Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:501
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Beberapa saat kemudian makanan yang terhidang di meja sudah pindah ke dalam perut. Sebagian besar Nismara yang telah melahapnya. Miranti sampai keheranan, Baru kali ini dia melihat Nismara begitu terlihat kelaparan.

"Haduh, aku kekenyangan, Mir. Kalau kenyang aku jadi bego begini, nggak bisa mikir. Aku mau pulang aja deh."

Miranti tersenyum geli. "Ya, aku bayar dulu, Nis!"

"Kamu kalau masih mau nongkrong di sini silakan, Mir, aku pulang naik taksi aja." Kata Nismara sambil mengambil tasnya.

"Tunggu, aku antar kamu pulang, Nis. Ngapain juga aku nongkrong sendirian di sini."

Miranti menuju kasir dan membayar makanan dengan kartu milik kantor. Orang - orang sering mengira bahwa dia selalu mentraktir Nismara setiap saat mereka makan atau berbelanja. Padahal semuanya telah ditanggung oleh Nismara melalui uang khusus dari kantor.

"Bisa lewat ke Mahkota Gym dulu nggak? Muter dikit." tanya Nismara ketika mereka sudah di dalam mobil. "Cuma lewat aja, pengen lihat suasana menjelang tutup."

Miranti mengangguk.

Saat melintas di depan bangunan yang Nismara maksud, mereka berdua melihat sebuah mobil berhenti di dekat pos keamanan. Kaca pintunya terbuka maksimal, dan terlihat sosok di dalam mobil itu sedang bicara pada penjaga yang tadi Nismara temui.

"Kayak pernah lihat laki-laki itu ya, Mir." Nismara menoleh pada Miranti.

Dari balik kemudinya Miranti fokus melihat beberapa detik. "Ya, aku pun merasa tidak asing dengan wajahnya. Siapa ya?"

Namun sampai mobil mencapai rumah Nismara, mereka berdua tidak mampu mengingat Siapa laki-laki yang wajahnya familiar itu.

"Betul kan? Kalau kekenyangan aku jadi bego kamu pun ikut-ikutan ketularan, Mir. Padahal yang kekenyangan cuma aku." Nismara menyeletuk sambil turun dari mobil. Miranti tertawa keras meresponnya.

***

Esok pagi nya, ketika sedang berada di kamar mandi.....eh entah kenapa ya, Nismara kalau lagi buang hajat, sering nemu ide yang lumayan emas.

Setelah selesai membuang hajat, Nismara melihat jam masih menunjuk pukul lima. Masih terlalu pagi untuk menghubungi Miranti dan Benjamin. Karena nya Dia menuju ke ruang olahraga di rumahnya.

Dalam rumahnya yang mewah memang terdapat ruang tersendiri untuk berolahraga. Alat-alat untuk menunjang kebugarannya pun cukup komplit.

Sejak melahirkan sharing dulu, Nismara memang kecanduan olahraga keras, sebagai bentuk pelepasan stresnya. Ya Bagaimana tidak stress, hamil di usia 14 lebih dan melahirkan di usia 15 tahun. Dia bahkan baru menginjak kelas 1 SMA saat itu. Satu persatu teman menjauh dan mencemoohnya. Hanya Miranti yang tetap setia.

Melahirkan di rumah sakit sendirian, hanya ditemani Mbak Yuyun. Papanya malah mengajak istri barunya pergi berlibur ke Hawaii. Gerald datang seorang diri saat bayi sudah dimandikan, tapi laki-laki itu sama sekali tidak tertarik melihat bayinya. Gerald hanya duduk di dekat tempat tidur Nismara, menyerahkan sejumlah uang tunai dan sebuah kartu ATM.

"Sore ini aku akan terbang ke Sydney, Nis. Aku pamit." ujar Gerald mengecup kening Nismara sekilas. "Sampai ketemu lagi."

Satu-satunya janji kosong yang Gerald katakan pada Nismara. Sebab setelah itu jangankan bertemu, memberi kabar via telepon pun dia tidak pernah lakukan. Pertemuan pertama setelah perpisahan mereka adalah ketika Sherin merayakan ulang tahunnya yang keenam.

Pertemuan 5 menit, yang membuat Sherin menjadi cengeng sepanjang hari itu. Sebentar-sebentar dia merengek ini ketemu dengan papanya. Beruntung ada Yuyun, kalau tidak mungkin Nismara sudah lepas kontrol pada Sherin kecil.

Buk buk buk

Nismara terus meninju samsak. Setiap bayangan masa lalunya berkelebat, tinjunya menjadi semakin kuat dan bertenaga. Sesekali kakinya melayangkan tendangan.

