Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kemenangan
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Takbir menggema di langit pagi hari, memanggil semua umat Muslim melaksanakan ibadah di hari berbahagia itu. hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim setelah menjalani tiga puluh hari berpuasa, tarawih dan mengejar semua pahala sebanyak-banyaknya.
Hari ini adalah hari yang sangat di tunggu bagi mereka yang menjalankannya. Saudara, anak, dan sanak yang jauh Kembali berkumpul merayakannya Bersama. Saling memaafkan satu sama lain, membersihkan diri dari yang lalu-lalu.
Disini lah Senja dan keluarga Bersama. Selesai menjalankan ibadah Shalat Idul Fitri mereka berkumpul di ruang tengah untuk saling bermaaf-maafan sebelum nantinya akan berangkat berziarah kepemakaman yang sudah berpulang, rumah keluarga dan tetangga.
Tahun ini, mereka memutuskan berpakaian berwarna biru muda, sebagai tradisi keluarga yang menyiapkan pakaian seragam untuk hari kemenangan.
“Bunda, Kak Senja, Kak Hiza cepat.. nanti jalanan macet!” Gahez teriak memanggil tiga Wanita yang masih sibuk memperbaiki riasan, sedangkan para pria sudah siap di halaman rumah, Wisnu dan Ayah bahkan sudah berada di dalam mobil.
“aduh, sabar kenapa sih! Ngga lari itu jalanan” Senja bersungut-sungut, sudahlah gamis nya kepanjangan, keinjak kan jadinya!
Gahez memutar mata malas “jalannya memang diam kak, tapi macet! Lagian bersiap di mobil kan bisa. Hemat waktu kak”
Senja mencomot bibir adeknya yang seenak jidat ngomong “enak matamu! Susah ya” nahkan, belum ada setengah jam dari acara maaf-maafan tadi. Sekarang adek kakak ini sudah mulai lagi berbuat dosa berantem.
dari dalam rumah Bunda dan Kak Hiza keluar beriringan “sudah sudah, berantem mulu. Senja masuk sudah ke mobil. Lanjutkan di jalan aja, tinggal jilbab toh?” Pinta Bunda melerai, jika tidak sampai malam pun bisa berlanjut tuh.
Semakin cemberut pula Senja mendengar sang Bunda yang seakan membela Gahez, dan Pemuda itu? Jelas sudah memeletkan lidah ke arahnya seakan bilang ‘noh denger kata bunda’
“Bunda… adek ngejek!” Bukan Senja Namanya jika tidak mengadu, meski sekarang gadis itu sudah berjalan ke arah mobil.
“Adek” Tegur Bunda yang sedang membantu menantu nya berjalan. Karena usia kandungan Hiza semakin membesar membuatnya harus lebih extra lagi walau hanya berjalan.
“ayo Bumil (Ibu Hamil) semangat!, hari ini kita punya agenda yang sangat Panjang…” Senja sedikit meringis melihat pergerakan terbatas kakak Iparnya. Tangan Senja secara reflek memukul bahu Wisnu yang tepat di belakang pengemudi. “ini juga sebagai suami, malah main pergi aja, nyantai di mobil! Istri kesusahan juga” omelnya pada Wisnu.
“aduh, Nja sakit!” ringis Wisnu perih, pria itu langsung menoleh ke sang Istri “YaAllah, lupa sayang! Kenapa? Perutnya sakit?” Hiza menatap malas ke suaminya. Telat banget nanyanya.
“yee, telat!” sembur Senja, gadis manis itu memang lebih sensi sedari pagi. “ngga usah kasi tidur di kamar, abang kak. Biarin dia tidur di ruang tamu!”
Wisnu mendelik tak terima, apa-apaan ini? Ayah yang berada disampingnya menepuk pelan “salah abang sendiri, ayo jalan!” Ayah berkata santai.
“Yah, aku masa tidur di luar?” protes Wisnu, meski begitu dia tetap menjalankan mobilnya menuju tujuan mereka.
Ayah tertawa “masa Abang ngga bisa menaklukkan hati istri sendiri, di bujuklah nanti”
Wisnu terdiam, soal membujuk sih mudah sebenarnya. Tapi ini istrinya, sulit! Di tambah hamil sekarang makin mudah bikin istrinya sensi!. Di lirik nya sang Istri dari Rear View Mirror. Mukanya bad mood sekali!
