Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Suasana haru mulai memenuhi aula tempat akad itu berlangsung.

Gedung tersebut tidak dihias secara berlebihan. Kaizar dan Amira memang tidak menyukai pesta yang terlalu mewah atau penuh kemilau. Mereka memilih ruangan yang luas dengan nuansa hangat, dihiasi bunga-bunga putih dan sedikit tanaman hijau di beberapa sudut. Kursi para tamu ditata rapi dengan kain berwarna lembut, sementara cahaya dari lampu-lampu gantung sederhana membuat seluruh ruangan terasa tenang dan nyaman.

Di bagian depan, pelaminan dibuat dengan desain yang elegan. Tidak banyak ornamen, tidak ada hiasan yang memenuhi setiap sisi. Hanya rangkaian bunga putih, kain berwarna krem, serta beberapa lilin kecil yang memberikan kesan hangat.

Sederhana, tetapi tetap indah.

Dan justru kesederhanaan itulah yang membuat suasana pernikahan Kaizar dan Amira terasa begitu dekat.

Para tamu yang sebelumnya sempat dibuat bimbang oleh kejadian pagi tadi kini mulai mengubah pandangan mereka. Bisikan-bisikan yang semula dipenuhi kecurigaan perlahan berganti dengan ucapan syukur dan doa.

Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Kaizar tetap berdiri di sisi Amira ketika perempuan itu sedang berada dalam keadaan yang paling sulit. Bagi sebagian orang, mungkin tindakan Kaizar adalah sesuatu yang sederhana.

Bagi Amira, itu jauh lebih berarti. Tangis kebahagiaan mulai membasahi pipinya. Ia masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi.

Gadis yang sejak kecil merasa disisihkan oleh keluarganya kini duduk sebagai seorang istri. Bukan hanya menikah dengan seorang pria yang beberapa minggu lalu bahkan belum dikenalnya, tetapi juga dengan seseorang yang memilih membelanya ketika banyak orang mulai meragukan dirinya.

Amira menundukkan wajahnya sebentar.

Dalam hati, ia seperti sedang berbicara kepada seseorang yang sudah lama tidak berada di sisinya.

Ibu, akhirnya aku menikah. Dengan pria yang sangat baik. Semoga selamanya dia juga baik kepadaku, Bu.

Amira menyeka air mata yang terus mengalir. Di sampingnya, Kaizar menggenggam tangan sang istri.

Meski pria itu duduk di kursi roda dan tidak dapat berdiri seperti kebanyakan pengantin pria, tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya. Keadaan tubuhnya tidak pernah membuat tekadnya berkurang.

Mulai hari ini, Amira adalah istrinya. Dan ia akan melindungi perempuan itu dari siapa pun yang berniat menyakitinya.

Kaizar menatap wajah Amira yang masih basah oleh air mata. "Mulai detik ini dan seterusnya, kau milikku."

Suara Kaizar terdengar tetap dingin dan kaku. Ia memang bukan pria yang pandai merangkai kata-kata romantis. Namun bagi Amira, kalimat sederhana itu sudah cukup membuat hatinya terasa hangat.

Amira tersenyum di tengah air matanya. "Ah, Tuan Dingin. Terima kasih, ya, sudah melindungi aku dan membelaku seperti ini."

Kaizar mengusap jemari Amira yang berada dalam genggamannya.

"Kau pantas mendapatkan semua itu."

Amira kembali menunduk.

Kaizar mengangkat wajahnya. Tangannya bergerak hendak menyeka air mata yang masih mengalir di pipi istrinya, tetapi Amira lebih dulu menahan tangan tersebut.

"Kenapa dihapus?" tanya Amira sambil menatapnya.

"Aku tidak mau melihatmu menangis."

Amira tersenyum kecil.

"Biarkan saja. Air mata ini menjadi saksi kebahagiaanku hari ini."

Kaizar tidak menjawab. Ia hanya membiarkan tangannya tetap berada di genggaman Amira.

Kemudian perempuan itu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan. Para tamu mulai tersenyum dan beberapa di antaranya sudah bersiap naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Namun di antara wajah-wajah bahagia itu, Amira mencari seseorang.

Ayahnya.