Bayang-bayang Sherin kembali berkelebat. Dari bayi, kanak-kanak hingga masa remajanya. Wajah Sherin yang kaku, sebab Nismara lupa Bagaimana cara sharing tersenyum, Bagaimana cara sharing berbicara.....

Buk buk buk

Setelah keringat mengucur deras dan badannya terasa sedikit lelah, Nismara berhenti, ternyata sudah 1 jam dia berjibaku memaksa ototnya bekerja.

Nismara keluar dari ruang olahraga dan langsung minta dibuatkan jus apel pada Mbak Titin. Sambil menunggu jusnya datang, dia menghubungi Miranti dan Benjamin. Nismara ingin bertemu mereka berdua jam 08.00 pagi di ruang kerjanya.

Dan jam 08.00 tepat 3 orang itu sudah berkumpul. Tatapan Miranti dan Benjamin menyorot keheranan dan kecemasan karena jadwal yang dibuat begitu mendadak. Sudah pasti ini ada hal yang sangat penting.

Miranti menahan nafas, sedang Benjamin kelihatan datar saja meski dalam hatinya berdenyut.

"Mir, aku ingat siapa laki-laki yang semalam kita lihat di Mahkota Gym, dia adalah salah satu polisi yang mengabarkan kematian Sherin ke sini. Iya kan?"

"Ohh iya benar-benar." jawab Miranti.

"Aku jadi mencurigai polisi bisa saja terlibat dalam kematian Sherin. Mungkin Om Ben benar, pemilik Majafas adalah orang paling kaya di dunia dan dengan uangnya dia bisa membeli apapun di berbagai belahan dunia."

Miranti mengangguk. Benjamin masih terlihat datar saja. Satu tangannya dia pakai untuk mengusap-usap dagunya sendiri.

"Nah aku telah berpikir matang untuk menyelidiki kematian Sherin sendiri."

"Heh, apa maksudmu, Nis?" Benjamin langsung duduk tegak.

"Aku akan mengungkap Siapa pembunuh anakku, Om."

"Tapi Bagaimana caranya?" Benjamin bertanya lagi.

"Karena aku tidak mempercayai siapapun kecuali Om Ben dan Miranti, maka aku sendiri yang akan masuk ke medannya dan karena jalan masuk satu-satunya ke Majafas adalah menjadi muda....." Nismara menggantung kalimatnya. Lagi-lagi dia ingin melihat respon yang diperlihatkan dari wajah Miranti maupun Benjamin. "Maka aku akan menjadi muda, aku akan berubah menjadi gadis 19 tahun."

"Maksud mu apa?"

Nismara membeberkan rencana yang telah tersusun rapi di otaknya. Dia akan pergi ke luar negeri beberapa hari, untuk merombak total seluruh wajahnya agar tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Tentu saja dia akan berubah menjadi gadis berumur 18 atau 19 tahun. Beruntung badannya masih seperti gadis, kecil dan ramping.

"Katakan kepada orang-orang bahwa aku berlibur juga seperti Gege, karena depresi akibat kematian anakku. Nanti aku akan kembali ke Indonesia dengan identitas yang baru." Kata Nismara.

"Jadi kamu terinspirasi dari depresi Gege, Nis?" Miranti membelalak tidak percaya.

"Ya, Mir. Aku telah memikirkan semua. Kusambung- sambung yang telah terjadi, dan diriku seperti bergejolak untuk segera bergerak mengungkap semua ini."

Benjamin menggeleng-geleng. "Kamu gila, Nis. Ini adalah rencana paling gila."

"Betul, dari mana kamu dapat ide segila ini?" Miranti menyambung.

"Inilah satu-satunya kesempatan aku untuk menebus rasa bersalahku, pada Putri kandungku yang telah aku abaikan sejak lahir." Sahut Nismara.

Benjamin meraup wajahnya dengan kasar. "Setelah itu kamu akan nekat masuk ke Majafas?"

"Ya, aku sudah tahu gerbang Majafas di kota ini. Iya kan, Mir?"

Miranti tak menjawab, dia tercenung dan bingung.

"Nyawa mu bisa menjadi taruhannya, Nis, ini bahaya sekali, bukan main-main!" Benjamin berkata lagi, nada tinggi rendah, seperti orang putus asa. Sebab dia tahu watak perempuan di depannya ini kalau sudah punya keinginan tidak bisa dicegah.

Nismara bersedekap. "Iya, aku tahu pasti resikonya, untuk itulah aku minta Om Ben dan Miranti ke sini, untuk menerima tugas dariku, tapi keputusan aku tentang penyamaran ini sudah bulat. Malam ini juga aku akan terbang ke Swiss, aku akan melakukan operasi di sana. Mungkin dalam waktu 3 minggu sampai 1 bulan, aku akan kembali ke Indonesia sebagai orang baru."

Benjamin terdiam, rasanya memang percuma sekali mendebat Nismara.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!