Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesambet Apa, Apin?

"Dikunci?"

Silva terlonjak kaget untuk kedua kalinya. Ia reflek berbalik dan mendapati Baffin rupanya sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.

Jarak mereka yang begitu dekat membuat Silva bisa mencium aroma samar sabun mandi dari tubuh cowok itu.

Silva mengangguk pelan dengan wajah agak canggung.

"Kenapa digembok?" tanya Baffin heran.

"Karena Bunda mau beresin rumah. Biar pekerjaannya cepet selesai, aku dikunci di luar," jawab Silva tanpa dosa.

Damn! Baffin menatap tralis besi itu dengan dahi berkerut dalam. "Setiap bunda kamu beresin rumah, kamu selalu dikunci di luar?"

Silva mengangguk lagi, membenarkan. "Kalau hari sekolah, Bunda beresin rumah pas aku sudah berangkat. Kalau hari libur biasa, aku dikunci di dalam kamar. Tapi, kalau Bunda mau beresin kamarku juga kayak hari ini... ya aku dikunci di luar rumah."

Baffin terdiam. Ia tahu betul bagaimana dahsyatnya efek tornado dari kecerobohan Silva di dalam rumah.         Kejadian "medan perang" dapur semalam sudah lebih dari cukup menjadi bukti valid mengapa Airin sampai harus mengambil tindakan ekstrem mengunci anak kandungnya sendiri di luar rumah demi keselamatan aset-alat rumah tangga mereka.

"Ya udah, gak usah dipanggil lagi. Langsung ke rumah temenmu aja," putus Baffin akhirnya. "Nanti aku yang kasih uang."

Silva tampak ragu dan menunjukkan gurat sungkan di wajahnya. "Tapi, Apin..."

"Sudah, gak apa-apa. Ayo," ujar Baffin meyakinkan.

Tanpa menunggu bantahan, Baffin meraih pergelangan tangan Silva dan menariknya dengan lembut menuju halaman rumahnya sendiri.

Silva hanya bisa mengekor pasrah dan menunggu dengan patuh di sebelah motor matic besar milik Baffin.

Beberapa saat kemudian, Baffin muncul kembali dari dalam rumah dengan membawa sebuah helm di tangannya.

Ketika langkahnya berhenti di depan Silva, gadis itu sempat menunjukkan raut wajah tegang. Matanya menatap gesper besi helm dengan tatapan trauma, teringat insiden dagunya yang terjepit dua minggu lalu.      Namun, kali ini Silva sama sekali tidak menolak atau berontak. Ia ingat perkataan Baffin tadi malam saat ia mengucapkan permohonan maaf atas kekacauan yang ia ciptakan di mall kemarin.

katanya: jika ia memang merasa bersalah soal insiden mangkok bakso yang pecah, ia harus menuruti semua perkataan cowok itu tanpa bantahan.

Silva membiarkan tangan besar Baffin bergerak dengan sangat hati-hati dan super pelan memasangkan helm ke kepalanya hingga terdengar bunyi klik yang aman.

Setelah memastikan posisi helmnya pas, Baffin mundur selangkah."Rumah teman kamu di mana?"

Silva mengerjapkan matanya, seolah baru tersadar dari lamunan pendeknya. "Mmm, cuman di perumahan sebelah. Deket banget. Gak usah pakai helm kali ya?" tanyanya ragu sambil mengangkat kedua tangannya, bersiap hendak melepas pengait helm.

"Tetap pakai," potong Baffin tegas, menepis pelan tangan Silva dari helmnya.

"Tapi kan cuman di perumahan sebelah loh, Apin... Paling gak sampai lima menit juga sampai."

Baffin menarik napas dalam-dalam, menatap lekat-lekat sepasang manik mata cokelat milik Silva yang menatapnya polos.

"Gak menutup kemungkinan ada sesuatu yang terjadi walaupun jaraknya deket, Cilpa. Apalagi ini kamu. Di dalam rumah yang aman aja kamu bisa kenapa-kenapa, apalagi di jalan raya? Kamu gak mau kan nanti di jalan tiba-tiba jatuh terus kepalamu pecah? Lagian kalau kamu terluka, yang repot itu bukan cuma kamu, tapi aku, Ayah, Bunda, semua orang! Bisa gak sih kamu tuh nurut dan gak usah bantah omongan aku demi kebaikan kamu sendiri?"

Baffin menghentikan kalimatnya dengan napas yang sedikit memburu.

Seketika itu juga, suasana di antara mereka mendadak hening. Silva melongo dengan bibir sedikit terbuka, menatap Baffin dengan tatapan syok sekaligus takjub.

