Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 KENYATAAN YANG MENAMPAR
"Amira? Kenapa kamu ada di sini?!"
Keributan di ruang pelayanan kantor polisi mendadak terhenti. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk. Adam dan Alya melangkah masuk dengan raut wajah lelah.
"Adam! Untunglah kamu datang, Nak!" panggil Mirna dengan mata berbinar, seketika merasa mendapat angin segar begitu melihat anak yang paling ia banggakan tiba.
"Bagaimana, Bu? Maaf aku terlambat. Hari ini hari pertama aku dan Alya bekerja, jadi kami tidak bisa ditinggal begitu saja," kata Adam, lalu menoleh ke arah Amira. "Amira... apakah kamu datang ke sini untuk jadi penjamin Sonia? Terima kasih banyak sebelumnya."
Adam sempat terpana sesaat. Di bawah pendar lampu kantor polisi, penampilan Amira tampak sangat berbeda. Amira terlihat jauh lebih anggun, bersih, dan memancarkan aura mandiri dengan pakaian yang rapi—sangat bertolak belakang dengan sosok istri penurut bersahaja yang biasa ia lihat di rumah dulu. Di tengah rasa kecewanya karena gaji kantorannya tidak sesuai harapan, melihat perubahan Amira menimbulkan sengatan aneh di hati Adam.
"Dia itu justru biang masalahnya, Adam!" potong Mirna emosi.
Adam mengerutkan dahi. "Maksud Ibu?"
Mirna diam sejenak. Dengan rahang mengeras dan napas menahan geram, ia berbisik pelan, "Sonia merusak mobil Amira..." Mirna menatap Amira tajam lalu menambahkan, "Dan dia ngotot minta ganti rugi 5 juta rupiah!"
"Apa?! Lima juta rupiah?!" pekik Alya dari samping Adam dengan nada sinis. Alya melangkah maju melipat tangan di dada. "Amira... sepertinya kamu masih belum rela berpisah dari Mas Adam, ya? Sampai-sampai kamu menyewa mobil orang lain hanya untuk mencari ulah seperti ini!"
Amira menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin. "Orang gila mana yang sengaja mencari ulah dengan mengorbankan mobil baru? Dan satu hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah pernah menikah dengan pria tidak bertanggung jawab seperti mantan suamiku. Jadi untuk apa aku tidak rela?"
"Kurang ajar kamu, Amira!" gertak Lusi, Ridwan, Mila, dan Alya hampir bersamaan, bersiap maju mengeroyok Amira dengan kata-kata.
TAK! TAK!
Petugas polisi mengetukkan pulpennya keras-keras ke atas meja. "Sudah! Diam semuanya! Ini kantor polisi, bukan pasar! Harusnya shift saya sudah selesai dari tadi, tapi gara-gara menunggu keluarga kalian yang lama sekali datangnya, saya jadi tertahan di sini!"
Polisi itu menghela napas gusar menatap keluarga Adam. "Kalian semua sudah berkumpul di sini, jadi bagaimana kesepakatannya?"
Amira menanggapi dengan tenang. "Saya masih mau berdamai secara kekeluargaan, Pak. Asalkan mereka mengganti kerusakan mobil baru saya sebesar 5 juta rupiah."
"Dasar manusia tidak tahu balas budi!" semprot Mirna tak tahan. "Apakah kamu sama sekali tidak ingat kalau kamu pernah menumpang hidup di rumah kami selama dua tahun?!"
Amira menatap mantan mertuanya tanpa rasa gentar sedikit pun. "Oh... Apakah aku harus merincikan di depan Pak Polisi berapa puluhan juta rupiah uang pribadiku yang sudah aku keluarkan untuk menombok biaya dapur dan cicilan keluarga Ibu selama dua tahun itu?"
Skakmat. Mirna bungkam dengan wajah merah padam.
"Kalian ini dari tadi saya perhatikan cuma muter-muter tidak jelas!" sela Pak Polisi dengan raut pusing. "Ini pihak korban cuma minta ganti rugi 5 juta rupiah. Kalian sanggup bayar tidak?"
"Tidak sanggup!" jawab Ridwan cepat dan tegas.
Amira menoleh ke arah petugas. "Ya kalau mereka tidak sanggup, saya minta kasus ini dilanjutkan ke proses hukum, Pak. Bapak sudah memegang semua bukti buktinya, kan?"
"Tentu. Anda sebagai korban berhak mendapatkan keadilan melalui proses hukum. Dan selama proses penyidikan berjalan, tersangka wajib kami tahan di dalam sel," jelas polisi lugas.
"Tidak bisa begitu!" seru Adam panik. Ia menatap Amira dengan pandangan kecewa. "Amira, kamu tega sekali..."
Adam membalikkan badan menatap kakak tertuanya. "Mas Ridwan, kita harus patungan berdua untuk membayar ganti ruginya sekarang."
"Tidak bisa!" tolak Ridwan mentah-mentah. "Adikmu sendiri yang bikin ulah, kenapa aku yang harus menanggung akibatnya?!"
"Tega sekali kamu, Mas!" ucap Adam tidak percaya.
"Yang tidak punya tega itu mantan istrimu!" bentak Ridwan menunjuk Amira. "Dia itu jelas-jelas sedang memeras kita!"
Amira menegakkan posisinya. "Pak Polisi, apakah saya bisa melaporkan orang ini atas tuduhan fitnah dan Pencemaran Nama Baik?"