Ganjar masih berdiri tidak jauh dari tempat keluarga Wijaya duduk. Sejak akad selesai, pria itu lebih banyak diam. Tidak ada senyum lebar, tidak ada ucapan selamat yang hangat, bahkan tidak ada pelukan yang biasanya diberikan seorang ayah kepada putrinya di hari pernikahan.

Amira menatapnya cukup lama.

"Papi..." gumamnya pelan.

Kaizar yang berada di sampingnya mendengar panggilan itu.

"Kenapa?"

Amira menggeleng. "Enggak apa-apa."

Ia kembali melihat ayahnya. "Rasanya aneh saja. Seorang anak yang hendak menikah, tapi ayahnya sendiri seperti tamu undangan."

Amira tersenyum pahit. "Tidak ada pelukan terakhir. Bahkan ciuman di kening pun tidak ada."

Kaizar mengarahkan pandangan kepada Ganjar, kemudian kembali kepada istrinya.

"Jangan bicara seperti itu."

Amira menatapnya. "Kenapa?"

"Karena aku tidak suka melihatmu mengemis perhatian atau kasih sayang kepada siapa pun."

Suara Kaizar tetap tenang, tetapi tegas. "Kau tidak perlu mengejar orang yang tidak mau memberikannya."

Amira terdiam.

Kaizar melanjutkan, "Mulai sekarang, kau punya rumah. Kau punya tempat untuk pulang."

Amira menatap pria di hadapannya.

"Dan kau?"

"Aku ada di sana." Jawaban singkat itu membuat dada Amira terasa penuh.

Ia mengangguk. Untuk saat ini, ia tidak ingin memikirkan apa pun selain kebahagiaan yang baru saja didapatkannya.

Namun jauh di dalam hati, masih ada bagian dirinya yang berharap suatu hari nanti ayahnya akan melihatnya sebagai seorang anak, bukan sebagai kesalahan masa lalu.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Tidak jauh dari sana, Alika berdiri bersama Ambar.

Senyum yang sejak tadi ia pasang di hadapan para tamu perlahan menghilang begitu tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Rencananya untuk membuat Amira dipermalukan ternyata tidak berjalan seperti yang ia harapkan.

Foto-foto yang seharusnya membuat orang meragukan Amira justru tidak berhasil menghentikan pernikahan.

Lebih buruk lagi, Kaizar malah semakin menunjukkan keberpihakannya kepada Amira.

Sial.

Anak itu akhirnya tetap menikah.

Alika menatap ke arah pelaminan.

Amira sedang menerima ucapan selamat dari beberapa tamu. Wajahnya masih sembap karena menangis, tetapi senyum di bibirnya terlihat begitu tulus.

Orang-orang yang sebelumnya berbisik kini justru mendoakan rumah tangganya.

Seolah-olah semua kejadian buruk yang sudah disiapkan Alika tidak pernah terjadi.

"Jangan terlalu dipikirkan."

Suara Ambar terdengar dari sampingnya.

Alika menoleh.

"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya, Mi?"

"Karena ini belum selesai."

Ambar mendekat dan berbicara lebih pelan agar tidak terdengar orang lain.

"Begitulah cara seorang jalang bekerja. Dia pura-pura menjadi korban, padahal dialah yang menjadi sumber masalah."

Alika kembali melihat Amira.

"Dia memang persis seperti ibunya."

Ambar mengangguk.

"Biarkan saja dia bahagia untuk sementara."

Nada suaranya berubah dingin.

"Nanti juga kebahagiaan itu akan berakhir."

Alika menatap ibunya.

"Aku tidak akan membiarkan dia benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini."

"Kamu memang anak yang baik."

Ambar tersenyum puas.

"Aku tidak akan rela keluarga kita memasukkan Amira ke dalam Kartu Keluarga Wijaya hanya karena kakek dan nenekmu memaksa."

Alika mengangguk.

"Kalau bukan karena mereka, mungkin sejak dulu Amira sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan keluarga ini."

Ambar menatap ke arah pelaminan.

"Jangan lupakan satu hal. Kakek dan nenekmu yang paling keras membela perempuan itu."

Alika mengerutkan kening.

"Padahal semua orang tahu dia masuk ke kehidupan Papi sebagai wanita lain."

Ambar terdiam.

