Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sebuah mobil berwarna gelap berhenti di depan kediaman Arkatama saat hari sudah berganti malam. Pintu sisi kemudi terbuka, Gatra turun dan segera mengitari mobil untuk membuka pintu sisi penumpang. Tangannya terulur, sesaat kemudian tangan seorang wanita menyambutnya.
Arina Arkatama -adik Meira, turun dari mobil dan segera melingkarkan tangannya ke lengan suaminya. Sesaat, ia memandang wajah sang suami, pria yang beberapa jam lalu mengatakan agar ia tidak perlu menunggu makan malam melalui telepon dengan alasan pekerjaan, tetapi segera meninggalkan urusannya ketika ia mengatakan mereka perlu menjenguk Damar setelah ia baru pulang dari luar kota.
Dan di sinilah mereka sekarang. Ia tersenyum, sebelum membawa langkahnya menuju pintu utama. Baru saja mereka melewati pintu, Savera setengah berlari menyongsong mereka dan segera memeluk Arina erat.
"Mama."
Tangan Arina yang sebelumnya melingkar di lengan Gatra terlepas, berpindah mengelus rambut putri angkatnya saat ia membalas pelukan sang putri.
"Dasar bandel, kamu sengaja tidak pulang setelah melihat Om-mu kemarin kan? Apa kamu berencana menginap di sini lagi malam ini?" tanya Arina tersenyum.
"Rencananya begitu." jawab Savera melerai pelukan disertai kekehan pelan. "Tapi karena Mama sudah kembali dari luar kota, aku akan pulang bersama Mama nanti."
Bukan hal aneh baginya ketika putrinya menginap di kediaman Arkatama. Kedekatan yang terjalin antara Savera dan Ravian sejak kecil membuat putrinya sering kali menginap di kediaman Arkatama, dan tidak ada yang menganggapnya aneh.
Arina kembali melanjutkan langkah. Begitu tiba di ruang keluarga, ia disambut oleh suara hangat Meira.
"Kau membuat satu keluarga cemas, Damar," Gatra membuka suara begitu ia mendudukkan tubuhnya di sofa.
Damar mendengus pelan. "Kamu bicara seolah aku sengaja menabrakkan mobilku saja."
"Kalau melihat sisi keras kepalamu, kemungkinan itu tetap ada."
Jawaban Gatra membuat Ravian terkekeh, bahkan Meira yang duduk di samping Damar pun tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Dokter melarangnya bekerja, tapi sejak sore sudah tiga kali dia meminta laptop," keluh Meira.
"Aku hanya ingin membaca laporan," sanggah Damar.
"Laporan yang sama bisa kamu lihat besok," sahut Meira.
Damar baru akan membalas ketika ayah mertuanya lebih dulu menyela. "Dengarkan istrimu kalau kamu masih ingin bekerja setelah sembuh."
Gatra menyandarkan punggungnya dengan senyum tipis menghiasi bibirnya, membiarkan percakapan hangat keluarga mengalir beberapa saat sebelum Damar mulai menyinggung pemeriksaan Arkatama Industrial.
"Daneswara hampir selesai."
Gerakan Gatra saat akan mengambil cangkir berisi teh yang baru saja tersuguh untuknya terhenti. Tatapannya berubah sepersekian detik sebelum kembali normal saat ia menatap Damar.
"Mereka sudah menemukan kebocorannya?" tanya Arina yang sejak tadi duduk di samping Savera.
"Belum sampai ke pelakunya," jawab Damar. "Tapi Nona Keira mengatakan pola transaksi mulai terbentuk."
"Itu bagus." ucap Gatra akhirnya mengambil cangkir dan menyesap isinya. "Semakin cepat selesai semakin baik. Jika ada orang dalam yang bermain, jangan beri dia waktu untuk membersihkan jejak."
Damar mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian, suasana menjadi lebih santai saat Arina membicarakan perjalanan luar kotanya. Savera sesekali menyela, sementara Ravian sesekali bertanya.
Di tengah percakapan itu, Gatra mengeluarkan ponsel dengan gerakan santai, mengetik pesan untuk seseorang, dan tak satu pun dari mereka curiga akan pesan yang ia kirim.
Bahkan, saat malam semakin larut dan Gatra berpamitan, Damar sempat menyarankan agar Gatra tidak terlalu memaksakan diri mengambil banyak pekerjaan selama dirinya belum kembali ke kantor.
"Jangan khawatir." ucap Gatra seraya bangun dari duduknya. "Fokus saja pada kesehatanmu. Perusahaan tidak akan runtuh hanya karena kau beristirahat beberapa hari."
Gatra berbalik pergi bersama istri dan putrinya meninggalkan kediaman Arkatama.
"Perusahaanmu akan baik-baik saja andai kau memiliki penerus yang sedikit lebih berguna," lanjut Gatra dalam hati.
.
.
.
Keesokan harinya. . .
Beberapa lembar dokumen berserakan di atas meja ketika Keira menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan wajah lelah.
“Kalau aku membaca nama Sentra Logistik sekali lagi, mungkin malam ini aku akan memimpikannya.”
“Setidaknya di mimpi Ibu bisa langsung bertanya siapa yang menyetujui kontraknya,” Elang berkomentar datar tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang tengah menyala di hadapannya.
Keira mendengus, netranya menatap lekat wajah pria yang masih dengan santainya mengetik di keyboard laptop. “Kamu menjadi lebih berani bicara sejak tanganku mengobati lukamu.”
“Berarti obatnya punya efek samping," jawab Elang tanpa jeda.
Sudut bibir Keira hampir terangkat ketika Nadia masuk membawa beberapa lembar hasil cetak.
“Aku menemukan sesuatu.” ujarnya sembari meletakkan lembaran kertas yang ia bawa ke meja.
Keira segera menegakkan punggungnya, begitu pula dengan Elang yang segera menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Keira.
“Tambahan kontrak Sentra Logistik diproses empat bulan lalu,” jelas Nadia. “Tapi persetujuan terakhir masuk hampir tengah malam.”
Jari Keira bergerak mengikuti baris yang Nadia tunjukkan, kemudian terhenti pada satu nama yang tertulis di sana.
Elang ikut membaca, menemukan nama yang membuat Keira terdiam, namun wajahnya tak ada perubahan. Sebaliknya, fokusnya justru tertuju pada waktu yang tercantum di sana.
Dahi Elang mengernyit. “Jam sebelas malam?”
Nadia mengangguk. “Padahal menurut absensi, beliau keluar sekitar jam tujuh.”
“Adakah kemungkinan bisa dilakukan dari luar?” tanya Keira.
Nadia menggeleng. “Sistem lama hanya bisa diakses dari jaringan internal.”
Elang tidak mengatakan apa pun. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka catatan yang ia buat sejak awal pemeriksaan, lalu kembali menatap dokumen.
“Empat bulan lalu tanggal berapa?” tanya Elang.
Nadia menyebutkan tanggal.
Jemari Elang berhenti bergerak. “Ada audit internal malam itu.”
Keira menoleh.
Elang melanjutkan. "Itu tertulis di laporan keamanan yang kita baca kemarin.”
Elang bangkit dan berjalan menuju tumpukan map di meja lain, kemudian kembali lagi membawa satu lembar dokumen.
“Tiga orang dari kantor pusat datang malam itu.”
Keira menerima dokumen yang Elang sodorkan, lalu membacanya, dan menemukan beberapa nama pegawai kantor pusat tercantum di sana. Namun, ketika laporan tambahan dibuka, hampir seluruh proses tetap berakhir pada satu nama.
Bram Mahesa.
. . .
. . .
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????