kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Faris meraba pergelangan tangan kirinya. Beruntung, jam tangan Rolex edisi terbatas, satu-satunya barang mewah yang tersisa masih melingkar di sana.
"Bangun..." suara Faris terdengar begitu parau dan bergetar. "Bangun kalian berdua. Menangis di sini tidak akan mengembalikan rumah kita."
Dengan sisa kekuatan yang ada, Faris menuntun istrinya berjalan kaki menembus teriknya matahari. Bertiga, mereka melangkah bagai serangkaian bayangan tanpa jiwa menuju sebuah toko jam tangan di pinggir kawasan pasar tua.
Hazel berjalan menunduk di belakang orang tuanya.
Saat melangkah masuk ke toko kecil yang berdebu itu, pemilik toko menatap ketiganya dengan pandangan curiga. Faris melepas jam tangan mewahnya dengan jemari gemetar, meletakkannya di atas etalase kaca.
"Tolong... hargai jam ini," bisik Faris lirih, menelan bulat-bulat harga dirinya. "Saya butuh uang tunai sekarang juga."
Si pemilik toko memeriksa jam tersebut, lalu menyunggingkan senyum sinis. Tahu betul bahwa sang pemilik sedang terdesak hebat,
"apa surat-suratnya ada?" tanya si pemilik toko dengan ramah.
Fariz menggelengkan kepalanya, "Kami baru saja di rampok, surat-surat berharga lainnya lenyap".
"Kalau surat-suratnya tidak ada, Jam tangan ini hanya di hargai murah .. Bahkan tidak sampai 20% dari harga aslinya"...
"Saya sedang butuh uang... berapapun harganya, tidak masalah" jawab Fariz dengan lesu, jam tangan yang ia beli dengan harga puluhan juta kini tak ubahnya barang rongsok yang tidak ada harganya.
pria itu menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu "Maaf tuan..., saya hanya bisa menghargai jam ini dengan harga 7 juta saja, kalau anda tidak mau, silahkan cari toko lain"
Faris hanya bisa memejamkan mata erat-erat, meremas lembaran uang itu dengan napas sesak.
Sore harinya, berbekal uang hasil penjualan jam tangan terakhir, keluarga Faris menyusuri lorong-lorong sempit di pemukiman padat penduduk. Bau getir sampah dan lembapnya dinding semen menyapa langkah mereka.
Faris menyewa sebuah kamar kontrakan sempit berukuran 3x7 meter dengan cat dinding yang mengelupas dan kipas angin tua yang berderit bising.
"kecil sekali!" keluh Hazel menatap jijik rumah tersebut.
"Ini jakarta.. Tempat sekecil ini saja Aku harus mengeluarkan uang 2 juta, kalau kau tidak suka, pergilah tidur di kolong jembatan" balas Fariz dingin.
Anggun duduk di atas kasur lantai yang tipis, menatap langit-langit kamar yang berjamur. Hazel meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri sembari terisak pelan tanpa suara. Sementara Faris bersandar di pintu kayu yang lapuk, memandang kedua wanita yang dulu dicintainya kini harus hidup dalam nestapa yang teramat sangat.
Di balik jendela kaca kontrakan yang buram, malam mulai turun. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, keluarga Faris harus memikirkan bagaimana cara mencari sepeser uang besok pagi hanya demi menyambung hidup.
Fariz keluar sebentar untuk membeli makanan dan air mineral "makanlah..kalau tidak mau ,kalian pergi saja, jangan menyusahkan ku" Fariz menyodorkan nasi bungkus dan air mineral pada istri dan anak tirinya.
Mereka bertiga makan dengan lahap menggunakan jari-jarinya, tidak ada sendok atau piring di sana.
____
Di sudut kamar kontrakan yang remang dan sempit, Hazel memeluk lututnya dengan jemari gemetar. Berbekal sisa kuota di ponsel tua yang di berikan manager hotel cuma-cuma, ia mencoba mengetik pesan dan menelepon teman-teman geng mewahnya satu per satu.
Harapannya membumbung tinggi, berharap ada satu saja uluran tangan dari mereka yang dulu setiap hari menempel padanya saat ia rutin mentraktir makan dan baju mahal.
Namun, harapan itu dihantam kenyataan pahit.
“Heh, Hazel! Nggak usah telepon-telepon lagi ya!” cecer suara salah satu temannya lewat pengeras suara ponsel, diselingi tawa ejekan dari yang lain. “Dasar anak durhaka tak tahu diri! Sudah mencuri dan menggadaikan aset orang tua sendiri sampai bikin keluargamu gelandangan, masih punya muka minta bantuan? Mending kamu ngaca deh, kamu itu udah miskin!”
