Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pukul setengah sebelas malam. Suara deru angin malam bertiup kencang, menyamarkan bunyi derit halus pintu kamar yang dibuka secara perlahan.
Arka melangkah keluar dari dalam kamar dengan pakaian serba hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya. Tidak ada lagi kaus Abu-abu lusuh atau celana longgar. Di balik jaket taktis berkerah tinggi yang ia kenakan, Arka menyembunyikan sepasang pisau belati dan senapan berperedam suara.
Ia melirik ke arah ranjang sejenak. Kinanti tampak tertidur lelap di bawah selimut tebalnya. Arka mengecup dahi istrinya sangat pelan, hampir tak menyentuh kulit, lalu menyelinap keluar menembus kegelapan malam.
Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor sudah menunggu di ujung gang yang sepi. Pintu belakang terbuka otomatis begitu Arka mendekat. Di dalam mobil, dua anak buah lamanya yang mengenakan jas rapi langsung menundukkan kepala dengan penuh hormat.
"Tuan Arka," sapa salah satu dari mereka dengan nada tegas. "Semua titik keluar-masuk di pelabuhan tua udah diblokir oleh tim kita. Pimpinan klan Red Dragon ada di dalam gudang nomor tiga."
"Bagus," sahut Arka dingin seraya memasang sarung tangan kulit hitamnya. "Ingat aturan utamanya,*jangan ada satu pun dari mereka yang lolos, dan selesaikan sebelum pukul dua pag*i...Aku harus nyenyeduh teh buat istriku sebelum dia bangun."
Satu jam kemudian, di dalam gudang tua Pelabuhan yang temaram dan berbau garam.
Suara dentuman keras memecah keheningan malam saat pintu besi gudang tersebut roboh dihantam ledakan kecil. Belasan anggota klan Red Dragon yang sedang bersiap membawa senjata api mendadak panik.
Sebelum mereka sempat mengambil posisi tempur, sebuah bayangan hitam melesat masuk bagaikan kilat. Arka bergerak cepat mematikan, melepaskan tembakan-tembakan presisi yang melumpuhkan musuh satu per satu tanpa ampun. Dalam kurun waktu kurang dari lima menit, puluhan pria tegap yang sebelumnya begitu membanggakan nama klan Red Dragon kini tergeletak tak berdaya di atas lantai beton yang basah.
Arka melangkah santai menuju pimpinan klan Red Dragon yang sudah tersudut di pojok ruangan dengan kaki tertembak. Arka mencengkeram rahang pria itu, menatapnya dengan pandangan dingin yang membuat nyali pria itu menciut seketika.
"Ini peringatan terakhirku untuk kelompokmu," bisik Arka tepat di depan wajah musuhnya. "Mulai malam ini, klan Red Dragon dianggap tidak pernah ada lagi di kota ini."
Pukul satu malam lewat empat puluh lima menit.
Kinanti terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Ia meraba sisi ranjang di sampingnya, namun jemarinya hanya menyentuh sprei yang dingin dan kosong.
Kinanti membuka matanya penuh, membalikkan badan. Arka tidak ada di sana.
"Mas Arka...?" panggil Kinanti dengan suara parau.
Tidak ada jawaban.
Kinanti bangkit berdiri, menyalakan lampu kamar, dan melangkah menuju dapur serta kamar mandi. Rumah kecil mereka benar-benar sepi. Pintu dapur belakang tampak terkunci, namun jaket dan sandal Arka tidak ada di tempatnya.
Jantung Kinanti mulai berdegup kencang. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selongsong peluru yang ia temukan pagi tadi. Rasa curiga yang sempat ia tepis kini datang kembali menghantam pikirannya dengan begitu kuat.
Mas Arka ke mana malam-malam gini? batin Kinanti cemas seraya menatap pintu depan yang terkunci dari luar.
Tepat saat Kinanti hendak mengambil ponselnya untuk menelepon, gagang pintu depan perlahan berputar.
kreekk
Gagang pintu depan berputar pelan, menyisakan bunyi derit halus yang memecah keheningan malam. Kinanti berdiri membeku di tengah ruang tamu yang remang-remang, meremas selongsong peluru kuningan di dalam saku celananya dengan buku-buku jari yang memutih.