“kita ke tetangga pulangan aja ya, sudah janjian kok Bunda sama tetangga” ucapan Bunda menarik perhatian Senja yang sedang sibuk membentuk hijabnya.
“yahh kalau pulang malam, Senja ngga bisa bun. Absen ya Senja tahun ini?” tangan Senja masih bergerak lincah mengatur kerapian Hijab. “atau Senja besok aja pagi!”
“memangnya Senja mau kemana?” tanya Ayah
“ada janji sama teman kantor. Ntar malam keliling rumah rekan kerja” selesai, Senja menatap puas hasil Hijabnya. Tak sia sia ia bongkar tutorial.
“halah tahun lalu ngga gitu, bilang aja ngga mau ke tetangga!” celetuk Wisnu sontak mendapat jambakan instan dari tangan Senja.
“benar tuh, bang! Kak Senja kan setiap tahun ngeluh kalau di ajak ke rumah tetangga!” Gahez di belakang ikut menimpali.
Senja memutar mata malas, meladeni dua saudara nya ini bikin tekanan darah nya tinggi. Kok bisa kompak ya? Senja menoleh kesamping tempat kakak Ipar nya berada. Wanita hamil itu tertawa. Sekali lagi tertawa! Astaga!
Perjalanan keluarga kecil itu tidak pernah sepi dengan celotehan yang dominan 3 bersaudara itu, sedangkan Ayah, Bunda dan Hiza team tertawa saja dan sesekali ikut menimpali. Hingga tak terasa mereka sampai ke rumah keluarga pertama di pagi menjelang siang itu.
***
“Assalamualaikum!” Rumah keluarga Senja mendadak ramai karena tetangga nya datang secara bersamaan. Tidak biasanya, apa karena mereka sudah hapal kalau keluarga ini adanya hanya malam makanya di serbu barengan begini? Tapiikan kalau begini bikin panik!
“Waalaikumsalam, ehh masuk-masuk!” Bunda menyambut dengan senyuman yang… Bahagia atau senyum bingung? Yang penting suruh masuk saja, keluarkan semua minuman dan makanan, selesai.
“baru sampai rumah kah?” salah satu tetangga bertanya basa-basi. Karena diliat dari mana pun memang baru sampai. Baru bernafas semenit malah.
“iya baru juga ini, jalanan macet banget makanya sampe malam baru sampai. Rencana mau datangin kalian, ehh malah duluan di datangin” tangan Bunda mulai mengeluarkan satu persatu kue-kuean dan berbagai jenis minuman, susu pun ada. Karena ada anak kecil juga ikut serta.
Satu persatu anggota inti mulai keluar kamar ikut menyambut dan bersilahturahmi. Tapi, kemana Senja?
"loh, si gadis mana, Bun?” tanya tetangga yang lainnya.
Bunda menoleh “oh, lagi siap-siap sepertinya. Tadi bilang mau pergi kerumah rekan kerja”
“malam-malam memang ngga papa, bun?” tanya nya lagi. Bunda hanya menjawab seadanya saja.
Dari arah tangga terdengar Langkah kaki menuruni tangga dengan pelan. Dan mungkin karena perintilan-perintilan Tas milik Senja saling bergesekan membuat suaranya ikut menguar dan menjadi perhatian tamu.
Senja menghentikan sejenak di anak tangga terakhir. Kok.. rame? Pikir Senja “nahh ini si gadis udah keluar” celetuk salah satu tetangga membuat Senja tersadar dan buru-buru menghampiri tamu yang paling dekat darinya.
“tante, mohon maaf lahir dan batin” Setiap menyalami tamu, kalimat itu terus-terusan di ucapkan oleh Senja. Template sekali!
“mau kemana neng?” Senja menengok. Menggaruk kepalanya tak gatal “mau ke rumah rekan kerja, tan” jawab Senja.
“eh haii, cewe! Siapa namamu? Kakak punya jajan mau?” Senja segera mendekati anak kecil itu dan mengalihkan pembicaraan saat tak sengaja melihat ada anak kecil perempuan di antara tamu nya.
“kamu sih jarang ngumpul kalau ada acara. Bisanya anakku ngga di tau Namanya” ah itu kakak sepupunya dari pihak Bapak. Keluarga dekat sih tapi ngga dekat-dekat banget.
Senja hanya tertawa tak enak hati “ya maaf kak, lupa bukan ngga tau, sebentar ya kakak ambilkan jajan dulu di kamar” dengan buru-buru Senja berlari menaiki anak tangga.