Bip...
Sambungan diputus sepihak. Hazel terperanjat, dadanya sesak luar biasa. Rasa malu, hinaan, dan keputusasaan menghantamnya sekaligus hingga ia menutup wajahnya dan terisak parah tanpa suara di pojok ruangan.
Tiba-tiba, dari arah dapur kecil berukuran satu meter yang lembap, ponsel tua milik Anggun yang baru dibeli setelah menjual jam tangan Fariz dengan nomor darurat mendadak berdering nyaring.
Kringgg! Kringgg!
Anggun yang sedang duduk melamun di atas kasur lantai langsung tersentak. Dengan jemari gemetar, ia menyambar ponsel itu. "H-halo...?"
"Apakah ini dengan Nyonya Anggun, keluarga dari pasien Hadin?" suara petugas dari panti rehabilitasi terdengar sangat panik dan terburu-buru dari seberang telepon.
"I-iya! Saya ibunya! Ada apa dengan Hadin, Pak?!" jerit Anggun, membuat Faris yang sedang duduk termenung di lantai langsung menegakkan tubuhnya.
"Nyonya, mohon segera datang atau siapkan biaya perawatan darurat!" cecar petugas itu parau. "Pasien Hadin mengalami sakau yang sangat berat dan lepas kendali tadi siang. Beliau memecahkan jendela kaca kamar perawatan, lalu mencoba mengiris pergelangan tangannya sendiri menggunakan pecahan kaca tersebut! Saat ini pasien sedang dalam penanganan kritis di unit gawat darurat panti!"
DEGGGG!
Ponsel di tangan Anggun terlepas begitu saja, menghantam lantai semen yang dingin.
"HADIINNN!" jerit Anggun histeris, tersungkur memeluk lantai sembari meraung-raung. "Anakku... Ya Tuhan, Hadin..."
Faris merampas ponsel itu dengan mata berurat merah, namun lututnya mendadak lemas seketika. Anak laki-laki yang menjadi tumpuan harapan terakhirnya kini sekarat di panti rehabilitasi, sementara mereka bertiga bahkan tidak punya uang membayar biaya rumah sakit yang sangat mahal. Neraka yang menimpa keluarga itu kian hari kian tak bertepi.
Sementara itu, di lantai teratas penthouse yang megah dan hening, aroma teh melati hangat menguar lembut.
Jafar duduk bersandarkan sofa kulit mewahnya, memegang ponselnya sambil menemani Nina minum teh . Pria berdarah dingin itu berpura-pura sama sekali tidak tahu bahwasanya puluhan miliar rupiah di akun perbankannya telah sirna disambar Black Card yang dibawa Nina.
Sambil melirik Nina yang sedang sibuk minum teh lalu merapikan buku-buku kuliahnya di meja kaca, Jafar menelan ludahnya dengan kasar.
"Nina," panggil Jafar singkat, suaranya berat dan datar.
Nina menghentikan aktivitasnya, menoleh dengan mata jernihnya yang polos. "Iya, Tuan Jafar?"
"Kartu hitam yang saya berikan semalam..." pancing Jafar lekat-lekat, menyembunyikan binar mata ketertarikannya yang amat dalam. "Sudah kamu pakai untuk membeli baju atau kebutuhanmu?"
Nina tersenyum manis nan polos, melangkah mendekat sembari mengangguk lugu. "Sudah, Tuan! Nina sudah pakai sedikit buat beli kebutuhan... Nina juga minta tolong teman Nina buat uruskan beberapa hal."
Jafar mengetuk-ngetukkan jemarinya di tepi sofa , menahan tawa dingin yang hampir saja pecah. Secara teknis, beberapa hal yang dimaksud gadis ini adalah menyita rumah, tanah, dan seluruh saham musuhnya.
"Bagus," sahut Jafar dingin tanpa membocorkan bahwa ia sudah tahu detail transaksinya dari Dako. "Gunakan sesukamu. Lagipula... itu memang nafkahmu."
Nina mengangguk patuh dengan binar mata bahagia. Di mata Jafar, Nina tetaplah sosok istri siri yang lugu dan penurut,namun di balik senyuman manis itu, Jafar tahu betul ia sedang memelihara seekor mawar berduri yang sangat cerdas dan berbahaya.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