Pintu terbuka. Sosok Arka melangkah masuk.
Pria itu mengenakan jaket bertopi yang ditarik rendah. Namun, begitu matanya menangkap keberadaan Kinanti yang berdiri menatapnya di balik kegelapan, langkah Arka terhenti seketika. Untuk pertama kalinya, ada kilatan panik kecil di mata Arka, sebuah ekspresi yang tak pernah dilihat oleh musuh-musuh terhebatnya di dunia bawah tanah.
Arka dengan cepat melepas topinya, menyunggingkan senyum hangat yang biasa. Namun, napasnya sedikit terengah dan bau samar perpaduan antara angin malam serta aroma besi karat yang khas bau darah tercium samar oleh Kinanti.
"Kin? Kok belum tidur, Sayang?" tanya Arka dengan suara yang diusahakan selembut mungkin. Tangannya bergerak cepat menyembunyikan kunci dan merapikan posisi jaketnya.
Kinanti tidak membalas senyuman itu. Matanya menatap lurus ke arah Arka, penuh dengan campuran rasa sakit, bingung, dan rasa takut yang mendalam.
"Mas Arka dari mana aja, jam dua pagi gini?" suara Kinanti terdengar gemetar, menahan tangis yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Arka melangkah mendekat, mencoba mengikis jarak di antara mereka. "Mas... Mas tadi cuma keluar sebentar, Kin. Ada kucing liar yang kejepit di bawah gerobak di halaman depan, jadi Mas bantu lepasin.."
"Stop, Mas! Cukup!" potong Kinanti seraya melangkah mundur satu pijakan. Air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Jangan bohong lagi... aku mohon, jangan anggap aku wanita bodoh yang bisa Mas bodohi terus-menerus!"
Langkah Arka terhenti. Kalimat itu menghantam dadanya lebih menyakitkan daripada peluru mana pun yang pernah menembus tubuhnya.
"Kinanti..." gumam Arka, suaranya melembut penuh rasa bersalah.
Kinanti merogoh saku celananya, lalu melempar selongsong peluru kuningan itu ke lantai di depan kaki Arka.
Tingg
Benda logam itu berdenting nyaring saat menghantam ubin semen.
"Mainan kelereng? Pistol pistolan?" Kinanti tertawa sumbang di tengah isak tangisnya. "Aku sudah cek internet tadi pagi, Mas! Ini selongsong peluru asli! Dan orang-orang berjas kemarin... cara Mas menjatuhkan pisau di dapur... refleks Mas yang nggak masuk akal... Mas Arka sebenarnya siapa?!"
Arka menatap selongsong peluru di tanah, lalu mengalihkan pandangannya pada Kinanti. Aura pembunuh dingin yang selalu ia agungkan menguap tanpa bekas. Di depan wanita yang sangat dicintainya ini, Arka hanyalah seorang pria yang ketakutan setengah mati akan kehilangan belahan jiwanya.
"Aku cuma tukang cilok, Kin..." bisik Arka, suaranya tercekat.
"Bohong!" seru Kinanti, dadanya naik turun menahan emosi. "Tukang cilok mana yang didatangi mobil-mobil mewah berplat luar daerah? Tukang cilok mana yang ngilanh tengah malam gini trus pulang bawa bau darah?! Kalau Mas Arka memang sayang sama aku... tolong jujur, Mas!"
Hening mencekam menyelimuti ruang tamu yang sempit itu. Hanya suara isak tangis Kinanti yang tertahan dan deru angin malam di luar yang terdengar.
Arka perlahan berjalan mendekat. Kali ini Kinanti tidak melangkah mundur, meski tubuhnya masih gemetar hebat. Arka berlutut di atas ubin semen yang dingin, tepat di hadapan Kinanti. Pria yang ditakuti ribuan orang di dunia bawah tanah itu kini menundukkan kepalanya, memegang kedua kaki istrinya dengan tangan yang gemetar.
Bersambung...