Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 Sang Badai Dikabarkan

Nama Eliya sudah dikenal di dua kerajaan besar. Sang Badai pun mulai menjadi bisikan di pasar gelap, kedai-kedai, dan penginapan.

Dan di papan pengumuman di Kota Ashfall, pada kabar buronan muncul sketsa wajah Eliya. Sesuai dengan yang diceritakan dari mulut ke mulut. Di bawahnya tertulis hadiah yang tidak sedikit.

Hadiah: satu juta koin emas.

Di papan pengumuman itu tertulis :

WASPADA. GADIS TANPA SIHIR TELAH MENGHILANG. JIKA DITEMUKAN, BAWA HIDUP-HIDUP.

Eliya menatap poster itu sambil memakan roti di tangannya. Mulutnya sibuk mengunyah, tak peduli dengan sayembara yang terpampang di sana. Sementara di sebelahnya, nyaris tersedak.

"Kau tenang aja?" tanyanya menatap Eliya tak percaya.

Gadis itu mengangkat bahu dan berkata, "Di kehidupan pertamaku, aku juga diburu KPI. Itu sudah hal biasa."

Kael buru-buru menarik tudung jubahnya lebih rendah, matanya yang panik mengedar ke sekeliling kedai yang riuh. Kota Ashfall adalah tempat asal Eliya. Di mana dia dilahirkan tanpa bakat sihir, hidup sebagai sampah selama tujuh belas tahun, kemudian tempat kematian juga kebangkitannya. Semua cerita dimulai dari kota itu.

Lalu sekarang, wajahnya terpampang jelas di dinding utama setiap desa, menjanjikan kekayaan yang cukup untuk membeli satu kadipaten kecil.

"KPI? Apa itu? Aku tidak mengerti. Apakah semacam organisasi perburuan?" bisik Kael frustrasi, meremas cangkir kayunya hingga retak.

"Komisi Penyiaran Indonesia," jawab Eliya asal sambil menelan remah roti terakhir.

"Hah? Indonesia? Apa lagi?" Kael tercengang. Wajah bodohnya terlihat menggemaskan.

"Semacam polisi moral yang sensitif. Diburu mereka lebih melelahkan daripada diburu seluruh ksatria kerajaan Ignis, percayalah." Eliya menatap Kael dengan tatapan meyakinkan.

Kael hanya bisa menggelengkan kepala, menganggap ucapan Eliya sebagai efek samping dari 'hilangnya ingatan' setelah ia mendapatkan elemen kedua. Padahal, ia bertransmigrasi ke dunia sihir Aethervan.

Jiwanya terlempar dari dunia modern ke tubuh seorang gadis bangsawan yang dibuang karena tidak memiliki bakat sihir. Ironisnya, mereka yang membuang Aurelia sekarang justru gemetar karena kabar penyihir aneh yang bisa menggunakan lebih dari satu elemen.

'Fokus, Eliya!' Suara berat Zharvion bergema di dalam kepalanya.

Naga kuno penjaga bintang sihir kehidupan yang jiwanya terikat dengan Eliya itu terdengar tidak sabar.

'Inti Petir itu berada di puncak Tebing Meratap. Penjaganya adalah Gryphon Badai. Jika kau mati di sana, aku harus menunggu seribu tahun lagi untuk menemukan wadah sekasar dirimu.'

Suara Zharvion kembali menggema, menghentikan celotehan recehnya bersama Kael.

'Tenang, Zharvion. Mulutmu itu lebih berbisa daripada racun Basilisk,' balas Eliya dari dalam hati.

Zharvion terdiam, dia hanya mengingatkan Eliya agar bersiap menerima ujian selanjutnya

Gadis itu memberikan isyarat pada Kael untuk bergerak. Mereka melangkah keluar dari kedai, menyatu dengan kabut abu-abu pedesaan yang berbau belerang. Namun, baru dua tikungan dari pasar utama, langkah mereka terhenti.

Lima orang pria bertubuh kekar dengan zirah kulit hitam menghadang jalan. Di tangan mereka, kapak besar dan pedang pendek berlumuran darah kering sudah terhunus. Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu dengan bekas luka bakar di pipi, memegang robekan kertas dari papan pengumuman tadi.

Sektsa wajah Eliya.

"Kau ... gadis tanpa sihir di dalam poster," ucap salah satu dari mereka sembara menyeringai.

Seringai pria yang memamerkan deretan gigi kuningnya yang menjijikkan. Eliya merasa mual melihat itu.