Ada kebencian lama yang kembali muncul setiap kali masa lalu itu disebut.

"Kamu masih terlalu muda ketika semua itu terjadi," bisiknya. "Kamu tidak tahu bagaimana semuanya bermula."

Alika menoleh.

"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?"

Ambar tidak langsung menjawab.

Matanya tetap tertuju kepada Amira.

Kisah yang selama bertahun-tahun diceritakan keluarga Wijaya memiliki versi yang berbeda dari kenyataan yang sesungguhnya.

Ibu Amira memang pernah berada dalam satu malam bersama Ganjar. Ambar menyebutnya sebagai perempuan yang sengaja merebut suami orang.

Keluarga Wijaya menyebutnya sebagai aib. Tetapi kakek dan nenek Amira justru melakukan hal yang tidak pernah bisa diterima Ambar.

Mereka membela perempuan itu. Bahkan setelah mengetahui perempuan tersebut mengandung Amira. Bukan karena mereka ingin menghancurkan rumah tangga Ganjar. Bahkan mereka tidak membenarkan hubungan itu.

Ada sesuatu yang mereka ketahui tentang malam tersebut. Sesuatu yang tidak pernah diceritakan kepada Amira. Sesuatu yang membuat mereka yakin bahwa ibu Amira bukanlah pelakor seperti yang selama ini dikatakan keluarga Wijaya.

Dan di balik semua itu, ada jebakan yang sengaja dibuat oleh beberapa orang yang iri kepadanya.

Malam itu seharusnya tidak pernah terjadi.

Namun sebuah rencana licik membuat ibu Amira berada di tempat yang salah, bersama orang yang salah, dalam keadaan yang tidak pernah ia kehendaki.

Beberapa minggu kemudian, ia mengetahui bahwa dirinya hamil. Dan sejak saat itulah hidup Amira mulai ditentukan oleh kebencian orang-orang yang bahkan tidak pernah mau mendengar kebenaran.

Namun kisah lengkap tentang malam itu masih tersimpan rapat. Termasuk alasan mengapa kakek dan nenek Amira begitu keras mempertahankan keberadaan cucu mereka di keluarga Wijaya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

"Mir."

Suara Kaizar membuat Amira kembali tersadar dari lamunannya.

Ia menoleh.

Kaizar sedang memperhatikannya.

"Kamu kenapa?"

Amira menggeleng.

"Enggak apa-apa. Aku cuma melihat Papi."

Kaizar mengikuti arah pandangnya.

"Kalau kau ingin menghampirinya, pergilah."

Amira menatapnya.

"Menurutmu aku harus?"

"Itu keputusanmu."

Kaizar tidak pernah ingin menentukan pilihan hidup Amira.

"Kalau kau ingin bicara dengan ayahmu, aku tidak akan melarang."

Amira melihat Ganjar sekali lagi.

Pria itu masih berdiri di tempat yang sama.

Untuk sesaat, Amira ingin mendekatinya.

Ingin bertanya mengapa di hari pernikahannya sendiri, ayahnya bahkan tidak mampu memberikan satu pelukan.

Tetapi akhirnya ia menggeleng.

"Nanti saja."

"Yakin?"

Amira mengangguk.

"Hari ini aku ingin bahagia."

Kaizar menggenggam tangannya.

"Kalau begitu, bahagialah."

Amira tersenyum.

Kali ini ia tidak lagi melihat ke arah keluarganya.

Ia memilih menatap pria di sampingnya.

Pria yang beberapa minggu lalu masih terasa asing, tetapi hari ini justru menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa benar-benar dipilih.

Di tengah suara ucapan selamat dan langkah para tamu yang mulai mendekati pelaminan, Amira menggenggam tangan Kaizar lebih erat.

Hari pernikahannya memang tidak berjalan seperti yang mereka rencanakan. Tetapi mungkin, justru dari kekacauan itulah sebuah kehidupan baru benar-benar dimulai.

Bersambung...

Sudah bab 20 minta doanya ya kak. Semoga lolos bab terbaik. Jujur saja kejadian Azmira kemarin aku masih takut. retensi bagus tapi tetap tidak lolos makanya yang ini aku harap-harap cemas. Hanya minta doa saja ya. 🙏🙏🙏🙏

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!