"Sangat bisa, Bu Amira," sahut Pak Polisi lugas. Petugas itu kemudian melirik Ridwan dengan tatapan bersalah. "Lagipula, nilai ganti rugi 5 juta rupiah yang diminta Bu Amira ini sangat wajar. Harga kaca depan original untuk mobil baru beserta biaya pemasangan dan perbaikan kap mesin memang kisaran segitu. Jadi saya harap, Bapak dan Ibu yang ada di sini jangan asal bicara kalau tidak punya bukti."
Adam menghela napas berat. Kecewa pada Ridwan, ia beralih menatap adik perempuannya. "Mbak Mila... bagaimana denganmu? Bantu patungan, Mbak."
"Aku cuma punya uang 50.000 rupiah di tas," sahut Mila acuh tak acuh.
"Tidak mungkin, Mbak! Jangan bohong!" cerceca Adam mulai emosi. "Usaha sembako Mbak Mila lancar, Mas Doni juga punya posisi bagus di kantornya. Mana mungkin cuma ada uang 50.000 rupiah?!"
"Cuma itu yang bisa aku bantu! Lagipula ini kan bukan salahku!" balas Mila ketus. "Kalau bertindak itu pakai otak dulu! Giliran susah saja baru merepotkan semua orang!"
"Kalian semua tega sekali..." isak Mirna memegang dadanya. "Sonia itu adik kandung kalian!"
"Bu! Kami ini juga anak-anak Ibu!" potong Ridwan tajam. "Jangan bersikap seolah-olah kami ini jahat dan tidak adil pada Ibu!"
"CUKUP!" seru Pak Polisi mengebrak meja pelan, kepalanya terasa pusing. "Kalau memang tidak ada yang sanggup bayar, berarti kasus ini resmi diproses hukum!"
"Jangan, Pak Polisi!" pangkas Mirna panik. "Tolong beri kami keadilan, Pak! Sonia itu masih mahasiswa. Kalau dia sampai masuk penjara, bagaimana masa depannya nanti?!"
"Anak Ibu mikir tidak soal masa depan waktu melempar batu ke mobil orang?" tembak petugas polisi itu menohok.
Mirna memegang lengan Adam dengan wajah memelas. "Adam... tolong adiknya, Dam..."
"Bu, aku cuma punya uang..."
"Mas Adam punya banyak pengeluaran, Bu!" potong Alya cepat, langsung memotong ucapan Adam. "Kami berdua belum gajian. Kami butuh biaya hidup untuk sebulan ke depan, jadi Mas Adam tidak bisa membantu!"
DEG!
Kata-kata Alya yang begitu dingin bagai sembilu yang menusuk dada Mirna dan Sonia. Sonia dari balik sel menatap Alya dengan pandangan benci yang membara. Dulu, seberapa sulit pun keadaannya, Amira selalu mengusahakan dan pasang badan untuk mereka. Namun Alya—wanita berpendidikan tinggi yang digadang-gadang jadi menantu idaman—justru menolak mentah-mentah untuk menolong!
"Sayang..." bisik Adam merasa tidak enak.
Alya mengangkat tangannya, mengabaikan Adam. Ia lalu berjalan mendekati Amira dengan ulasan senyum sok lembut. "Amira, aku minta nomor telepon pemilik mobil yang sebenarnya. Aku mau bicara langsung dengan beliau."
Mirna yang melihat sikap Alya mendadak membesarkan hatinya kembali. 'Oh... Ternyata Alya bukan tidak peduli. Dia mau bernegosiasi secara cerdas menggunakan kapasitasnya sebagai lulusan Jepang!' batin Mirna bangga.
"Nomor pemilik mobil?" Amira menyunggingkan senyum tipis. "Gak perlu telepon. Yang punya mobil ada di depan matamu sekarang. Bicara saja."
Alya mendengus remeh. "Jangan bercanda, Amira! Aku yakin pemilik mobil yang asli tidak akan sekejam kamu. Kamu sengaja memakai mobil orang lain karena punya motif terselubung untuk memeras keluarga Mas Adam, kan?!"
Amira tidak membalas argumen murahan itu. Dengan tenang, Amira merogoh tasnya, mengambil sebuah map dokumen tebal, lalu MENGHEMPASKANNYAke atas meja polisi tepat di hadapan Alya!
BAM!
"Baca sendiri!" tegas Amira dengan suara menekan. "Mulai dari kwitansi pembelian cash, faktur, sampai berkas STNK dan BPKB yang sedang diproses. Baca nama siapa yang tertera di sana!"
Alya tertegun. Karena Sonia dan keluarga yang lain enggan menyentuhnya, Pak Polisi yang akhirnya mengambil map tersebut. Petugas itu membuka dokumen, mencocokkan nomor rangka dan mesin di sistem kepolisian lewat ponselnya.
Beberapa detik kemudian, Pak Polisi mengangguk dan menunjukkan layar ponselnya kepada semua orang.
"Mobil baru bernopol B 1827 RKA ini secara sah terdaftar atas nama Amira Prasetya. Pembelian tunai dari dealer," ujar Pak Polisi tegas.
JGLER!
Kenyataan itu bagaikan petir di malam hari. Wajah Alya mendadak pucat pasi. Mirna, Ridwan, dan Mila melotot tak percaya. Amira—wanita yang dulu mereka anggap miskin dan tak punya apa-apa—ternyata mampu membeli mobil baru secara cash tanpa utang!
Seketika, seluruh mata di ruangan itu beralih dan tertuju tajam kepada Adam.
Alya menoleh mendadak, menatap calon suaminya itu dengan tatapan penuh selidik dan kemarahan yang membuncah.
"Mas Adam..." desis Alya dengan suara bergetar, mewakili kecurigaan seluruh keluarga. "Uang dari mana Amira bisa beli mobil cash?! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku selama di Jepang?!