Baffin sendiri mendadak membeku di tempatnya. Jantungnya berdesir aneh. Cowok itu mendadak tersadar dan merutuki kebodohannya sendiri.

Si*l, kenapa gue jadi cerewet gini? batin Baffin tidak percaya.

Selama ini, di tongkrongan, Baffin terkenal sebagai cowok yang paling hemat kata. Jangankan mengomel, membalas chat teman-temannya saja paling mentok hanya satu atau dua kata.

Namun barusan? Dia baru saja melepaskan rentetan kalimat panjang yang lebih mirip seperti seorang ayah yang sedang menceramahi anak balitanya.

Detik itu juga, isi kepala Baffin langsung berputar otomatis, melemparkannya pada ingatan obrolan bersama Bundanya beberapa hari lalu di ruang tengah.

Saat itu, Gilda menepuk pundak Baffin sambil tersenyum penuh arti.

  "Baffin, kamu dan Silva itu lahir di hari, tanggal, dan jam yang sama. Jiwa kalian itu sebenarnya satu kesatuan yang terbagi dua. Tapi waktu lahir, pembagiannya tidak seimbang. Sisi kehangatan, ekspresi, dan keceriaan yang harusnya dibagi rata untuk kalian berdua, justru tersedot habis dan menumpuk di dalam diri Silva sendirian."

Gilda menghela napas lembut mengingat pertumbuhan kedua anak itu.

"Kasihan Silva, Nak. Tubuh mungilnya dipaksa menampung energi keceriaan dan gairah hidup yang porsinya terlalu besar. Karena kapasitasnya berlebih dan meluap-luap, Silva jadi tidak bisa diam, tidak bisa fokus, dan akhirnya tumbuh menjadi anak yang super ceroboh. Sedangkan kamu? Kamu malah disisakan ruang kosong yang dingin, kaku, dan tidak punya gairah karena semua 'api' emosimu ada di cewek itu."

     Wanita paruh baya itu kemudian menatap manik mata anak lak-lakinya dengan lekat.

     "Tapi Tuhan itu adil. Sifat tenang dan logismu sengaja disisakan untuk jadi 'rem' penyeimbang agar kecerobohan Silva tidak sampai menghancurkan dirinya sendiri. Dan sebaliknya, meluapnya energi Silva adalah satu-satunya obat untuk memicu emosimu. Kamu lihat nanti... cuma tombol ajaib dari Silva yang bisa mencairkan sifat dinginmu, bahkan tanpa kamu sadari."

      Baffin menelan ludahnya yang terasa kelat.

Ternyata... omongan Bundanya yang sempat ia anggap takhayul kuno itu seratus persen terbukti benar hari ini.

Hanya menghadapi seorang Silvanna, benteng pertahanan es di dalam dirinya bisa runtuh dalam sekejap, mengubahnya menjadi sosok penceramah dadakan dalam hitungan detik.

Sifat Silva benar-benar sial*n—bisa memancing keluar sisi lain dari diri Baffin yang selama ini terkunci rapat.

"A-apin..." panggil Silva memecah keheningan, suaranya mencicit pelan karena agak ngeri melihat kilatan mata Baffin. "Kamu... kesambet apa kok tiba-tiba ngomongnya panjang banget?"

Baffin berdeham berat, buru-buru memasang kembali topeng datarnya demi menyembunyikan rasa salah tingkah yang mendadak menyerang harga dirinya.

"Gak usah banyak tanya. Buruan naik," titah Baffin ketus sambil memalingkan wajahnya dan langsung naik ke atas jok motor, menyembunyikan semburat tipis yang mendadak muncul di kedua telinganya.

Motor matic besar milik Baffin melaju mulus membelah jalanan aspal, melewati pos penjagaan satpam kompleks perumahan Beverly yang terkenal ketat.

Begitu ban motornya menyentuh area luar gerbang utama, Baffin mulai menurunkan kecepatan berkendaranya. Di sekitar kawasan perumahan yang ada di jantung kota itu, setidaknya ada tiga kompleks perumahan besar yang lokasinya saling berdekatan.

Baffin menghentikan motornya di pinggir jalan yang agak teduh, lalu menoleh sedikit ke belakang melalui kaca helmnya. "Di mana rumah temanmu?" tanya Baffin datar.

Silva tidak langsung menjawab. Gadis itu tampak menimbang sesuatu di dalam kepalanya, lalu menepuk pundak tegap Baffin dengan gerakan ragu. "Apin... kalau kita mampir beli jajan dulu boleh gak? Aku pengen jajanan aja, gak usah dikasih uang tunai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!