari Gala. Pria ini benar-benar menantangnya. Di kamus hidup Senja sang stuntwoman, kata mundur tidak pernah ada. "Kamu meremehkanku? Kamu pikir aku tidak laku? Asal kamu tahu, banyak aktor di lokasi syuting yang mengantre nomor teleponku! Deal! Dalam seminggu, aku akan pamerkan pacar baruku di depan hidungmu!"

"Kita buktikan saja, Nja. Seminggu dari sekarang, aku pastikan ada wanita cantik, elegan, dan yang pasti tidak suka membanting orang, duduk di kursi sebelahku." Gala membalas tak kalah sengit.

Tepat ketika ketegangan di antara mereka mencapai puncaknya, pintu kaca kafe didobrak dengan kasar. Lonceng di atas pintu bergemerincing panik. Seorang pria bertubuh gempal, mengenakan helm full face hitam dan jaket lusuh, merangsek masuk. Di tangannya terdapat sebuah pistol rakitan yang moncongnya langsung diarahkan ke arah kasir yang sedang mengelap mesin kopi.

"Semua tiarap! Serahkan semua uang di laci kasir! Cepat, atau kutebak kepala kalian!" teriak perampok itu dengan suara serak yang menggema di seluruh ruangan. Tiga pelanggan lain langsung menjerit dan meringkuk di bawah meja.

Senja, yang emosinya sedang berada di ubun-ubun akibat pertengkarannya dengan Gala, menoleh ke arah perampok itu dengan tatapan membunuh. Baginya, kehadiran perampok ini bukan ancaman, melainkan saluran pelampiasan amarah yang turun dari langit.

"Gila ya nih orang," gerutu Senja pelan, meremas jemarinya hingga buku-bukunya berbunyi kemeretek. "Orang lagi putus cinta, lagi adu gengsi, malah diganggu."

Gala, yang sangat mengenal raut wajah Senja, hanya menghela napas. Instingnya mengatakan sesuatu yang brutal akan segera terjadi. "Nja, jangan mulai. Dia bawa senpi."

"Senpi rakitan. Kalibernya kecil, kemungkinan macet 60 persen," balas Senja dingin.

Tanpa aba-aba, Senja meraih asbak tembaga yang cukup berat dari meja kosong di sebelahnya. Dengan gerakan memutar yang sempurna bak atlet lempar cakram, ia melemparkan asbak itu tepat ke arah kepala si perampok. Trang! Asbak itu menghantam helm full face dengan suara nyaring. Meski terhalang helm, benturannya cukup keras untuk membuat perampok itu terhuyung ke belakang, pistolnya terarah ke langit-langit. Dor! Tembakan meletus, menghancurkan lampu gantung di atas kasir. Pecahan kaca berjatuhan.

Melihat perampok itu linglung, Gala tidak tinggal diam. Tubuhnya bergerak mendahului rasionalitas otaknya. Ia melompat ke atas meja mereka, menggunakan tepiannya sebagai tolakan, lalu melayang di udara dan mendaratkan tendangan lutut ganda ala petarung Muay Thai tepat ke dada si perampok.

Bruk! Perampok itu terlempar ke belakang, menabrak pintu kaca kafe hingga retak, lalu terkapar tak berdaya di lantai. Pistol rakitannya terlempar jauh ke sudut ruangan.

Keadaan hening selama beberapa detik, hanya terdengar erangan kesakitan dari balik helm si perampok.

Senja merapikan jaketnya, mengibaskan debu imajiner dari bahunya, lalu berjalan santai melewati tubuh yang mengerang itu. Gala turun dari meja, merapikan kerah jaket kulitnya, dan melangkah menyusul Senja ke pintu keluar. Keduanya bergerak dengan sinkronisasi yang mengerikan, seolah melumpuhkan penjahat bersenjata adalah rutinitas peregangan otot harian mereka.

Di ambang pintu, Gala berhenti sejenak. Ia menatap Senja yang sudah berdiri di bawah rintik hujan. "Ingat peraturannya, Senja. Tiga puluh hari. Jangan sampai kau menangis memohon padaku sebelum waktunya habis."

Senja memberikan senyum miring yang sangat mematikan. "Simpan air matamu, Gala. Kau akan membutuhkannya saat melihatku menggandeng pria yang jauh lebih hebat darimu."

Mereka berbalik arah, berjalan menjauh satu sama lain di bawah guyuran hujan. Permainan gengsi paling konyol, berbahaya, dan menguras emosi resmi dimulai. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa bulan ini akan menjadi bulan paling panjang dalam hidup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!