"Satu juta koin emas berjalan tepat ke arah kita, Kawan-kawan." Dia berkata lagi disambut gelak tawa oleh rekannya.

Kael langsung menghunus pedang peraknya, melangkah maju untuk melindungi Eliya. Keberaniannya patut diacungi jempol, tapi cerobong dan bodoh.

"Eliya, mundurlah! Mereka Tentara Bayaran Gagak Hitam. Mereka tidak mengenal ampun," ucap Kael yang bersiap bertarung dengan kelima preman itu.

Eliya tersenyum, merasa terharu karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang melindungi dirinya. Namun, itu tidak perlu. Dia tidak membutuhkan perlindungan siapapun. Kalaupun ada, itu hanya Zharvion.

"Kael, minggirlah. Biar aku saja yang menghadapi mereka," ujar Eliya dengan nada suara datar.

Kael menoleh, mematap iba pada gadis tanpa bakat sihir itu.

"Tapi kau tidak punya sihir murni, Eliya! Biar aku ...."

Sebelum Kael menyelesaikan kalimatnya, Eliya melangkah melewatinya. Angin di sekitar tebing mendadak berhenti berembus. Suasana menjadi sunyi senyap, jenis kesunyian yang mencekam sebelum bencana besar melanda.

"Satu juta koin emas itu harga yang murah untuk kepalaku. Bukankah Lord Ignis terlalu pelit?" bisik Eliya pada diri sendiri.

"Wah, benar-benar gadis tanpa sihir yang berani. Kami tidak akan membunuhmu. Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu. Lagipula, Nona Seraphina menginginkanmu hidup-hidup," ucap mereka kembali tertawa terbahak.

"Seraphina?" Eliya mengulang nama itu. Nama yang mendengarnya saja sudah membuat darahnya mendidih.

"Benar. Dia jenius dari kerajaan Ignis, putri satu-satunya Lord Ignis dari kota Ashfall," jawab mereka lagi benar-benar memicu ledakan amarah di dalam diri Eliya.

Gadis itu menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah berbatu tanpa ragu.

BOOM!

Aura coklat pekat berlapis biru neon meledak dari tubuhnya. Gelombang kejut pertama meremukkan bebatuan di jalanan, membuat dua tentara bayaran di depan langsung berlutut karena gravitasi di sekitar mereka mendadak melonjak sepuluh kali lipat. Itu adalah kekuatan Zharvion yang mampu memanipulasi bumi absolut.

"Apa-apaan ini? Katanya dia tidak memiliki sihir?" teriak si mata satu, mencoba mengayunkan kapaknya.

Namun, pergerakannya terlalu lambat. Eliya menjentikkan jari, elemen air dari kelembaban udara mengental, membentuk puluhan jarum es biru yang tajam di udara. Tanpa belas kasihan, ia mengibaskan tangan. Jarum-jarum es itu melesat cepat, menembus bahu dan kaki mereka hingga terdengar suara jeritan yang histeris, mereka terpaku ke dinding-dinding batu di gang sempit itu.

Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, lima tentara bayaran elit itu lumpuh total tanpa harus mengotori tangan dengan darah mereka.

Kael membeku di tempat, pedangnya masih teracung bodoh. Dia selalu terpukau setiap kali melihat Eliya bertarung. Bagi dunia ini, apa yang gadis itu lakukan melanggar kodrat. Eliya tidak merapalkan mantra, dia tidak butuh tongkat sihir. Ia hanya memerintah alam, dan alam mematuhinya bagai budak yang setia.

"Se-semudah itu?" Kael bergumam tak percaya.

Eliya mendekati pemimpin mereka yang kini mengerang kesakitan, lalu menginjak dadanya perlahan.

"Katakan pada siapa pun yang menyuruhmu. Sang Badai tidak sedang bersembunyi. Aku sedang datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku," katanya dengan tegas, sorot matanya yang tajam cukup untuk membuat pemimpin preman itu bergetar ketakutan.

Eliya berbalik, mengabaikan tatapan ngeri dari beberapa pengintai di kegelapan yang menyaksikan pembantaian singkat itu. Biarkan saja mereka melihatnya. Biarkan ketakutan ini menyebar sampai ke telinga sang ayah yang telah membuangnya.

"Ayo, Kael. Kita punya Gryphon yang harus diburu," ujarnya sambil mempercepat langkah menuju gerbang utara. Dataran badai.

Perjalanan mengumpulkan tujuh inti elemen baru dimulai, dan Kerajaan Ashfall akan menjadi yang pertama merasakan amarah dari gadis yang pernah mereka sebut 'sampah'.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!