Tak lama Senja Kembali Bersama jajan-jajan yang di maksud olehnya di tangan. Jajan itu bukan sekedar jajan biasa, ada THR nya juga sudah di dalamnya.
“nah, ini untuk…” Senja melirik mama nya anak kecil yang telah dilupakannya itu
“Sania”
“ah Sania, nah buat Sania. Suka ngga?” tak tanggung-tanggung Senja bahkan sudah terduduk bersila di depan Sania, menunggu tangan mungilnya mengambil jajan dari tangan Senja.
Senja tersenyum manis saat Sania hanya menatap nya bahkan ragu buat mengambil. “ambil dek, kakak ngga galak kok” Meski pelan Bingkisan itu akhirnya berpindah kepemilikan. “lucu banget sih kamu” Senja menahan diri supaya tidak kelepasan mencubit pipi gembul Sania. Kalau nangis kan dia juga yang repot!.
Kembali Senja memanggil anak-anak supaya bisa ia berikan bingkisan, sebelum dia harus berangkat. Ia sudah janji.
“wee satu-satu wee aku kejepit!” seru Senja, di serang anak-anak dengan jumlah tak dikit membuat nya kewalahan sendiri. Tau gitukan bakal di panggil satu-satu atau bila perlu ia datangi saja masing-masing anak.
Gahez tak tinggal diam melihat sang kakak hampir tak terlihat karena di tutupi oleh anak-anak “berbaris-berbaris. Kesini didepan aku barisnya baru bisa dapat!” seruan Gahez berhasil, sekarang anak-anak itu berebut agar bisa paling depan.
“lohh kok pindah ributnya di sini? Baris! bukan aku-aku!” Gahez bahkan sudah berkacak pinggang menatap jengah anak-anak di depannya, geragas bangett. Anak siapa sih meraka?
Senja bahkan sudah tertawa-tawa. Melihat si bungsu berusaha mendisiplinkan anak orang. Lucu sekali. “eh itu Faraz kejepit! Kedepan Faraz. Sudah paling kecil di tengah-tengah lagi!” omel Gahez tak henti.
Tidak lama akhirnya Gahez berhasil menetribkan mereka, wahh hebat puji Senja dalam hati. Segera melangkah mendekati Gahez.
“seperti inikan enak ngga perlu desak-desakan, ayo di mulai Faraz maju raz, nih” Senja memberikan satu bingkisannya dalam begitu sampai mereka mendapatkan semua. Adil, tak ada yang merasa dirugikan dan diuntungkan. Nominal uang nya juga Senja ratakan.
“selesai, makasi hez!” Senja menepuk pelan Pundak sang adek. Lalu berbalik bermaksud pamitan, harus berangkat sekarang.
Gadis manis itu mendekati sang Bunda yang masih asik bercerita Bersama tetangga nya “bun, Senja pamit ya” ucapnya berbisik membuat Bunda seketika menengok.
“ngga mau nunggu mereka pulang dulu?” tanya Bunda ikut berbisik, Senja menggelengkan kepala, bisa telat banget kalau harus nunggu. Akhirnya Bunda mengangguk mengizinkan.
Sekarang waktunya pamitan dengan Ayah. Tapi kemana beliau? Senja menengok kiri kanan tak menemukan, feelingnya pasti di teras bareng bapak-bapak yang lainnya.
Baru akan ke teras, benar, feelingnya tak meleset sedikitpun karena sekarang Bapak-bapak itu baru saja masuk dari arah teras depan. Tapi tunggu! Muka mereka kok serius sekali? Perasaan tadi biasa-biasa aja.
Ayah maju mendekatinya. “boleh duduk dulu Senja? Ada yang mau mereka omongin sebentar” Ayah berujar pelan, bahkan sudah menariknya buat ikut duduk.
Apa ini? Perasaan gadis cantik itu makin tak karuan, ada yang salah kah?
“Senja maaf menunda acara Senja ya, sebentar aja kok” om itu yang masuk beriringan dengan Ayahnya tadi.
Senja menggelengkan kepala “ngga papa, om. Ada yang mau di bahas ya?” tanya Senja pelan
“untuk mempersingkat waktu” Om itu menarik nafas lalu menghembuskan pelan sebelum berbicara.
“om selaku keluarga dari pihak laki-laki dan mewakili anak Om, bermaksud ingin melamar Senja sebagai Istri untuk anak bungsu Om, Senja”